بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Qawa’id merupakan bentuk jamak dari Qa’idah berarti undang-undang, peraturan, asas. menurut istilah Qawa’id  adalah dasar-dasar umum yang berkaitan dengan masalah-masalah hukum dan perundang-undangan dalam Islam yang berdasarkan pada al-Qur’an, al-Sunnah, Ijma dan Qiyas. kata Qawa’id terdapat dalam firman Allah Subhanahu wata’ala:

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.(QS. Al-Baqarah :127). Al-Qur’an merupakan Qa’idah (pondasi) bagi orang yang beriman yang mengharapkan keselamatan dan kebahagiaan di kehidupan akhirat. Jika seorang muslim menginginkan kebahagiaan dan keselamatan maka kembali kepada Al-Qu’an  karena disanalah kebahagiaan yang hakiki yaitu bersama dengan kitabullah dan kalamullah.

Qawa’id  yang pertama disebutkan Oleh Syeikh Umar Al Muqbil Hafidzahulah mengambil penggalan ayat dalam surah Al-Baqarah, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

“Serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia”. (QS. Al-Baqarah:83)

Bahkan disandingkan untuk mentauhidkan Allah sebagaimana ayat lengkapnya berikut ini:

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْكُمْ وَأَنْتُمْ مُعْرِضُونَ

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling“.(QS. Al-Baqarah:83).

Jadi Allah Subhanahu wata’ala memasukkan perintah untuk senantiasa mengucapkan perkataan yang baik dalam rangkaian perintah untuk melakukan ibadah – ibadah yang agung disisi Allah Subhanahu wata’ala, Syeikh Umar Al Muqbil Hafidzahullah mengatakan bahwasanya ayat yang serupa dengan ayat diatas banyak dijumpai dalam Al-Qur’an baik secara langsung Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan kepada kita untuk berkata baik seperti dalam ayat Audhimnan (Tersirat) diantaranya dalam surah Al Isra, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا

Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia“. (QS. Al Isra: 53). Dalam ayat ini ada yang disebut mantukul ayat, mantuknya atau nash ayat ini adalah perintah untuk berkata baik, Mafhumnya yang dapat kita pahami dalam ayat tersebut bahwa perkataan yang buruk bisa menimbulkan permusuhan diantara manusia dan hal ini dilakukan oleh syaithan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan dalam hadistnya

Dari Jabir bin Abdillah Radhiallahu ‘anhu dia berkata, Aku mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda:

إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَلَكِنْ فِي التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ

“Sesungguhnya setan telah putus asa untuk disembah oleh orang-orang yang shalat di jazirah arab, akan tetapi dia mengadu domba di antara mereka.” (HR. Muslim no. 2812). Lalu apa yang dilakukan oleh syaithan yang hanya bisa mereka lakukan adalah merusak hubungan diantara manusia sehingga menimbulkan permusuhan dan perpecahan.

Dan juga dalam firman Allah Subhanahu wata’ala dalam surah Al Ankabut ayat 46:

وَلا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang baik“. (QS. Al Ankabut ayat 46).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِى رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِى وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِى أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

“Aku menjamin sebuah rumah di pinggir jannah (surga) bagi siapa saja yang meninggalkan perdebatan berkepanjangan meskipun ia dalam kebenaran (al haq), juga sebuah rumah di tengah jannah bagi siapa  saja yang meninggalkan berbohong walaupun ia sedang bercanda, serta sebuah rumah di puncak jannah bagi siapa  saja yang berakhlak mulia”. (HR. Abu Dawud, Dinyatakan Hasan shahih oleh Syaikh Al Albani). Yang dimaksudkan adalah debat kusir yang tujuannya bukan untuk mencari kebenaran akan tetapi untuk dikatakan sebagai orang yang hebat dalam berdebat.

Imam Syafii Rahimahullah berkata:

Tidaklah saya berdebat dan berdiskusi dengan seseorang melainkan saya berharap Allah mengalirkan kebenaran itu lewat lisannya”. Yang menunjukkan keikhlasan beliau, bahkan beliau berharap ilmu yang saya tinggalkan ini tidak dinisbahkan kepada saya.

Syeikh Umar Al Muqbil Hafidzahullah mengatakan perkataan yang baik ada 2 sebagaimana yang di perintahkan oleh Allah Subhanahu wata’ala, perkataan yang baik itu mencakup baik cara penyampaiannya dengan lemah lembut, tidak kasar, tidak keras, kemudian yang kedua materi yang disampaikan mengandung kebaikan. Dan hal inilah yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sampai beliau dipuji didalam Al-Qur’an

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَا نْفَضُوْا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَا وِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ المُتَوَكِّلِيْنَ.

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”. (QS. Ali Imran Ayat 159).

Pernah suatu ketika ada seorang sahabat yang ikut sholat bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dia bersin ketika dia bersin ia mengucapkan Alhamdulillah dalam sholatnya para sahabat yang mendengarkan ucapan tersebut menjadi geram (dia belum tahu hukumnya bahwasanya tidak boleh) karena awal islam boleh berbicara dalam sholat namun hal tersebut telah dihapuskan dan di mamsuh dengan firman Allah Subahanahu wata’ala.

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu“.(QS. Al-Baqarah: 238). Tidak boleh ada perkataan manusia didalamnya”

Setelah salam sahabat yang lain ada yang sampai memukul pahanya sebagai isyarat jengkelnya kepada orang tersebut dia kemudian mengatakan dan menyampaikan tentang uslubnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam beliau berkata:”Demi Allah Saya tidak pernah melihat seorang murabbi dan seorang muallim yang lebih baik dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam beliau tidak mencela dan memarahi saya tetapi disampaikan dengan lemah lembut bahwasanya sholat itu wahai saudaraku tidak cocok didalamnya perkataan manusia kecuali dzikir, tasbih dan bacaan sholat”.

Begitupula dengan kisah a’rabi yang kencing disudut masjid, hingga a’rabi ini tersentuh dengan akhlaknya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam beliau kemudian mengatakan:”Ya Allah Rahmati aku, Rahmati Muhammad dan jangan engkau rahmati selain kami berdua” sambil ia melihat kepada sahabat yang lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kembali membalas dengan perkataan yang lembut dengan berkata keapdanya:”Sungguh engkau telah mempersempit sesuatu yang luas wahai saudaraku orang arab”.

Sebuah contoh, ayam makanannya adalah beras atau jagung akan tetapi jika kita memberi makan ayam dengan cara melemparkan kearahnya maka ia akan lari, Terkadang kebaikan itu tidak sampai kepada seseorang disebabkan karena cara penyampaiannya kurang baik . maka dari itu sampaikanlah perkataan yang baik kepada manusia baik dalam bentuk cara penyampaian maupun materi yang disampaikan. olehnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan dalam hadist:

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam”. (HR. Muttafaq ‘alaih).

Barangsiapa banyak bicara, maka banyak pula salahnya; dan barangsiapa banyak salah, maka banyak pula dosanya; dan barangsiapa banyak dosanya maka api neraka lebih utama baginya.(HR. Ath-Thabrani).

Ucapan kebaikan bernilai sedekah disisi Allah Subhanahu wata’ala bahkan akan menyelamatkan kita dari api neraka. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Takutlah kalian terhadap api neraka meskipun (bersedekah) hanya dengan setengah biji kurma, dan jika kalian tidak mendapatkannya, maka hendaklah dengan kata-kata yang baik”. (HR. Muslim No.1690).

Syeikh Al Usaimin Rahimahullah mengatakan perkataan yang baik  terbagi menjadi 2:

  1. Hasanun lizatihi

Ada perkataan baik pada dzatnya, seperti dzikir kepada Allah Subhanahu wata’ala. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Ada dua orang Arab (badui) mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, lantas salah satu dari mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, manusia bagaimanakah yang baik?” “Yang panjang umurnya dan baik amalannya,” jawab beliau. Salah satunya lagi bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syari’at Islam amat banyak. Perintahkanlah padaku suatu amalan yang bisa kubergantung padanya.” “Hendaklah lisanmu selalu basah untuk berdzikir pada Allah,” jawab beliau”. (HR. Ahmad 4: 188 Dari Sahabat ‘Abdullah bin Busr). Perbanyak berdzikir kepada Allah Subhanahu wata’ala dalam setiap keadaan dan kondisi kita karena hal tersebut akan menentramkan hati dan jiwa.

  1. Hasanun at thayyibatun lighairihi

Perkataan yang baik bukan pada dzatnya yang asalnya adalah mubah akan tetapi niatnya memasukkan kegembiraan kedalam hati –hati manusia, membahagiakan saudara kita dengan ucapan salam disertai dengan ucapan yang baik seperti menanyakan kabar dan yang semisalnya.

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Senin , 07  Rabiul Akhir 1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi :
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/channel/UCIGoaFDkENVOY187i92iRqA

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE : mim.or.id

PIN BBM : D23784F8

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR