بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Salah seorang sahabat yang bernama Abu Dahdah beliau termasuk sahabat yang kaya raya, dia memiliki kebun kurma sebanyak 600 pohon, didalamnya ada sumur sebagai sumber mata air dan juga ada rumah. Nabi dan para sahabat sering berkunjung kerumahnya ketika beliau panen kurma.

Bisa dibayangkan orang fakir yang ada di Madinah terkadang mendapatkan upah untuk menghidupi keluarganya dengan merawat satu pohon kurma lalu bagaimana jika jumlah pohon kurma sebanyak 600.

Suatu hari Abu Dahdah berada dimajelis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian datang salah seorang anak yatim yang mengadu kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, anak yatim ini memiliki kebun kurma kecil dan tidak banyak, ia mau membuat pagar atau dinding untuk kebunnya tetapi berdampingan dengan sebuah kebun yang kurmanya masuk ke kebunnya (kurmanya berdiri tidak lurus) sehingga dindingnya tidak bisa ia dirikan dengan lurus kecuali dengan memasukkan satu pohon kurma tersebut, akhirnya dia datang kepada pemilik kebun meminta dengan baik:”Anda memiliki banyak pohon kurma dan saya mau membuat dinding di kebun saya tetapi dinding saya tidak bisa lurus jika satu pohon kurma anda tidak masuk ke dalam kebun saya, bisakah anda memberikannya kepadaku.?”, ia berkata:”Saya tidak mau”, orang yatim ini terus meminta tolong namun pemilik kebun tetap berkata:”Tidak”, orang yatim ini lalu berkata:”Jika begitu jual kepada saya, saya mau beli”, ia berkata:”Saya tidak mau jual”, akhirnya orang ini menyerah, ia kemudian datang kepada Nabi untuk mengadu:”Ya Rasulullah Saya punya kebun bertetangga dengan kebun saudara saya dari kaum anshar, ada satu pohon kurma yang saya minta agar dinding saya bisa tegak, akan tetapi dia tidak mau”, Rasulullah berkata:”Panggil dia”, maka dipanggillah orang tersebut ke majelis Rasulullah dan dimajelis itu ada Abu Dahdah, setelah dipanggil Nabi kemudian berkata:”Saudaramu ini, minta satu pohon kurma agar dia bisa mendirikan dindingnya tolong beri dia satu pohon tersebut”, ia berkata:”Saya tidak mau Ya Rasulullah”, Nabi berkata:”Tolang beri saudaramu anak yatim ini pohon kurma yang satu itu dan saya jamin untuk mu satu pohon kurma di surga”, ia berkata:”Saya tidak mau Ya Rasulullah”, akhirnya nabi diam dan tidak bisa berbuat apa –apa dan berusaha mencari cara lain.

Tiba – tiba tampillah Abu Dahdah, ia berkata:”Ya Rasulullah, jika saya berusaha membeli satu pohon kurma itu dan saya berikan kepada anak yatim itu apakah pohon kurma yang anda sampaikan tadi kepada dia menjadi milik saya”, Rasulullah berkata:”Ia”, Abu Dahdah berkata:”Tunggu Ya Rasulullah, saya berbicara dengan dia”, Abu Dahdah kemudian mendatangi pemilik kurma tersebut dan berkata:”Engkau tahu kebun saya”, orang ini berkata:”Siapa yang tidak kenal kebunmu, didalamnya ada 600 pohon kurma, ada rumah dan ada sumber mata air ini adalah harta yang luar biasa”, Abu Dahdah berkata:”Engkau mau gantian”, orang ini berkata:”Apa maksudnya.?”, Abu Dahdah berkata:”Beri saya satu pohon kurma itu yang diminta oleh anak yatim dan ambil semua kebunku”, orang ini berkata:”Saya terima”.

