بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ

Maka dia berkata:“Tuhanku menghinakanku”. (QS. Al-Fajr : 16).

Anggapan orang kafir dalam ayat ini sangat keliru, oleh karenanya ayat berikutnya Allah langsung membantah mereka:

كَلَّا ۖ بَلْ لَا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ

“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim”. (QS. Al-Fajr : 17).

Allah berkata:” كَلَّا (Sekali – kali tidak) ukuran kemuliaan bukan harta, pangkat, jabatan dan kekuasaan bahkan dia akan menjadi penyesalan dihari kemudian dan menjadi boomerang jika disalah gunakan, Allah berfirman:

وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ فَيَقُوْلُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُوْتَ كِتَابِيَهْ (25) وَلَمْ أَدْرِ مَا حِسَابِيَهْ (26) يَا لَيْتَهَا كَانَتِ الْقَاضِيَةَ (27) مَا أَغْنَى عَنِّي مَالِيَهْ (28) هَلَكَ عَنِّي سُلْطَانِيَهْ (29)

“Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata:”Aduhai, alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini). Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang pula kekuasaanku daripadaku”. (QS. Al-Haqqoh: 25-29).

Dia menghambur – hamburkan hartanya dalam kemaksiatan atau hal – hal yang sifatnya mubah tapi dia malas berinfaq dan bersedekah sehingga dia tidak mendapatkan pahala dari harta yang ia miliki dihari kemudian.

Kekuasaan, pangkat dan jabatan di zaman ini orang saling berebut untuk mendapatkannya, saling menjatuhkan, saling mendahului, saling melempar tuduhan atau gelar-gelar buruk demi untuk mendapatkan kedudukan, kekuasaan, pangkat, jabatan padahal semuanya itu adalah penyesalan dihari kemudian. Harun Ar Rasyid seorang mantan khalifah ketika diakhir hidupnya ia dalam kondisi sakit keras beliau berkata kepada pengawalnya:”Tolong bawa aku ditempat dimana aku nanti dikuburkan“, dibawalah beliau ke tempat itu ketika beliau melihat lubang kubur yang disiapkan untuknya, beliau menunjuk ke langit dengan berdoa:”Wahai yang tidak pernah hilang kekuasaannya kasihani hambamu ini yang telah hilang kekuasaannya”.

Kekuasaan tidak ada yang kekal karena andaikan kekuasaan kekal bagi seseorang maka tidak mungkin kekuasaan itu berpindah kepada orang lain, Allah berfirman:

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Katakanlah:“Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. Ali-‘Imran: 26)

Adapun bagi mereka yang ingin berkhidmah lewat kekuasaan, jabatan maka berhati – hatilah karena ini adalah lingkaran syaithan anda harus kuat, jadikan kekuasaan yang diberikan kepada anda untuk berkhidmah kepada islam dan kaum muslimin, jangan sebaliknya menjadi musuh bagi islam dan kaum muslimin karena anda akan mengumumkan perang kepada Allah Subhanahu wata’ala dan itu merupakan penyesalan dihari kemudian.

Allah berfirman:

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ (88) إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ (89)

“(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih”. (QS. Asy Syu’aro’: 88). Hati yang bersih (selamat) merupakan lawan dari hati yang sakit.

Dalam ayat yang lain, Allah berkata kepada orang – orang kafir yang dibentangkan harta kepada mereka:

أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهِ مِنْ مَالٍ وَبَنِينَ , نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ ۚ بَلْ لَا يَشْعُرُونَ

“Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar”. (QS. Al-Mu’minun : 55-56).

Kesimpulan dari 2 ayat yang kita bahas yang terdapat dalam surah Al-Fajr ayat 15-16 bahwasanya bukan aib untuk menjadi orang kaya, bukan aib menjadi miskin, bukan aib menjadi pejabat, bukan aib menjadi rakyat biasa, bukan aib menjadi orang diatas, bukan aib menjadi orang dibawah tetapi yang menjadi aib adalah ketika jauh dari Allah Subhanahu wata’ala.

Allah Berfirman:”Justru kalian tidak memuliakan anak yatim“, bagaimana ia memuliakan anak yatim padahal dia kikir, bakhil sehingga dia lupa orang – orang yang ada disekitarnya terutama anak yatim, yang dimaksud dengan Al Yatim definisinya adalah siapa yang mati bapaknya dan dia masih kecil (belum baligh), walaupun mungkin bapaknya meninggalkan harta yang banyak tapi dia tetap dihukumi sebagai anak yatim karena tidak ada yang bisa menggantikan kedudukan ayah dan ibu ketika telah meninggal.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sangat memerintahkan kita untuk memuliakan anak yatim, Dari Sahl bin Sa’ad Radhiallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

« أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِى الْجَنَّةِ هكَذَا »  وأشار بالسبابة والوسطى وفرج بينهما شيئاً

Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, serta agak merenggangkan keduanya”. (HSR Al-Bukhari (no. 4998 dan 5659).

Hadist ini menunjukkan dekatnya majelis beliau dengan orang yang menyantuni anak yatim disurga, siapa diantara kita yang diberikan kelebihan oleh Allah hendaknya ia menyantuni anak yatim terutama yang masih ada hubungan kekerabatan dengannya, misalkan keponakannya, sepupunya yang telah meninggal bapaknya ini pahalanya berlipat ganda disisi Allah atau tetangga kita, cari anak yatim dan santuni mereka jika ingin keberkahan dalam hidup, ketika para sahabat mengadukan hatinya yang keras kepada Nabi, Nabi menyuruh mereka mencari anak yatim dan mengelus kepalanya karena mereka membutuhkan rasa cinta dan rasa sayang, makanya Allah berfirman di dalam Al-Qur’an:

فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ

“Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang”. (QS. Ad-Dhuha : 9).

