بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Kewajiban menuntut ilmu adalah salah satu hal yang membuat agama islam sangat istimewa karena menempatkan ilmu pada posisi yang tinggi kedudukannya. Ketika seseorang mengikrarkan dirinya sebagai seorang muslim maka ia harus mengerjakan salah satu kewajiaban yaitu menuntut Ilmu.

Rasulullah Shallallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.”(HR. Ibnu Majah no. 224).

Maka dari itu menuntut ilmu , menghadiri majelis ilmu, mendatangi para ulama, menelaah Al-Qur’an dan As Sunnah serta memahami Al-Qur’an dan As Sunnah harus melekat pada diri kita sebagai seorang muslim. Tatkala kita mendengar hadist Rasulullah diatas sama halnya kita analogikan dengan kewajiban sholat fardhu. Maka siapa yang menyandang gelar sebagai seorang muslim maka tidak ada alasan untuk tidak menuntut ilmu.

Ketika kita membaca biography kehidupan para ulama maka kita akan menemukan betapa besarnya penghargaan mereka terhadap ilmu , sampai seorang ulama mengatakan: “Jika engkau memberikan seluruh yang ada padamu untuk ilmu maka ilmu itu paling banyak hanya memberikan setengah bagiannya padamu”.

Semangat para ulama dalam menuntut ilmu sangat didorong kuat oleh semangat dan obsesi mereka untuk mendapatkan janji Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagaimana dalam hadist Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699).

Tidak ada obsesi dan cita-cita yang paling tinggi bagi seorang muslim kecuali masuk surga  dan jalan yang mudah untuk masuk surga adalah menuntut ilmu.

Ada beberapa penghalang-penghalang dalam menuntut ilmu yang disebutkan oleh para ulama diantaranya adalah :

  1. Menuntut ilmu niatnya bukan karena Allah Subhanahu wata’ala.

Menuntut ilmu merupakan ibadah kepada Allah Subhanahu wata’ala yang harus dengan niat dan ikhlas karena Allah Subhanahu wata’ala, ketika seorang muslim tidak mengikhlaskan niatnya menuntut ilmu maka ini akan menjadi penghalang utama dari seorang penuntut ilmu  untuk mendapatkan apa yang ia inginkan dari ilmu tersebut. Dalam hadist Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ, لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيْبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا، لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Siapa yang mempelajari ilmu yang seharusnya dipelajari dalam rangka mengharapkan wajah Allah, namun ternyata mempelajarinya karena ingin beroleh materi dari dunia ini, ia tidak akan mencium wangi surga pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud).

Salah seorang ulama Sufyan Ibnu Uyainah Rahimahullah mengatakan:“Tidak ada suatu perkara yang paling berat bagiku untuk aku obati daripada meluruskan niatku, karena niat itu bisa berubah-ubah terhadapku. (Hilyatul Auliya 7/5 dan 62).

Kata Hasan Al Basri Rahimahullah: “Siapa yang menuntut ilmu karena ingin mendapatkan kenikmatan akhirat maka ia akan mendapatkannya dan siapa yang menuntut ilmu karena ingin mendapatkan dunia maka yang ia dapatkan hanya bagian dunianya saja sedangkan akhiratnya tidak dia dapatkan.”

Ada 3 hal yang sering diwasiatkan oleh para ulama dan sesama para ulama diantaranya adalah :

  1. Siapa yang selalu memperbaiki bagian dalamnya (hatinya) maka Allah akan memperbaiki penampilan fisiknya.
  2. Siapa yang memperbaiki hubungannya dengan Allah maka Allah akan memperbaiki hubungannya dengan manusia.
  3. Siapa yang memperbaiki urusan akhiratnya maka Allah akan memperbaiki urusan dunianya.
  1. Tidak mengamalkan ilmu yang sudah dipelajari

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ

Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya”. (HR at-Tirmidzi (no. 2417), ad-Daarimi (no. 537)).

Seseorang yang mengoleksi buku yang begitu banyak namun tidak pernah ia baca dan amalkan justru akan menjadi petaka baginya kelak dihadapan Allah Subhanahu wata’ala karena akan ditanya kelak dihari kemudian.

Ibnu Taimiyah Rahimahullah pernah mengatakan:”Jangan sampai engkau hanya memperbanyak hujjah, alasan dan argumentasi yang akan mencelakakan engkau dihadapan Allah Subhanahu wata’ala.

Sahabat Abu Darda Radhiyallahu ‘anhu berkata:”Engkau tidak akan menjadi seorang ‘alim atau seorang ulama sampai engkau menjadi seorang penuntut ilmu, dan engkau tidak akan pernah menjadi seorang ulama yang sebenarnya sampai engkau mengamalkan ilmu yang engkau pelajari”.

Islam adalah agama yang beriorentasi pada amalan, kalau ilmu tidak ada efek amalnya berarti dia bukan ilmu yang bermanfaat untuk dipelajari.  inilah yang membedakan seorang muslim dengan seorang yahudi sebagaimana yang terdapat dalam surah Al fatihah “Ghairil Magdhubi ‘alaihim” salah satu penafsiran golongan orang yang dimurkai adalah orang yahudi karena orang yahudi punya ilmu tentang kebenaran tetapi mereka tidak mengamalkannya, maka seorang muslim yang mempunyai ilmu lalu dia tidak mengamalkannya berarti dia memiliki kemiripan dengan orang yahudi.

Al Fudhail ibnu iyadh Rahimahullah seorang ulama Tabi’in mengatakan:”Seorang alim itu akan tetap disebut sebagai seorang yang jahil (bodoh) jika dia tidak mengamalkan ilmu yang telah ia ketahui”. Dan jika mengamalkan ilmu yang telah dipelajari maka dia termasuk orang yang alim.

Mengamalkan ilmu adalah salah satu sebab utama kita mendapatkan keberkahan dari ilmu tersebut, barokah adalah bertambahnya dan bertumbuhnya kebaikan yang dimiliki, Allah Subhanahu wata’ala akan menambahkan kepada kita ilmu, dan memudahkan kita untuk mempelajari ilmu – ilmu yang lain selama mengamalkan ilmu yang telah dipelajari. Salah satu sebab seorang ulama menjadi istimewa karena pertambahan ilmu mereka seiring dan sejalan dengan bertambahnya ibadah mereka kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Wallahu a’lam Bish Showab

InsyaAllah akan dilanjutkan pembahasan point selanjutnya.



oleh: Ustadz Muhammad Ihsan Zainuddin,Lc., M.Si.  Hafidzahullahu Ta’ala

Senin, 11 Safar 1438 H

@Masjid Nurul Hikmah_MIM

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR