بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ﺗَﻌَﺮَّﻑْ ﺇﻟَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻓِﻲ ﺍﻟﺮَّﺧَﺎﺀِ ﻳَﻌْﺮِﻓُﻚ ﻓِﻲ ﺍﻟﺸِّﺪَّﺓِ

“Kenalilah (ingatlah) Allah  di waktu senang pasti Allah  akan mengenalimu di waktu sempit”. (HR. Tirmidzi).

Manusia jika dalam keadaan sedang lapang ia lupa kepada Allah dan jika dalam keadaan sempit dan sedih ia baru ingat kepada Allah, padahal yang benar adalah ingat Allah dalam keadaan senang apalagi dalam keadaan sulit atau mendapatkan kesusahan dan ujian. Allah Subhanahu wata’ala menyelamatkan Nabi Yunus ‘Alaihissalam ketika ditelan oleh ikan yang sengat besar, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

فَالْتَقَمَهُ الْحُوتُ وَهُوَ مُلِيمٌ . فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ . لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam Keadaan tercela. Kalau sekiranya dulu dia bukan termasuk orang-orang yang banyak bertasbih, Niscaya dia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit”. (QS. As-Shaffat: 142 – 144).

Nabi Yunus ‘Alaihissalam ketika dalam keadaan lapang beliau banyak bertasbih dan berdzikir kepada Allah sehingga suara beliau diangkat ke langit, para malaikat yang ada dilangit mengenal suara tersebut olehnya ketika ditelan oleh ikan yang sangat besar dan dibawah ke dalam dasar laut beliau kemudian membaca:

فَنَادَىٰ فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

“Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim”. (QS. Al-Anbiya’: 87)

Malaikat berkata:“Ya Rabb ini adalah suara hamba yang kita kenal namun kita tidak tahu dimana dia berada”, Allah berkata:”Ini adalah suara hambaku Yunus dalam perut seekor ikan dilaut“, Malaikat berkata:”Ya Rabb apakah engkau tidak menyelamatkannya”, Allah berkata:”Saya akan menyelamatkannya”, Allah berfirman:

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ ۚ وَكَذَٰلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ

“Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman”. (QS. Al-Anbiya’: 88)

Allah menyebutnya dalam bentuk jamak (Mu’minin) padahal kejadian ini berlaku kepada Yunus, mengapa Allah tidak mengatakan:”Dan demikianlah Kami selamatkan menyelamatkan Yunus“. Dengan demikian ayat ini berlaku kepada seluruh hamba Allah yang beriman, jadi ketika dalam kondisi lapang dan sehat jangan lupa Allah Subhanahu wata’ala, perbanyak dzikir kepada Allah, usahakan lisan tidak pernah berhenti berdzikir kepada Allah,

جَاءَ أَعْرَابِيَّانِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ أَحَدُهُمَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ خَيْرٌ قَالَ « مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ ». وَقَالَ الآخَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ شَرَائِعَ الإِسْلاَمِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَىَّ فَمُرْنِى بِأَمْرٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ. فَقَالَ « لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْباً مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ »

Ada dua orang Arab (badui) mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas salah satu dari mereka bertanya:”Wahai Rasulullah, manusia bagaimanakah yang baik?” “Yang panjang umurnya dan baik amalannya”. jawab beliau. Salah satunya lagi bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syari’at Islam amat banyak. Perintahkanlah padaku suatu amalan yang bisa kubergantung padanya”, “Hendaklah lisanmu selalu basah untuk berdzikir pada Allah”, jawab beliau”. (HR. Ahmad 4: 188, sanad shahih kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth).

Perbanyak mengingat Allah Subhanahu wata’ala dalam kondisi yang lapang dan pada saat sempit, Allah Subhanahu wata’ala tidak akan membiarkan kita sendiri, orang yang melibatkan Allah dalam setiap urusannya misalkan ia istikharah meminta petunjuk kepada Allah Subhanahu wata’ala lalu Allah Subhanahu wata’ala memberikan ilham untuk memilih satu dari 2 perkara, misalkan dia mau menikah dan diperhadapkan dengan 2 atau 3 pilihan kemudian diantara 3 tersebut ia bingung untuk memimilih satu maka yang harus ia lakukan adalah istikharah, jadi dalam hidup ini ada 2 yang harus kita miliki yaitu istikharah dan istisyarah, istikharah yaitu minta petunjuk dari Allah, kemudian istisyarah yaitu minta pandangan dari orang sholeh. Manakah yang harus didahulukan.?, Jawab: yang didahulukan adalah istikharah terlebih dahulu baru kemudian istisyarah, Syaikh Utsaimin mengatakan:”Boleh jadi istisyarah itu buah dari istikharah”, ketika kita istikharah kepada Allah minta diberi petunjuk maka Allah memberikan kepada kita petunjuk untuk istisyarah kepada seorang ‘alim / sholeh sehingga boleh jadi itu bagian dari istikharah dan ketika sudah istisyarah kemudian masih ragu maka tidak mengapa kembali mengerjakan istikharah, berikut doa yang dibaca ketika mengerjakan istikharah:

Dari Jabir bin Abdillah Radhiallahu’anhu, beliau berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يُعَلِّمُ أَصْحَابَهُ الاِسْتِخَارَةَ فِى الأُمُورِ كُلِّهَا ، كَمَا يُعَلِّمُ السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ يَقُولُ « إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِك وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ خَيْرٌ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – أَوْ قَالَ عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – فَاقْدُرْهُ لِى وَيَسِّرْهُ لِى ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ شَرٌّ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – أَوْ قَالَ فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – فَاصْرِفْهُ عَنِّى وَاصْرِفْنِى عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِى الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِى – قَالَ – وَيُسَمِّى حَاجَتَهُ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari para sahabatnya untuk shalat istikharah dalam setiap urusan, sebagaimana beliau mengajari surat dari Alquran. Beliau bersabda, “Jika kalian ingin melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua rakaat selain shalat fardhu, kemudian hendaklah ia berdoa:

Allahumma inni astakhiruka bi ‘ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as-aluka min fadhlika, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma fa-in kunta ta’lamu hadzal amro (sebut nama urusan tersebut) khoiron lii fii ‘aajili amrii wa aajilih (aw fii diinii wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii) faqdur lii, wa yassirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Allahumma in kunta ta’lamu annahu syarrun lii fii diini wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii (fii ‘aajili amri wa aajilih) fash-rifnii ‘anhu, waqdur liil khoiro haitsu kaana tsumma rodh-dhinii bih.

“Ya Allah, sesungguhnya aku beristikharah pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak tahu. Engkaulah yang mengetahui perkara yang gaib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, kehidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, kehidupan, dan akhir urusanku (atau jelek bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, dan palingkanlah aku darinya, dan takdirkanlah yang terbaik untukku apapun keadaannya dan jadikanlah aku ridha dengannya. Kemudian dia menyebut keinginanya”. (HR. Ahmad, Al-Bukhari, Ibn Hibban, Al-Baihaqi dan yang lainnya).

Wallahu a’lam Bish Showaab 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.