بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

قَالَ لَهُمْ مُوسَى وَيْلَكُمْ لَا تَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ كَذِبًا فَيُسْحِتَكُمْ بِعَذَابٍ وَقَدْ خَابَ مَنِ افْتَرَى

Berkata Musa kepada mereka: “Celakalah kamu, janganlah kamu mengada-adakan kedustaan terhadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa“. Dan sesungguhnya telah merugi orang yang mengada-adakan kedustaan”. (QS. Thaha:61).

Syaikh Dr. Umar Al Muqbil Hafidzahullah menyebutkan beberapa makna iftiraa diantaranya adalah kedustaan, kesyirikan dan ke dzaliman dan ketiga makna tersebut disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wata’ala dan semuanya bermuara pada kerusakan dan menyebarkan kerusakan dipermukaan bumi, jadi Allah Subhanahu wata’ala menyebutkan bahwasanya mereka adalah orang yang merugi.

Penggalan ayat ini adalah merupakan bagian dari kisah yang diceritakan oleh Allah Subhanahu wata’ala didalam Al-Qur’an yang merupakan kisah yang paling panjang dan paling sering disebutkan dalam Al-Qur’an yaitu kisah Nabi Musa dan fir’aun dimana terjadi perseteruan antara haq (kebenaran) dan bathil (keburukan). Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِي الْأَرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا يَسْتَضْعِفُ طَائِفَةً مِنْهُمْ يُذَبِّحُ أَبْنَاءَهُمْ وَيَسْتَحْيِي نِسَاءَهُمْ ۚ إِنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ

Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan”. (QS. Al-Qashash: 4).

Dan Allah Subhanahu wata’ala mengutus Nabi Musa ‘Alaihissalam untuk mendakwahi fir’aun dan penyihir – penyihirnya  dan setelah Nabi Musa memperlihatkan mu’jizat tanda – tanda kebesaran yang Allah Subhanahu wata’ala berikan kepada beliau dimana disebutkan diawal surah diatas yaitu berupa tongkat dan beliau memasukkan tangannya kedalam baju beliau kemudian mengeluarkannya dan serta merta mengeluarkan cahaya yang terang, namun hal tersebut tidak menjadikan fir’aun tersadarkan bahkan ia semakin menyombongkan diri.

Walaupun pada hakekatnya Fir’aun mengakui bahwasanya apa yang dibawa oleh Nabi Musa adalah kebenaran, akan tetapi disebabkan karena pendamping – pendamping yang buruk terutama yang bernama haman yang berkata kepada fir’aun :”Jika engkau mengikuti musa yang kemarin engkau telah disembah maka engkau akan menjadi hamba seperti mereka“,

(Inilah bahayanya memiliki teman yang buruk kadang ia menjadi penghalang bagi kita untuk mendapatkan hidayah dan kadang menjadi penghalang bagi kiita untuk mengerjakan amalan sholeh).

Akhirnya Fir’aun tetap diatas kedustaannya dan kesombongannya, sehingga Allah Subhanahu wata’ala menjadikan fir’aun sebagai permisalan didalam Al-Qur’an untuk dijadikan sebagai ibrah dan pelajaran bagi orang – orang yang menyombongkan diri dengan kekuasaannya, fir’aun menantang Nabi Musa ‘Alaihissalam atau sebaliknya Nabi Musa menantang fir’aun  dan mereka ingin saling memperlihatkan apa yang mereka miliki, adapun fir’aun memiliki para penyihir-penyihir dan hal ini menjadi faedah bahwa Allah Subhanahu wata’ala memberikan kepada Nabi dan Rasulnya mu’jizat sesuai dengan kondisi dan keadaan kaum tersebut, ketika kaumnya Nabi Isa ‘Alaihissalam masyur dengan pengobatan medis mereka maka Allah Subhanahu wata’ala memberikan kepada Nabi Isa yang mirip dengan apa yang mereka miliki dan mengalahkannya beliau mampu menyembuhkan penyakit levra dan menyakit kusta bahkan menghidupkan orang mati dengan izin Allah Subhanahu wata’ala.

Begitupula dengan Nabi Musa ‘Alaihissalam masyur dengan tukang sihir oleh karenanya Allah Subhanahu wata’ala membekali beliau dengan mu’jizat untuk menandingi apa yang dimiliki oleh tukang – tukang sihir fir’aun tetapi apa yang dimiliki oleh Nabi Musa “Alaihissalam bukan sihir melainkan mu’jizat dari Allah Subhanahu wata’ala adapun penyihir para fir’aun adalah sihir tipu daya yang berasal dari syaithan yang berupa tali dan ketika dilemparkan tali temalinya ditampakkan seakan akan ia berubah menjadi ular akan tetapi hakekatnya hanyalah khayalan, adapun Nabi Musa melemparkan tongkatnya dan secara hakiki berubah menjadi ular sehingga para tukang sihir fir’aun semerta-merta beriman kepada Nabi Musa “Alaihissalam karena mereka bisa membedakan mana yang hakiki dan mana yang khayalan, ketika mereka beriman kepada Nabi Musa “Alaihissalam mereka kemudian diancam  dan dibunuh oleh fir’aun tetapi mereka setelah melihat kenyataan itu dan tanda kebesaran yang dibawah oleh Nabi Musa “Alaihissalam sedikitpun tidak mengubah keistiqamahan mereka untuk beriman kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Wallahu A’lam Bish Showaab


Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Senin, 05 Jumadil Akhir 1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.