بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Penjelasan Rasa Takut 

Allah Subhanahu wata’ala berfirman

إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya Yang tidak nampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar”. (QS. Al-Mulk : 12).

Makna dari ayat diatas:

Sesungguhnya orang – orang yang takut kepada tuhan mereka sehingga mereka beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala dan mereka tidak bermaksiat kepadanya dan mereka tidak terlihat oleh mata – mata manusia, mereka takut dengan azab Allah Subhanahu wata’ala dihari akhirat sebelum mereka melihatnya, mereka akan mendapatkan ampunan dari Allah terhadap dosa – dosa mereka dan mereka akan dimasukkan ke dalam surga yang merupakan pahala yang sangat besar”.

Rasa Takut Memotivasi Untuk Beribadah dan Menjauhi Larangan Allah

Jadi ia takut kepada Allah Subhanahu wata’ala sehingga ia beribadah kepadanya, seorang hamba mengerjakan segala bentuk ketaatan dan ibadah, menuntut ilmu karena ia yakin akan ganjaran yang disiapkan oleh Allah Subhanahu wata’ala disisinya, sebagaimana sebelum mengerjakan sholat subuh kita mengerjakan sholat sunnah 2 rakaat yang kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

Dua raka’at fajar (shalat sunnah qobliyah shubuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya”. (HR. Muslim no. 725).

Dengan mengetahui keutamaan sholat sunnah fajar akan membuat kita termotivasi untuk mengerjakannya, kita bangun diawal subuh untuk bergegas ke masjid agar kita tidak luput dari mengerjakannya sebelum sholat subuh, yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri tidak pernah meninggalkannya baik dalam kondisi mukim atau musafir.

Ketika seseorang dalam keadaan kondisi safar maka gugur darinya amalan – amalan sunnah. Ketika seorang bersafar maka sholat yang wajib bisa diqashar, puasa bisa di qada pada hari yang lain, jika amalan yang wajib bisa diringankan apatahlagi amalan yang sunnah, Sholat wajib yang 4 rakaat bisa berubah menjadi 2 rakaat, bisa menjama’ sholat dhuhur dan ashar baik jama’a takdim dan jama’a takhir begitu pula dengan sholat magrib dan isa,

Namun ketika amalan sunnah sering kita kerjakan ketika dalam keadaan mukim maka tetap dituliskan baginya pahala seakan-akan dia mengerjakannya, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ ثَابَرَ عَلَى ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنَ السُّنَّةِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ

Barangsiapa merutinkan shalat sunnah dua belas raka’at dalam sehari, maka Allah akan membangunkan bagi dia sebuah rumah di surga. Dua belas raka’at tersebut adalah empat raka’at sebelum  zhuhur, dua raka’at sesudah zhuhur, dua raka’at sesudah maghrib, dua raka’at sesudah ‘Isya, dan dua raka’at sebelum shubuh”. (HR. Tirmidzi, no. 414).

Tidak ada diantara kita yang pernah melihat bangunan dan istana yang dijanjikan oleh Allah Subhanahu wata’ala namun kita termotivasi untuk mengerjakannya karena beriman dan takut kepada Allah dengan yang ghaib, karena perkara – perkara tersebut adalah perkara yang ghaib, Allah Subhanahu wata’ala menjanjikan kepada kita surga namun kita tidak pernah melihatnya, semua amalan yang disebutkan keutamaannya dan kita belum pernah melihat bagaimana bentuk wujud dari keutamaan amalan tersebut namun kita semangat mengerjakannya karena iman dan rasa takut kepada yang ghaib.

Kita menahan lisan saat hendak bergibah, kita menahan tangan dan mulut dari memakan riba, memandang yang haram,  kita menahan diri kita karena Allah Subhanahu wata’ala mengancam perbuatan tersebut dengan neraka namun kita belum pernah melihat bagaimana neraka yang kata Allah Subhanahu wata’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan“. (QS. At-Tahrim :06). Namun kita takut untuk mengerjakan perbuatan tersebut karena kita takut akan yang ghaib.

Rasa Takut Terhadap Yang Ghaib

Kita belum pernah melihat Allah namun kita yakin bahwasanya Allah melihat kita dan inilah kedudukan yang paling tinggi dalam keimanan, hal ini disebutkan oleh Jibril ‘Alaihissalam ketika beliau bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:”Apa itu Al Ihsan”, Rasulullah menjawab:”Engkau menyembah Allah Subhanahu wata’ala, seakan-akan engkau melihatnya dan jika engkau tidka melihatnya maka dia melihatmu”,

Allah tidak akan pernah bisa dilihat didunia ini dan Allah kelak dilihat dihari kemudian yang merupakan kenikmatan yang paling tinggi bagi orang – orang yang beriman, bahkan para Nabi tidak ada diantara mereka yang pernah melihat Allah, adapun Nabi Musa diberi kemampuan untuk mendengar suara Allah. Suatu ketika ia mendengar suara Allah dia rindu berjumpa dengan Allah sehingga ia berkata:

Ya Allah izinkan aku melihatmu”, Allah kemudian berkata:”Engkau tidak akan mampu melihatku wahai Musa”, namun Musa tetap meminta karena rindu, akhirnya Allah mengatakan:”Lihatlah gunung yang kokoh itu wahai Musa:”Jika dia mampu kokoh ditempatnya setelah saya nanti menampakkan diri kepadanya engkau juga mampu melihatku”,  ketika Allah menampakkan diri pada gunung yang berada didekat Nabi Musa ‘Alaihissalam, gunung hancur berkeping – keping. Musa kemudian jatuh pingsan, tidak mampu melihat Allah.

Ketika Rasulullah dalam perjalanan isra’ dan mi’raj beliau ditanya:”Apakah engkau melihat Tuhanmu”, beliau berkata:”Cahaya yang menjadi hijab menghalangi pandangan saya”, tidak ada seorang Nabi pun yang mampu melihat Allah Subhanahu wata’ala, sebagian dari para Nabi hanya mampu mendengar suara Allah.

Dalam beribadah seakan – akan kita melihat Allah, kata seakan akan berarti tidak. Maksudnya adalah kita tidak akan mampu melihat Allah Subhanahu wata’ala.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kita cara menjauhi maksiat yaitu dengan cara hendaknya engkau malu seperti engkau malu ketika dilihat orang yang paling sholeh diantara kalian.

Allah Melihat Hambanya

Jika engkau tidak melihat Allah ketahuilah sesungguhnya Allah melihatmu“. Kita yakin bahwsanya Allah melihat kita walaupun kita tidak melihatnya. Ketika berdiri hendak  sholat dalam shaf kita berdiri dihadapan Allah, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ

“Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang), dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud”. (QS. Asy-Syu’ara :218-219).

Kita berdiri pada kegelapan malam tidak ada yang melihat istri dan anak kita tertidur, namun kita yakin ada Allah yang melihat ibadah yang kita kerjakan.

Bersmbung (Tadabbur Surah Al Mulk Ayat 12-13 Sesi 2)

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Senin, 25 Dzulhijjah  1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

 

 

 

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.