بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Al-Qur’an semuanya nasehat dan wejangan untuk semakin mengingatkan kita dengan kampung akhirat tampat kita yang sebenarnya, mengingatkan kita dengan Allah dan untuk menjadikan hati – hati kita ini menjadi lunak sehingga tidak menjadi hati yang keras karena Allah mengatakan:

أَفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِنْ رَبِّهِ ۚ فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata”. (QS. Az – Zumar: 22).

Surah Al-Mu’minun ayat 99, surah Al-Mu’minun surah yang ke 23 terdiri dari 118 ayat yang terdapat pada juz yang ke 18, disebut Al-Mu’minun karena diawal surahnya Allah menyebutkan:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman”. (QS. Al-Mu’minun : 1)

Mu’minun jama’ dari kata mu’min, pada kesempatan ini kita akan membahas beberapa ayat terakhir dari surah Al-Mu’minun yang dimulai dari ayat 99, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ ,لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا ۖ وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan”. (QS. Al-Mu’minun : 99).

Kita semua akan didatangi oleh kematian, kematian tidak pandang umur baik tua, muda, sehat, sakit semuanya akan didatangi oleh kematian.

Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka

Namun secara khusus yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah ketika kematian mendatangi orang – orang kafir dan orang – orang yang banyak lalai, perbedaan antara orang beriman yang taat dengan orang kafir atau ahli maksiat di dalam menghadapi kematian ketika dikembalikan kepada Allah diperumpamakan oleh Hasan Al Basri Rahimahullah: “Jika orang beriman kembali kepada Allah seperti orang musafir yang kembali kepada keluarganya”, beginilah orang beriman ketika kembali kepada tuhannya nanti seperti orang musafir yang kembali kepada keluarganya, olehnya nabi mengatakan:”Siapa yang bersafar dan sudah selesai urusannya maka segera pulang untuk menjumpai keluarganya“, sebaliknya Hasan Al Basri Rahimahullah memberikan perumpamaan orang kafir: “Orang kafir ketika dia kembali kepada tuhannya seperti seorang budak yang lari dari majikannya kemudian hendak kembali kepada majikannya tersebut”, bayangkan bagaimana takutnya dan khawatirnya dia karena hukuman sudah menantinya dan menunggunya, adapun orang yang beriman dia kembali kepada tuhannya maka ia akan merasakan kebahagian dan semoga hari yang paling bahagia dalam kehidupan kita adalah hari ketika kita berjumpa dengan Allah Subhanahu wata’ala,

Dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia)”.

Perkataan ini disampaikan oleh orang kafir ketika berada diambang kematian dan Allah Subhanahu wata’ala menceritakan di dalam Al-Qur’an tentang permintaan orang – orang kafir untuk kembali ke dunia pada saat mereka dalam keadaan sakratul maut begitupula pada saat mereka telah berada dihari kiamat bahkan pada saat mereka berada dalam neraka, seperti ayat yang kita bahas ini mereka minta untuk kembali mengerjakan amalan sholeh, bukan untuk kembali melanjutkan bisnisnya yang terputus, atau menyempurnakan rumahnya yang belum selesai dibangun, bukan demikian sebagaimana firman Allah:

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?”. (QS. Al-Munafiqun : 10).

Inilah perkataan mereka ketika dimasukkan ke dalam neraka dan mereka teriak – teriak di dalam nereka, Allah berfirman:

وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ ۚ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ ۖ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ

“Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan”. Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun”. (QS. Fatir: 37).

Jadi ini diantara permintaan dan cita – cita mereka, Al-Hasan pernah mengantar jenazah ke kuburan ada seorang anak muda yang berdiri disampingnya beliau bertanya kepada pemuda tersebut:”Wahai anak muda andaikan engkau berada pada posisi jenazah ini dan engkau bisa dikembalikan ke dunia apa yang hendak engkau kerjakan”. Ia berkata:”Saya akan menjadi orang yang sholeh, saya menjadi orang yang taat, menjaga sholat dengan baik dan memperbanyak kebaikan“, Al Hasan mengatakan:”Itu engkau miliki sekarang“.

Jadi harapan dan cita – cita orang yang meninggal itu kita semua memilikinya sekarang sebelum kemudian datang waktunya, kematian tidak minta ijin atau pamit kepada kita sebagaimana berita – berita yang kita dengar baik itu sahabat kita dan ustadz kita atau siapapun bisa saja dalam sekejap kita berpisah dengan mereka, Allah kemudian berfirman:

Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja

Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu berkata:”Jika Allah mengatakan كَلَّا ۚ (kalla) dalam Al-Qur’an itu bisa mengandung arti pendusta, jadi apa yang ia katakan bohong atau dusta karena Allah menyebutkan dalam ayat yang lain:

بَلْ بَدَا لَهُمْ مَا كَانُوا يُخْفُونَ مِنْ قَبْلُ ۖ وَلَوْ رُدُّوا لَعَادُوا لِمَا نُهُوا عَنْهُ وَإِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

“Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta belaka”. (QS. Al-An’am: 28).

Begitulah tabiat manusia, ketika dia sakit keras dia berkata:”InsyaAllah jika saya sembuh maka saya akan terus ke masjid”, ketika diberikan kesembuhan oleh Allah Subhanahu wata’ala awal – awalnya ia rajin ke masjid setelah itu ia kembali larut dalam maksiat itulah pentingnya untuk selalu meminta keistiqamahan dari Allah Subhanahu wata’ala.

Wallahu a’lam bisshowab

Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Selasa, 08 Rabiul Awal 1441 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.