Aku tidak tahu dengan kalimat apa aku harus menuliskan kisahku…Atau dengan ungkapan kenangan masa lalu –yang kuberharap tak pernah terjadi-seperti apa aku harus mencatatnya…

Aku sangat kecanduan mendengarkan musik dan lagu, sampai-sampai aku tidak akan tidur dan bangun kecuali dengan iringan suara musik di dekatku…Adapun serial sinetron dan film, maka jangan tanyakan seperti apa ia di hari-hari libur…Aku tidak akan selesai menontonnya kecuali di waktu fajar, ketika Allah turun ke langit dunia dan berkata:

“Apakah ada yang memohon ampun sehingga Aku ampuni ia? Apakah ada yang meminta hingga aku berikan ia (apa yang ia minta)?”

Yah, aku begadang melewati malam dengan film-film kesia-siaan…

Adapun pakaian dan penampilanku, maka sama saja dengan wanita-wanita lain yang lalai sepertiku di usia seperti ini: potongan model Barat, pakaian sempit dan pendek, kuku jari yang panjang, mengabaikan hijab, dan lain sebagainya.

Di kelas 2 SMP, seorang guru Kimia masuk mengajar kami. Ia adalah seorang ibu guru yang baik dan shalehah. Aku begitu tertarik dengan akhlaknya yang baik dan berbagai informasi menarik yang disampaikannya. Ia selalu menghubungkan pelajaran Kimia ini dengan agama. Suatu ketika, kedua kakiku membawaku mendekatinya. Aku tidak tahu apa yang mendorongku untuk itu, tapi itulah yang menjadi awalnya.

Aku kini sesekali duduk bersamanya. Dan ketika ia melihat aku mau mendengarkan dan menerima pesannya, ia pun menasehatiku untuk tidak mendengarkan nyanyian dan menonton sinetron.

“Tapi aku tidak bisa,” ujarku.

“Setidaknya untuk aku, anakku,” ujarnya.

“Hm, baiklah, untuk ibu aku akan coba melakukannya…” Aku terdiam sejenak. Lalu aku katakan padanya: “Tidak…Bukan karena ibu, tapi karena Allah, insya Allah…”

Beliau mengetahui betul bahwa aku menyukai tantangan. Maka beliau mengatakan: “Ini menjadi tantangan antara engkau dengan syetan. Kita akan lihat siapa yang akan menang!”

Dan itu adalah pertemuan terakhir hari itu. Maka jangan tanyakan seperti apa keadaanku setelah itu, ketika dari kejauhan aku mendengarkan suara-suara para artis dalam sinetron…Apakah aku maju untuk menontonnya dan dengan begitu syetan mengalahkanku…

Maka sejak saat itu, aku benar-benar meninggalkan lagu-lagu dan menonton serial TV. Tapi sebulan kemudian, aku kembali mendengarkan musik. Syetan berhasil –meskipun tipu dayanya begitu lemah seperti yang disampaikan oleh Allah kepada kita- mengalahkanku disebabkan imanku yang begitu lemah…

Pada tahun ketiga –yang merupakan tahun terakhir-, kami diajar oleh seorang guru lain. Kalimat dan ungkapan-ungkapannya begitu fasih. Begitu pula nasehat-nasehatnya…Ia adalah ibu guru pelajaran Bahasa Arab.

Tapi pada ujian awal pelajaran itu, aku dikejutkan dengan nilai yang sangat rendah. Ibu guru itu telah menuliskan di bagian akhir kertas jawabanku beberapa ungkapan tentang keikhlasan niat dalam menuntut ilmu dan pentingnya melipatgandakan kesungguhan.

Dunia jadi begitu sempit!! Aku tidak biasa mendapatkan nilai seperti ini…Namun, boleh jadi engkau tidak menyukai sesuatu padahal ia baik untukmu…

Aku pun pergi menemui ibu guru itu. Aku mempersoalkannya dengan alasan apa ia mengarahkan kalimat-kalimat itu kepadaku. Ia pun mulai menasehatiku tentang keikhlasan niat dalam menuntut ilmu, dan…dan seterusnya.

Pada hari berikutnya, seorang kawan mengatakan bahwa ibu guru itu ingin aku menemuinya. Tapi aku tidak memedulikannya. Namun Allah menakdirkan aku berpapasan dengan beliau saat sedang keluar dari ruangan sambil membawa sebuah mushaf kecil…Beliau menyalamiku, lalu meletakkan mushaf itu di tanganku dan menggenggam tanganku. Lalu berkata:

“Aku tidak mengatakan ini sebagai hadiah, tapi ini adalah amanah. Jika engkau mampu mengembannya, maka lakukan. Namun jika tidak, maka kembalikan ia kepadaku…”

Ucapannya begitu menghunjam dalam jiwaku. Tapi aku belum merasakan amanah itu kecuali setelah aku menemui seorang kawan yang shalehah yang bertanya padaku:

“Apa yang diinginkan ibu guru darimu?”

Maka aku menjawab:

“Ia memberiku mushaf ini dan mengatakan bahwa ini adalah amanah…”

Wajah kawanku itu berubah.

