بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Jika lama hujan turun kita disunnahkan untuk melakukan istisqo, adapun jika hujan turun terus menerus dan dikhawatirkan akan terjadi bencana kita disunnahkan untuk melakukan istisha, diantara doa ketika hujan turun terus menerus adalah:

اللَّهُمّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا,اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

Allahumma haawalaina wa laa ’alaina. Allahumma ’alal aakami wal jibaali, wazh zhiroobi, wa buthunil awdiyati, wa manaabitisy syajari [Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turukanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan”. (HR. Bukhari no. 1014).

Adapun ketika hujan turun disunnahkan membaca doa, Dari Ummul Mukminin, ’Aisyah Radhiyallahu ’anha:

إِنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا رَأَى الْمَطَرَ قَالَ  اللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً

Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika melihat turunnya hujan, beliau mengucapkan, “Allahumma shoyyiban nafi’an” [Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat]”. (HR. Bukhari no. 1032). Atau doa lain dengan hanya mengucapkan “Rahmah”.

Diantara sunnah yang lain ketika turun hujan sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Rasulullah beliau menyingkap sebagian pakaiannya kemudian membasahinya dengan air hujan yang turun dari langit, dalam riwayat disebutkan, dari Anas ia berkata:”Kami bersama dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam dan turunlah hujan :”Nabi kemudian menyingkap pakaiannya sampai tubuh beliau terkena hujan, kami bertanya:”Ya Rasulullah, mengapa anda melakukan ini”, Beliau menjawab:”Karena ia baru saja datang dari Allah Subhanahu wata’ala”. Dalil ini juga menunjukkan bahwasanya Allah berada diatas arsy (langit).

Dan setelah hujan berhenti disunnahkan membaca doa. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِى مُؤْمِنٌ بِى وَكَافِرٌ فَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ. فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِى وَكَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ وَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا. فَذَلِكَ كَافِرٌ بِى مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ

Pada pagi hari, di antara hambaKu ada yang beriman kepadaKu dan ada yang kafir. Siapa yang mengatakan ’Muthirna bi fadhlillahi wa rohmatih’ (Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah), makadialah yang beriman kepadaku dan kufur terhadap bintang-bintang. Sedangkan yang mengatakan ‘Muthirna binnau kadza wa kadza’ (Kami diberi hujan karena sebab bintang ini dan ini), maka dialah yang kufur kepadaku dan beriman pada bintang-bintang.” (HR. Bukhari no. 846 dan Muslim no. 71).

Sebagian manusia ada yang beriman dengan air hujan dan ada yang kufur dengan hujan, yang menyebabkan seseorang kufur dengan hujan ialah ketika ia mengatakan:”Kita mendapatkan hujan ini karena bintang ini dan itu atau dengan sebab yang lain maka dia telah beriman kepada bintang – bintang dan kafir kepada Allah”, Adapun ketika ia membaca doa tatkala hujan berhenti maka ia beriman kepada Allah dan kufur terhadap bintang – bintang.

Ketika hujan turun doa mustajab sebagaimana disebutkan dalam hadist:

ثِنْتَانِ مَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِوَ تَحْتَ المَطَرِ

Dua do’a yang tidak akan ditolak: [1] do’a ketika adzan dan [2] do’a ketika ketika turunnya hujan”. (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shohihul Jaami’ no. 3078).

Ketika hujan deras kemudian banjir atau becek sehingga sulit untuk ke masjid maka boleh sholat dirumah dan ini merupakan ruksha (keringanan) dan yang muadzin (tukang azan) mengubah lafadz azannya). Ada beberapa riwayat lafadz azan diubah sebagaimana riwayat Ibnu Abbas dan Ibnu Umar:

  1. Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhum, beliau berpesan kepada mu’adzin pada saat hujan:

 إِذَا قُلْتَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ فَلاَ تَقُلْ حَىَّ عَلَى الصَّلاَةِ قُلْ صَلُّوا فِى بُيُوتِكُمْ قَالَ : فَكَأَنَّ النَّاسَ اسْتَنْكَرُوا ذَاكَ فَقَالَ أَتَعْجَبُونَ مِنْ ذَا قَدْ فَعَلَ ذَا مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنِّى إِنَّ الْجُمُعَةَ عَزْمَةٌ وَإِنِّى كَرِهْتُ أَنْ أُحْرِجَكُمْ فَتَمْشُوا فِى الطِّينِ وَالدَّحْضِ.

Apabila engkau selesai mengucapkan “Asyhadu allaa ilaha illalloh, asyhadu anna Muhammadar Rasulullah”, maka janganlah engkau ucapkan “Hayya ’alash sholaah“. Tetapi ucapkanlah “Sholluu fii buyutikum“[Sholatlah di rumah kalian], Masyarakat pun mengingkari perkataan Ibnu Abbas tersebut. Lalu Ibnu Abbas mengatakan: “Apakah kalian merasa heran dengan hal ini, padahal hal ini telah dilakukan oleh orang yang lebih baik dariku (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam)”. (HR. Muslim no. 1637 dan Abu Daud no. 1066).

2. Dari Nafi dan Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhum:

أَنَّهُ نَادَى بِالصَّلاَةِ فِى لَيْلَةٍ ذَاتِ بَرْدٍ وَرِيحٍ وَمَطَرٍ فَقَالَ فِى آخِرِ نِدَائِهِ أَلاَ صَلُّوا فِى رِحَالِكُمْ أَلاَ صَلُّوا فِى الرِّحَالِ. ثُمَّ قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَأْمُرُ الْمُؤَذِّنَ إِذَا كَانَتْ لَيْلَةٌ بَارِدَةٌ أَوْ ذَاتُ مَطَرٍ فِى السَّفَرِ أَنْ يَقُولَ أَلاَ صَلُّوا فِى رِحَالِكُمْ.

Ibnu Umar pernah adzan untuk shalat di malam yang dingin, anginnya kencang dan hujan, kemudian dia mengatakan di akhir adzan:”Alaa shollu fi rihaalikum, Alaa shollu fir rihaal”,[Shalatlah di rumah kalian, shalatlah di rumah kalian], Kemudian beliau mengatakan:”Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam biasa menyuruh muadzin, apabila cuaca malam dingin dan berhujan ketika beliau safar untuk mengucapkan:”Alaa shollu fi rihaalikum” [Shalatlah di tempat kalian masing-masing]’. (HR. Muslim no. 1633 dan Abu Daud no. 1062).

Dari 2 diatas dapat disimpulkan bahwa riwayat Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu hanya menambah lafadz setelah selesai azan dikumandangkan dan tidak mengubah lafadz azan, adapun riwayat Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu beliau tidak menambah lafadz hanya mengubah lafadz pada Hayya ’alash sholaah dengan lafadz Sholluu fii buyutikum

Adapun riwayat Ibnu Abbas adalah pilihan dimana seseorang yang mau sholat dirumah boleh dan sholat dimasjid boleh dan apabila ia sholat dimasjid maka ia akan mendapatkan pahala yang berlipat disisi Allah Subhanahu wata’ala.

Imam An-Nawawi menjelaskan 2 riwayat diatas dengan mengatakan:

وفي حديث بن عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنْ يَقُولَ أَلَا صَلُّوا فِي رِحَالِكُمْ فِي نَفْسِ الْأَذَانِ وَفِي حديث بن عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ فِي آخِرِ نِدَائِهِ وَالْأَمْرَانِ جَائِزَانِ نَصَّ عَلَيْهِمَا الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْأُمِّ فِي كِتَابِ الْأَذَانِ وَتَابَعَهُ جُمْهُورُ أَصْحَابِنَا فِي ذَلِكَ

“Dalam hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, muadzin mengucapkan “Alaa shollu fii rihalikum di tengah adzan. Sedangkan dalam hadits Ibnu Umar, beliau mengucapkan lafadz ini di akhir adzannya. Kedua cara seperti ini dibolehkan, sebagaimana ditegaskan Imam Syafi’i Rahimahullah dalam kitab al-Umm pada Bab Adzan, dan diikuti oleh mayoritas ulama madzhab kami (syafi’iyah). (Syarh Shahih Muslim oleh an-Nawawi, 5:207).

Imam An-Nawawi menganjurkan diucapkan setelah azan. Beliau mengatakan:

فَيَجُوزُ بَعْدَ الْأَذَانِ وَفِي أَثْنَائِهِ لِثُبُوتِ السُّنَّةِ فِيهِمَا لَكِنَّ قَوْلَهُ بَعْدَهُ أَحْسَنُ لِيَبْقَى نَظْمُ الْأَذَانِ عَلَى وَضْعِهِ

Lafadz ini boleh diucapkan setelah adzan maupun di tengah-tengah adzan, karena terdapat dalil untuk kedua bentuk adzan ini. Akan tetapi, sesudah adzan lebih baik, agar lafadz adzan yang biasa diucapkan, tetap ada. (Syarh Shahih Muslim oleh an-Nawawi, 5:207).

Juga dibolehkan untuk menjamak sholat dan tidak boleh di Qashar  apabila memang hujan deras yang menyebabkan sulit untuk datang ke masjid.

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Rabu, 01 Dzulhujjah  1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR