بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Al Muraqabah adalah pengawasan, yang dimaksudkan dalam bab ini sebagaimana yang di jelasakan oleh Imam Nawawi Rahimahullah bahwasanya Allah Subhanahu wata’ala senantiasa mengawasi apa yang dilakukan oleh hamba – hambanya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya oleh jibril tentang Al Ihsan, sebagaimana yang disebutkan dalam hadist yang panjang:

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضًا قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ, لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ, حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم, فأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ, وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ, وَ قَالَ : يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِسْلاَمِ, فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم : اَلإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَإِ لَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ, وَتُقِيْمُ الصَّلاَةَ, وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ, وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ, وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً. قَالَ : صَدَقْتُ. فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْئَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِيْمَانِ, قَالَ : أَنْ بِاللهِ, وَمَلاَئِكَتِهِ, وَكُتُبِهِ, وَرُسُلِهِ, وَالْيَوْمِ الآخِرِ, وَ تُؤْمِنَ بِالْقَدْرِ خَيْرِهِ وَ شَرِّهِ. قَالَ : صَدَقْتَ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِحْسَانِ, قَالَ : أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ السَّاعَةِ قَالَ : مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنْ أَمَارَاتِهَا, قَالَ : أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا, وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِيْ الْبُنْيَانِ, ثم اَنْطَلَقَ, فَلَبِثْتُ مَلِيًّا, ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرُ, أَتَدْرِيْ مَنِ السَّائِل؟ قُلْتُ : اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ : فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu berkata:”Suatu ketika, kami (para sahabat) duduk di dekat Rasululah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Tiba-tiba muncul kepada kami seorang lelaki mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambutnya amat hitam. Tak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Ia segera duduk di hadapan Nabi, lalu lututnya disandarkan kepada lutut Nabi dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha Nabi, kemudian ia berkata : “Hai, Muhammad! Beritahukan kepadaku tentang Islam”,Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:”Islam adalah, engkau bersaksi tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat; menunaikan zakat; berpuasa di bulan Ramadhan, dan engkau menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau telah mampu melakukannya,” lelaki itu berkata:”Engkau benar”, maka kami heran, ia yang bertanya ia pula yang membenarkannya.
Kemudian ia bertanya lagi:”Beritahukan kepadaku tentang Iman”.
Nabi menjawab:”Iman adalah, engkau beriman kepada Allah; malaikatNya; kitab-kitabNya; para RasulNya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk,” ia berkata:”Engkau benar”,
Dia bertanya lagi:“Beritahukan kepadaku tentang ihsan”.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:”Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Kalaupun engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu”.
Lelaki itu berkata lagi :”Beritahukan kepadaku kapan terjadi Kiamat?”
Nabi menjawab:”Yang ditanya tidaklah lebih tahu daripada yang bertanya”.
Dia pun bertanya lagi:”Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya!”.
Nabi menjawab:”Jika seorang budak wanita telah melahirkan tuannya; jika engkau melihat orang yang bertelanjang kaki, tanpa memakai baju (miskin papa) serta pengembala kambing telah saling berlomba dalam mendirikan bangunan megah yang menjulang tinggi”. Kemudian lelaki tersebut segera pergi. Aku pun terdiam, sehingga Nabi bertanya kepadaku:”Wahai, Umar! Tahukah engkau, siapa yang bertanya tadi?”,
Aku menjawab:”Allah dan RasulNya lebih mengetahui”, Beliau bersabda:”Dia adalah Jibril yang mengajarkan kalian tentang agama kalian”. (HR. Muslim: no. 8).

Allah Subhanahu wata’ala mengetahui apa yang ada didalam hati hambanya, Allah mengetahui langkah – langkah seekor semut hitam diatas batu hitam di tengah gelapnya waktu malam, Allah Subhanahu wata’ala senantiasa mengawasi apa yang kita lakukan, Allah tidak pernah lalai dan luput mengawasi hamba – hambanya. Makna ini harus kita tanamkan dalam diri – diri kita dan juga kepada anak – anak kita terutama dizaman sekarang dimana fitnah menyebar begitu luas, fitnah yang dimaksud adalah ujian yang berupa subhat dan syahwat.

Aktifitas orang-orang terdahulu adalah rumah, kebun, masjid kemudian istrahat adapun sekarang di era keterbukaan manusia disibukkan dengan berbagai macam fitnah bahkan fitnah tersebut telah masuk ke dalam rumahnya dan kamarnya, orang tua zaman sekarang tidak mampu mengawasi apa yang dilakukan oleh anak-anak mereka selama 24 jam, manusia tidak mampu mengawasi manusia yang lainnya sedekat apapun ia dengan manusia tersebut, olehnya nilai – nilai ini harus kita tumbuhkan pada diri – diri kita agar kita selamat didunia dan diakhirat.

Ulama kita mengatakan:”Sebab kemuliaa itu adalah ketaatan, terutama ketaatan itu dilakukan ketika bersendirian kemudian ia mengerjakan ketaatan, ini diantara puncak ketakwaan dan Al Ihsan sebaliknya sebab kehinaan dan kemaksiatan terutama maksiat yang dilakukan oleh seseorang ketika bersendirian”, semoga Allah Subhanahu wata’ala menutupi aib – aib kita dan menjaga kita dari apa yang kita takutkan pada hari kemudian, hari dimana tak satupun yang bisa bersembunyi dari pertanggungjawaban pada hari itu.

