بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Banyak yang menyombongkan diri dengan sesuatu yang kecil didunia ini dan lupa bahwasanya dia adalah hamba yang lemah, olehnya Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

أَأَنتُمْ أَشَدُّ خَلْقًا أَمِ السَّمَاءُ بَنَاهَا رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوَّاهَا

“Apakah kamu lebih sulit penciptaanya ataukah langit? Allah telah membinanya, Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya, “. (QS. An-Naziat :27).

Allah Subhanahu wata’ala menjadikan segala sesuatu dari ciptaannya untuk kemudian mengetuk akal yang kita miliki bahwasanya kita tidak ada apa –apanya didunia ini dari penciptaan Allah yang lain.

Kita adalah hamba yang lemah, kemana para raja, kemana para kaisar, kemana para penguasa, kemana mereka, mereka telah kembali kepada Allah Subhanahu wata’ala mempertanggungjawabkan segala apa yang mereka lakukan dulu di dunia.

Salah seorang khalifah yang bernama Harun Ar Rashid Rahimahullah dizamannya ketika beliau bertemu dengan salah seorang ulama yang bernama Imam As Sammak Rahimahullah, Imam As Sammak dipersilahkan masuk ke istana Harun Ar Rashid, Harun Ar Rashid meminta nasehat kepada Imam As Sammak (para ulama ketika bertemu dengan penguasa mereka menasehatkan tentang ke zuhudan apalagi kepada penguasa yang ketika dilihat ada potensi untuk lupa dengan apa yang Allah berikan kepadanya_Penj), Imam As Sammak berkata:”Ya Khalifah, Andaikan anda berada pada puncak rasa haus dan anda tidak bisa membeli seteguk air kecuali dengan membelinya maka dengan apa anda akan membeli seteguk air tersebut”, beliau berkata:”Saya akan membelinya walaupun mengorbankan separuh kekuasaanku“.

Selanjutnya Imam As Sammak Rahimahullah bertanya kepada Harun Ar Rashid baik engkau membelinya dengan separuh kekuasaanmu untuk mendapatkan seteguk air yang bisa membasahi kerongkonganmu dan masuk ke dalam lambungmu, beliau berkata lagi :”Andaikan air minum itu ditahan oleh Allah dan engkau tidak mampu mengeluarkannya (tidak bisa kencing_Penj) berapa kekuaasaan yang engkau miliki agar engkau bisa kencing”, beliau berkata:”Saya akan membelinya agar bisa sembuh saat buang air kecil walau dengan seperuh kekuasaanku”, Imam As Sammak mengatakan:”Subhanallah ternyata seteguk air yang masuk dan keluar sudah senilai seluruh kekuasaanmu”.

Tidakkah kita merasakan dan menyadari bahwasanya kita hidup hakekatnya melebihi seorang raja, namun terkadang kita lalai untuk bersyukur kepada Allah Subhanahu wata’ala, banyak mengeluh padahal kita melihat banyak orang buta, berkeluh kesah padahal kita mampu berbicara dan betapa banyak orang yang bisu, kita mampu mendengar betapa banyak orang yang tuli, mampu bekerja betapa banyak orang yang lumpuh, dan kita mampu berfikir, mencari nafkah betapa banyak orang yang gila.

Bagaimana sekiranya jika Allah mencabut air dunia ini sehingga menjadi kering kerontang, kita bisa menyaksikan saudara – saudara kita mereka kesulitan air dibeberapa belahan bumi ini bahkan ada diantara mereka yang sampai meminum air kencingnya sendiri. Salah seorang Syaikh pernah ditelepon oleh seseorang dari Somalia dibulan suci Ramadhan, ia bertanya kepada Syaikh :”Ya Syaikh apakah sahur kami batal jika tidak makan dan minum”, Syaikh berkata:”Mengapa kalian tidak makan dan diminum”, ia menjawab:”Karena tidak ada sesuatu yang bisa kami makan dan minum”, akhirnya Syaikh menangis mendengar hal tersebut, oleh karenanya bersyukurlah kepada Allah Subhanahu wata’ala karena Allah masih memberikan nikmat kepada kita, sungguh sangat disayangkan ketika ada seseorang yang berwuduh dengan membuka keran air sehingga banyak air yang terbuang begitu saja padahal Rasulullah melarang kita melakukan boros dalam menggunakan air. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَصْبَحَ مَاؤُكُمْ غَوْرًا فَمَنْ يَأْتِيكُمْ بِمَاءٍ مَعِينٍ

Katakanlah:“Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering; maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?”. (QS. Al-Mulk : 30).

Faidah:”Ketika Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu membaca firman Allah Subhanahu wata’ala tersebut, beliau berkata:”Ini kondisi manusia pada hari kiamat dimana mereka dihalangi dari apa yang mereka inginkan”, adapun yang dinginkan oleh penghuni neraka ketika berada dineraka adalah mereka hanya meminta seteguk air, mereka tidak meminta istana dan kendaraan yang megah dan uang yang banyak karena pada hari itu tidak bermanfaat sedikitpun dari apa yang mereka minta, dijelaskan pada ayat yang lain mereka berkata kepada penghuni surga:

وَنَادَىٰ أَصْحَابُ النَّارِ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ أَفِيضُوا عَلَيْنَا مِنَ الْمَاءِ أَوْ مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ ۚ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَهُمَا عَلَى الْكَافِرِينَ

“Dan penghuni neraka menyeru penghuni surga:”Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah direzekikan Allah kepadamu”. Mereka (penghuni surga) menjawab: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir”. (QS. Al-A’araf: 50).

Ibnu Masud Radhiyallahu ‘anhu menangis membaca ayat ini karena hanya itu yang mereka minta pada hari kiamat akan tetapi diharamkan bagi mereka oleh Allah Subhanahu wata’ala.

Dalam Surah Al-Fajr Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ

“Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi”. (QS. Al-Fajr : 14).

Allah tidak pernah luput penguasaannya kepada hamba – hambanya, dalam Surah Ghafir ayat yang ke 19, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ

“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati”. (QS. Ghafir : 19).

Mata yang berkhianat atau lirikan mata yang berkhianat diketahui oleh Allah, Seseorang yang melakukan curi pandang karena tidak mau diketahui oleh orang yang berada di dekatnya bahkan apa yang disembunyikan dalam dada-dada kita diketahui oleh Allah Subhanahu wata’ala, oleh karenanya walaupun bisikan – bisikan jiwa tidak ada dosa didalamnya maka biasakan dalam benak atau jiwa kita bisikan – bisikan yang baik sebagai bentuk rasa malu kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Ayat – ayat yang menjelaskan tentang muraqabah sangat banyak begitupula dengan hadist – hadist Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, oleh karenanya kepada Allah Subhanahu wata’ala kita berdoa dan memohon semoga Allah menjadikan dalam hati dan jiwa kita rasa takut dan takwa kepadanya, senantiasa merasa diawasi oleh Allah Subhanahu wata’ala yang dengannya kita menjaga amanah Allah yang dititipkan kepada sebagaimana yang terdapat pada anggota tubuh kita, tidak memandang kecuali yang dihalalkan oleh Allah, tidak mendengar kecuali yang diridhai oleh Allah, tidak mengucapkan sesuatu kecuali yang mendatangkan keridhoan Allah, dalam Al-Qur’an Allah berfirman:

إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ (17) مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ (18)

(Yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir”. (QS. Qaaf: 17-18).

Sebuah riwayat dari sahabat yang mulia Bilal bin Al-Harits Al-Mazani, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Boleh jadi seorang hamba mengucapkan perkataan dan sesuatu yang diridhoi oleh Allah perkataan yang remeh namun dengannya ia diridhai oleh Allah sebaliknya boleh jadi seorang hamba mengucapkan perkataan dari yang bisa mendatangkan kemurkaan Allah yang ia remehkan tetapi mengundang kemurkaan Allah Subhanahu wata’ala”. Berkata Alqamah Rahimahullah:”betapa banyak perkataan yang ingin saya ucapkan namun saya tertahan oleh hadist Bilal bin Al-Harits Al-Mazani Radhiyallahu ‘anhu. Maka dari itu mari kita semakin menjaga diri kita, bersabarlah dengan ujian karena setelahnya insyaAllah kita berjumpa dengan Allah Subhanahu wata’ala dan Allah Subhanahu wata’ala ridho kepada kita.

Wallahu a’lam Bish Showaab 

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR