بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَوَالِدٍ وَمَا وَلَدَ

“Dan demi bapak dan anaknya”. (QS. Al-Balad : 03).

 Yang dimaksud وَوَالِدٍ adalah bapak kita Adam ‘Alaihissalam adapun
وَلَدَ adalah keturunan dari Adam dari orang – orang yang beriman.

Disebut Adam karena dia diciptakan dari tanah yang mana Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan kepada Jibril ‘Alaihissalam untuk mengumpulkan beberapa jenis tanah yang merupakan asal dari penciptaan Adam ‘Alaihissalam, hal ini dijelaskan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan inilah yang menjadi rahasia mengapa anak cucu Adam ada yang berkulit putih, hitam dan merah, begitupula ada diantara anak cucu Adam yang tabiatnya baik, kasar, lembut dan pertengahan.

Jibril mengambil dari 3 jenis tanah yaitu hitam, merah dan putih, olehnya jika ada anak cucu Adam yang memiliki kulit sawo matang maka itu perpaduan dari ketiga warna tersebut, adapun jenis tanah yang dikumpulkan menjadi satu terdiri dari tanah yang subur, tandus, lembek dan keras, jadi ada tanah yang menumbuhkan, ada tanah yang tidak menumbuhkan, ada tanah yang kasar dan tandus, olehnya tabiat anak cucu Adam juga seperti itu, ada orang yang memiliki perangai keras, ada yang lembut, ada yang pertengahan, ada yang cepat memafkan karena tabiat tanah yang berbeda – beda yang diambil oleh Jibril ‘Alaihissalam, inilah asal penciptaan manusia walaupun setelah ia diciptakan kemudian seiring perjalanan waktu terjadi perubahan seperti dahulu ia menjadi orang yang jahat kemudian ia menjadi baik maka ini adalah tabiat yang ia usahakan, adapun jika dia memiliki sifat dan tabiat baik yang merupakan bawaan maka ini adalah keutamaan dari Allah sebagaimana salah seorang sahabat yang bernama
Al-Asyaj Abdul Qais yang datang dengan kaumnya pada tahun ketika kabilah – kabilah arab dan Madinah datang menyatakan baiatnya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Allah berfirman:

وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا

“Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong”. (QS. An-nashr :2).

Ada diantara rombongan dan kabilah bernama Al-Asyaj Abdul Qais, ketika kaumnya tiba di kota Madinah, kaumnya tidak sanggup menahan sabar untuk berjumpa dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam  mereka langsung datang kepada Rasulullah, adapun
Al-Asyaj Abdul Qais ia turun dari kendaraannya dan mengikatnya kemudian ia membersihkan tubuhnya yang kotor karena baru tiba dari perjalanan yang panjang, ia mengganti bajunya dengan baju yang layak kemudian ia datang kepada Nabi dengan berjalan penuh ketenangan dan ketika Rasulullah melihatnya, Rasulullah berkata:“Sesungguhnya pada dirimu ada dua sifat yang dicintai oleh Allah: lemah lembut dan tidak tergesa-gesa”.(Sahih, HR. Muslim no. 17 dan no. 25)”.  ia kemudian bertanya:”Ya Rasulullah, apakah ini merupakan sifat bawaan atau sesuatu yang saya usahakan”, Rasulullah berkata:”Justru ini adalah sifaat bawaan mu”, beliau kemudian berkata:”Segala puji bagi Allah yang memberikan kepada ku sifat bawaan yang dicintai oleh Allah Subhanahu wata’ala dan Rasulnya”. adapun yang merasa memiliki sifat selain itu maka inilah kemudian yang diubah oleh syariat kita, Rasululah bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ صَالِحَ اْلأَخْلاَقِ

Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik”.(HR. Al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad no. 273).

Jadi Allah bersumpah dengan menyebut Nabi Adam ‘Alaihissalam, adapun Hawa, disebut dengan Hawa karena ia diciptakan dari sesuatu yang hidup, ada yang mengatakan dari tulang rusuk Adam ‘Alaihissalam, ada yang mengatakan sisa tanah dari penciptaan Adam namun dia berasal dari Adam ‘Alaihissalam.

Semua dari 3 ayat ini adalah sumpah dan telah kita jelaskan bahwasanya jika ada sumpah maka ada jawaban dari sumpah tersebut sesuatu yang penting yang Allah hendak sampaikan. Ayat yang disebutkan setelah sumpah tersebut yang merupakan hiburan bagi orang – orang yang beriman terutama bagi mereka yang dirundung oleh masalah, pada ayat yang ke 4 Allah menegaskan:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي كَبَدٍ

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah”. (QS. Al-Balad: 04). Bukan Allah yang sulit akan tetapi manusia sejak ia dilahirkan, meninggal, dialam kuburnya, di hari kemudian dia akan terus mendapatkan kesulitan demi kesulitan sampai dia masuk ke dalam surga, jadi kesulitan dimulai sejak manusia dilahirkan, ketika kita dilahirkan oleh ibunya, mungkin ada yang dilahirkan dalam keadaan sungsang atau terbalik dimana kakinya lebih dahulu keluar, ada yang lahir terlilit oleh ari – ari dan ketika kepala kita sudah menonjol kemudian ditarik, ini adalah kesulitan yang pertama karena setelah ditarik kita menangis, kesulitan yang kedua ketika pusar kita digunting kita dalam keadaan menangis dan seterusnya sampai hari kiamat ketika kita dimasukkan ke dalam surga,  jadi ayat ini merupakan hiburan bagi kita seakan – akan Allah berkata kepada kita:”Wahai manusia aku memang menciptakan mu sudah seperti itu kalian tidak memiliki pilihan di dalamnya dan ini pelajaran bagi kalian ada tuhan yang mengatur hidupmu”. Dengan demikian perbanyaklah untuk meminta kemudahan kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Wallahu a’lam Bish Showaab 


Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Rabu, 08 Jumadil Akhir 1439 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.