بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (QS. Al Mulk: 2)

Dalam ayat ini 2 makhluk Allah yang disinggung yaitu jin dan manusia, karena jin dan manusia keduanya dibebankan dengan syariat, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bukan hanya diutus untuk ummat manusia tetapi juga dari kalangan jin.  Jadi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam diutus untuk bangsa jin dan manusia, dalam ayat diatas Allah menguji para jin dan manusia. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepadaku”. (QS adz-Dzaariyaat ayat 56).

  1. Yang menjadikan mati dan hidup

Kematian pada hari kiamat akan dihadirkan dalam rupa seekor domba yang diletakkan antara surga dan neraka. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : إِذَا صَارَ أَهْلُ الْجَنَّةِ إِلَى الْجَنَّةِ وَأَهْلُ النَّارِ إِلَى النَّارِ جِيْءَ بِالْمَوْتِ حَتَّى يُجْعَلَ بَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ ثُمَّ يُذْبَحُ ثُمَّ يُنَادِي مُنَادٍ : يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ لاَ مَوْتَ وَيَا أَهْلَ النَّارِ لاَ مَوْتَ فَيَزْدَادُ أَهْلُ الْجَنَّةِ فَرَحًا إِلَى فَرَحِهِمْ وَيَزْدَادُ أَهْلُ النَّارِ حُزْنًا إِلَى حُزْنِهِمْ

Dari Ibnu Umar berkata: Rasulullah bersabda: “Apabila penduduk surga telah memasuki surga dan penduduk neraka memasuki neraka, maka didatangkan kematian lalu diletakkan diantara surga dan neraka kemudian disembelih kemudian diserukan oleh penyeru: Wahai penduduk surga tidak ada kematian lagi dan wahai penduduk neraka tidak ada kematian lagi. Penduduk surga semakin bertambah kegembiraan mereka dan penduduk neraka semakin bertambah kesedihan mereka”. (HR. Bukhari 6548, Muslim 2850).

Setiap kita akan mengalami yang namanya kematian Allah berifrman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.(QS. Ali Imran: 185).

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”(QS. Jumu’ah: 8).

Kematian tidak memandang siapapun dan tidak dapat ditolak jika ia telah datang kepada kita, semuanya akan merasakan kematian, kematian itu satu, namun sebabnya berbeda beda, ada yang mati dalam keadaan sakit, kecelakaan, sehat, dll.

فَكَمْ مِنْ صَحِيْحٍ مَاتَ مِنْ غَيْرِ عِلَّةٍ وَكَمْ مِنْ عَلِيْلٍ عَاشَ حِيْنًا مِنَ الدَّهْرِ؟!

“Betapa banyak orang yang sehat, tiba-tiba mati tanpa sebab. Dan berapa banyak, orang yang sakit, masih merasakan hidup sepanjang tahun”. 

2. Dan Hidup

Kita hidup untuk mati dan kita mati untuk hidup

كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ۖ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?”. (QS. Al Baqarah : 28).

Sebelum kita hadir didunia ini kita dalam keadaan mati dan dari sesuatu yang belum pernah ada, kita berada dalam rahim ibu kita, nanti pada usia tertentu ruh ditiupkan dan dihidupkan oleh Allah Subhanahu wata’ala kemudian kita lahir dalam kehidupan dunia, setelahnya kita akan meninggal dan setelah meninggal kita dihidupkan kembali dan kepada Allah kita dikembalikan.

Dalam surah Al Mulk ayat 2 diatas didahulukan kematian dari pada kehidupan sebagian ulama mengatakan:

  1. Karena kematian itu adalah tanda dan alamat kebinasaan yang paling nyata, walaupun seseorang terkenal dan memilki harta yang begitu banyak namun akhir dari segalanya adalah kematian. Harun Ar Rasyid mantan khalifah, setelah beliau sakit diakhir hidupnya beliau berkata kepada pengikutnya:”Bawalah aku dimana aku nanti dikuburkan”, ketika beliau dibawa ke tempat tersebut dan melihat tempat dimana beliau dikuburkan, beliau kemudian mennagis dan menunjuk kelangit dengan berdoa:”Wahai dzat yang tidak akan pernah hilang kekuasaannya, sayangilah dan rahmatilah saya yang telah hilang kekuasaaanya”. Jadi diawali kematian dari pada kehidupan karena kematian adalah akhir dari segala – galanya.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ ۖ أَفَإِنْ مِتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ

“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad); maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?”. (QS. Al Anbiya : 34).

Ayat ini menjadi jelas bahwa khidir telah meninggal dunia, karena ada khilaf dikalangan para ulama apakah khidir meninggal atau belum meninggal, maka yang shahih khidir telah meninggal dan andaikan ia masih hidup maka ia harus datang dizaman Rasulullah membaiat beliau.

  1. Disebabkan karena kematian tidak ada pilihan kecuali 2, adapun kehidupan dihadapan kita ada banyak pilihan namun kematian setelahnya adalah sesuatu yang berat apakah surga atau neraka.

Seseorang pada hari kiamat menyesal dengan berkata:”

يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي

Dia mengatakan: “Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini”. (QS. Al Fajr : 24).