Senantiasalah merasa diawasi oleh Allah Subhanahu wata’ala dan inilah yang ditanamkan oleh para Salaf as Sholeh kepada anak – anak mereka, kepada keturunan mereka, sebagaimana Lukmanul Hakim yang diabadikan nasehatnya didalam Al-Qur’an diantara nasehatnya kepada anaknya adalah ketika ia berkata:”Wahai anakku ketahuilah sesungguhnya walaupun seberat sawi yang ada dilangit atau yang ada dibumi diketahui oleh allah Subhanahu wata’ala“, maka dari itu ajarkan kepada anak – anak kita Muraqabatullah jangan hanya dipertakut –  takuti dengan syaithan akan tetapi takutkan ia kepada Allah dengan berkata:”Takutlah hanya kepada Allah wahai anakku”. Sifat ini harus segera ditanamkan kepada mereka, Rasulullah mengajarkan hal tersebut kepada anak – anak kecil seperti Ibnu Abbas ketika masih kecil dibonceng oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, mungkin pada waktu itu Ibnu Abbas belum terlalu faham terhadap apa yang disampaikan oleh Nabi, namun setelah Ibnu Abbas beranjak baligh barulah ia memahani apa yang pernah beliau dengar dari Rasulullah karena masih terekam dibenaknya, beliau kemudian mengamalkannya dan menyampaikannya.

Ajarkan kepada anak – anak kita nilai – nilai yang baik walaupun mereka belum faham jangan kemudian berkata kepada anak kita:”Nanti saja karena mereka belum faham”, ajarkan kepada mereka sejak dini dan rekamkan muraqabatullah dalam benak mereka, betapa banyak ajaran – ajaran orang tua kita terdahulu berupa pendidikan moral dan seterusnya, pada waktu itu kita belum paham dari apa yang mereka ajarkan kepada kita karena terekam kemudian bertambah akal dan pemahaman kita apalagi disemai dan disirami dengan ilmu barulah kita memahami bahwa inilah yang dahulu diajarkan oleh orang tua saya.

Jadi Rasulullah menanamkan hal itu kepada Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana disebutkan dalam hadist:

عبْد الله بن عَبّاسٍ -رَضِي اللهُ عَنْهُما- قالَ: كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَوْمًا، فَقَالَ: ((يَا غُلاَمُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ؛ احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ))

Abdullah bin ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma menceritakan, suatu hari saya berada di belakang Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda:”Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa untai kalimat: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau hendak memintamintalah kepada Allah, dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andaipun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering”.

Ghulam adalah umur sebelum baligh, Jaga Allah niscaya dia akan menjagamu, yang dimaksud dengan jagalah Allah adalah jagalah batasan – batasan Allah dengan mengerjakan perintah-perintahnya dan menjauhi larangannya.

Niscaya dia akan menjagamu, ini merupakan ajaran tauhid yang hendaknya kita ajarkan kepada anak kita sejak dini, Jadikan hadist diatas sebagai kaidah dalam setiap kehidupan kita maka kita akan menjadi orang yang paling berani karena tidak ada sesautu yang menimpa kita kecuali sesuatu yang telah dituliskan oleh Allah untuk kita dan dialah penolong kita”, kita tidak akan takut kepada apapun kecuali hanya kepada Allah Subhanahu wata’ala selama senantiasa menjaga batasan – batasan Allah Subhanahu wata’ala.

Sebuah perkataan yang masyur, ada yang mengatakan bahwasanya ini adalah perkataan Ali bin Abi Thalib beliau mengatakan:”Janganlah salah seorang diantara kalian takut kecuali hanya dari dosa – dosanya dan janganlah mengharapkan sesuatu kecuali hanya dari Allah”. ketika kita mengerjakan perbuatan dosa maka Allah Subhanahu wata’ala bisa membalasnya dengan keburukan sebelum diakhirat tetapi janganlah berharap rahmat dan ampunan kecuali dari Allah Subhanahu wata’ala. Jadi muraqabutullah merupakan yang harus senantiasa kita minta kepada Allah Subhanahu wata’ala, Rasulullah mengajarkan kepada kita doa sebagai berikut:

اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا. اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْهُ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ عَاداَنَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَاوَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا

“Ya Allah, anugerahkanlah untuk kami rasa takut kepada-Mu, yang dapat menghalangi antara kami dan perbuatan maksiat kepada-Mu, dan (anugerahkanlah kepada kami) ketaatan kepada-Mu yang akan menyampaikan Kami ke surga-Mu dan (anugerahkanlah pula) keyakinan yang akan menyebabkan ringannya bagi kami segala musibah dunia ini. Ya Allah, anugerahkanlah kenikmatan kepada kami melalui pendengaran kami, penglihatan kami dan dalam kekuatan kami selama kami masih hidup, dan jadikanlah ia warisan dari kami. Jadikanlah balasan kami atas orang-orang yang menganiaya kami, dan tolonglah kami terhadap orang yang memusuhi kami, dan janganlah Engkau jadikan musibah kami dalam urusan agama kami, dan janganlah Engkau jadikan dunia ini sebagai cita-cita terbesar kami dan puncak dari ilmu kami, dan jangan Engkau jadikan orang-orang yang tidak menyayangi kami berkuasa atas kami”. (HR Tirmidzi dan Hakim). Apalagi jika tidak ada yang tahu kecuali Allah, apalagi jika tidak ada yang melihatnya kecuali Allah.

Wallahu a’lam Bish Showaab 

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR