بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Surah Al-Ghasyiyah terdiri dari 26 ayat 92 kata 381 huruf, sehingga jika kita menyelesaikan surah Al-Ghasyiyah maka kita mendapatkan kebaikan pahala sebanyak 3810. Diantara adab ketika Al-Qur’an dibaca adalah dengarkan dan simak dengan baik agar kita mendapatkan rahmat dari Allah terlebih lagi jika ikut membacanya untuk memadukan pahala dan keutamaan.

Surah Al-A’la dengan surah Al-Ghasyiyah adalah 2 surah yang sering dibaca oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau memimpin sholat jum’at dan ketika beliau memimpin sholat idul fitri dan idul adha, ini menunjukkan keutamaannya karena pada 2 surah ini disebutkan tentang penciptaan manusia, terjadinya hari kiamat, kondisi yang akan terjadi pada hari kiamat dan semuanya terjadi dihari jum’at. Pada sholat jum’at subuh disunnahkan membaca surah As-Sajadah dan Al-Insan, pada 2 surah ini juga disebutkan tentang penciptaan manusia dan hari kiamat sehingga inilah makna atau hikmah disyariatkan dan disunnahkan untuk dibaca agar kita mengingat akan hari tersebut (hari kiamat).

Zuhuf Al ‘Ula adalah kitab yang diberikan kepada rasul – rasul sebelum Nabi Muhammad yang diturunkan kepada Nabi – Nabi sebelum Rasulullah yang mana Al-Qur’an adalah merupakan pelengkap sebagaimana Nabi Muhammad adalah penutup dari para nabi dan rasul maka begitupula Al-Qur’an menghapuskan syariat – syariat yang sebelumnya diturunkan kepada para nabi dan rasul termasuk kitab – kitab mereka. Suatu ketika Rasulullah melihat Umar Radhiyallahu anhu membawa ditangannya taurah, Nabi marah dan berkata:”Apa ini ya Umar..?”, Umar berkata:”Sesuatu yang saya ambil faedah darinya”, Nabi kemudian marah dan berkata:”Andaikan Musa masih hidup wahai Umar maka dia waib mengikutiku”, jadi andaikan Nabi Musa masih hidup maka dia wajib ikut kepada syariat yang dibawa oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi Isa yang akan turun diakhir zaman beliau tidak membawa syariat injil atau syariat baru akan tetapi beliau turun untuk menjadi pengikut dan menjadi ummat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Abu Dzar Al Ghifari Radhiyallahu ‘anhu salah seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:”Ya Rasulullah bagaimana gerangan zuhuf yang diberikan kepada Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam”, Nabi berkata:”Ayat – ayat yang ada didalamnya itu penuh dengan permisalan – permisalan”, bahkan dalam Al-Qur’an banyak permisalan yang disebutkan oleh Allah. Dalam zuhuf Ibrahim banyak permisalan – permisalan diantaranya yang disampaikan oleh Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wasallam yang didalamnya banyak fawaid:

Hendaknya bagi orang yang berakal itu memiliki 3 waktu”, maksudnya dia membagi waktunya 3 bagian dan ini pelajaran bagi kita agar membagi waktu keseharian kita yang 24 jam menjadi 3 bagian sepertiga waktunya dia pergunakan untuk munajah kepada tuhannya, berdoa, berdzikir, menunaikan sholat, tilawah Al-Qur’an. Sepertiga yang kedua menggunakan waktunya untuk bermuhasabah atau mengevaluasi diri dari apa yang ia lakukan pada hari itu, jika yang ia kerjakan itu baik maka lakukan dan tingkatkan dan jika buruk beristighfar kepada Allah dan bertekad esok hari mengerjakan yang lebih baik dari hari ini, dan sepertiga yang ketiga: dia gunakan untuk mencari nafkah baik berupa makan, minum dan nafkah untuk keluarganya ini diantara permisalan yang disebutkan dalam zuhuf Ibrahim yang menunjukkan bagaimana manusia diperintahkan untuk menyeimbangkan antara dunia dan akhiratnya dan hatinya senantiasa bergantung pada kehidupan akhirat.

Abu Dzar bertanya lagi:”Bagaimana Zuhuf Musa Ya Rasulullah”, Rasulullah menjawab:”Penuh dengan ibrah (pelajaran), ujar – ujar dan hikmah”, diantaranya adalah:

Saya heran terhadap orang yang yakin dengan takdir bagaimana dia masih bersedih, padahal dia tahu bahwa apa yang terjadi didunia ini tidak keluar dari ketentuan dan pengaturan Allah Subhanahu wata’ala, Saya heran dengan orang yang yakin akan mati bagaimana dia berlarut – larut dan bersenang – senang dalam kehidupan dunia, Saya heran dengan orang yang yakin akan hari pembalasan (hisab) mengapa dia tidak memperbanyak untuk melakukan amalan sholeh, Saya heran dengan orang yang yakin bahwa dunia ini hanyalah sementara namun mengapa ia terlalu ridho dan bersenang – senang berada diatasnya”.

Ini diantara contoh – contoh yang ada dalam zuhuf Ibrahim dan musa dan banyak lagi yang lain.

Allah yang menurunkan Al-Qur’an dan dia pula yang menjaganya, Allah berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”. (QS. Al-Hijr : 09)

Inilah Al-Qur’an yang menjadi petunjuk kita yang kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. (Hadits Shahih Lighairihi, (HR. Malik; al-Hakim, al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm. Dishahihkan oleh Syaikh Salim al-Hilali di dalam At Ta’zhim wal Minnah fil Intisharis Sunnah, hlm. 12-13).

Wallahu a’lam Bish Showaab 


Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Kamis, 04 Ramadhan 1440 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.