Muharram Tanpa Noda (Bagian 1)


Segala puji bagi Rabb semesta alam, pemilik seluruh jiwa, dan penguasa masa yang Maha Pandai. Salam shalawat atas Rasul al amin, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, sahabat, dan salafus shalih yang berpegang teguh dengan sunnah beliau.

Kesyukuran yang paling pantas kita lambungkan, saat kita masih tiba pada masa dimana mulia derajatnya, dan kita berada dalam keimanan. Salah satu masa yang mulia itu adalah Muharram.

1 Muharram 1440H
Masyaallah. Selayaknya kita hamba beriman perbanyak syukur, ibadah, dan segala amalan shaleh; besar atau pun kecil, berat atau pun ringan. Sebagaimana perkataan Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma:

(…فَجَعَلَهُنَّ حُرُماً وَعَظَّمَ حُرُمَاتِهِنَّ وَجَعَلَ الذَّنْبَ فِيْهِنَّ أَعْظَمُ، وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ وَاْلأَجْرُ أَعْظَمُ.)

“…Kemudian Allah menjadikannya bulan-bulan haram, membesarkan hal-hal yang diharamkan di dalamnya dan menjadikan perbuatan dosa di dalamnya lebih besar dan menjadikan amalan soleh dan pahala juga lebih besar.”

Bulan Muharram yang mana merupakan satu dari empat bulan haram, yang di sebutkan dalam al-Qur’an:

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu di keempat bulan itu” (QS At-Taubah: 36)

Bulan yang sebelum Islam dikenal dengan nama Shafar al-awwal, namun berubah menjadi bulan awal di tahun hijriah dan berganti menjadi Muharram yang artinya waktu/masa yang diharamkan(1).

(1)Haram atas manusia berbuat zhalim atas dirinya dan berbuat dosa


Penulis: Ustadzah Dhee-Ar

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.