Orang sholeh yang masuk surga pun menyesal pada hari kiamat dengan waktu yang ia lewatkan dulu didunia tanpa ia mengisinya dengan amalan sholeh. Allah menghinakan anak cucu adam dengan kematian, dan menjadikan dunia tempat ia hidup yang setelahnya mati dan menjadikan akhirat tempat pembalasan  dan tempat hidup yang kekal”, apakah dineraka atau disurga

3. Supaya dia menguji kamu

Kita hidup didunia ini banyak diuji oleh Allah, sebagaimana Qarun dulunya adalah orang sholeh dan masih ada hubungan keluarga dengan Musa, akan tetapi setelah ia kaya ia menjadi lupa diri. Jadi kemiskinan dan kekayaan adalah ujian begitupula dengan harta, anak, istri, sehat, sakit, ganteng , jelek dan lain –lain . Oleh karenanya jadikan didalam hati – hati kita pertanyaan besar bisakah kita lolos dari ujian didunia ini namun jika hati kita senantiasa bergantung kepada Allah Subhanahu wata’ala maka mudah bagi kita untuk menghadapi ujian tersebut, semua manusia akan meningalkan dunia ini dan yang bermanfaat bagi kita diakhirat hanyalah amalan – amalan sholeh yang kita kumpulkan.

Perbaiki sisa umur yang Allah masih berikan kepada kita walaupun dimasa lalu kita banyak lalai dan terjatuh dalam maksiat, dan semoga yang tersisa ini, bisa menutupi kekurangan yang kita kerjakan dimasa silam.

4. Siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya (paling ikhlas)

Allah tidak mengatakan yang paling banyak, akan tetapi Allah mengatakan yang paling baik. Karena amalan yang banyak tetapi tidak berkualitas itu tidak ada artinya, jadi yang diinginkan oleh Allah adalah yang paling baik amalnya. Kata Imam Fudhail bin Iyadh Rahimahullah:”Yang dimaksud dengan “Siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya adalah yang paling ikhlas dan benar”. Jadi syarat yang pertama adalah yang paling ikhlas karena inilah yang menjadi sebab amalan diterima oleh Allah Subhanahu wata’ala. Allah berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus”.(QS. Al Bayyinah: 5).

Apa yang dimaksud dengan ikhlas. Ikhlas yaitu ketika apa yang ada dalam hati seorang hamba sama dengan apa yang ia lakukan (nampak), ketika beribadah kepada Allah tidak ada niat dan tujuan dalam hati kecuali untuk mengharapkan keridhaan Allah Subhanahu wata’ala, walaupun hal itu adalah merupakan perkara yang berat namun harus diusahakan dan mujahadah.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Sesungguhnya Allah tidak akan menerima amalan kecuali yang ikhlas dan dilakukan demi mengharap wajah-Nya.” (HR. Nasa’i dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu’anhu, sanadnya hasan, dihasankan oleh al-Iraqi dalam Takhrij al-Ihya’).

Sofyan Ats Tsauri Rahimahullah berkata:“Aku tidaklah pernah mengobati sesuatu yang lebih berat daripada memperbaiki niatku. Karena niatku dapat terus berbolak balik“.

Disebutkan oleh salah seorang salaf:”Barangsiapa yang  telah melihat keikhlasan pada keikhlasannya maka keikhlasannya itu masih membutuhkan keikhlasan”,

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kita doa agar dijauhkan dari riya, karena lawan dari ikhlas adalah riya: “Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari kesyirikan yang aku ketahui dan aku meminta ampun darimu dari kesyirikan yang aku lakukan tanpa aku sadari”.

Dan diantara salah satu bentuk kesyirikan adalah riya.  Allah Subhanahu wata’ala berfirman dalam hadist Qudsi:

قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

Allah Tabaroka wa Ta’ala berfirman: “Aku sama sekali tidak butuh pada sekutu dalam perbuatan syirik. Barangsiapa yang menyekutukanku dengan selainku, maka aku akan meninggalkannya (artinya: tidak menerima amalannya, pen) dan perbuatan syiriknya”. (HR. Muslim no. 2985). Imam Nawawi rahimahullah menuturkan:“Amalan seseorang yang berbuat riya’ (tidak ikhlas), itu adalah amalan batil yang tidak berpahala apa-apa, bahkan ia akan mendapatkan dosa”. (Syarh Shahih Muslim, 18: 115).

Oleh karenanya senantiasalah memohon kepada Allah agar diberikan hati yang ikhlas dalam setiap perkataan dan perbuatan.

5. Yang paling benar

Dia tidak merasa dirinya paling benar, akan tetapi ia berusaha beramal dengan amalan yang paling benar, dan cara untuk mengetahuinya yaitu ketika amalan kita sudah sesuai dengan sunnah (tuntunan) Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Abdullah ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata:”Betapa banyak orang yang berniat untuk kebaikan namun ia tidak mendapatkannya”, disebabkan karena ia melakukan amalan dengan ikhlas akan tetapi jauh dari petunjuk (tuntunan) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Oleh karenanya setiap amalan dan ibadah yang kita niatkan untuk bertakarrub kepada Allah Subhanahu wata’ala kemudian dikerjakan dengan ikhlas maka selanjutnya apakah sudah sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam atau tidak.

Amalan yang sederhana tetapi sesuai dengan sunnah itu lebih baik dari pada amalan yang banyak namun penuh dengan kebid’ahan.

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Kamis, 17 Dzulqaidah  1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR