بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Abu Darda Radhiyallahu anhu berkata:

كُنْ عَالِمًا ، أَوْ مُتَعَلِّمًا ، أَوْ مُسْتَمِعًا ، أَوْ مُحِبًّا ، وَلاَ تَكُنْ الخَامِسَةَ فَتَهْلَكُ. قَالَ : فَقُلْتُ لِلْحَسَنِ : مَنِ الخَامِسَةُ ؟ قال : المبْتَدِعُ

Jadilah seorang alim atau seorang yang mau belajar, atau seorang yang sekedar mau dengar, atau seorang yang sekedar suka, janganlah jadi yang kelima”. Humaid berkata pada Al-Hasan Al-Bashri, yang kelima itu apa. Jawab Hasan”. Janganlah jadi ahli bid’ah (yang beramal asal-asalan tanpa panduan ilmu, pen.). (Al-Ibanah Al-Kubra karya Ibnu Batthah).

Jadilah seorang alim (yang mahir dengan Al-Qur’an, menguasai Al-Qur’an, mengerti kandungan Al-Qur’an, mendakwahkan Al-Qur’an). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ وَهُوَ مَاهِرٌ بِهِ مَعَ السَّفَرَةِ الكِرَامِ البَرَرَةِ، وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أجْرَانِ

Orang yang mahir membaca Al-Qur’an, dia berada bersama para malaikat yang terhormat dan orang yang terbata-bata di dalam membaca Al-Qur’an serta mengalami kesulitan, maka baginya dua pahala”. (HR. Potongan Hadits yang dikeluarkan oleh Imam Muslim dari hadits Aisyah Radhiyallahu ‘anha no. 244-(898), kitab Al-Musafirin wa Qashruha, bab. 38).

Kita diperintahkan untuk menjadi golongan yang pertama yaitu menjadi orang alim dan semoga dimasa yang akan datang bermunculan para ulama – ulama dari berbagai pesantren apapun profesinya, seperti Syaikh Ahmad Ibrahim Sulaiman Hafidzahullah beliau berprofesi sebagai dokter namun tidak menghalangi beliau berkhidmat terhadap Al-Qur’an bahkan beliau berkata:”Demi Allah tidak ada kenikmatan melebihi ketika saya duduk mendengarkan santri menghafalkan Al-Qur’an”. Para penghafal Al-Qur’an adalah mereka orang – orang khusus Allah Subhanahu wata’ala yang kedudukannya sejajar dengan para malaikat, jadi yang mahir dengan Al-Qur’an mereka bersama dengan utusan – utusan Allah dari kalangan malaikat

Yang kedua kata Abu Darda:”Atau seorang yang mau belajar”, bukan muta’alin (Sok tahu) tetapi muta’allim (yang belajar), dalam hadist Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلاَّ ذِكْرَ اللَّهِ وَمَا وَالاَهُ أَوْ عَالِمٌ أَوْ مُتَعَلِّمٌ

Dunia dan seluruh isinya dilaknati, kecuali dzikir mengingat Allah, taat pada-Nya (mau mengikuti tuntunan, pen.), orang yang berilmu (seorang alim) atau orang yang belajar ilmu agama”. (HR Ibnu Majah, no. 4112; Tirmidzi, no. 2322. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). 

Mengapa dunia dikatakan terlaknat karena dunia ini tidak ada sedikitpun nilainya disisi Allah, nanti pada hari kiamat dunia ada pada jemari Allah, Allah berfirman:

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan”. (QS. Az-Zumar : 67).

Jadi dihari kiamat nanti dunia dan langit yang 7 lapis ada dalam genggaman Allah Subhanahu wata’ala. Dari Sahl bin Sa’id as-Sa’idi Radhiyallahu ’anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَوْ كَانَت الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ الله جَنَاحَ بَعُوضَةٍ ، مَا سَقَى كَافِراً مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ

Seandainya dunia ini di sisi Allah senilai harganya dengan sayap nyamuk niscaya Allah tidak akan memberi minum barang seteguk sekalipun kepada orang kafir”. (HR. Tirmidzi, dan dia berkata: ‘hadits hasan sahih’).m

Semua yang ada didalam dunia ini juga terlaknat, dan ini sebagaimana firman Allah:

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran”. (QS. Al ‘Ashr).

Dalam hadist diatas yang telah kita sebutkan Rasulullah mengecualikan orang yang terlaknat dengan berkata:”Kecuali dzikir mengingat Allah, taat pada-Nya (mau mengikuti tuntunan, pen.), orang yang berilmu (seorang alim) atau orang yang belajar ilmu agama”. Adapun jika disebutkan ilmu maka yang dimaksudkan adalah Al-Qur’an sebagaimana kata Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu:”Ilmu itu adalah firman Allah dan perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam”.

Jadi dengan memperlajari Al-Qur’an dan terus belajar kita menghindarkan diri kita dari laknat Allah Subhanahu wata’ala, Abu Abdirrahman As Sulami salah seorang tabi’in beliau duduk mengajar orang membaca Al-Qur’an, menghafal Al-Qur’an, beliau seorang tabi’in gurunya seperti Ustman bin Affan, beliau mulai mengajar Al-Qur’an sejak zaman khilafah Ustman bin Affan sampai zaman khilafah Hajjaj ibn Yusuf kurang lebih 42 tahun lamanya, beliau melahirkan para penghafal Al-Qur’an, ketika beliau ditanya:”Mengapa anda bisa sesabar itu”, beliau berkata:”Saya didudukkan ditempat ini oleh hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:

عَنْ عُثْمَانَ – رضى الله عنه- عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ «خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ» رواه البخاري

“Ustman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu berkata:“Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Quran dan mengajarkannya”. (Hadits riwayat Bukhari).

Oleh karenanya jika mulai muncul malas untuk menghafal Al-Qur’an maka ingat hadist ini karena surga itu mahal dan butuh pengorbanan, Allah memilih orang – orang yang pantas untuk menjaga kitabnya Al-Qur’an karena tidak semua orang bisa dan mendapatkan taufik untuk itu dan butuh mujahadah (perjuangan).   

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

“Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal”. (QS. Ali ‘Imran : 07).

Mutasyabih artinya (Mirip – mirip keindahannya antara satu ayat dengan ayat yang lain, surah yang satu dengan surah yang lain).

Allah berfirman:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?”. (QS. Al-Qamar : 32).

Wallahu a’lam Bish Showaab 


Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Selasa, 07 Ramadhan 1440 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.