بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يُوعَكُ فَمَسِسْتُهُ بِيَدِي فَقُلْتُ إِنَّكَ لَتُوعَكُ وَعْكًا شَدِيدًا قَالَ أَجَلْ كَمَا يُوعَكُ رَجُلَانِ مِنْكُمْ قَالَ لَكَ أَجْرَانِ قَالَ نَعَمْ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى مَرَضٌ فَمَا سِوَاهُ إِلَّا حَطَّ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا

Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu mengatakan:”Aku menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau sedang menderita demam yang sangat berat, lantas kupegang dengan tanganku”. Aku berkata:”Sepertinya engkau terkena sakit dan demam yang sedemikian serius”. Beliau menjawab:”Benar, rasa sakit yang menimpaku ini sama seperti rasa sakit yang menimpa dua orang dari kalian“. Aku berkata:”Kalau begitu anda mendapatkan pahala dua kali lipat?!, Jawab beliau:”Engkau benar, tidaklah seorang muslim terkena gangguan, baik itu sakit atau lainnya, melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karena sakitnya sebagaimana pohon mengugurkan daunnya“. (HR. Bukhari Nomor 5235).

Sakit yang diderita oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam 2 kali lipat dari pada 2 orang dari ummatnya, Dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in- dari ayahnya, ia berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً

Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:

« الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ »

Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa”. (HR. HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad Darimi no. 2783, Ahmad (1/185). Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 3402 mengatakan bahwa hadits ini shahih).

 

Semakin bertambah keimanan seseorang maka akan semakin bertambah ujiannya hal ini dilakukan oleh Allah agar hamba yang diuji ditinggikan derajatnya, jadi orang yang tinggi keimanannya ketika diuji maka ia naik kelas sehingga imannya semakin tinggi, tidaklah kita diuji oleh Allah untuk melewati ujian itu supaya naik ke kelas derajatnya.

Boleh jadi Allah Subhanahu wata’ala menguji hambanya karena menginginkan agar hamba tersebut memiliki kedudukan derajat yang tinggi disisinya walaupun sholatnya pas – pasan, begitu pula dengan puasanya, sholat lailnya kadang ia kerjakan dan kadang tidak begitu pula dengan sholat dhuhanya.

Oleh karenanya ujian demi ujian yang kita hadapi bersabarlah dan minta kekuatan dari Allah Subhanahu wata’ala untuk menghadapi ujian tersebut agar kita termasuk orang – orang yang mendapatkan kedudukan yang tingggi disisi Allah Subhanahu wata’ala.

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Selasa, 23 Rabiul Awal 1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR