بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Firman Allah Subhanahu wata’ala dalam surah Ghasyiah:

أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ , وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ , وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ , وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ , فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan, Dan langit, bagaimana ia ditinggikan?, Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan?, Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?,
Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan”.
(QS. Ghasyiyah : 17-21).

Disini Allah menjadikan unta sebagai perumpamaan walaupun dalam banyak ayat Allah menjadikan hewan – hewan yang lain sebagai contoh dan perumpamaan seperti lebah, semut dll.

Dalam ayat ini Allah menyampaikan kepada orang – orang arab yang mengingkari tentang hari berbangkit:

هَلۡ اَتٰٮكَ حَدِيۡثُ الۡغَاشِيَةِؕ

“Sudahkah sampai kepadamu berita tentang (hari Kiamat)?”. (QS. Ghasyiyah : 01). dan ayat selanjutnya, Diceritakan kepada mereka tentang surga dan neraka ada yang mendapatkan surga dan ada yang mendapatkan neraka namun itu tidak bermanfaat bagi mereka, Allah perintahkan kepada Nabi untuk memperingatkan mereka tentang hari kiamat, mengingatkan kepada mereka surga dan neraka namun mereka tetap tidak mau beriman kepada Allah, setelah itu coba ingatkan mereka dengan ciptaan – ciptaan Allah yang ada disekeliling mereka.

Allah memulai dengan yang paling dekat dengan mereka yang setiap hari hidup bersama dengan  mereka yaitu unta, mungkin ada diantara kita pernah melihat film tentang keajaiban penciptaan unta, unta memiliki punuk tempat untuk menampung air sehingga dia tahan berjalan dipadang pasir berhari – hari lamanya tanpa minum, kemudian gigi atau mulutnya dibekali dengan apa yang Allah Subhanahu wata’ala berikan ketika dia memakan tumbuh – tumbuhan, tanam – tanaman yang tumbuh dipadang pasir yang rata – rata itu berduri dia tidak terluka ketika makan tanaman tersebut ditambah lagi dengan matanya yang begitu sempurna diciptakan oleh Allah ketika ada badai pasir dia tidak terganggu sedangkan manusia berlindung dengan menggunakan unta, ditambah lagi kekhususan 4 sifat binatang dan hewan yang terkumpul pada unta tersebut, sebagamana kita tahu hewan dan binatang terbagi menjadi 4 yaitu akula, haluba, hamula dan rakuba ini adalah 4 jenis hewan secara umum adapun akula hewan dan binatang yang khusus dimakan saja seperti ayam, kemudian haluba yang diperah susunya tapi tidak pas untuk dimakan atau tidak terlalu banyak dimanfaatkan untuk dimakan karena yang dibutuhkan khusus susunya, adapun hamula hewan atau binatang yang khusus membawa beban – beban berat, barang – barang berat seperti kuda, keledai dan himar, kemudian rakuba seperti biqal yang merupakan perkawinan antara kuda dengan himar atau keledai, semua sifat ini terkumpul pada unta dan masih banyak lagi keajaiban – keajaiban yang lain.

Dalam ayat diatas Allah mengurutkan yang dimulai dengan unta, langit, gunung dan bumi yang terhampar, mengapa demikian karena yang paling dekat dengan seseorang adalah kendaraannya ketika dia mengendarai unta yang panjang lehernya kemudian unta itu berjalan keluar maka ia akan melihat langit, kemudian gunung-gunung dan hamparan bumi yang diciptakan oleh Allah Subhananahu wata’ala.

Semua ini akan semakin menundukkan hati – hati kita kepada Allah Subhanahu wata’ala. Oleh sebab itu Allah menyampaikan kepada Muhammad untuk memperingatkan mereka akan penciptaan makhkuk Allah berupa unta, langit (yang tanpa tiang penyanggah) yang mereka lihat diatas kepala mereka dan gunung – gunung yang begitu kokoh serta bumi yang dihamparkan oleh Allah Subhanahu wata’ala. 

