بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Muqaddimah

Pembahasan masalah sihir sangat penting karena menyangkut masalah  aqidah, tauhid, iman dan seseorang didalam beragama islam, salah satu diantara yang paling berbahaya dimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah berlepas diri darinya adalah orang – orang yang melakukan sihir atau seseorang yang minta untuk menyihir orang lain. Masalah yang paling besar adalah banyak diantara umat muslim tidak tahu membedakan mana yang mengobati dengan sihir dan mana yang mengobati dengan syar’i. Zaman ini adalah zaman penuh fitnah dimana banyak yang memanfaatkan manusia untuk memakan harta mereka dengan cara yang bathil diataranya adalah dengan banyaknya para dukun dan para tukang sihir. Oleh karenanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menganggap termasuk golongan beliau yang melakukan sihir. Dari Imran bin Hushain Radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Bukan termasuk golongan kami orang yang mengaitkan kesialannya pada burung (atau benda lainnya), melakukan perdukunan atau meminta didukuni, menyihir atau minta disihirkan untuknya. Dan barangsiapa datang kepada dukun lalu mempercayai apa yang dikatakannya, maka ia telah kafir kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad”. (HR. Al-Bazzar dengan sanad yang baik).

Tidak sedikit diantara pejabat memiliki tukang sihir (kecuali yang dirahmati Allah) dimana ia tidak keluar ketempat tertentu kecuali setelah ia meminta pandangan dari tukang sihir mereka, baik dari sisi waktu, cara keluar rumah, hari apa ia keluar rumah, apa yang ia harus lakukan, kesemuanya telah diatur oleh tukang sihirnya dan bahkan diantara mereka (tukang sihir) tinggal dirumah orang – orang pejabat.

Hal ini menjadi musibah yang  telah menyebar ditengah kaum muslimin, sebagian kaum muslimin menganggap sebagai sesuatu yang lumrah atau sesuatu yang hebat dan lain dari pada yang lain sehingga para tukang sihir menjadi terhormat, padahal didalam islam ia adalah termasuk perbuatan terlarang (haram) bahkan pelakunya dapat dibunuh tatkala terbukti sihir yang ia gunakan membunuh orang lain sebagaimana pendapat ulama besar Imam Syafi’i Rahimahullah.

Lemahnya Iman dan Aqidah 

Lemahnya iman dan ilmu seseorang dimana ketika ia berada dalam situasi dan kondisi yang sempit seperti sakit, terlilit utang , memiliki masalah yang besar, jika imannya lemah mereka mengambil jalan untuk mendatangi tukang sihir atau para pendusta, mereka adalah para pendusta kecil  sebelum datangnya pendusta besar yaitu dajjal, oleh karenanya setiap mengerjakan sholat dianjurkan untuk berlindung dari fitnah dajjal, karena mereka para pendusta kecil (tukang sihir) telah banyak membuat manusia tertipu apatahlagi ketika pendusta besar yaitu dajjal muncul maka akan lebih banyak manusia yang tertipu darinya.

Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama bahwasanya dajjal ketika muncul diakhir zaman ia hanya berkata kepada langit:”Turunkan hujan“, maka turunlah hujan, ketika berkata kepada bumi:”Tumbuhkanlah tanamanmu“, maka keluarlah tanaman, begitu juga ketika ia mendatangi kuburan maka ia berkata kepada kuburan:”Hiduplah engkau“, maka jasad manusia yang ada dalam kuburan menjadi hidup, padahal ia adalah syaithan yang menyerupai manusia.

Di zaman sekarang tukang sihir mampu menggandakan sesuatu padahal ia adalah pendusta, bahkan ada diantara tukang sihir mampu menyembuhkan dengan mengunakan benda atau keramat sehingga kita akan menyaksikan bagaimana manusia antri untuk mengambil berkah atau kesembuhan dari penyihir tersebut. Semua hal ini menunjukkan bagaimana aqidah seseorang sangat lemah. Oleh karenanya pembahasan ini sangat penting untuk saling mengingatkan dan menasehati sesama muslim serta untuk mengingatkan keluarga dan kerabat kita terhadap bahaya sihir.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ قَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ وَأَكْلُ الرِّبَا وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصِنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ

“Hendaklah kalian menghindari tujuh dosa yang dapat menyebabkan kebinasaan.” Dikatakan kepada beliau:”Apakah ketujuh dosa itu wahai Rasulullah?”, Beliau menjawab: “Dosa menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah untuk dibunuh kecuali dengan haq, memakan harta anak yatim, memakan riba, lari dari medan pertempuran, dan menuduh wanita mukminah baik-baik berbuat zina”. (HR. Al-Bukhari  dan Muslim).

Terkadang kita melihat pada bangunan ada beberapa nomor yang tidak ada, hal itu bukanlah merupakan sesuatu kelalaian melainkan ada maksud yaitu bernasib sial yang mana dalam agama islam tidak dibenarkan atau terlarang sebagaimana disebutkan dalam hadist diatas.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kita doa berlidung dari hal tersebut:

اللَّهُمَّ لاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ، وَلاَ طِيَرَ إِلاَّ طِيَرُكَ، وَ لاَ إِلَهَ غَيرُكَ

Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan dari-Mu, tidak ada kesialan kecuali yang telah Engkau takdirkan, dan tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau”. (HR. Imam Ahmad dari Ibnu ‘Amr; dinilai sahih oleh Al-Albani).

Pengertian Sihir 

Disebut dengan sihir karena kata huruf  Sin, Ha, Ra menunjukkan sesuatu yang halus

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ (17) وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ (18

Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar”. (QS. Adz Dzariyat: 17-18).

Kata Ashar dalam ayat diatas merupakan jamak dari kata As Sahur dan disebut waktu sahur karena berada diwaktu yang sepi, tenang, orang- orang tidur diakhir malam sehingga disebut dengan As Sahur.

As Sihru didefinisikan oleh para ulama sesuatu yang sebabnya tersembunyi dan sangat halus, adapun secara bahasa yang dimaksud dengan As Sihru adalah memalingkan sesuatu dari hakekatnya.

Adapun secara istilah disebutkan oleh para ulama:”Ruqiyah

Ruqiyah terbagi menjadi 2 ada ruqiyah haram dan ada ruqiyah syar’i , ketika para sahabat menyampaikan kepada Rasulullah :”Kami dulu melakukan ruqiyah dizaman jahiliyah Ya Rasulullah”, Rasulullah berkata:”Perlihatkan kepadaku ruqiyah kalian, tidak mengapa ruqiyah jika didalamnya tidak ada kesyirikan”, oleh karenanya ruqiyah syar’iyyah memiliki ciri – ciri, alamat dan batasan.

Diantara ciri yang disebutkan oleh ulama kita ialah harus dengan perkataan yang  jelas, menggunakan bacaan Al-Qur’an atau doa – doa perlindungan yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam atau perkataan orang – orang arab yang maknanya jelas. Bukan bacaan yang dicampur sehingga banyak manusia yang tertipu ketika ruqiyah dengan menggunakan ayat – ayat Al-Qur’an atau doa – doa yang disyariatkan tukang sihir mengeraskan suaranya, namun ketika ia membaca mantra dengan suara yang lirih untuk mendekatkan dirinya kepada jin dan syaithan kita tidak tahu apa yang ia ucapkan.

Bersambung : Sihir dan Penyembuhannya (Sesi 2)

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Kamis, 23 Dzulhijjah  1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR