بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung”. (QS. Ali Imraan 200).

Surah ini ditutup dengan perintah dan nasehat, Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata:” “Jika engkau mendengar firman Allah (Wahai orang-orang yang beriman) maka pasanglah telingamu karena akan datang ayat kebaikan yang engkau diperintahkan untuk melaksanakannya atau kejelekan yang engkau dilarang darinya”.

 Ayat ini merupakan seruan Allah kepada orang – orang yang beriman, Sebagian ulama berkata dengan ayat tersebut:”Bersabarlah kalian dari meninggalkan kemaksiatan kepada Allah  dan kuatkanlah kesabaran kalian didalam menjalankan ketaatan kepada Allah”, Ar Ribath dalam bentuk ibadah kepada Allah disebutkan dalam hadist.

قال رسول صلى الله عليه وسلم : ( ألا أدلكم على ما يمحو الله به الخطايا ، ويرفع به الدرجات ؟) قالوا بلى يا رسول الله ، قال : ( إسباغ الوضوء على المكاره ، وكثرة الخطا إلى المساجد ، وانتظار الصلاة بعد الصلاة ، فذلكم الرباط ) رواه مسلم(137) .

“Rasulullah Shalallahu’alihi wasallam bersabda:”Maukah aku tunjukkan kepada kalian suatu amal yang dengannya Allah akan menghapuskan dosa-dosa, dan mengangkat derajat?” mereka berkata ya wahai rasulullah, beliau bersabda:”Sempurnakanlah wudhu walaupun dalam keadaan tidak menyenangkan, perbanyak langkah menuju ke masjid, menunggu sholat setelah sholat, kemudian ribath (berjaga-jaga di perbatasan musuh)”. (HR. Muslim 137).

Dengan kesabaran pada ayat diatas menunjukkan bahwasanya kita akan beruntung mendapatkan apa yang kita inginkan dan menyelamatkan diri dari apa yang kita takutkan. oleh karenanya Al-Falah (keberuntungan) adalah mendapatkan apa yang diinginkan dan diharapkan.

Oleh karenanya bersabar mulai dari sekarang dari ketaatan kepada Allah dan bersabar dalam menjauhi kemaksiatan kepada Allah karena kesabaran hanya sampai pada umur yang Allah berikan kepada kita, sedang kita tidak tahu kapan kita kembali kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Dalam Ayat Yang Lain, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”. (QS. Al-Baqarah : 155).

Perlu untuk diketahui bahwa Allah tidak menguji hambanya diluar dari kemampuannya, sebagaimana firman Allah:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya“. (QS. Al-Baqarah : 286).

Jika kita mengingat ayat ini maka tidak akan ada orang yang bunuh diri kerena dia yakin kepada Allah sedang Allah tidak menyelisihi janjinya. Ketika ada masalah yang menghimpit dalam kehidupan kita maka ada kadar atau batasannya dari ujian tersebut karena Allah tidak akan membinasakan hambanya dengan ujian yang diberikan kepadanya.

Ulama kita mengatakan:”Ibadah yang paling mulia adalah menunggu solusi dan jawaban dari Allah Subhanahu wata’ala”.

 Allah mendahulukan “Rasa takut” dari pada “Kelaparan” karena nikmat keamanan adalah nikmat yang paling besar, ketika manusia lapar bisa keluar mencari rezeki adapun jika tidak aman maka manusia tidak bisa keluar mencari rezeki, olehnya Allah Subhanahu wata’ala berfirman

الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآَمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ

“Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan”. (QS. Quraisy: 4).
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Barangsiapa yang tiba dipagi hari yang merasakan keamanan , tidak ada gangguan pada tubuhnya, dirinya, keluarganya , harta bendanya, ia beraktifitas tubuhnya sehat , lalu ada makanan yang bisa ia nikmati hari itu, sungguh seakan akan dunia dan isinya telah dibentangkan untuknya”. Sebagaimana saudara kita dirohingya mereka diberi ujian oleh Allah dengan rasa takut dan semoga Allah memasukkan ketenangan dalam hati – hati mereka.

Dalam ujian kesabaran dibutuhkan pada pukulan pertama (awal terjadinya ujian) karena inti pahala ada pada saat tersebut  bukan setelah berjalan beberapa hari, karena jika sudah berjalan beberapa hari tidak akan ada bedanya antara yang satu dengan yang lain. Seorang hamba yang bersabar sejak awal atau yang meratap sejak awal sehingga selang beberapa hari ia kembali tenang seperti biasa maka ia bersabar diawal terjadinya ujian karena pada saat itulah dibutuhkan kesabaran.

Salah seorang salaf pernah makan siang, maka datanglah seorang yang memberi kabar tentang saudaranya  yang telah meninggal, namun ia masih santai dengan menyantap makanan yang ia makan bahkan memanggil orang yang memberi kabar untuk makan bersamanya, ia kemudian ikut makan lalu berkatalah orang yang diberi kabar:”Saya sudah dengar sebelum engkau datang”, ia kemudian heran dan berkata:”Siapa yang datang, karena saya yang diutus dan tidak ada yang lain”, ia berkata:”Allah telah berfirman dalam Al-Qur’an:”Semua manusia akan merasakan kematian”,.

Bersabar Dibangunkan Istana di Surga 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan bila anak seorang hamba meninggal, maka Allah berfirman kepada malaikat dan Allah lebih tahu apa yang terjadi, tetapi Allah ingin menggambarkan bagaimana rahmat dan kebesaran Allah, Allah bertanya kepada malaikat pencabut nyawanya:“Kalian telah mencabut nyawa anak hambaKu?”. Malaikat menjawab:“Iya”. Kemudian Allah mengatakan:“Kalian cabut buah hatinya?, kalian matikan buah hatinya?”. Kata malaikat: “Iya, Ya Allah”. Allah bertanya:“Apa yang dikatakan hambaKu?”. Allah lebih tahu dengan apa yang dikatakan hambaNya, tetapi Allah bertanya disini kepada malaikatNya:“Bagaimana sikap hambaKu itu ditinggal mati oleh anaknya?”. Para malaikat itu mengatakan:“Dia memujimu ya Allah. Dan dia beristirja. Dan dia tahu bahwasanya dia milikMu, akan kembali kepadaMu. Dia memujiMu dan mengatakan Innalillahi wa innaillaihi rajiun. Itu yang dikatakan hambaMu Ya Allah”. Maka Allah mengatakan kepada para malaikatNya:“Bangunkan rumah buat hambaKu ini. Buatkan rumah untuk satu orang ini. Yang dia memujiKu atas musibah yang menimpanya. Yang dia kemudian mengatakan innalillahi wa innaillaihi rajiun. Bangunkan rumah untuk hambaKu ini dan beri nama rumah itu, rumah pujian”. 

Salah satu cara untuk mendapatkan istana disurga adalah bersabar dari musibah. Ketika ditimpa sebuah ujian maka yang harus dilakukan adalah:

1.       Memuji  Allah Subhanahu wata’ala

2.       Mengucapkan istirja : Innalillahi wa innaillaihi rajiun

3.       Berdoa :

“Ya Allah berilah pahala dari musibah yang menimpaku ini dan berilah ganti yang lebih baik dari apa yang engkau ambil dariku”, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata:”Siapa yang mengucapkan doa ini maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik dari apa yang diambil darinya”, Boleh jadi  Allah mengganti dengan yang zhahir sebagaimana Ummu Salamah, ketika suaminya Abu Salamah meninggal dan mengingat hadist ini dan mengucapkannya karena beriman kepada Rasulullah, setelah habis masa iddahnya datanglah utusan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk melamarnya, sehingga beliau dinikahi oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam”. Boleh jadi bukan secara zhahir melainkan Allah menggantinya dengan pahala yang besar disisinya pada hari kiamat, sebagaimana dalam riwayat disebutkan orang yang melihat pahala pada hari kiamat dari kesabarannya ketika didunia dari musibah yang menimpanya, ia kemudian berkata:”Andaikan hidupku didunia penuh dengan musibah”,

4 Tingkatan Sikap Manusia Terhadap Ujian

Dibolehkan menangis ketika berduka akan tetapi jaga lisan karena Rasulullah menyampaikan bahwasanya malaikat mengaminkan apa yang kalian katakan hendaklah mengatakan kebaikan. Dalam hal ini manusia terbagi 4 tingkatan terhadap ujian:

1.       Dia Murka

Dia meluapkan marahnya baik dengan lisannya, hatinya, atau dengan perbuatannya. Adapun dengan lisannya dia berteriak sambil mengucapkan perkataan celaka, menuduh Allah tidak adil dan semisal dengannya, begitu pula dengan hatinya yang diikutkan dengan anggota tubuh yang menampar wajah dan muka, merobek baju, membanting sesuatu

2.       Dia bersabar

Hatinya perih dengan mata menangis akan tetapi ia pasrah kepada Allah, sebagaimana yang pernah terjadi kepada Rasulullah ketika putranya Ibrahim meninggal, beliau menangis, sahabat sahabat heran bertanya:”Ya Rasulullah anda juga menangis”, Rasulullah kemudian berkata:”Ini adalah rahmah, inilah kasih sayang yang Allah berikan kepada hati – hati  hambanya, sesungguhnya mata menangis, hati bersedih, dan sesungguhnya perpisahan dengamu wahai Ibrahim sangat menyakitkan namun kami tidak mengatakan kecuali yang diridhai oleh tuhan kami”, Innalillahi wainnailaihi rajioun ucapan ini disebut dengan istirja yaitu mengembalikan kepada Allah.

3.       Dia ridha

Dia ridha dengan mengucapkan “Alhamdulillah ‘ala kulli hal”.

4.       Dia bersyukur

Dia bersyukur karena telah mengetahui pahalanya disisi Allah Subhanahu wata’ala, ini merupakan tingkatan yang paling tinggi. Dengan kesabaran segala sesuatunya akan dimudahkan oleh Allah Subhanahu wata’ala, sebagaimana kata Rasulullah:”Sesungguhnya pertolongan akan datang bersama kesabaran.” (HR. Ahmad).

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Jum’at, 2 Muharram 1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

 

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR