بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Allah mengabadikan doa Nabi Sulaiman didalam Al-Qur’an Allah berfirman:

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

“Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”. (QS. An-Naml: 19).

Oleh karenanya semoga dengan kehadiran kita dimasjid adalah merupakan diantara salah satu wujud kesyukuran kita kepada Allah, kita menyambut seruan Allah dengan kumandang azan dan Allah mengingatkan kita didalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (QS. Jumu’ah : 09).

Dalam ayat yang lain Allah Subhanahu wata’ala mengingatkan kita:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa melakukan demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi. Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata:”Ya Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh”. Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Munafiqun: 9-11).
dan yang dimaksud dengan dzikrullah (Mengingat Allah) adalah mendirikan sholat sebagaimana firman Allah:

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”. (QS. Thaha : 14).

Dalam ayat yang lain Allah berfirman:

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ ,رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ۙ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ

“Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.
“.
(QS. An-nur: 36-37).

Lelaki – lelaki pilihan mereka tidak dilalaikan oleh bisnis, perniagaan dan jual beli untuk senantiasa ingat kepada Allah Subhanahu wata’ala dan untuk mereka mendirikan sholat dan mengeluarkan zakat, mereka takut dengan suatu hari dimana mata dan hati manusia dibalikkan oleh Allah Subhanahu wata’ala karena dahsyatnya hari yang menakutkan dan mengerikan tersebut ketika semua berdiri dihadapan Allah Subhanahu wata’ala. Oleh karenanya Allah Subhanahu wata’ala menyebutkan didalam Al-Qur’an bahwasanya sholat dan menjaganya adalah sesuatu yang berat kecuali orang – orang yang takut  yang yakin dengan hari perjumpaan dengan Allah Subhanahu wata’ala:

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu”. (QS. Al-baqarah : 45). Orang – orang yang khusyu yaitu orang – orang yang yakin dengan hari perjumpaan dengan Allah Subhanahu wata’ala dan sesungguhnya semua akan kembali kepada Allah Subhanahu wata’ala, oleh sebab itu nasehat dan wasiat yang paling pamungkas dan yang paling terakhir yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu takutlah kalian dengan suatu hari dimana kalian akan dikembalikan kepada Allah Subhanahu wata’ala, Allah berfirman:

Takutlah kalian dengan suatu hari dimana hari itu kalian akan kembali kepada Allah Subhanahu wata’ala dan setiap jiwa akan mempertanggung jawabkan segala apa yang ia perbuat segala apa yang ia kerjakan selama hidup didunia“. Sesungguhnya hakikat keberadaan kita didunia ini adalah sementara untuk menjalani ujian dari Allah Subhanahu wata’ala sebagaimana firman Allah didalam Al-Qur’an:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (QS. Al-Mulk : 02).

Allah tidak mengatakan:”Untuk menguji kalian siapa yang paling baik hartanya atau yang paling tinggi pangkat dan jabatannya atau yang paling ganteng wajahnya atau yang paling cantik parasnya”.

Harta benda yang kita miliki dan keturunan yang kita bangga-banggakan, pangkat dan jabatan yang kita saling berseteru, saling sikat dan saling sikut, saling menginjak dan saling menjilat untuk mendapatkannya tidak bermanfaat sedikitpun ketika kita kembali kepada Allah Subhanahu wata’ala. Dalam Al-Qur’an Allah mengabadikan doa Nabi Ibrahim Halilullah:

وَلَا تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ , يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ

“Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan
(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna”.
(QS. Asy-Syu’ara’ :87-88).

Hari ketika sangkakala ditiup maka tidak ada lagi hubungan kekerabatan dengan mereka, tidak ada lagi yang bertanya antara yang satu dengan yang lain, hari ketika seseorang berlepas diri darinya dan dari ibu serta bapaknya, sahabat – sahabat dan anak – anaknya, setiap jiwa sibuk dengan dirinya masing – masing, oleh karenanya Allah mengatakan:

وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ ۚ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ , وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُونَ

“Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami”. (QS. Al-A’raf : 8-9).

Mereka yang mencelakakan diri mereka sendiri dimasukkan kedalam neraka jahannam dan mereka kekal naudzubillahi mindzalik.

Wallahu a’lam Bish Showaab 


Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Kamis, 19 Ramadhan 1440 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.