بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Amalkan firman Allah walaupun sekali dalam umur kita, Allah berfirman:

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya”. (QS. Ali ‘Imran : 92).

Tidak mesti menyedekahkan barang yang besar, jadi jangan menjadikan ayat ini sebagai motivasi untuk menyedekahkan semua yang kita punya apalagi jika kita tidak mampu kemudian langsung menyedekahkan rumah kita di jalan Allah, adapun jika mampu atau diberikan kelebihan rezeki oleh Allah maka silahkan, misalnya bangun rumah, setelah rumah itu jadi kita serahkan kuncinya kepada orang yang kita anggap amanah untuk dijadikan sebagai tempat meraih pahala jariyah seperti menjadikan rumah kita pondok penghafal Al-Qur’an atau rumah Al-Qur’an kita serahkan kepada Markaz Imam Malik sebagai pengelola maka hal seperti ini boleh, insyaAllah.

Dari Amru bin Al’Ash, ia berkata:

‹‹خُذْ عَلَيْكَ ثِيَابَكَ وَسِلَاحَكَ ، ثُمَّ ائْتِنِي›› . فَأَتَيْتُهُ وَهُوَ يَتَوَضَّأُ فَصَعَّدَ فِيَّ النَّظَرَ ثُمَّ طَأْطَأَهُ فَقَالَ‹‹ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أَبْعَثَكَ عَلَى جَيْشٍ فَيُسَلِّمَكَ اللَّهُ وَيُغْنِمَكَ وَأَزْغَبُ لَكَ مِنَ الْمَالِ زَغْبَةً صَالِحَةً ›› . قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَسْلَمْتُ مِنْ أَجْلِ الْمَالِ وَلَكِنِّي أَسْلَمْتُ رَغْبَةً فِي الْإِسْلَامِ وَأَنْ أَكُونَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ‐صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‐. فَقَالَ ‹‹ يَا عَمْرُو نِعِمَّ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلْمَرْءِ الصَّالِحِ››

 “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus seseorang kepadaku agar mengatakan:”Bawalah pakaian dan senjatamu, kemudian temuilah aku”. Maka akupun datang menemui beliau, sementara beliau sedang berwudlu. Beliau kemudian mendatangiku dengan serius dan mengangguk-anggukkan (kepalanya), Beliau lalu bersabda:”Aku ingin mengutusmu berperang bersama sepasukan prajurit. Semoga Allah menyelamatkanmu, memberikan ghanimah dan aku berharap engkau mendapatkan harta yang baik”. Saya berkata:”Wahai Rasulullah, saya tidaklah memeluk Islam lantaran ingin mendapatkan harta, akan tetapi saya memeluk Islam karena kecintaanku terhadap Islam dan berharap bisa bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”. Maka beliau bersabda”. Wahai Amru, sebaik-baik harta adalah harta yang dimiliki oleh hamba yang shalih. (HR. Ahmad 197, Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim).

Jadi, sebaik – baik harta adalah yang jatuh di tangan orang yang sholeh, oleh karena itu jika kita tidak mampu dengan rumah maka minimal yang kecil yang paling kita cintai untuk disedekahkan, misalnya istri kita tahu bahwasanya makanan yang kita sukai pada saat itu adalah songkolo yang langsung dibuatkan oleh istri kita setelah dihidangkan diatas meja sedang kita lagi dalam keadaan sangat lapar dan belum menyentuh makanan itu sedikit pun kemudian kita berkata:”Bungkus ini”, jika istri berkata:”Mengapa dibungkus”, maka kita kemudian berkata:”Saya mendengar seorang Ustadz membawakan ceramah dengan mengutip firman Allah:

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya”.(QS. Ali ‘Imran : 92).