Anak yatim adalah sumber keberkahan adapun yang memakan harta anak yatim misalkan orang tuanya kaya raya  dia meninggalkan warisan tentu yang menjadi wali untuknya tidak boleh ia menyerahkan hartanya kepada anak tersebut karena dia masih kecil atau belum tau tentang uang maka yang dia lakukan adalah menyimpannya, boleh dia makan darinya tetapi sekedarnya saja dan bukan dengan niat mengambil harta tersebut, Allah berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّىٰ يَبْلُغَ أَشُدَّهُ ۖ وَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ ۖ لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۖ وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَىٰ ۖ وَبِعَهْدِ اللَّهِ أَوْفُوا ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat”. (QS. Al-An’am: 152).

Adapun yang memakan harta anak yatim, Allah mengancam dalam firmannya:

إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَىٰ ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا ۖ وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا

“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)”. (QS. An-Nisaa: 10).

Lanjutan ayat Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَلَا تَحَاضُّونَ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ

“dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin”. (QS. Al-Fajr : 18).

Berbuat baik kepada orang – orang yang membutuhkan adalah perkara yang diperintakan oleh Allah terutama memberi makan kepada orang miskin, oleh karenanya beri makan kepada orang miskin dan ajak orang lain untuk membantu orang miskin, Allah bertanya kepada penghuni nereka pada hari kiamat:

مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ (42) قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ (43) وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ (44

Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?”, Mereka menjawab:“Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin”. (QS. Al-Mudattsir: 42-44).

Dia kenyang satu keluarga tetapi diantara tetangganya ada anak miskin, anak yatim berhari-hari dalam keadaan lapar namun dia tidak memberi makan kepada mereka maka ini bisa menjadi sebab kehinaan didunia sebelum diakhirat.

Lanjutan ayat Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَتَأْكُلُونَ التُّرَاثَ أَكْلًا لَمًّا

“Dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampur baurkan (yang halal dan yang bathil). (QS. Al-Fajr : 19).

Di zaman jahiliyah mereka memakan harta warisan yang merupakan hak dari anak – anak perempuan, jadi, anak – anak perempuan di zaman jahiliyah tidak mendapatkan harta warisan, oleh karenanya tidak ada agama yang memuliakan wanita melebihi islam, jika ada orang – orang yang menuduh islam membatasi ruang gerak wanita atau mengatakan mengikat hak asasi wanita, maka perkataan mereka tidak lain dengan tujuan mengeluarkan kaum wanita dari rumah – rumahnya dengan dalih kesetaraan gender dan persamaan hak, islam tidak mengenal persamaan antara laki – laki dan wanita tetapi yang dikenal dalam islam adalah keadilan lelaki dan wanita, jadi islam sangat memuliakan kaum wanita, sejak wanita menjadi bayi, Allah berfirman, Dari  ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata: 

جَاءَتْنِى امْرَأَةٌ وَمَعَهَا ابْنَتَانِ لَهَا فَسَأَلَتْنِى فَلَمْ تَجِدْ عِنْدِى شَيْئًا غَيْرَ تَمْرَةٍ وَاحِدَةٍ فَأَعْطَيْتُهَا إِيَّاهَا فَأَخَذَتْهَا فَقَسَمَتْهَا بَيْنَ ابْنَتَيْهَا وَلَمْ تَأْكُلْ مِنْهَا شَيْئًا ثُمَّ قَامَتْ فَخَرَجَتْ وَابْنَتَاهَا فَدَخَلَ عَلَىَّ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- فَحَدَّثْتُهُ حَدِيثَهَا فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « مَنِ ابْتُلِىَ مِنَ الْبَنَاتِ بِشَىْءٍ فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ »

“Ada seorang wanita yang datang menemuiku dengan membawa dua anak perempuannya. Dia meminta-minta kepadaku, namun aku tidak mempunyai apapun kecuali satu buah kurma. Lalu akau berikan sebuah kurma tersebut untuknya. Wanita itu menerima kurma tersebut dan membaginya menjadi dua untuk diberikan kepada kedua anaknya, sementara dia sendiri tidak ikut memakannya. Kemudian wanita itu bangkit dan keluar bersama anaknya. Setelah itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dan aku ceritakan peristiwa tadi kepada beliau, maka Nabi shallallhu ‘alaii wa sallam bersabda:”Barangsiapa yang diuji dengan anak-anak perempuan, kemudia dia berbuat baik kepada mereka, maka anak-anak perempuan tersebut akan menjadi penghalang dari siksa api neraka”. (HR. Muslim: 2629)

Beranjak menjadi remaja kemudian menjadi istri Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا ۖ وَلَا تَعْضُلُوهُنَّ لِتَذْهَبُوا بِبَعْضِ مَا آتَيْتُمُوهُنَّ إِلَّا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ ۚ وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

“Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. Rasulullah bersabda:”Sebaik – baik kalian adalah yang baik kepada keluarganya dan aku yang paling baik kepada keluargaku”, ketika dia menjadi ibu, salah seorang bertana kepada nabi kepada siapa aku harus berbuat baik”. (QS. An-Nisaa :19). Islam memuliakan kaum wanita dengan hijabnya dengan sifatnya, rasa malunya dan dengan kemuliaan mereka.

Wallahu a’lam Bish Showaab 


Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Selasa, 24 Sya’ban 1440 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.