بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Rasulullah menerima wahyu dalam bentuk suara dan ketika suara itu hilang dan telah pergi beliau berkata:”Saya Sudah memahami apa yang hendak diwahyukan kepadaku“. Langsung dimasukkan ke dalam hati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, maka dari itu Al-Qur’an bermanfaat bagi orang yang memiliki hati terlebih lagi bagi mereka yang hatinya hidup, jadi syariat Allah barangsiapa yang mengambil manfaat didalamnya dan petunjuk darinya maka dia adalah orang yang memiliki hati yang hidup dan bukan orang yang hatinya dibutakan, kita hidup ditengah kaum muslimin dan ditengah banyaknya ilmu namun tidak semua mendapatkan hidayah dan petunjuk bahkan ada orang yang menampakkan kebencian secara terang – terangan terhadap islam, kepada syariat islam, kepada sesuatu yang telah menjadi prinsip dalam agama kita seperti syariat hijab, azan, sholat dan seterusnya dan apa yang mereka sembunyikan dalam hati mereka lebih besar lagi yaitu kebenciannya terhadap islam dan semoga mereka diberikan hidayah oleh Allah Subhanahu wata’ala.

Mengenakan pakaian yang sangat putih

Ini menunjukkan keutamaan warna putih, jika seseorang mempunyai baju yang begitu banyak maka merupakan aib baginya jika ia tidak memiliki baju yang berwarna putih, Rasulullah bersabda:

الْبَسُوا مِنْ ثِيَابِكُمُ الْبَيَاضَ فَإِنَّهَا مِنْ خَيْرِ ثِيَابِكُمْ وَكَفِّنُوا فِيهَا مَوْتَاكُمْ

Pakailah oleh kalian pakaian yang putih karena itu termasuk pakaian yang paling baik. Dan berilah kafan pada orang mati di antara kalian dengan kain warna putih”. (HR. Abu Daud no. 4061, Tirmidzi no. 994 dan Ibnu Majah no. 3566. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Apakah warna lain dibolehkan ?, dibolehkan namun yang lebih afdhal adalah warna putih.

Rambutnya sangat berwarna hitam

Ini menunjukkan rambut yang berwarna hitam lebih utama karena Jibril ‘Alaihissalam datang dalam keadaan rupa seorang lelaki dengan rambut yang sangat berwarna hitam, lalu mengapa ada diantara kita yang sengaja mengubah warna rambutnya dengan warna yang lain, menyemir rambut hanya karena mengikuti gaya sebagian orang yang jelas-jelas jauh dari agamanya, terkadang ada gambar yang sengaja rambutnya diwarna warni lalu digantung dipinggir jalan kemudian ditulis dibawahnya:”Nanti juga loe paham“, ini diantara bentuk pembodohan dan kerusakan moral yang terselubung karena apa yang bisa dipahami dari penampilan yang seperti ini, orang – orang yang labil melihat gambar tersebut meniru dengan tujuan agar menjadi paham setelahnya, oleh karenanya inilah pentingnya ilmu syar’i, jadikan diri kita selalu hadir dimajelis – majelis ilmu agar semua yang nampak dari kita baik yang dzahir maupun batin mencocoki syariat Allah Subhanahu wata’ala agar kita tidak tasyabbuh dengan orang – orang kafir, padahal dalam agama kita telah diatur hal – hal yang semperti itu sampai dalam penampilan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ , قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ : فَمَنْ

Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, -pen), pasti kalian pun akan mengikutinya”. Kami (para sahabat) berkata:”Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?”, Beliau menjawab:”Lantas siapa lagi?”. (HR. Muslim no. 2669). Kita harus bangga dengan penampilan islami begitupula dengan petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan dari apa yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Jibril ‘Alaihissalam paling banyak datang kepada Nabi dengan rupa seorang lelaki salah seorang sahabat yang terkenal dengan ketampanannya yang bernama Dihyah bin Khalifah Al-Kalbi, Jibril selalu datang kepada Nabi dengan menyerupai wajah sahabat tersebut namun kali ini Jibril datang dalam rupa yang lain, mengapa demikian karena Umar Radhiyallahu ‘anhu berkata:

Tak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan

Diantara tanda seseorang yang melakukan perjalanan jauh yaitu pakainnya menjadi kusam, berdebu, rambutnya kusut, padahal orang ini rambutnya sangat hitam, rapih dan bajunya sangat putih, misalkan orang asing datang dari jauh maka tanda tersebut akan nampak, sekalipun kita safar dengan menggunakan pesawat terbang, misalnya safar dengan naik pesawat kemudian tidur dengan sandar menggunakan punggung maka pakaian yang ia gunakan menjadi khusut.

Dan tak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya

Lelaki ini benar – benar asing, andaikan lelaki ini termasuk penduduk Madinah maka akan ada diantara sahabat yang hadir mengenalnya akan tetapi semua yang hadir ditempat tersebut heran dengan lelaki tersebut karena belum pernah bertemu sebelumnya, dalam sebagian riwayat dijelaskan bahwasanya ketika lelaki ini pergi maka para sahabat saling bertanya antara yang satu dengan yang lain dengan berkata:”Siapa orang ini begitu mengherankan dan telihat aneh“, karena lelaki ini datang dengan penampilan yang sangat rapi, rambutnya sangat hitam, bajunya sangat putih, tidak ada tanda – tanda safar dari dirinya dan tidak ada yang mengenalnya.

Ia segera duduk di hadapan Nabi

Dalam riwayat yang lain orang ini datang dengan menyeru:”Wahai Muhammad bisakah saya mendekat kepadamu”, Rasulullah berkata:”Mendekatlah“, ia berjalan mendekat kemudian kembali berteriak:”Ya Muhammad bisakah saya mendekat”, Rasulullah berkata:”Mendekatlah”, kemudian ia kembali berkata:”Ya Muhammad bisakah saya mendekat”, Rasulullah berkata:”Mendekatlah” sampai ia duduk di dekat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan mendekatkan kedua lututnya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sebagian ulama ada yang mengatakan bahwasanya orang ini datang ditengah majelisnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan ingin menunjukkan kepada seluruh yang hadir bahwasanya dia adalah orang yang datang dari pedalaman atau yang disebut dengan ‘arabi, orang ini memanggil nama Nabi Muhammad secara langsung sebagaimana disebutkan dalam lanjutan hadist ia meletakkan kedua telapak tangannya diatas kedua paha Rasulullah lalu ia berkata:”Ya Muhammad”, karena dikenal bahwasanya hanya orang – orang ‘arabi yang memanggil nama Nabi secara langsung adapun para sahabat tidak mungkin memanggil nama Rasulullah secara langsung, karena terdapat larangan dari Allah Subhanahu wata’ala, Allah berfirman:

لَا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا ۚ قَدْ يَعْلَمُ اللَّهُ الَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنْكُمْ لِوَاذًا ۚ فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih”. (QS. An-Nur : 63). Jadi tidak ada diantara sahabat yang berkata:”Ya Muhammad”, karena mereka telah ditegur oleh Allah, para sahabat jika mereka memanggil Rasulullah mereka mengatakan:”Ya Rasulullah”, atau :”Ya Nabiyullah, Allah ketika memanggil Rasulullah berkata:”Yaa Ayyuharrasul, Yaa Ayyuhannabi”, berbeda dengan Nabi-Nabi yang lain mereka dipanggil:”Yaa Adam, Yaa Zakaria, Yaa Yahya, Yaa Isa, Yaa Musa“, dan seterusnya.

Lalu lututnya disandarkan kepada lutut Nabi dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha Nabi

Orang ini menyandarkan kedua lututnya langsung ke kedua lutut Rasulullah, hal yang seperti ini termasuk hal yang kurang adab bagi orang ‘alim karena dapat menjadikan majelis salah seorang syaikh atau ustadz menjadi sempit, dalam riwayat An Nasa’i disebutkan orang ini melatakkan kedua tangannya diatas paha Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam maka ini tambah mengherankan, jadi ia benar – benar menampakkan kepada seluruh yang hadir dalam majelis bahwasanya dia adalah seorang dari ‘arabi badui dan justru ini yang disukai oleh para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengapa demikian karena para sahabat mereka tidak banyak bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, yang pertama terdapat larangan dari Allah Subhanahu wata’ala, Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ وَإِنْ تَسْأَلُوا عَنْهَا حِينَ يُنَزَّلُ الْقُرْآنُ تُبْدَ لَكُمْ عَفَا اللَّهُ عَنْهَا ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Quran itu diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu, Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun”. (QS. Al-Maidah : 101).

Rasulullah bersabda:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوْهُ، وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلاَفُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata:”Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Apa saja yang aku larang terhadap kalian, maka jauhilah. Dan apa saja yang aku perintahkan kepada kalian, maka kerjakanlah semampu kalian. Sesungguhnya apa yang membinasakan umat sebelum kalian hanyalah karena mereka banyak bertanya dan menyelisihi Nabi-nabi mereka”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim). 

Rasulullah pernah berada dalam satu majelis beliau menyampaikan tentang kewajiban haji beliau bersabda:

أَيُّهَا النَّاسُ، قَدْ فَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمُ الْحَجَّ فَحُجُّوْا. فَقَالَ رَجُلٌ: أَكُلَّ عَامٍ، يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ فَسَكَتَ. حَتَّى قَالَهَا ثَلاَثًا. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ : لَوْ قُلْتُ : نَعَمْ لَوَجَبَتْ وَلَمَا اسْتَطَعْتُمْ. ثُمَّ قَالَ: ذَرُوْنِيْ مَا تَرَكْتُكُمْ، فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِكَثْرَةِ سُؤَالِهِمْ وَاخْتِلاَفِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ، فَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ فَأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ، وَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَدَعُوْهُ.

“Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah mewajibkan haji kepada kalian, maka berhajilah”. Seseorang berkata:”Apakah setiap tahun, wahai Rasulullah?”, Maka beliau diam hingga orang tersebut mengulanginya sampai tiga kali, kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Kalau aku katakan ya, niscaya hal tersebut menjadi wajib, dan niscaya kalian tidak akan sanggup”, kemudian beliau bersabda:”Biarkanlah aku terhadap apa yang aku tinggalkan kepada kalian. Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa karena pertanyaan dan penentangan mereka kepada nabi-nabi mereka. Jika aku memerintahkan sesuatu kepada kalian, kerjakan semampu kalian. Dan jika aku melarang sesuatu pada kalian, tinggalkanlah”. (HR. Muslim, no. 1337. An-Nasa`i, V/110, 111. Ahmad, II/508. Al-Baihaqi, VI/326. Ibnu Khuzaimah).

Di dalam Al-Qur’an pertanyaan para sahabat bisa dihitung dengan jari seperti:”Yas alunaka anil mahidz”, dan lain – lain, olehnya jika ada orang ‘arabi yang datang dari pedalaman yang cerdas yang tidak tahu adab dan ia langsung bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam para sahabat menjadi gembira karena ada tambahan ilmu untuk mereka, sebagaimana lelaki ini dimana dia adalah Jibril ‘Alaihissalam.

Bersambung: Riyadhussholihin “Muraqabatullah” Hadist Jibril (Islam, Iman, Ihsan, Kiamat) Sesi 3

Wallahu a’lam Bish Showaab 

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.