بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Syaithan suka mendatangi orang-orang yang ragu – ragu namun ketika seseorang memperlihatkan kesungguhannya maka Allah Subhanahu wata’ala akan memberikan kepadanya petunjuk. Imam Nawawi Rahimahullah menjadikan firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat yang ke 148:

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

“Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan”. (QS. Al-Baqarah: 148).

Kemudian firman Allah dalam surah Ali ‘Imran ayat yang ke 133,
Allah Subhanahu wata’ala befirman:

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”. (QS. Ali ‘Imran : 133).

Dalam ayat ini seakan Allah hendak mengatakan kepada kita jika saja lebarnya seperti langit dan bumi lalu bagaimana luasnya sebagaimana firman Allah tentang selimutnya penghuni surga:

مُتَّكِئِينَ عَلَىٰ فُرُشٍ بَطَائِنُهَا مِنْ إِسْتَبْرَقٍ ۚ وَجَنَى الْجَنَّتَيْنِ دَانٍ

“Mereka bertelekan di atas permadani yang sebelah dalamnya dari sutera. Dan buah-buahan di kedua surga itu dapat (dipetik) dari dekat”. (QS. Ar-Rahman: 54). Jika bagian dalam nya selembut sutra lalu bagaimana pada bagian luarnya.

Salah seorang ulama mengatakan:”Sungguh merugi seseorang yang tidak masuk ke dalam surga padahal luasnya seperti langit dan bumi”. Dengan demikian jangan pernah terbetik dalam benak bahwa kita tidak akan masuk surga karena surga sempit, tidak sama sekali karena surga luasnya seperti langit dan bumi, ayat ini menunjukkan bahwasanya dalam urusan akhirat kita berlomba – lomba. Diantara akhlak yang terpuji adalah tidak tergesa-gesa ini dalam hal urusan dunia, adapun dalam urusan akhirat berlomba – lomba dalam kebaikan adalah akhlak yang terpuji.

Dalam Al-Qur’an perkara akhirat kita disuruh untuk bercepat –cepat dan berlomba sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (QS. Jumu’ah: 19).

Olehnya antara Safa dan Marwa disebut Sai karena berjalan cepat, bukan dipahami bahwa dari rumah berlari ke masjid akan tetapi yang dimaksudkan adalah ada perhatian, ada ikhtimam. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ذَا كَانَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ وَقَفَتْ الْمَلَائِكَةُ عَلَى أَبْوَابِ الْمَسْجِدِ فَيَكْتُبُونَ الْأَوَّلَ فَالْأَوَّلَ فَمَثَلُ الْمُهَجِّرِ إِلَى الْجُمُعَةِ كَمَثَلِ الَّذِي يُهْدِي بَدَنَةً ثُمَّ كَالَّذِي يُهْدِي بَقَرَةً ثُمَّ كَالَّذِي يُهْدِي كَبْشًا ثُمَّ كَالَّذِي يُهْدِي دَجَاجَةً ثُمَّ كَالَّذِي يُهْدِي بَيْضَةً فَإِذَا خَرَجَ الْإِمَامُ وَقَعَدَ عَلَى الْمِنْبَرِ طَوَوْا صُحُفَهُمْ وَجَلَسُوا يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ

Jika tiba hari Jum’at, maka para Malaikat berdiri di pintu-pintu masjid, lalu mereka mencatat orang yang datang lebih awal sebagai yang awal. Perumpamaan orang yang datang paling awal untuk melaksanakan shalat Jum’at adalah seperti orang yang berkurban unta, kemudian yang berikutnya seperti orang yang berkurban sapi, dan yang berikutnya seperti orang yang berkurban kambing, yang berikutnya lagi seperti orang yang berkurban ayam, kemudian yang berikutnya seperti orang yang berkurban telur. Maka apabila imam sudah muncul dan duduk di atas mimbar, mereka menutup buku catatan mereka dan duduk mendengarkan dzikir (khutbah)”. (HR. Ahmad dalam Musnadnya no. 10164). Jangan beribadah hanya sekedar untuk menggugurkan kewajiban.

Adapun dalam urusan dunia, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ ۖ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

“Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan”. (QS. Al-Mulk :15). Dalam ayat ini Allah berkata:“Berjalanlah”.

Itsar adalah pucak ukhuwah yang paling tinggi, apa yang dimaksud dengan itsar, itsar adalah mendahulukan saudaranya walaupun dia butuh, Allah berfirman:

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung”.
(QS. Hasyr : 9).

Ini dalam urusan dunia adapun dalam urusan akhirat tidak ada itsar. Pernah dimajelisnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam beliau hendak mau memberikan minuman kepada para sahabat yang ada didepannya pada sebelah kanan Rasulullah ada sahabat Khalid ibn Walid dan selebihnya sahabat – sahabat senior, ada sahabat yang umurnya lebih muda dari mereka, jika mau diberikan maka sunnahnya dimulai dari kanan apalagi sisa dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam itu berberkah.

Sisa bekam Nabi pernah dibawa oleh Abdullah ibn Zubair ketika masih kecil, Nabi berbekam dan darahnya disimpan pada sebuah botol, Nabi berkata kepadanya:”Bawa darah ini dan simpan ditempat yang tidak dilihat oleh orang“, ia kemudian pergi ke tempat yang sepih dan tidak dilihat oleh orang, setelah berada ditempat tersebut ia minum darah Rasulullah kemudian kembali kepada Nabi, Nabi berkata kepadanya:”Mungkin engkau minum darah tersebut”, ia berkata:”Benar Ya Rasulullah, saya meminumnya”, Abdullah bin Zubair setelah minum darah Rasulullah dia tidak pernah mengenal takut karena darahnya telah bercampur dengar darah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, namun ini hanya kekhususan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam begitupula dengan keringat dan rambut Nabi, ketika Nabi bercukur para sahabat berlomba untuk mengambil sisa rambut beliau, tidaklah beliau meludah kecuali ludahnya jatuh ke tangan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, keringat Rasulullah sangat harum bahkan Ummu Sulaim pernah mengambil keringat Rasulullah dan mengatakan:”Ini parfum yang sangat harum”.

Dalam urusan akhirat tidak ada itsar sebagai contoh ketika sholat berjama’ah kemudian shaf pertama ada yang kosong jangan saling mempersilahkan atau saling mendorong untuk menempati shaf yang terdepan akan tetapi hendaknya langsung menempati shaf tersebut, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِى النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلاَّ أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاَسْتَهَمُوا

Seandainya setiap orang tahu keutamaan adzan dan shaf pertama, kemudian mereka ingin memperebutkannya, tentu mereka akan memperebutkannya dengan berundi”. (HR. Bukhari no. 615 dan Muslim no. 437).

Wallahu a’lam Bish Showaab 


Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Sabtu, 14 Sya’ban 1440 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.