بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Jibril ‘Alaihissalam datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata:“Hai, Muhammad! Beritahukan kepadaku tentang Islam”,Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:”Islam adalah, engkau bersaksi tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat; menunaikan zakat; berpuasa di bulan Ramadhan, dan engkau menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau telah mampu melakukannya”.

Salah satu dari uslub belajar atau tarbiyah adalah memberikan pertanyaan kemudian dijawab, tujuan dari bertanya bagaimana jawaban bisa melekat sehingga dalam moment tertentu tidak bisa dilupa, dan termasuk yang lain agar kita mudah mengingat pelajaran adalah dengan hukuman dari seorang ustadz atau kiai.

Dalam hadist ini Rasulullah menjelaskan tentang islam dan juga diajarkan kepada kita tentang tingkatan agama yang dimulai dari iman sampai yang tertinggi yaitu ihsan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika ditanya apa itu islam beliau menjawab dengan menyebutkan arkanul islam atau rukun islam, ini diantara salah satu bentuk penjelasan dengan menyebutkan hal – hal yang berkaitan dengannya, beliau tidak menyebut bahwa al islam adalah berserah diri kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan aqidah yang shahihah, tunduk dan patuh kepada perintahnya akan tetapi Rasulullah menyebutkan rukun-rukun islam walaupun cakupan islam lebih luas dari itu.

Jadi beliau menyebutkan tentang makna Al Islam kemudian Al Iman, disebutkan oleh para ulama kita:”2 kata jika terkumpul maka maknanya terpisah dan jika terpisah maknanya terkumpul”, contohnya terkumpul maka dia terpisah adalah sebagaimana disebutkan dalam hadist diatas  disebutkan secara bersamaan kata Islam dan Iman sehingga masing – masing memiliki makna, makna islam adalah perkara – perkara yang berkaitan dengan yang dzahir (Nampak) atau yang terlihat, adapun Al Iman yaitu amalan – amalan hati yang tersembunyi dan tidak terlihat, jadi dalam hadist diatas Rasulullah menjelaskan Al Islam yaitu syahadat, sholat, mengeluarkan zakat, berpuasa dibulan suci ramadhan, menunaikan ibadah haji maka ini yang dimaksud dengan amalan – amalan yang nampak yang terlihat oleh mata, adapun Al Iman yaitu iman kepada Allah, iman kepada malaikat, iman kepada kitab Allah iman kepada Nabi Allah, iman kepada hari kiamat, iman kepada qada dan qadar maka inilah yang dimaksud jika terkumpul maknanya terpisah dan jika terpisah masing – masing disebutkan islam dan iman serta tidak didampingkan antara iman dan islam maka maknanya terkumpul, jika disebutkan hanya kata islam sebagaimana seseorang mengatakan:”Masuk islam” maka maksudnya adalah beriman kepada Allah, beriman kepada malaikat – malaikatnya dan seterusnya maka semua masuk ke dalam islam, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam”. (QS. Ali ‘Imran : 19). 

Islam segala sesuatu yang berkaitan dengan amalan – amalan dzahir begitupula ketika disebutkan hanya makna Imam maka juga mencakup Islam yaitu amalan – amalan yang dzahir, salah satu diantara dalilnya sebagaimana firman Allah didalam Al-Qur’an ketika Allah memerintahkan Nabinya dan para sahabat untuk mengubah arah kiblat yang sebelumnya Rasulullah dan para sahabat menghadap ke Baitul Maqdis dan ketika Rasulullah melihat orang – orang yahudi juga menghadap ke Baitul Maqdis beribadah maka beliau berdoa agar kiblat dipalingkan ke baitullah musyarrafah yaitu ka’bah Al Musyarrafah, Allah berfirman:

قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ ۗ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan”. (QS. Al-Baqarah : 144).

Setelah kiblat diubah maka para sahabat berkata:”Lalu bagaimana dengan shalat – shalat kita yang dahulu waktu kita menghadap ke Baitul Maqdis apakah diterimah oleh Allah ataukah harus diganti”, maka turunlah firman Allah:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا ۗ وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنْتَ عَلَيْهَا إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ ۚ وَإِنْ كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ ۗ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia”. (QS. Al-Baqarah : 143).

Tafsiran kata Iman dalam ayat ini adalah sholat kalian, jadi Allah tidak akan menyia-nyiakan sholat kalian yang dahulu kalian lakukan dimasa silam, jadi Allah menyebutkan kata sholat dengan Al Iman inilah makna jika Iman disebutkan secara terpisah maka juga mencakup makna Al Islam.

Engkau bersaksi tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat

Agama selain islam mereka juga meyakini dengan adanya tuhan tetapi tuhan mereka tidak benar, orang – orang nasrani mempertuhankan Isa dan orang – orang yahudi mempertuhankan Ushair, ada yang menyembah berhala walaupun mereka meyakini Allah, sebagaimana yang terjadi dizaman jahiliyah, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمْ مَنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ

“Katakanlah:“Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?”, Maka mereka akan menjawab:“Allah”. Maka katakanlah:“Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?”. (QS. Yunus : 31).

Sampai Iblis mengakui bahwa ia diciptakan oleh Allah, sebagaimana ia berkata:”Engkau menciptakan aku dari api”, jadi Iblis tahu dan meyakini bahwa yang menciptakannya adalah Allah namun dia bermaksiat kepada Allah, di negara India terdapat jutaan tuhan, diantara tuhan yang mereka sembah adalah Sapi, sebagian ada yang menyembah kemaluan lelaki karena mereka meyakini bahwa itu adalah asal penciptaan manusia, ada yang menyembah tikus, dll.

Dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah

Makna syahadat Muhammad utusan Allah adalah:

1. Membenarkan semua yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam

2. Menjalankan segala apa yang diperintahkannya

3. Meninggalkan apa yang dilarangnya serta membencinya

4. Tidak menyembah Allah kecuali dengan syariat yang diturunkan kepadanya

Inilah makna dari Muhammad adalah Rasul Allah.

Oleh karenanya 2 kalimat syahadat ini yang selalu kita dengar

اَشْهَدُاَنْالَااِلَهَ اِلَّااللهُ وَاَثْهَدُاَنَّ مُحَمَّدًا رَسٌؤلُ اللهِ

 

اَشْهَدُاَنْالَااِلَهَ اِلَّااللهُ  (mizan bathin)

)مُحَمَّدًا رَسٌؤلُ اللهِmizan dzahir)

2 hal ini harus terkumpul pada diri seseorang, oleh karenanya setiap saat kita di ingatkan dengan syahadat ini sebagaimana dalam lafadz azan dan juga dalam Tasyahud dan dalam dzikir – dzikir untuk kemudian menguatkan keimanan dan aqidah kita kepada Allah dan kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Bersambung: Riyadhussholihin “Muraqabatullah” Hadist Jibril (Islam, Iman, Ihsan, Kiamat) Sesi 4

Wallahu a’lam Bish Showaab 

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.