بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

كَلَّا إِذَا بَلَغَتِ التَّرَاقِيَ

“Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan”. (QS. Al-Qiyamah: 26).

Ini proses dicabutnya nyawa, dalam hadist yang panjang dari Al Bara bin Azib Radhiyallahu ‘anhu disebutkan tentang perjalanan ruh:

Suatu hari kami mengantarkan jenazah salah seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dari golongan Anshar. Sesampainya di perkuburan, liang lahad masih digali. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun duduk (menanti) dan kami juga duduk terdiam di sekitarnya seakan-akan di atas kepala kami ada burung gagak yang hinggap. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memainkan sepotong dahan di tangannya ke tanah, lalu beliau mengangkat kepalanya seraya bersabda:”Mohonlah perlindungan kepada Allah dari adzab kubur!”, Beliau ulangi perintah ini dua atau tiga kali.

Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seandainya seorang yang beriman sudah tidak lagi menginginkan dunia dan telah mengharapkan akhirat (sakaratul maut), turunlah dari langit para malaikat yang bermuka cerah secerah sinar matahari. Mereka membawa kain kafan dan wewangian dari surga lalu duduk di sekeliling mukmin tersebut sejauh mata memandang. Setelah itu turunlah malaikat pencabut nyawa dan mengambil posisi di arah kepala mukmin tersebut. Malaikat pencabut nyawa itu berkata:”Wahai nyawa yang mulia keluarlah engkau untuk menjemput ampunan Allah dan keridhaan-Nya”. Maka nyawa itu (dengan mudahnya) keluar dari tubuh mukmin tersebut seperti lancarnya air yang mengalir dari mulut sebuah kendil. Lalu nyawa tersebut diambil oleh malaikat pencabut nyawa dan dalam sekejap mata diserahkan kepada para malaikat yang berwajah cerah tadi lalu dibungkus dengan kafan surga dan diberi wewangian darinya pula. Hingga terciumlah bau harum seharum wewangian yang paling harum di muka bumi.

Kemudian nyawa yang telah dikafani itu diangkat ke langit. Setiap melewati sekelompok malaikat di langit mereka bertanya:”Nyawa siapakah yang amat mulia itu?”, “Ini adalah nyawa fulan bin fulan”, jawab para malaikat yang mengawalnya dengan menyebutkan namanya yang terbaik ketika di dunia. Sesampainya di langit dunia mereka meminta izin untuk memasukinya, lalu diizinkan. Maka seluruh malaikat yang ada di langit itu ikut mengantarkannya menuju langit berikutnya. Hingga mereka sampai di langit ketujuh. Di sanalah Allah berfirman:”Tulislah nama hambaku ini di dalam kitab ‘Iliyyin. Lalu kembalikanlah ia ke (jasadnya di) bumi, karena darinyalah Aku ciptakan mereka (para manusia), dan kepadanyalah Aku akan kembalikan, serta darinyalah mereka akan Ku bangkitkan“.

Lalu nyawa tersebut dikembalikan ke jasadnya di dunia. Lantas datanglah dua orang malaikat yang memerintahkannya untuk duduk. Mereka berdua bertanya:”Siapakah rabbmu?”, “Rabbku adalah Allah” jawabnya. Mereka berdua kembali bertanya:”Apakah agamamu?”, “Agamaku Islam” sahutnya. Mereka berdua bertanya lagi”, Siapakah orang yang telah diutus untuk kalian?”, “Beliau adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam” jawabnya. “Dari mana engkau tahu?” tanya mereka berdua. “Aku membaca Al-Qur’an lalu aku mengimaninya dan mempercayainya”. Tiba-tiba terdengarlah suara dari langit yang menyeru:”(Jawaban) hamba-Ku benar! Maka hamparkanlah surga baginya, berilah dia pakaian darinya lalu bukakanlah pintu ke arahnya”. Maka menghembuslah angin segar dan harumnya surga (memasuki kuburannya) lalu kuburannya diluaskan sepanjang mata memandang.

Saat itu datanglah seorang (pemuda asing) yang amat tampan memakai pakaian yang sangat indah dan berbau harum sekali, seraya berkata:”Bergembiralah, inilah hari yang telah dijanjikan dulu bagimu”. Mukmin tadi bertanya:”Siapakah engkau? Wajahmu menandakan kebaikan”. “Aku adalah amal salehmu” jawabnya. Si mukmin tadi pun berkata:”Wahai Rabbku (segerakanlah datangnya) hari kiamat, karena aku ingin bertemu dengan keluarga dan hartaku”.