“Apakah engkau tahu apa makna amanah itu?? Apakah engkau tahu apa tanggung jawab mengemban kitab ini?? Apakah engkau tahu ini Ucapan siapa?? Perintah siapa??”

Saat itulah, aku mulai merasakan beratnya amanah ini…Karenanya, al-Qur’an menjadi hadiah terbesar yang dihadiahkan kepadaku…

Aku pun larut membacanya. Aku meninggalkan –dengan segenap kekuatan dan tekadku- nyanyian dan serial TV. Hanya saja penampilanku belum berubah. Masih potongan Barat dan pakaian ketat…Namun ibu guru itu, kini kedudukannya dalam diriku telah berubah.

Aku kini menyimpan rasa cinta, penghormatan dan penghargaan kepadanya…Belum lagi ia selalu membagikan faidah-faidah yang bermanfaat di jam-jam pelajarannya. Selalu menghubungkan pelajarannya dengan peringatan tentang apa yang diinginkan Barat dari kita; membolehkan segala sesuatu dan mencampakkan Kitabullah…

Setiap pekan, ia selalu menuliskan sebuah ayat untuk kami di salah satu sudut papan tulis, dan meminta kami untuk mengamalkan hukum yang terkandung dalam ayat itu…

Demikianlah, nasehat demi nasehat ibu guru itu ditambah lagi pesan kawan-kawanku yang lain silih berganti, hingga akhirnya aku meninggalkan potongan model Barat itu dengan sukarela dan dengan keyakinan bahwa itu tidak layak bagi seorang muslimah, dan bahwa ia bukanlah sifat para ummul mukminin…

Kondisiku pun semakin baik –walillahil hamd-. Aku mulai komitmen dengan hijab yang sempurna, menutupi kedua tangan dan kaki, setelah sebelumnya kami pernah meremehkan dan mengolok-olok seorang kawan yang mengenakannya!!

Aku akhirnya menyelesaikan pendidikan SMA-ku. Kemudian aku mendaftarkan diri di salah satu universitas. Suatu hari, bersama seorang kawan, aku pergi ke tempat pemandian mayat. Ternyata di situ sedang dimandikan seorang gadis berusia 23 tahun –sekitar tahun ke 3 di kampus-…Aku tidak bisa menggambarkan apa yang aku lihat…Kami membolak-balikkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan untuk dimandikan dan dikafani…Tubuhnya dingin seperti salju…Ibunya, saudarinya dan kerabatnya ada di sisinya…

Apakah menurutmu, ia akan berdiri dan memandang mereka untuk terakhir kalinya, atau memeluk dan mengucapkan selamat tinggal kepada mereka?! Atau apakah engkau akan melihatnya memberikan pesan terakhirnya kepada mereka?? Tidak…sama sekali tidak ada gerakan…

Dan tiba-tiba, ibunya mencium kedua pipi dan keningnya sambil menangis diam-diam, lalu berkata:

“Ya Allah, kasihilah ia…Ya Allah, lapangkanlah kuburnya…Ya Allah, jadikanlah kuburnya menjadi salah satu taman surga…”

Lalu ibu itu berkata: “Aku telah memaafkanmu, wahai putriku…”

Kemudian ia menutup wajahnya dengan kain kafannya.

Sungguh sebuah pemandangan yang sulit dilukiskan…Sungguh sebuah pelajaran yang sangat dalam…Saat-saat di mana tidak lama lagi ia akan dimasukkan ke dalam liang lahad. Tubuhnya akan ditutupi dengan tanah, lalu ia akan ditanya tentang setiap detik dari hidupnya…

Maka demi Allah, seperti apapun kalimat yang aku tuliskan, aku tidak bisa menggambarkan pemandangan itu sebagaimana adanya…

Peristiwa itu benar-benar mengubah banyak hal dalam diriku. Ia membuatku semakin zuhud dengan dunia yang fana ini…

Karenanya, aku meminta kepada setiap guru, bahkan kepada setiap da’iyah di mana pun mereka berada, untuk tidak meremehkan memberi nasehat atau pesan yang baik meski ia harus ditutupkan pintu oleh orang yang diberi nasehat…Cukuplah baginya, bahwa pintu Allah akan selalu terbuka…

Aku juga mengingatkan kepada setiap saudariku yang masih lalai mengingat Allah…tenggelam dalam kenikmatan dunia dan nafsunya…Segeralah kembali kepada Allah. Demi Allah, kebahagiaan yang sejati adalah kebahagiaan dalam ketaatan pada Allah.

Dan kepada siapa pun yang merasakan kekerasan dalam hatinya, atau tidak mampu meninggalkan satu dosa, pergilah ke tempat pemandian mayat…Lihatlah bagaimana mereka memandikan dan mengafani si mayit…Demi Allah, itu akan menjadi peringatan yang sangat kuat. “Dan cukuplah kematian itu sebagai pemberi peringatan”.

Aku mohon kepada Allah agar mengaruniakan husnul khatimah kepada kita semua.

Saudarimu, Ummu ‘Abdillah


Alih Bahasa:
Muhammad Ihsan Zainuddin
Pembina https://kuliahislamonline.com
Sumber: Qashash Mu’atstsirah Jiddan Lil Fatayat

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.