Saat ini yang paling saya cintai adalah songkolo ini, saya mau menyedekahkan kepada orang miskin. Begitupula ketika kita punya jam tangan yang sangat kita cintai sekalipun harganya murah, maka sedekahkan kepada tetangga kita, kepada saudara kita atau kepada orang miskin. Kemudian baju yang sangat kita cintai, seperti baju lebaran yang kita pakai pergi ziarah ke rumah teman kita, teman kita mengatakan:“Baju kamu bagus sekali”, tanpa berkata apapun langsung buka baju tersebut dan berikan kepadanya dengan berkata:“Aku berikan baju ini sebagai sedekah”. dll

Dalam hadist Abu Hurairah meriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki yang datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya:”Wahai Rasulullah, sedekah apa yang paling utama?”, Beliau menjawab:

« أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ ، تَخْشَى الْفَقْرَ وَتَأْمُلُ الْغِنَى ، وَلاَ تُمْهِلُ حَتَّى إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ قُلْتَ : لِفُلاَنٍ كَذَا ، وَلِفُلاَنٍ كَذَا ، وَقَدْ كَانَ لِفُلاَنٍ » .

Engkau bersedekah dalam kondisi sehat dan berat mengeluarkannya, dalam kondisi kamu khawatir miskin dan mengharap kaya. Maka janganlah kamu tunda, sehingga ruh sampai di tenggorokan, ketika itu kamu mengatakan:”Untuk fulan sekian, untuk fulan sekian, dan untuk fulan sekian”. Padahal telah menjadi milik si fulan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Pandangan orang yang sakit dengan orang yang sehat berbeda, orang yang masih sehat banyak yang bisa ia kerjakan, banyak bisnis yang ia mau jalankan, dia masih memikirkan pengembangan usahanya dimana – mana, adapun orang yang sakit ketika diatas pembaringannya ia melihat orang yang lalu lalang diluar seakan-akan tidak ada nilainya sama sekali dan pada kondisi demikian dia baru mau bersedekah, dia baru mau berinfaq, oleh karenanya sedekah yang paling afdhal adalah ketika masih sehat dan lagi berat untuk mengeluarkannya.

Perencanaan itu bagus, seperti membangunkan bisnis untuk anak kita kemudian kita berkata:”Nak jika saya mati nanti engkau mengelola bisnis ini”, Amr bin Ash Radhiyallahu anhu seorang sahabat yang kaya raya ketika beliau sakit keras dia berkata kepada Rasulullah:”Ya Rasulullah, saya mau sedekahkan semua harta saya”,
Rasulullah berkata:”Jangan”, ia berkata:”Jika begitu seperduanya Ya Rasulullah”, beliau berkata:”Jangan”, ia berkata lagi:”Jika seperti itu sepertiganya Ya Rasulullah”, beliau berkata:”Ya, boleh sepertiganya itupun masih banyak, engkau meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya itu lebih baik dari pada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan miskin atau meminta – minta kepada orang”.

Jangan hanya harta dan bisnis yang difikirkan kemudian anak kita tidak di didik dengan baik karena anak yang buruk ketika ditinggalkan harta kepada mereka maka itu bisa menjadi sebab pertikaian, Umar bin Abdul Azis salah seorang khalifah ketika beliau meninggal tidak ada yang bisa ia wariskan kepada anak – anaknya karena beliau sebelum menjadi khalifah adalah orang yang kaya raya tapi ketika menjadi khalifah ia menjadi miskin bahkan harta yang dimiliki oleh istrinya fathimah ia suruh kembalikan ke baitul mal muslimin, ketika ia menjabat sebagai khalifah ia berkata kepada istrinya:”Jika engkau tidak kembalikan ke baitul mal muslimin kita cerai atau berpisah“, beliau lakukan ini karena sangat takut kepada Allah. Ketika beliau meninggal tidak ada yang beliau tinggalkan untuk anak – anaknya ketika ditanya mengapa engkau tidak siapkan, ia menjawab:”Jika anak – anak saya sholeh maka dengan kesholehan itu membuat ia bisa qana’ah (merasa cukup dengan apa yang Allah berikan kepada mereka) dan jika mereka tidak sholeh saya tidak membantu mereka dalam kemaksiatan, jangan sampai saya meninggal harta dan mereka tidak sholeh justru dia menggunakan harta tersebut untuk bermaksiat kepada Allah maka saya yang akan mendapatkan dosanya”. kesimpulan dari semua ini kembali kepada kondisi dan keadaan hati kita.

Wallahu a’lam Bish Showaab 


Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Sabtu, 21 Sya’ban 1440 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.