Adapun orang kafir, di saat dia dalam keadaan tidak mengharapkan akhirat dan masih menginginkan (keindahan) duniawi, turunlah dari langit malaikat yang bermuka hitam sambil membawa kain mori kasar. Lalu mereka duduk di sekelilingnya. Saat itu turunlah malaikat pencabut nyawa dan duduk di arah kepalanya seraya berkata:”Wahai nyawa yang hina keluarlah dan jemputlah kemurkaan dan kemarahan Allah!”. Maka nyawa orang kafir tadi “berlarian” di sekujur tubuhnya. Maka malaikat pencabut nyawa tadi mencabut nyawa tersebut (dengan paksa), sebagaimana seseorang yang menarik besi beruji yang menempel di kapas basah. Begitu nyawa tersebut sudah berada di tangan malaikat pencabut nyawa, sekejap mata diambil oleh para malaikat bermuka hitam yang ada di sekelilingnya, lalu nyawa tadi segera dibungkus dengan kain mori kasar. Tiba-tiba terciumlah bau busuk sebusuk bangkai yang paling busuk di muka bumi.

Lalu nyawa tadi dibawa ke langit. Setiap mereka melewati segerombolan malaikat mereka selalu ditanya:”Nyawa siapakah yang amat hina ini?”, “Ini adalah nyawa fulan bin fulan” jawab mereka dengan namanya yang terburuk ketika di dunia. Sesampainya di langit dunia, mereka minta izin untuk memasukinya, namun tidak diizinkan. Rasulullah membaca firman Allah:

لا تفتح لهم أبواب السماء ولا يدخلون الجنة حتى يلج الجمل في سم الخياط

“Tidak akan dibukakan bagi mereka (orang-orang kafir) pintu-pintu langit dan mereka tidak akan masuk surga, sampai seandainya unta bisa memasuki lobang jarum sekalipun“. (QS. Al-A’raf: 40).

Saat itu Allah berfirman:”Tulislah namanya di dalam Sijjin di bawah bumi”, Kemudian nyawa itu dicampakkan (dengan hina dina). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah ta’ala:

وَمَن يُشْرِكْ بِاللهِ فَكَأنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيْحُ فِي مَكَانٍ سَحِيْقٍ

“Barang siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh“. (QS. Al-Hajj: 31).

Kemudian nyawa tadi dikembalikan ke jasadnya, hingga datanglah dua orang malaikat yang mendudukannya seraya bertanya:”Siapakah rabbmu?”, “Hah hah… aku tidak tahu”, jawabnya. Mereka berdua kembali bertanya:”Apakah agamamu?”, “Hah hah… aku tidak tahu” sahutnya. Mereka berdua bertanya lagi:”Siapakah orang yang telah diutus untuk kalian?” “Hah hah… aku tidak tahu” jawabnya. Saat itu terdengar seruan dari langit, ‘Hamba-Ku telah berdusta! Hamparkan neraka baginya dan bukakan pintu ke arahnya”. Maka hawa panas dan bau busuk neraka pun bertiup ke dalam kuburannya. Lalu kuburannya di “press” (oleh Allah) hingga tulang belulangnya (pecah dan) menancap satu sama lainnya.

Tiba-tiba datanglah seorang yang bermuka amat buruk memakai pakaian kotor dan berbau sangat busuk, seraya berkata:”Aku datang membawa kabar buruk untukmu, hari ini adalah hari yang telah dijanjikan bagimu”. Orang kafir itu seraya bertanya:”Siapakah engkau? Wajahmu menandakan kesialan!”, “Aku adalah dosa-dosamu” jawabnya:”Wahai Rabbku, janganlah engkau datangkan hari kiamat” seru orang kafir tadi”. (HR. Ahmad dalam Al-Musnad (XXX/499-503) dan dishahihkan oleh al-Hakim dalam Al-Mustadrak (I/39) dan al-Albani dalam Ahkamul Janaiz hal. 156).

Seseorang ketika nyawanya dicabut matanya mengikuti ruhnya, olehnya kebanyakan ada orang yang meninggal dengan mata yang membelalak karena ruhnya yang dicabut diikuti oleh pandangan matanya dan inilah kondisi yang paling menyedihkan adapun orang yang beriman pada saat berada dalam kondisi tersebut akan menjadi penghapusan dosa yang terkahir baginya sebelum dia meninggal dunia, jadi dia dibersihkan sebelum dia meninggal,

Bayangkan kuku kita ketika dicabut sakitnya luar biasa lalu bagaimana jika ruh yang bersatu dengan tubuh kita yang menempel selama beberapa tahun lamanya itu dicabut, bisa kita bayangkan:

إِنَّ الْعَبْدَ الْمُؤْمِنَ إِذَا كَانَ فِي انْقِطَاعٍ مِنَ الدُّنْيَا وَإِقْبَالٍ مِنَ الْآخِرَةِ نَزَلَ إِلَيْهِ مَلَائِكَةٌ مِنَ السَّمَاءِ بِيضُ الْوُجُوهِ كَأَنَّ وُجُوهَهُمْ الشَّمْسُ مَعَهُمْ كَفَنٌ مِنْ أَكْفَانِ الْجَنَّةِ وَحَنُوطٌ مِنْ حَنُوطِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَجْلِسُوا مِنْهُ مَدَّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَجِيءُ مَلَكُ الْمَوْتِ عَلَيْهِ السَّلَام حَتَّى يَجْلِسَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَيَقُولُ: أَيَّتُهَا النَّفْسُ الطَّيِّبَةُ اخْرُجِي إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنَ اللهِ وَرِضْوَانٍ. قَالَ: فَتَخْرُجُ تَسِيلُ كَمَا تَسِيلُ الْقَطْرَةُ مِنْ فِي السِّقَاءِ فَيَأْخُذُهَا فَإِذَا أَخَذَهَا لَمْ يَدَعُوهَا فِي يَدِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ حَتَّى يَأْخُذُوهَا فَيَجْعَلُوهَا فِي ذَلِكَ الْكَفَنِ وَفِي ذَلِكَ الْحَنُوطِ وَيَخْرُجُ مِنْهَا كَأَطْيَبِ نَفْحَةِ مِسْكٍ وُجِدَتْ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ

“Sesungguhnya seorang hamba yang mukmin apabila akan meninggal dunia, maka para malaikat rahmat turun kepadanya, wajahnya seakan-akan matahari yang bersinar, membawa kain kafan dan wangi-wangian dari jannah (surga). Mereka duduk di tempat sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malakul maut hingga duduk di samping kepalanya, lalu berkata:”Wahai jiwa yang baik, keluarlah engkau menuju ampunan Allah dan keridhaan-nya, Maka ruh tersebut keluar dari jasadnya seperti tetesan air yang mengalir dari bibir tempat air minum. Malakul maut pun mengambil ruh yang sudah keluar dari jasadnya itu. Tiba-tiba para malaikat rahmat yang menunggu tidak membiarkan ruh tersebut berada di tangannya sekejap mata pun. Mereka segera mengambil dan menaruhnya di dalam kafan dan wangi-wangian tersebut, dan keluarlah bau wangi misik yang paling harum yang dijumpai di muka bumi“.

Allah mengutus para malaikat-Nya untuk memberi kabar gembira kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan istiqamah di atas agama yang sempurna ketika menghadapi sakaratul maut. Ini adalah bukti kasih sayang Allah terhadap hamba-Nya. Allah berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan:“Rabb kami ialah Allah’ kemudian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.’ Kamilah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang“. (QS. Fushshilat: 30-32)

Begitupula sebaliknya jika orang kafir yang meninggal dunia maka didatangkan kain kafan dari neraka, ketika nyawa seseorang sudah sampai dikerongkongan semua yang ada disekelilingnya melihat orang yang sekarat dimana dia sudah berada dialam lain, dia sudah berpindah dari alam ghaib ke alam syahadah, dia sudah melihat malaikat datang, oleh karenanya pada saat kondisi demikian taubat tidak bermanfaat lagi ketika nyawa telah sampai di kerongkongan sama dengan Fir’aun ketika dia baru beriman dan nyawa telah sampai dikerongkongan ia berkata:”Saya baru beriman dengan tuhannya Bani Israil“, Allah berkata:”Baru sekarang wahai Fir’aun, dulu engkau banyak melakukan kemaksiatan dan kerusakan“, Dari Abu ‘Abdirrahman ‘Abdullah bin ‘Umar bin Al Khaththab Radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ

“Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba, selama (ruh) belum sampai di tenggorokan”. ( HSR. At Tirmidzi (no. 3537). Olehnya selama kita masih sehat dan masih bisa beraktifitas perbanyak taubat sebelum suatu waktu nyawa dicabut sampai dikerongkongan dimana taubat ditutup.

Ayat selanjutnya

وَقِيلَ مَنْ ۜ رَاقٍ

“dan dikatakan (kepadanya): “Siapakah yang dapat menyembuhkan?”. (QS. Al-Qiyamah: 27).

Orang – orang disekelilingnya akan berkata:”Siapa gerangan orang yang bisa mengobati orang yang sakit ini, coba datangkan dokter yang ahli, bawa keluar negeri berobat berapapun biayanya tidak peduli“, kematin BJ Habibi memberikan pelajaran kepada kita betapa jayanya beliau dulu sampai diberikan gelar menciptakan baling pesawat namun kemana beliau sekarang semua karirnya berakhir dengan kematiannya, penguasa, orang kaya, orang terpandang semuanya mati, Harun Ar Rashid seorang khalifah ketika beliau sakit keras ia berkata kepada pengawalnya:”Bawa saya dimana saya akan dikuburkan”, maka dibawalah beliau ditempat dimana dia akan dikuburkan, dengan penuh rasa tadarru atau menangis beliau berkata:”Wahai yang tidak hilang kekuasaannya kasihani hambamu ini yang telah hilang kekuasaaanya”.

Ayat selanjutnya

وَظَنَّ أَنَّهُ الْفِرَاقُ , وَالْتَفَّتِ السَّاقُ بِالسَّاقِ

“Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia), dan bertaut betis (kiri) dan betis (kanan)”. (QS. Al-Qiyamah: 28-29). Betisnya sudah bertautan, ini alamat atau tanda akan kematian seseorang.

Ayat selanjutnya

إِلَىٰ رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمَسَاقُ

“kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau”. (QS. Al-Qiyamah: 30).

Ayat selanjutnya

فَلَا صَدَّقَ وَلَا صَلَّىٰ , وَلَٰكِنْ كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰ

“Dan ia tidak mau membenarkan (Rasul dan Al Quran) dan tidak mau mengerjakan shalat, tetapi ia mendustakan (Rasul) dam berpaling (dari kebenaran)”. (QS. Al-Qiyamah: 31-32).

Ketika diberi peringatan dia berkata:”Urus dirimu sendiri apakah engkau yang punya surga”.

Ayat selanjutnya

ثُمَّ ذَهَبَ إِلَىٰ أَهْلِهِ يَتَمَطَّىٰ , أَوْلَىٰ لَكَ فَأَوْلَىٰ , ثُمَّ أَوْلَىٰ لَكَ فَأَوْلَىٰ

“tetapi ia mendustakan (Rasul) dam berpaling (dari kebenaran), Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu, kemudian kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagim “. (QS. Al-Qiyamah: 33 – 35).

Dia kembali kepada keluarganya dengan penuh riangnya bahkan dia mencela orang – orang yang beriman.

Ayat Selanjutnya

أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى

“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)”. (QS. Al-Qiyamah: 36).

Allah menciptakan kita bukan kebetulan, bukan main – main, ada tujuan, ada perintah dan ada larangan, ada kitab yang diturunkan sebagai petunjuk, ada Nabi dan Rasul yang diutus untuk kita mengikutinya. Allah berfirman:

وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ ۚ إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا ۚ وَإِنْ يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ ۚ بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقًا

“Dan katakanlah:”Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek”. (QS. Al-Kahfi: 29).

Oleh karenanya jangan menyombongkan diri dan berpaling dari ayat – ayat Allah karena kita akan rugi kelak pada hari kiamat.

Ayat selanjutnya

أَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِنْ مَنِيٍّ يُمْنَىٰ , ثُمَّ كَانَ عَلَقَةً فَخَلَقَ فَسَوَّىٰ , فَجَعَلَ مِنْهُ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْأُنْثَىٰ , أَلَيْسَ ذَٰلِكَ بِقَادِرٍ عَلَىٰ أَنْ يُحْيِيَ الْمَوْتَىٰ

Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya, lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang: laki-laki dan perempuan, Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?“. (QS. Al-Qiyamah: 37-40).

Apa yang kita sombongkan semua manusia berasal dari mani yang hina dan akan menjadi bangkai yang tidak berguna. Manusia diciptakan dari setetes mani kemudian segumpal darah, ada 7 marhalah atau fase manusia diciptakan oleh Allah Subhanahu wata’ala. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ مُخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِنُبَيِّنَ لَكُمْ ۚ وَنُقِرُّ فِي الْأَرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ ۖ وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّىٰ وَمِنْكُمْ مَنْ يُرَدُّ إِلَىٰ أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِنْ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئًا ۚ وَتَرَى الْأَرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ

“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah”. (QS. Al-Hajj: 05).

Kita telah melewati 7 fase kemudian setelah itu kita masuk pada fase 8 yaitu kematian dan 8 fase yang kita lewati ini apakah tidak cukup menjadi dalil bagi kita untuk fase yang terakhir dimana kita akan dibangkitkan dan berdiri dihadapan Allah Subhanahu wata’ala.

Semoga Allah merahmati kita dan menjadikan sisa umur kita untuk terus berbuat baik dan beramal sholeh.

Wallahu a’lam bisshowab

Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Selasa, 04 Jumadil Awal 1441 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.