بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Perceraian Dibenci Allah Dan Disenangi Syaithan 

Diantara dampak bahaya sihir yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wata’ala adalah memisahkan atau menceraikan antara suami dan istri, dan inilah bentuk sihir yang disenangi dan disukai oleh syaithan.

Perceraian merupakan hal yang dihalalkan atau dibolehkan akan tetapi dibenci oleh Allah Subhanahu wata’ala, karena perceraian dibenci oleh Allah sehingga disenangi dan dicintai oleh syaithan, sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat hadist yang shahih bahwasanya Iblis memerintahkan para tentaranya untuk menggelincirkan anak cucu adam setelah mereka mengelincirkan anak cucu Adam dengan berbagai dosa maka mereka datang dan melapor kepada Iblis dengan berkata:”Saya terus menggodanya sampai ia berzina”, maka Iblis berkata:”Engkau belum melakukan apa-apa”, padahal apa yang dilakukan oleh tentaranya tersebut adalah perbuatan yang keji, kemudian datang syaithan yang lain melapor dan berkata:”Saya menggodanya sampai ia meminum-minuman keras”, Iblis berkata:”Engkau belum melakukan apapun”, datang lagi yang lain dan berkata:”Saya menggodanya sehingga ia membunuh”, Iblis berkata:”Engkau belum melakukan apapun”, semua hal diatas dianggap biasa oleh syaithan walaupun merupakan dosa yang besar namun ketika ada yang datang dan berkata:”Saya terus menggodanya sampai ia berpisah dan menceraikan istrinya”, Iblis kemudian berkata:”Kemari, mendekat”, dan ia mendudukkannya didekat istananya. Iblis mengetahui bahwasanya apa yang dilakukan oleh syaithan dengan menceraikan antara suami dan istri akan mendatangkan kerusakan dan keburukan yang lain. Hal ini disebutkan dalam hadist Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

إِنَّ إِبْلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً يَجِىءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا فَيَقُولُ مَا صَنَعْتَ شَيْئًا قَالَ ثُمَّ يَجِىءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ قَالَ فَيُدْنِيهِ مِنْهُ وَيَقُولُ نِعْمَ أَنْتَ

“Sesungguhnya iblis meletakkan singgasananya di atas air kemudian dia mengirimkan pasukannya. Maka yang paling kepadanya ialah yang paling besar fitnahnya. Lalu datanglah salah seorang pasukannya melapor, “aku telah melakukan ini dan itu.” Iblis menjawab, “kamu belum berbuat apa-apa.” Lalu datanglah pasukan lain melapor, “aku tidak membiarkannya hingga aku menceraikan dia dan istrinya”. Iblis pun mendekat kepada pasukan itu dan memujinya, “bagus””. (HR. Muslim).

Cara Syaithan Menggelincirkan Anak Cucu Adam 

Syaithan berusaha menggunakan berbagai macam cara untuk menjerumuskan anak cucu adam seperti was-was yang ditanamkan dalam jiwa manusia. Olehnya Allah memerintahkan kita untuk berlindung dari was-was syaithan dengan membaca Surah Al-Falaq , Surah An-Naas, dan jika syaithan tidak mampu dengan was- was maka dengan cara sihir melalui para dukun dan tukang sihir, dan ini termasuk sihir yang dianggap buruk dan paling berbahaya yang dikenal dengan sihir yang memisahkan antara suami dengan istri, sihir yang merusak seseorang dengan tetangganya, seseorang dengan keluarganya atau seseorang dengan rekan bisnisnya dan seterusnya.

Bahkan diantara bahaya sihir yang lain adalah membuat seorang suami tidak mampu menggauli istrinya atau disebut dengan “As Sharfu (memalingkan seseorang)” dan hal ini banyak terjadi dizaman sekarang. Oleh karena itu dibutuhkan bagaimana cara melindungi diri dari keburukan sihir, syaithan, jin sesuai dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Disunnahkan dalam pernikahan ketika baru akad dan menikah lalu berjumpa dengan istri mendoakan kebaikan untuknya kemudian berlindung dari keburukannya dan berdoa dengan doa yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wsallam dimulai dengan sholat 2 rakaat di imami oleh suami kemudian istri ikut bermakmum dibelakang suami, hal ini bertujuan agar terhindar dari sihir, keburukan syaithan dan jin.

Oleh karena itu pelamaran dan tanggal resepsi pernikahan hendaknya ditetapkan oleh wanita mempelai bukan dari orang tuanya, keluarga orang tuanya, tetangganya mengapa demikian karena wanita mempelai tahu kapan ia datang bulan karena jangan sampai istrinya haid dimalam pertama sehingga suami hanya bersabar sambil gigit jari, sholat sendiri tanpa makmum dari istri.

Diantara sebab seseorang terkena sihir, gangguan jin dan syaithan adalah karena jauh dari aturan Allah Subhanahu wata’ala.  sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah Subhanahu wata’ala:

وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ حَتَّىٰ إِذَا جَاءَنَا قَالَ يَا لَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ وَلَنْ يَنْفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذْ ظَلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ

Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Quran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. Sehingga apabila orang-orang yang berpaling itu datang kepada kami (di hari kiamat) dia berkata: “Aduhai, semoga (jarak) antaraku dan kamu seperti jarak antara masyrik dan maghrib, maka syaitan itu adalah sejahat-jahat teman (yang menyertai manusia). (Harapanmu itu) sekali-kali tidak akan memberi manfaat kepadamu di hari itu karena kamu telah menganiaya (dirimu sendiri). Sesungguhnya kamu bersekutu dalam azab itu“. (QS. Az Zhukhruf : 36-39).

Ulama kita menjelaskan bagaimana cara syaithan menggelincirkan anak cucu Adam, diantaranya adalah:

  1. Melakukan kesyirikan kepada Allah Subhanahu wata’ala
  2. Melakukan perbuatan bid’ah
  3. Melakukan dosa – dosa besar
  4. melakukan dosa kecil
  5. Berlebih –lebihan dalam perkara yang mubah

Mengapa bid’ah berada diposisi yang kedua karena pelaku bid’ah menganggap dirinya berada diatas kebaikan dan kebenaran sehingga syaithan senang kepada pelaku bid’ah dibanding dengan pelaku dosa besar, adapun pelaku dosa besar ia tahu bahwasanya apa yang ia lakukan dan kerjakan adalah dosa sehingga pelaku dosa besar mudah diharapkan taubatnya daripada pelaku bid’ah kecuali taufik dari Allah Subhanahu wata’ala.

Jika syaithan tidak mampu menjerumuskan dengan 4 point diatas maka ia menjerumuskannya dengan point kelima yaitu berlebih – lebihan dalam perkara yang mubah , pernah suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melihat sahabat menggunakan air untuk berwuduh secara berlebihan beliau berkata:”Jangan engkau berlebih – lebihan”, beliau bertanya:”Apakah dalam menggunakan air juga berlebih – lebihan ya Rasulullah”, Rasulullah menjawab:”Walaupun engkau berwuduh dia air sungai yang mengalir”.

Disebutkan dalam riwayat bahwasanya ada syaithan yang khusus meniupkan was – was ketika seseorang bersuci (berwuduh) atau bahkan ketika kita mandi. Abu al-Wafa Ali Ibn Aqil Rahimahullah pernah didatangi oleh seorang lelaki dengan berkata:”Ya Syaikh, saya ini junub kemudian saya berniat mandi junub lalu menceburkan diri ke dalam air sungai dan setelah saya keluar dari sungai, ada perasaan dari hati saya seakan-akan saya belum mandi”,

Kemudian Syaikh berkata:”Jika begitu pergilah karena sholat telah diangkat darimu, sholat tidak wajib bagimu”, ia bertanya:”Ya Syaikh, mengapa demikian”, beliau berkata:”Karena orang yang wajib sholat adalah orang yang waras dan tidak waib bagi orang gila, karena tidak ada seseorang yang mandi disungai kemudian setelah mandi dia berkata saya belum mandi kecuali orang gila”. Hal ini merupakan bagian dari was – was syaithan dan sebagian yang lain ada yang lama didalam toilet, dan ada yang berwuduh kemudian diulangi berkali kali, dan yang lain ada yang sholat takbirnya diulang berkali –kali. Oleh karenanya berhati – hatilah dari was – was syaithan.

Jika 5 point yang telah kita sebutkan diatas masih tidak mampu dilakukan oleh syaithan maka ia melakukan dengan cara yang lain yaitu masuk ke dalam tubuh manusia secara langsung, disinilah mengapa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kita wirid dan doa dalam setiap keadaan dan kondisi agar terhindar dari keburukan syaithan. Hampir setiap aktifitas yang kita lakukan setaip harinya mulai dari tidur sampai tidur kembali memiliki doa masing – masing dari aktifitas yang kita kerjakan berdasarkan tuntunan dan contoh dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. 

Anjuran Untuk Senantiasa Berlindung Dari Syaithan

Senantiasalah untuk selalu meminta perlindungan dari Allah Subhanahu wata’ala dengan sering membaca ta’awuz belindung dari godaan syaithan:

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيطَانِ الرَّجِيْمِ

“Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaithan yang terkutuk”.

Karena syaithan senantiasa mengikuti kita bahkan bermalam dengan kita, makan dan tidur bersama dengan kita, oleh sebab itu jaga diri kita karena ia bisa melihat kita sedangkan kita tidak mampu melihatnya.

Setiap anak cucu adam ketika berangkat dari pembaringannya dia diikat dengan 3 ikatan katika ia bangun dari tidurnya maka terbulah ikatan pertama, olehnya ketika terbangun jangan lagi bermalas-malasan atau tidur kembali karena ketika seseorang terbangun kemudian tidur lagi maka tidurnya lebih nyenyak dibandingkan setelah bangun. Ketika bangun dari tidur dianjurkan untuk langsung berdiri setelah itu berwudhu maka terbukalah ikatan yang kedua, dan ketika mengerjakan sholat maka terbukalah semua ikatan. Perbanyak tilawah Al-Qur’an, membaca doa ketika keluar rumah agar kita terhindar dan terlindungi dari sihir, ‘ain, gangguan manusia. Dalam hadist disebutkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan keutamaan doa keluar rumah agar tehindar dari gangguan sihir dan syaithan:

إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، قَالَ: يُقَالُ حِينَئِذٍ: هُدِيتَ، وَكُفِيتَ، وَوُقِيتَ، فَتَتَنَحَّى لَهُ الشَّيَاطِينُ، فَيَقُولُ لَهُ شَيْطَانٌ آخَرُ: كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِيَ وَكُفِيَ وَوُقِيَ؟

Apabila seseorang keluar dari rumahnya kemudian dia membaca doa

بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

“Maka disampaikan kepadanya:”Kamu diberi petunjuk, kamu dicukupi kebutuhannya, dan kamu dilindungi”. Seketika itu setan-setan pun menjauh darinya. Lalu salah satu setan berkata kepada temannya:”Bagaimana mungkin kalian bisa mengganggu orang yang telah diberi petunjuk, dicukupi, dan dilindungi”. (HR. Abu Daud, no. 5095; Turmudzi, no. 3426; dinilai shahih oleh Al-Albani).

Atau membaca doa keluar rumah yang lain agar terhindar dari kedzaliman. Dari Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan:

مَا خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ بَيْتِي قَطُّ إِلَّا رَفَعَ طَرْفَهُ إِلَى السَّمَاءِ فَقَالَ

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَىَّ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari: aku tersesat, atau aku menyesatkan, atau aku tergelincir, atau aku digelincirkan, atau aku mendhalimi, atau aku didhalimi, atau kebodohanku atau dibodohi”. (HR. Abu Dawud 5094, Nasai 5486, Ibnu Majah 3884, dan dishahihkan al-Albani).

Mengapa penting untuk membaca doa tersebut karena ada seseorang yang menggunakan sihir dengan cara menaburkan benda yang telah di sihir didepan rumah dan ada yang menyebarkan sihir melalui makanan, ada yang hazad dan tidak senang ketika kita mendapatkan nikmat sehingga ia berniat untuk menyihir dengan mata ‘ain.

Biasakan ajarkan doa diatas kepada anak – anak kita atau dzikir yang lain dalam setiap kondisi dan keadaan agar kita dan anak – anak kita terlindungi dari godaan syaithan dan sihir, juga ajarkan anak kita membaca doa ketika masuk WC atau TOILET. Karena WC atau TOILET merupakan tempat tinggal dari syaithan olehnya ketika masuk kiat dianjurkan membaca doa:

اَللّهُمَّ اِنىِّ اَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَ الْخَبَائِثِ

“Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari setan laki-laki dan setan perempuan”. Jadi ada syaithan laki-laki dan  syaithan perempuan,  Imam Asy-Sya’bi Rahimahullah pernah ditanya:”Ya Syaikh siapakah nama istri dari Iblis.?”, ia berkata:”Ini adalah pesta pernikahan yang kita tidak hadiri”. Tidak penting mengetahui nama istrinya akan tetapi yang penting adalah bagaimana kita terhindar dari godaan dan keburukannya.

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Rabu, 12 Safar 1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR