بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ

Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam) akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula)“. (QS. Az Zumar:30).

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan“. (QS. Ali Imran:185).

وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِّن قَبْلِكَ الْخُلْدَ ۖ أَفَإِن مِّتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ

Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad), Maka apabila jikalau mati, Apakah mereka akan kekal?”. (QS. Al-Anbiya : 34).

Kita semua adalah anak – anak dari orang yang telah meninggal dunia, bapak , kakek dan nenek kita telah mendahului kita semua dengan kematian, adapun kita masih menunggu kematian yang akan menjemput kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Jibril ‘Alaihissalam untuk menyampaikan wasiat dan peringatan secara khusus kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana dalam sebuah hadits dari Sahl ibnu Sa’ad Radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam At Tabrani Rahimahullah fil mu’jam Rasulullah menyebutkan bahwasanya jibril ‘Alaihissalam datang kepadaku memberi beberapa nasehat dan wasiat: Wahai Muhammad hiduplah semaumu, tapi ingat bahwa akhirnya kamu akan mati. Cintailah siapapun, tapi ingat suatu saat engkau akan berpisah dengan yang engkau cintai itu. Berbuatlah sekehendak hatimu, tapi ingat engkau akan menerima balasannya. Ketahuilah bahwa kemuliaan orang mukmin tergantung pada shalat malamnya dan kemuliaan manusia itu terletak pada tidak bergantungnya pada manusia yang lain.

Sebelum kematian datang maka ia harus melewati sakaratul maut terlebih dahulu , Perhatikanlah bagaimana kondisi dan keadaan orang – orang sholeh ketika menghadapi sakaratul maut:

  1. Allah Subhanahu wata’ala pernah bertanya kepada Nabi Ibrahim Alaihissalam, kekasih Allah Subhanahu wata’ala dan ia juga merupakan bapak dari seluruh Nabi dan Rasul, Allah Subhanahu wata’ala pernah bertanya kepadanya tentang kematian yang kemudian dikabarkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Allah Subhanahu wata’ala berkata kepadanya : “Bagaimana engkau mendapatkan kematian wahai Ibrahim”, Nabi Ibrahim menjawab:”Saya mendapati kematian itu Ya Rabb seperti sepotong besi yang diletakkan pada kapas basah yang ditarik dengan paksa”. Allah Subhanahu wata’ala berkata lagi kepada Ibrahim”Padahal kami telah memudahkan kematian itu untukmu wahai Ibrahim,
  2. kemudian Allah berkata kepada Nabi Musa Alaihissalam: “Bagaimana engkau merasakan kematian wahai musa Ibnu Imran” Musa menjawab: “Saya mendapati kematian itu seperti se’ekor burung yang dimasukkan kedalam penggorengan yang panas”.

Berdasarkan nash dan dalil yang ada menunjukkan semua manusia akan mengalaminya adapun orang kafir akan menjadi  siksaan yang panjang untuknya sebelum ia merasakan siksaan yang lebih besar,

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

Kami akan merasakan kepada mereka azab yang ringan sebelum mereka merasakan azab yang lebih pedih”.

Ada yang mengatakan bahwa ini berlaku ayatnya terhadap siksaan dan musibah yang menimpa manusia didunia namun ada juga yang mengatakan perihnya sakaratul maut bagi orang – orang kafir.

Kisah Wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum meninggal, beliau diberikan isyarat oleh Allah Subhanahu wata’ala dengan diturunkannya Firman Allah Subhanahu wata’ala:

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ، وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا، فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Menerima taubat”. (QS . An Nashr : 1-3).

Para sahabat tidak paham ayat tersebut sebagai isyarat dekatnya ajal Rasulullah namun Sahabat Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu memahami diturunkannya surah tersebut adalah merupakan isyarat semakin dekatnya ajal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam karna tugas beliau telah selesai, setelah beliau menyampaikan dakwah dan amanah, Allah kemudian menyuruhnya untuk memperbanyak istighfar dan bertobat kepadaNya sebagaimana yang terdapat pada akhir ayat dalam surah diatas.

Beliau telah menyampaikan isyarat tersebut kepada para sahabat, bahkan ketika beliau berkhutbah kepada para sahabatnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan: “Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala memberikan pilihan kepada seorang hamba antara tinggal didunia atau kembali kepada Allah namun ia memilih untuk kembali kepada Allah Subhanahu wata’ala” lalu menangislah Abu Bakar As Siddiq Radhiyallahu ‘anhu, para sahabat berkata:”Apa yang membuat Abu Bakar As Siddiq Radhiyallahu ‘anhu ini menangis”, Rasulullah hanya menyampaikan:”Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala memberikan pilihan kepada seorang hamba antara tinggal didunia atau kembali kepada Allah namun ia memilih untuk kembali kepada Allah Subhanahu wata’ala”. Namun Abu Bakar As Siddiq Radhiyallahu ‘anhu faham bahwa yang dimaksudkan hamba tersebut adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia terbaik yang telah mendapatkan jaminan ampun dari Allah Subhanahu wata’ala yang telah lalu dan yang akan datang, beliau adalah orang yang telah dijamin masuk surga, akan tetapi beliau juga merasakan kematian, bagaimana dan keadaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala menghadapi proses kematian, simaklah bagaimana kisah kematian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berikut:

“Beliau merasakan perinya sakaratul maut sampai – sampai beliau meminta air untuk membasahi wajahnya, kemudian beliau berkata:”Tidak ada tuhan selain Allah, Sesungguhnya kematian itu memiliki sakarat (kepedihan)”. hal inilah yang dirasakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sampai Fatimah Radhiyallahu ‘anha yang melihat ayahnya dan berkata:”Wahai bapakku, wahai bapakku betapa kasihannya engkau”, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Setelah hari ini wahai Fatimah tidak ada lagi kesusahan yang akan didapatkan oleh bapakmu”.

Pada saat itu turunlah malaikat Jibril ‘Alaihissalam dan memberi salam kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam :”Assalamu ‘alaika Ya Rasulullah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam membalas ucapan malaikat Jibril, malaikat Jibril kemudian berkata:”Ya Rasulullah saya datang bersama dengan malaikat maut yang diutus oleh Allah Subhanahu wata’ala untuk mencabut nyawamu, Ya Rasulullah namun ia menunggu diluar, saya tidak mengizinkan masuk sampai engkau mengizinkan dia masuk Ya Mahammad, karena sesungguhnya ia telah diperintahkan oleh Allah Subhanahu wata’ala untuk tidak masuk menemuimu sebelum engkau memberikan izin kepadanya, Demi Allah sebelum engkau, tidak pernah malaikat maut itu meminta izin ketika hendak mencabut nyawa seseorang dan malaikat maut itu tidak akan pernah meminta izin mencabut nyawa seseorang setelahmu wahai Muhammad.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata:”izinkan malaikat maut masuk wahai Jibril”. Maka masuklah malaikat maut beliau berkata:”Assalamu ‘alaika Ya Rasulullah (Kesalamatan untukmu Ya Rasulullah), Sungguh Allah telah memberikan perintah kepadaku untuk memberikan pilihan kepadamu Ya Rasulullah (para Anbiya mereka diberi pilihan), jika engkau perintahkan aku untuk mencabut ruhmu aku akan mencabutnya sekarang, jika engkau memerintahkan aku untuk meninggalkan kamu maka aku akan kembali kepada Allah ”.

Setelah malaikat maut berkata:”Ya Rasulullah perintahkan aku sesuai dengan yang engkau inginkan jika engkau mengatakannya sekarang aku akan melakukannya sekarang namun jika engkau mengatakan jangan maka aku akan kembali kepada Allah”. Rasulullah kemudian memandang kepada jibril Alaihissalam, Jibril kemudian berkata:”Ya Rasulullah sesungguhnya Allah rindu berjumpa denganmu (Allah Subhanahu wata’ala menyampaikan salamnya kepada Rasulullah melalui malaikat jibril alaihissalam dan menyampaikan kepada Rasulullah_Penj), Allah telah rindu berjumpa denganmu”. Hal ini pun akan didapati oleh orang yang beriman”.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian kembali memandang jibril dan berkata:”Saya juga demikian wahai Jibril, saya juga sudah rindu untuk berjumpa dengan Allah Subhanahu wata’ala”. Jadi Rasulullah juga mengungkapkan kerinduannya untuk berjumpa dengan Allah Subhanahu wata’ala. Jibril kemudian berpaling dan mendekatlah malaikat maut, jibril berkata:”Assalamu alaika ya Rasulullah, Assalamu ‘alaika Ya Habiballah, Assalamu ‘alaikum ahlal baiti warahmatuh min wabarakatuh”. Malaikat maut kemudian duduk didekat kepala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata:”Wahai ruh yang baik keluarlah engkau untuk mendapatkan ampunan dan keridhaan kepada Allah Subhanahu wata’ala”.(QS. Al Fajr : 27-30). Nabi merasakan sakaratul maut dan mengatakan:”Ya Allah berilah kemudahan kepada ummatku dalam menghadapi sakaratul maut”, Meninggallah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Walaupun ulama kita menyebutkan :”ini adalah hukuman yang dipercepat untuk orang kafir adapun untuk orang yang beriman adalah untuk meningkatkan derajatnya disisi Allah dan untuk menghapuskan dosa dosanya”.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ

Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh”.(QS. An Nisa : 78).

Andaikan kematian bisa dibayar dengan harta maka tidak ada orang kaya yang akan meninggal, sebagaimana orang kaya rela membayar dengan harta yang banyak agar sembuh dari penyakitnya.

Andaikan kematian itu dan malaikat maut bisa dilawan dengan pasukan bersenjata maka tidak ada penguasa yang meninggal dunia namun lihat kemanakah perginya para penguasa sekarang ini dan kita telah menjadi saksi mata betapa banyak penguasa yang berkuasa selama berpuluh – puluh tahun, namun pada akhirnya mereka semua telah meninggal dunia. Apa yang mereka kumpulkan didunia baik berupa harta dan jabatan tidak akan bermanfaat baginya tatkala kematian telah mendatanginya sebagaimana perkataan mereka:“ “hartaku sama sekali tidak berguna bagiku. Kekuasaanku telah hilang dariku”. (QS. AL Haqqah :28-29).

Inilah perkataan mereka ketika menjumpai kematian, apa yang mereka banggakan selama ini tidak bermanfaat sedikit pun.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ

Siapa rindu berjumpa dengan Allah, maka Allah rindu berjumpa dengan-Nya. dan siapa yang benci dengan Allah maka Allah benci berjumpa dengannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Sampai Aisyah Radhiyallahu ‘anha sendiri kaget dan berkata:”Ya Rasulullah apakah yang dimaksudkan benci berjumpa dengan Allah adalah benci dengan kematian bukankah kita semua ini benci dengan kematian ya Rasulullah”. Rasulullah bersabda: “ketika kematian menjemput orang-orang shaleh, maka turunlah malaikat dengan wajah yang berseri-seri yaitu malaikat maut dan malaikat rahmat menyambut kehadirannya. Allah Ta’ala berfirman:“sesungguhnya orang-orang yang mengatakan Tuhan kami ialah Allah kemudian mereka tetap istiqamah”.(QS. Al Ahqaf : 13). Ayat ini adalah kunci agar kita bisa mendapatkan husnul khotimah, agar kita didatangi oleh malaikat rahmah bukan malaikatul adzab, agar kain kafan yang akan membungkus ruh kita diambil dari surga yang berwarna putih bukan kain kafan yang diambil dari neraka, agar pintu-pintu langit dibukakan untuk ruh-ruh kita. Sebagaimana Nabi Shallalahu ‘alaihi wassalam Bersabda: “beriman kepada Allah kemudian berusaha untuk istiqamah”.

Ketika nyawa telah berada di kerongkongan maka tidak ada satupun yang mampu mengundurkannya dan menolaknya begitu pula dengan orang – orang yang ada di sekitarnya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

Maka kalau begitu mengapa (tidak mencegah) ketika nyawa telah sampai di kerongkongan. dan kamu ketika itu melihat, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu, tetapi kamu tidak melihat, maka mengapa jika kamu memang tidak dikuasai (oleh Allah), kamu tidak mengembalikannya (nyawa itu), jika kamu orang yang benar?”.(QS. Al-Waaqi’ah: 83-87).

Kata Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam Malaikat Israfil sejak diciptakan oleh Allah Subhanahu wata’ala telah bersiap untuk meniup sangkakala dan terus memandang ke arsy Allah Subhanahu wata’ala untuk menunggu perintah.

 Orang beriman ketika menjelang wafatnya dihibur oleh malaikat dengan berkata : “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami adalah Allah” kemudian mereka istiqomah pada pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu“. (QS. Fushilat: 30).