Wahai Muhammad ingatkan mereka tugasmu hanya untuk mengingatkan mereka, jika engkau telah mengingatkan mereka tentang hari kiamat dan engkau telah mengingatkan mereka tentang surga dan neraka dan engkau telah mengingatkan mereka makhluk – makhluk Allah dan masih saja mereka menyombongkan diri berpalinglah tugasmu hanya mengingatkan dan engkau tidak mampu mengusai mereka, Allah berfirman:

إِنَّمَا أَنْتَ مُنْذِرُ مَنْ يَخْشَاهَا

“Kamu hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari berbangkit)”. (QS. An-Naziat : 45).

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman”. (QS. Al-Baqarah : 6).

Mengapa Allah berkata seperti ini kepada Nabinya karena sebagaimana dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu wata’ala berfirman dalam Surah Al-Kahfi:

فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ عَلَىٰ آثَارِهِمْ إِنْ لَمْ يُؤْمِنُوا بِهَٰذَا الْحَدِيثِ أَسَفًا

“Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Quran)”. (QS. Al-Kahfi : 6).

Maksud dari ayat ini adalah Nabi jika beliau menyuruh orang lain untuk masuk ke dalam agama islam atau menunjukkan kepada mereka kebaikan namun orang ini tidak tunduk dan mengikuti ajakan beliau, beliau sangat bersedih, sampai – sampai Allah mengatakan kamu seperti hendak membunuh dirimu, dalam ayat yang lain Allah berfirman:”Wahai Muhammad jangan biarkan jiwamu ini terlalu menyesali akan kekufuran mereka“. Sifat seorang da’i ketika dia melihat ummatnya dan kaumnya berada dalam kesesatan jangan kemudian langsung dia sinis begitu saja tanpa ada rasa kasihan dan berusaha untuk mengambil tangannya dan menyelamatkannya, inilah Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam namun pada akhirnya Allah berfirman:”Tugasmu hanya menyampaikan”, adapun jika mereka tidak mengikuti Rasulullah maka mereka sendiri yang akan bertanggung jawab nanti dihadapan Allah Subhanahu wata’ala.

Kemudian ayat terakhir yang disebutkan oleh Imam Nawawi dalam bab ini:

 أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ دَمَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ ۖ وَلِلْكَافِرِينَ أَمْثَالُهَا

Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi sehingga mereka dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka; Allah telah menimpakan kebinasaan atas mereka dan orang-orang kafir akan menerima (akibat-akibat) seperti itu“. (QS. Muhammad: 10).

Sampai ummat – ummat yang sebelum kita dibinasakan oleh Allah yang juga merupakan tanda – tanda kebesaran Allah Subhanahu wata’ala, dalam ayat ini kita disuruh untuk berjalan melihat, apa yang kita lihat dipalu, donggala sangat nampak tanda – tanda kebesaran Allah Subhanahu wata’ala, Allah berfirman:

وَكَذَٰلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَىٰ وَهِيَ ظَالِمَةٌ ۚ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ

Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras“. (QS. Hud: 102).

Mereka larut dalam maksiat dan perbuatan dosa yang sebelumnya negeri itu kaya raya, aman dan tentram, makmur sentosa, Allah mendatangkan kepada mereka bencana dan hukuman, mata air mereka menjadi kering mereka tidak bisa mengambil manfaat dan faedah darinya dan bangunan – bangunan mereka yang dulunya kokoh hancur dilululantahkan oleh Allah Subhanahu wata’ala, apakah mereka tidak berjalan dipermukaan bumi melihat hal tersebut, hendaklah mereka melihat tanda – tanda kebesaran Allah yang menjadikan hati – hati mereka tunduk dan patuh kepada Allah dan telinga untuk mendengarkan semuanya namun sesungguhnya yang buta bukanlah mata akan tetapi hati yang dibutakan oleh Allah Subhanahu wata’ala, Allah berfirman:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik“. (QS. Hadid : 16).

Wallahu a’lam Bish Showaab 


Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Kamis, 12 Sya’ban 1440 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.