Abu Dahdah kemudian berkata:”Ya Rasulullah persaksikan, kebun saya 600 pohon kurma beserta rumah dan sumber mata air saya berikan kepadanya untuk mendapatkan satu pohon kurma itu dan ia berkata:”Saya terima”dan disitu banyak saksi, setelah terjadi akad Abu Dahdah menoleh kepada anak yatim dan berkata:”Wahai anak yatim satu pohon kurma itu silahkan engkau ambil”, Rasulullah kemudian sangat gembira dan berkata:”Betapa banyak pohon kurma yang lebat sudah dipersiapkan untuk Abu Dahdah disurga”.

Abu Dahdah kemudian pulang menuju kebunnya di dalamnya ada istri dan anak – anaknya sedang menikmati kurma yang sudah matang, ketika dia sudah tiba dipintu rumah Abu Dahdah tidak mau masuk, ia berkata:”Bagaimana mungkin saya masuk karena ini sudah bukan milik saya dan bagaimana saya menyampaikan kepada istri dan anak – anak saya”, akhirnya dari luar rumah ia berteriak:”Wahai istriku Ummu Dahdah”, Ummu Dahdah heran karena suaminya teriak diluar rumah karena biasanya langsung masuk ke dalam rumah, Abu Dahdah berkata:”Keluarkan anak – anak kita dari kebun sekarang”, istrinya bertanya:”Apa yang terjadi, ini kebun kita mengapa kita keluar dan engkau menyuruh kami untuk meninggalkannya”, Abu Dahdah berkata:”Saya sudah menjualnya”, istrinya bertanya:”Engkau jual kemana, kepada siapa”, ia berkata:”Saya menjualnya kepada Allah”, istrinya berkata:”Demi Allah, ini adalah perdagangan yang sangat menguntungkan wahai suamiku”, istrinya kemudian memanggil anak-anaknya dan berkata:”Wahai anak-anakku kita keluar sekarang, ini sudah tidak halal bagi kita, bapakmu sudah jual kepada Allah”, ia periksa kantong anaknya satu demi satu jangan sampai ada kurma yang dibawa keluar bahkan anaknya yang masih kecil mulutnya diperiksa dan diperintahkan untuk mengeluarkannya, akhirnya semuanya keluar.

Beginilah para perindu surga, apa yang hendak kita katakan kepada diri kita, terkadang untuk diri kita sendiri masih sangat malas untuk menunaikan sholat kemudian kita mau mengatakan mau masuk surga, terkadang kita masih berfirkir 1000 kali ketika agama ini butuh pengorbanan dari kita, siapa gerangan yang bisa memberikan pinjaman kepada Allah, Allah tidak butuh pinjaman akan tetapi kita yang butuh untuk dibayar lunas pada hari kiamat, inilah generasi para salaf dan inipula yang diperintahkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, kebaikan apapun kerjakan dan lakukan yang bisa mendekatkan kita ke dalam surga, bukankah dalam doa kita diajarkan:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ بِهِ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لِي خَيْرًا

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu seluruh kebaikan yang segera (dunia) dan yang tertunda (akhirat), kebaikan yang aku ketahui dan yang tidak aku ketahui. 
Dan aku berlindung kepadaMu dari segala keburukan yang segera (dunia) dan yang tertunda (akhirat), yang aku ketahui dan yang tidak aku ketahui.
Aku meminta kepada-Mu kebaikan semua doa yang pernah diminta oleh hamba dan nabi-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan, yang hamba dan nabi-Mu pernah berlindung darinya.
Aku memohon surga kepadaMu dan segala perkataan dan perbuatan yang mendekatkan kepadanya. Aku berlindung kepadaMu dari neraka dan segala perkataan dan perbuatan yang mendekatkan kepadanya.
Aku meminta segala sesuatu yang telah Engkau takdirkan untukku, hendaklah Engkau jadikan kebaikan bagiku.
(HR. Ahmad 25019, Ibnu Majah 3846 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth). Jangan kita zuhud dengan kebaikan apapun.

Wallahu a’lam Bish Showaab 


Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Kamis, 23 Jumadil Akhir 1439 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.