بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Jika kita bersyukur kepada Allah maka Allah akan menambahkan nikmatnya kepada kita dan keridhaan Allah adalah kedudukan yang paling tinggi yang Allah berikan kepada penghuni surga ketika mereka telah dimasukkan ke dalam surga. Kenikmatan tertinggi bagi penghuni surga adalah ketika memandang wajah Allah, dalam hadist dari Shuhaib bin Sinan, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, Beliau bersabda:

إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ، قَالَ : يَقُوْلُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : تُرِيْدُوْنَ شَيْئًا أَزِيْدُكُمْ؟ فَيَقُولُوْنَ : أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوْهَنَا؟ أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ وَتُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ؟ قَالَ : فَيُكْشَفُ الْحِجَابُ فَمَا أُعْطُوْا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ .

“Apabila penghuni surga telah masuk surga, Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman:”Apakah kalian menginginkan sesuatu yang dapat Aku tambahkan?”, Mereka menjawab:”Bukankah Engkau telah menjadikan wajah-wajah kami putih berseri? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari neraka?”, Nabi bersabda:”Maka disingkapkanlah tabir penutup, sehingga tidaklah mereka dianugerahi sesuatu yang lebih mereka senangi dibandingkan anugerah melihat Rabb mereka Azza wa Jalla”.

kenikmatan yang lain adalah wajah orang – orang yang beriman bercahaya pada hari kiamat, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ وَأَمَّا الَّذِينَ ابْيَضَّتْ وُجُوهُهُمْ فَفِي رَحْمَةِ اللَّهِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): “Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu, Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (surga); mereka kekal di dalamnya“. (QS. Ali Imran: 106-107).

Oleh karenanya orang – orang yang diberi nikmat dengan surga telah diridhoi oleh Allah Subhanahu wata’ala, diakhir surah Al-Bayyinah Allah Subhanahu wata’ala menyebutkan balasan bagi orang – orang yang beriman sebagai hairu bariyyah (sebaik-baik makluk yang diciptakan oleh Allah), Allah berfirman:

جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا اْلاَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ

Balasan mereka di sisi Tuhan mereka adalah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada tuhan-Nya“. (QS. Al-Bayyinah : 8).

وَعَدَ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ۚ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga ‘Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar“. (QS. At- Taubah: 72).

Beribadah dengan Bersungguh – Sungguh 

Sering kita meminta pertolongan kepada Allah agar kita mengerjakan ibadah dengan sebaik- baiknya, mengerjakan ibadah kepada Allah Subhanahu wata’ala bukan hanya sekedar menggugurkan kewajiban karena ibadah yang kita kerjakan ada yang diterima dan ada yang ditolak oleh Allah Subhanahu wata’ala oleh karenanya diantara cara kita meminta kepada Allah agar ibadah yang kita kerjakan diterima adalah dengan membaca doa yang diajarkan oleh Rasulullah:

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْماً نَافِعاً، وَرِزْقاً طَيِّباً، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik dan amal yang diterima”. (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Ibnu as-Sunni).

Jika Nabi meminta kepada Allah agar amalannya diterima oleh Allah hal ini dapat difahami ada amalan yang ditolak oleh Allah Subhanahu wata’ala dan cukuplah doa yang diabadikan oleh Allah yang pernah diucapkan oleh Nabi Ibrahim menjadi dalil bahwa tidak semua amalan yang kita kerjakan diterima disisi Allah Subhanahu wata’ala.

Salah seorang Salaf pernah berkata:”Andaikan ada diantara amalanku yang saya ketahui telah diterima disisi Allah Subhanahu wata’ala maka saya sudah bahagia dan senang“.

Sebagai hamba Allah kita berada diantara harap dan cemas, berharap agar amalan yang kita kerjakan diterima oleh Allah dan juga cemas jangan sampai amalan yang kita kerjakan ditolak oleh Allah Subhanahu wata’ala.

Ketika sholat kita berharap agar Allah menerima pahala sholat kita dengan sempurna akan tetapi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Sesungguhnya seseorang berpaling (selesai mengerjakan sholat) sementara tidaklah dicatat pahala kecuali sepersepuluh dari sholatnya, sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga, atau setengahnya saja”. (HR. Abu Dawud, dinyatakan hasan oleh al-Albani. Lihat al-‘Amal ash-Shalih, hal. 122)

Abdullah Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu ketika ditanya tentang firman Allah Subhanahu wata’ala: “Celakah bagi orang yang sholat”, apakah yang dimaksudkan dalam hadist ini adalah orang yang tidak sholat”, beliau menjawab:”Bukan, karena orang yang tidak sholat telah jelas hukumnya kafir”,

Perjanjian kita dengan orang – orang kafir adalah sholat barangsiapa yang meninggalkannya dengan sengaja maka sungguh ia telah kafir, bahkan Syaikh Al-Utsaimin Rahimahullah berkata:”Orang yang tidak mengerjakan sholat dan meninggalkan sholat ketika dia sakit tidak disiarahi dan ketika ia mati tidak dikuburkan di pekuburan kaum muslimin dan dia tidak boleh bersama dengan istrinya yang sholat karena sholat adalah tiang agama. Jadi kata Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu bukan orang yang meninggalkan sholat karena orang yang meninggalkan sholat telah jelas hukumnya akan tetapi yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah orang – orang yang lalai dari sholatnya mereka adalah orang – orang yang tidak memiliki perhatian terhadap sholatnya suka menunda nunda waktu sholat dengan sengaja.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

إِنَّ الصَّلاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَاباً مَوْقُوتاً

Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”. (QS. An-Nisa: 103).

Setelah perjalanan isra dan miraj Rasulullah didatangi oleh jibril selama 2 hari berturut-turut untuk mengerjakan sholat, yang pertama jibril mengimami Rasulullah diawal waktu, pada hari kedua jibril mengimami Rasulullah diakhir waktu.  Jibril kemudian berkata:”Inilah diantara waktu sholat wahai Muhammad“. Ketika isra dan miraj Nabi hanya menerima perintah sholat adapun tata cara pelaksanaannya mulai dari awal sampai terakhir diajarkan oleh jibril.

Ada diantara manjusia yang sholatnya dilemparkan kepadanya, bukan Cuma disebabkan karena ia tidak sholat tetapi sholatnya tidak sesuai yang diinginkan oleh Allah Subhanahu wata’ala dia hanya sholat sebagai penggugur kewajiban.

Salah seorang sahabat pernah melihat ada orang yang sholat dengan gerakan yang sangat cepat, setelah sholat  sahabat mendatangi orang tersebut dan berkata:“Sejak kapan engkau sholat seperti ini, ia berkata sejak 20 tahun, Sahabat berkata:”Engkau belum sholat sejak 20 tahun yang lalu dan andaikan engkau mati dalam kondisi dan keadaan seperti ini maka engkau akan mati diluar fitrah“, hal ini menunjukkan bahwa sholatnya tidak mengikuti contoh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Rasululah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”

أَسْوَأُ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِي يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ؟ قَالَ: لاَ يُتِمُّ رُكُوْعُهَا وَلاَ سُجُوْدُهَا

Sejahat-jahat pencuri adalah yang mencuri dari shalatnya”. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana mencuri dari sholat?”. Rasulullah berkata:“Dia tidak sempurnakan ruku dan sujudnya”. (HR Ahmad no 11532, dishahihkan oleh al Albani dalam Shahihul Jami’ 986).

Hakekat Ibadah Sholat

Ada orang yang ketika sholat yang dia ingat adalah hal – hal yang kotor, Rasulullah bersabda:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sedekat-dekatnya seorang hamba dengan Rabb-nya adalah dalam keadaan dia sujud, maka perbanyaklah doa”. Sungguh celaka ketika seseorang dekat dengan tuhannya jutru yang dia fikirkan dan ingat adalah maksiat .

Dari sinilah bagaimana kita muhasabah diri kita dari ibadah yang kita kerjakan

Salah satu yang menjadi asas kebahagian kita didunia dan diakhirat yaitu kita muhasabah ( istropeksi diri), merenungi diri kita dan perjalanan hidup kita dari umur yang diberikan oleh Allah karena tidak ada yang tahu apakah esok hari kita masih hidup atau tidak. Diantara tanda – tanda hari kiamat adalah dimana ada orang yang meninggal secara tiba-tiba,

Kita pernah mendapatkan berita ada yang meninggal ketika sedang berzina  begitupula ada yang meninggal dalam keadan pesta minum-minuman keras dan disisi lain ada yang meninggal dalam keadaan kebaikan sebagaimana salah seorang muadzin selama 20 tahun disalah satu masjid yang ada di jeddah ketika menunggu waktu azan sambil membaca Al-Qur’an pada saat ditengah asiknya membaca Al-Qur’an Allah mengambil ruhnya, sebagian yang lain ada yang meninggal dunia dalam keadaan sujud kepada Allah, berbakti kepada kedua orang tuanya, taat kepada Allah, dll. Jadi kematian adalah rahasia Allah Subhanahu wata’ala ,

Penting bagi kita untuk senantiasa muhasabah mengingatkan diri – diri kita, Allah berfirman dalam surah Al Hasyr:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan“. (QS. Al- Hasyr:18).

Apakah yang dipersipkan hari esok adalah bagaimana untuk meraih dunia beserta isinya.? yang dimaksudkan adalah hari akhirat, hari ketika berjumpa dengan Allah Subhanahu wata’ala, ketika berdiri dihadapan Allah, mempertanggungjawabkan segala apa yang dilakukan, dll.

Syaikh As Sa’diy berkata:”Ayat ini merupakan asas tentang pentingnya muhasabah bagi setiap manusia didunia ini sebelum ia berjumpa dengan Allah Subhanahu wata’ala”.

 

Kematian adalah merupakan kiamat bagi seseorang Rasulullah bersabda:”Kematian itu adalah kiamat, maka barang siapa yang telah mati maka telah sampailah kiamatnya. (HR. Ibnu Abid Dunya).

kiamat adalah fase yang mengeluarkan kita dari kehidupan dunia kepada kehidupan akhirat, ketika kita meninggal dan ruh dicabut, tubuh dikafani dan seterusnya sampai kita dikuburkan maka itulah awal dari kehidupan akhirat kita.

Sahabat Utsman bin Affan ketika beliau mendengarkan surga dan neraka beliau hanya biasa-biasa saja namun ketika disebutkan tentang kuburan beliau kemudian menangis dan ketika ditanya apa yang membuat anda menangis beliau berkata:”Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Kubruan adalah awal dari persinggahan akhirat, barangsiapa yang selamat didalamnya maka ia akan selamat setelahnya“.

Semua kita masih dalam perjalanan yang panjang , Nabi Muhammad telah meninggal selama 1400 tahun yang lalu hal ini menunjukkan bahwa keberadaan Rasululah dialam kubur selama 1400 tahun menanti datangnya hari kiamat dan ketika kita meninggal kita juga tidak tahu berapa lama kita akan menunggu didalam kubur-kubur kita, berapa lama kita akan berada dialam barsakh dan kita yakin bahwasanya alam barsakh jika bukan taman – taman dari surga maka dia adalah lembah dari lembah nereka , Allah berfirman :

النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا ۖ وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ

“Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras“. (QS. Al-Mu’min: 46). Inilah yang dikatakan oleh para ulama bahwa dialam kubur ada azab dan nikmat.

Bersambung (Muhasabah (Silsilah Amalan Hati) Sesi 1)

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Rabu, 17 Rabiul Awal 1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

1 KOMENTAR

  1. Bermanfaat sekali khususnya untuk diri saya pribadi yg selama ini masih buta akan hal ini….semoga setelah ini bisa membuka hati kami unt lebih istiqomah lagi…Aamiin.
    Terima kasih, wassalamu’alaikum

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.