Istri yang akan menjadi janda dan anak yang akan menjadi yatim jangan takut dan sedih jika kita adalah orang – orang yang beriman. Allah Subhanahu wata’ala akan menjadi pelindung bagi keluarga yang ditinggalkan jika kita termasuk orang-orang yang beriman dan istiqamah di jalan Allah, sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wata’ala:

نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ

Kami-lah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya (surga) kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh apa yang kamu minta”. (QS. Fushilat: 31).

Cara Allah Subhanahu wata’ala menjaga anak dan istri kita tatkala kita meninggal dunia adalah dengan beriman kepada Allah lalu istiqamah inilah janji dari Allah Subhanahu wata’ala, Allah tidak akan menyelisihi janjinya.

Nabi Yusuf Alaihissalam yang telah menjadi Raja, kaya Raya namun beliau mengatakan:

فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَنْتَ وَلِيِّي فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ

“(Ya Allah) Tuhan Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat. Wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan golongan orang-orang yang saleh”(QS. Yusuf : 101).

Umar Bin Abdul Azis Rahimahullah mengatakan:”Jika sakaratul maut adalah merupakan penghapus dosa – dosa biarkanlah saya merasakannya”. Tatkala seseorang mengalami sakaratul maut maka syaithan akan datang dengan senjata pamungkasnya agar kita meninggalkan dunia ini dalam keadaan kafir kepada Allah Subhanahu wata’ala, suatu ketika Imam Ahmad Rahimahullah dalam keadaan kondisi sakit berat diakhir – akhir hidup beliau sempat dalam keadaan tidak sadarkan diri dan anak – anaknya telah mentalqin beliau namun beliau mengatakan:”belum, belum, belum”, ketika ia siuman anaknya berkata:”Wahai bapakku mengapa anda mengatakan:”belum, belum, belum”. Imam Ahmad Rahimahullah kemudian berkata:”Tadi syaithan datang kepadaku dengan menggigit jari jemarinya seakan akan ia sudah menyerah dan syaithan mengatakan:”engkau sudah selamat dariku wahai ahmad, engkau sudah selamat dariku wahai ahmad, engkau sudah selamat dariku wahai ahmad”.

Kisah Wafatnya Abu Bakar As Siddiq Radhiyallahu anhu

Beliau juga menghadapi perihnya sakaratul maut sampai anaknya ‘Aisyah bersedih melihat kondisi dan keadaan bapaknya dengan mengatakan:”Wahai bapakku, wahai bapakku”, beliau mengucapkan bait syair arab yang menunjukkan kesedihan dengan berkata:”Sesungguhnya tidak guna kekayaan bagi seseorang Ketika dada terasa sempit dan susah bernafas”, mendengar hal itu Abu Bakar As Siddiq Radhiyallahu anhu membuka penutup kepalanya memandang kepada ‘Aisyah lalu mengatakan:”jangan engkau mengucapkan dan mengatakan perkatakan syair itu wahai ‘Aisyah namun ucapkanlah perkataan yang Haq”, dengan mengucapkan: “Dan datanglah sakaratul maut yang sebenar-benarnya. itulah yang kamu selalu lari dari padanya.” (QS. Qaf: 19).

Setelah Abu Bakar As Siddiq Radhiyallahu anhu mengucapkan ayat tersebut salah seorang sahabat berkata kepadanya:”Wahai amirul mukminin bagaimana jika kami panggilkan untuk anda seorang dokter”. Abu Bakar As Siddiq Radhiyallahu anhu berkata:”Sungguh dokter itu sekarang telah memandangku dan melihatku”, ia berkata:”Sesungguhnya Aku akan berbuat apa-apa yang Kukehendaki”.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu dengan sebenar-benar ketakwaan kepada-Nya. Dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan sebagai muslim.” (QS. Ali Imran: 102).

Siapa yang kebanyakan kondisi dan keadaan hidupnya mengerjakan sesuatu maka ia akan diwafatkan dalam kondisi dan keadaan tersebut.

Firman Allah Subhanahu wata’ala:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ﴿٢٧﴾ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ﴿٢٨﴾ فَادْخُلِي فِي عِبَادِي ﴿٢٩﴾ وَادْخُلِي جَنَّتِي ﴿٣٠

Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai; lalu masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku”.(QS. Al Fajr : 27-30).

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Senin , 26  Rabiul Awal 1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi :
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/channel/UCIGoaFDkENVOY187i92iRqA

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE : mim.or.id

PIN BBM : D23784F8

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR