بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”. (QS. Al Fatihah :7)

Ayat ini ditafsirkan langsung oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Sebagaimana dalam hadistnya:

Sesungguhnya Yahudi itu adalah yang dimurkai dan Nashara adalah orang-orang yang disesatkan.” (HR. At-Tirmidzi dalam Sunan-nya no. 4029 dan dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no.8202).

  1. Jalan orang – orang yang diberi nikmat

Sebelum kita membaca ayat diatas maka kita baca ayat sebelumnya “Ihdinassyiratal mustaqiim“, (Ya Allah Tunjukilah kami jalan yang lurus). Jalan yang lurus dijelaskan dalam ayat ke 7 ((yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat). Siapakah golongan yang mendapatkan nikmat dari Allah Subhanahu wata’ala apakah mereka yang dimaksud adalah yang dibukakan untuknya pintu dunia atau yang bergelimang harta atau orang – orang yang tinggi pangkat dan jabatannya maka Allah Subhanahu wata’ala menjelaskan dalam surah An Nisa. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا

“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”. (QS. An Nisa : 69).

Syaratnya adalah harus taat kepada Allah dan Rasulnya kemudian golongan yang termasuk diberi nikmat adalah:

  1. Dari golongan para Nabi, tingkatan yang paling tinggi dari kewalian adalah para nabi Allah Subhanahu wata’ala merekalah orang – orang yang paling dekat dengan Allah Subhanahu wata’ala . Allah memilih dari malaikatnya sebagai rasul (utusan) dan dari manusia yaitu para Nabi dan Rasul yang diutus oleh Allah Subhanahu wata’ala untuk menyampaikan risalah dari Allah Subhanahu wata’ala Kepada manusia ini adalah maqam yang paling tinggi.
  1. As Siddiqin  orang – orang yang jujur dan membenarkan apa yang datang dari Allah dan Rasulnya, Sebagian ulama kita menyebutkan bahwa yang dimaksudkan disini adalah al ulama ar rabbaniun . para ulama yang beramal dengan ilmu yang Allah ajarkan kepada mereka dan berdakwah di jalan Allah Subhanahu wata’ala.
  1. Wassyuhada, orang – orang yang sahid dijalan Allah Subhanahu wata’ala dalam menegakkan agama Allah Subhanahu wata’ala.
  1. Golongan orang – orang sholeh, orang – orang yang senantiasa taat kepada Allah dan Rasulnya, mengerjakan amalan – amalan sholeh serta selalu mengikuti kebenaran.

Dan mereka adalah sebaik – baik teman, hal ini merupakan motivasi agar kita berusaha untuk bersama dengan mereka kemudian menjadikan mereka sebagai teman didunia yang akan menyelamatkan dan memberi syafaat kepada kita nanti dihari kemudian. Diantara penyesalan orang – orang kafir disebutkan dalam surah Al Fur’qan, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي ۗ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا

Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul”. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia”. (QS. Al Furqan : 27-29).

Menggigit kedua jari menunjukkan penyesalan yang sangat dalam, Jadi penyesalan mereka adalah karena mereka salah dalam memilih teman sehingga teman yang mereka pilih justru dari kalangan orang – orang yang sesat sehingga mereka saling mengajak kepada kesesatan sehingga jauh dari petunujuk para Nabi dan Rasul, oleh karena itu berhati – hati dalam memilih teman karena akan menjadi penyesalan yang paling besar nanti dihari kiamat dan Rasulullah telah memperingatkan kepada ummatnya agar berhati – hati dalam memilih teman sebagaimana dalam hadist, Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Oleh karena itu, salah satu di antara kalian hendaknya memperhatikan siapa yang dia jadikan teman”. (HR Abu Dawud no. 4833 dan at-Tirmidzi no. 2378).

Karena teman  sangat berpengaruh untuk dijadikan teman dimana ia bisa menjadi sebab seseorang berada dijalan yang lurus atau atau bahkan dijalan yang sesat sebagaimana perkataan orang dhalim pada hari kiamat:”Sungguh ia telah menyesatkan aku dari peringatan Allah setelah peringatan itu datang kepadaku dan sungguh syaithan itu kepada manusia banyak menipu”, olehnya berhati – hatilah dari kalangan syaithan – syaithan dan manusia. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا ۚ وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan”.(QS. Al An’am : 112).

Khalil adalah orang yang paling dekat dan paling akrab adapun shahib teman atau sahabat. Berhati hati memilih Khalil orang yang buruk karena hal itu bisa menyesatkan dan menjadi sebab kita dimasukkan ke dalam neraka.

2. Bukanlah jalan orang – orang yang dimurkai dan sesat 

mereka adalah orang – orang yahudi dalam ayat ini kita berlindung dari Allah Subhanahu wata’ala untuk tidak mengikuti jalan orang – orang yahudi dan jalan orang yang tersesat yaitu orang – orang nasrani.

Larangan untuk menjadikan orang – orang yahudi dan nasrani itu menjadi Khalil, pemimpin bukan hanya terdapat dalam ayat al maidah 51 akan tetatpi terdapat dalam banyak ayat dalam Al-Qur’an, setiap sholat kita berlindung dan berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala agar kta tidak mengikuti mereka apalagi menjadikan mereka sebagai pemimpin karena bagaimana mungkin kita menyerahkan urusan itu kepada orang yang dilaknat dan dimurkai oleh Allah Subhanau wata’ala.

Disini kita bisa melihat aqidah al wala wal baro memberikan kecintaan dan loyalitas kepada orang – orang yang beriman dan al baro melepaskan diri dari kesyrikan dan ahlu syirik. Maka dari itu jangan kemudian kita ikut latah dengan mereka karena hal itu menunjukkan keridhaan atas  kebathilan mereka dan hal ini merupan bentuk ujian kepada manusia dibulan desember bagaimana ia berlepas dari kesyirikan and ahli syirik dan bahkan dari syiar – syiar kesyirikan mereka, dan sungguh sangat disayangkan masih banyak dari kaum muslimin yang mengira bahwa hal itu adalah sesuatu yang lumrah seperti menggunakan topi santa pada pelayan – pelayan toko dimana mereka adalah orang muslim dan kebanyakan dari mereka mengatakan diwajibkan bagi mereka oleh pimpinan perusahaan tempat mereka bekerja untuk menggunakan kostum yang seperti itu. Hal ini merupakan penghinaan kepada kaum muslimin karena kita diperitahkan untuk berlepas diri dari kesyirikan dan diantara ciri ibadurrahman adalah mereka orang – orang yang tidak menyaksikan kebohongan dan kedustaan kata ulama tafsir yang dimaksud at tsur adalah hari – hari perayaan orang – orang kafir dimana mereka merayakan dan bergembira dengan hari raya mereka tersebut kemudian kaum muslimin ikut – ikutan maka ini hukumnya haram apalagi sampai mengucapkan selamat natal kepada mereka. Padahal agama islam adalah agama yang paling toleransi dalam urusan ibadah dan agama.

Adapun dalam urusan bermuamalah dibolehkan dengan mereka seperti jual beli dengan mereka disini kembali kepada niat jika hanya sekedar bermuamalah untuk suatu yang mubah maka dibolehkan sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menggadaikan baju besinya kepada seorang yahudi dan beliau meninggal dunia sedangkan beliau belum menebus apa yang beliau gadaikan tersebut akan tetapi jika jual belinya menyangkut syiar – syiar mereka maka ulama kita mengatakan bahwasanya:”Tidak boleh menyewakan kendaraan kepada seorang non muslim yang jelas – jelas kita tahu bahwasanya ia menggunakan untuk keperluan ibadah mereka“, adapun menjual kue boleh kepada kaum muslimin dan non muslim sebagai kebutuhan makanan akan tetapi jika dia pesan untuk hari raya mereka maka tidak tidak dibolehkan, begitulah kita menunjukkan loyalitas kita kepada agama islam.

Imam Ahmad Rahimahullah pernah berjumpa dengan orang kafir dzimmi (orang kafir yang hidup dibawah pemerintahan kaum muslimin yang membayar jiziyah, upeti kepada kaum muslimin dan haram untuk diganggu) beliau bertemu dikota bahdad beliau menundukkan pandanganya tidak mau melihat wajahnya. Ketika ditanya Beliau mengatakan:”Saya tidak berkuasa melihat wajah orang yang mengatakan Allah Subhanahu wata’ala itu beranak dan di peranakkan”.

Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah mengatakan:”Sungguh orang – orang nasrani itu telah mencaci Allah dimana tidak ada yang pernah mencaci Allah Seperti caciannya orang – orang nasrani dimana mereka mengatakan Allah itu memiliki anak”.

Perkataan indah dari seorang ulama yang ingin memberi penjelasan yang lebih umum, ulama kita mengatakan:”Siapa yang rusak dari kalangan para ulama maka ia mirip dengan orang – orang yahudi mereka adalah dai-dai yang menyeruh ke neraka jahannam yang menyembunyikan kebenaran dan Allah telah mengambil perjanjian kepada para ulama”.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُ فَنَبَذُوهُ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ وَاشْتَرَوْا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۖ فَبِئْسَ مَا يَشْتَرُونَ

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya,” lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruknya tukaran yang mereka terima”. (QS. Ali ‘Imran: 187). Itulah mengapa orang yahudi dimurkai oleh Allah karena mereka mengetahui yang hak namun tidak mengikuti yang hak begitu pula dengan soerang ulama yang menyembunyikan ilmu dan justru membuat seseorang menjadi sesat.

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Ahad , 24  Rabiul Akhir 1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi :
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE : mim.or.id

PIN BBM : D23784F8

 

 

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR