بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Pada ayat selanjutnya ada yang Allah hendak sampaikan. Jadi jika Allah bersumpah di dalam Al-Qur’an maka Allah ingin memancing perhatian kita menunjukkan bahwa ada sesuatu yang penting yang hendak ditunjukkan oleh Allah Subhanahu wata’ala, Allah berfirman:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. (QS. At-Tin: 04).

Allah menciptakan manusia dengan sebaik bentuk dalam ayat ini ada kata Al Insan yang dimaksud adalah Adam ‘Alaihissalam, Allah menciptakan Adam dengan sebaik baik penciptaan, sebagian ada yang menyebutkan Al Insan yaitu manusia secara umum karena memang penciptaan manusia disempurnakan oleh Allah Subhanahu wata’ala:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”. (QS. Al-Isra’ : 70).

Kita diberikan 2 mata untuk melihat, diberikan hidung untuk mencium, diberikan mulut untuk berbicara, lisan untuk merasa, 2 telinga untuk mendengar, kemudian diberikan akal oleh Allah, diberikan 2 tangan untuk bekerja, berjalan dengan 2 kaki, bukan hanya itu bahkan Allah menurunkan kepada kita pakaian coba bandingkan dengan makhluk Allah yang lain. Allah berfirman:

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat”. (QS. Al-A’raf : 26).

Adapun hewan Allah tidak memberikan pakaian kepada mereka, namun jika ada yang berpakaian maka manusia itulah yang mengenakan pakaian seperti anjing, kucing, monyet dll.

Alhamdulillah Allah menciptakan kita dengan sebaik – baik penciptaan dan ini sekaligus membantah sebuah teori dari seorang kafir yang mengatakan manusia berasal dari monyet.

Allah berfirman:

خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ وَصَوَّرَكُمْ فَأَحْسَنَ صُوَرَكُمْ ۖ وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ

“Dia menciptakan langit dan bumi dengan haq. Dia membentuk rupamu dan dibaguskan-Nya rupamu itu dan hanya kepada Allah-lah kembali(mu)”. (QS. At-Tagabun: 03).

Imam Al-Qurtubi Rahimahullah menyebutkandari seorang lelaki yang sholeh bernama Isa ibn Musa Al Hasibi dia memiliki istri yang sangat ia cintai dan istrinya adalah wanita yang cantik, suatu hari ia duduk bersama dengan istrinya, dia candai istrinya dengan niat untuk memujinya atau memasukkan kebahagiaan di dalam hatinya tapi ternyata ditanggapi lain oleh istrinya, dia berkata kepada istrinya:”Telah jatuh talaq kepadamu jika engkau lebih cantik dari bulan purnama“, dalam masalah thalaq atau cerai jangan dijadikan permainan, Nabi mengatakan:

ثَلاَثٌ جِدُّهُنَّ جِدٌّ وَهَزْلُهُنَّ جِدٌّ النِّكَاحُ وَالطَّلاَقُ وَالرَّجْعَةُ

Tiga perkara yang serius dan bercandanya sama-sama dianggap serius: (1) nikah, (2) talak, dan (3) rujuk”. (HR. Abu Daud no. 2194, At Tirmidzi no. 1184 dan Ibnu Majah no. 2039)

Misalkan sorang bapak memiliki anak perempuan kemudian ia mendatangi soerang lelaki dengan berkata:”Apakah engkau sudah menikah“, kemudian lelaki menjawab:”Belum” kemudian ia berkata:”Jika begitu nikalah dengan anak perempuanku, saya menikahkan engkau dengan anak ku“, ucapannya tersebut sah (menikah), olehnya akad jangan dipermainkan, begitupula dengan cerai atau thalaq, misalnya ia berkata kepada istrinya :”Kita cerai”, istrinya berkata:”Kenapa begitu”, ia berkata:”Saya Cuma main – main”, maka ini sudah jatuh thalaq ketika dilafadzkan seperti itu.

Akhirnya istrinya seorang wanita sholehah yang wara ketika suaminya mengatakan:”Telah jatuh thalaq kepadamu jika engkau lebih cantik dari bulan”, akhirnya istrinya menjadi ragu atas ucapannya, istrinya kemudian berkata:”Jangan dekat – dekat saya”, akhirnya suaminya menyesal terhadap apa yang ia ucapkan kepada istrinya ia kemudian datang mengadu kepada khalifah Harun ar Rasyid seorang khalifah yang adil, dia berkata:”Bagaimana ini saya berkata kepada istriku telah jatuh thalaq kepadamu kalau engkau lebih indah dan lebih cantik dari bulan”, Harun ar Rasyid mengumpulkan para fuqaha kemudian mereka ditanya:”Bagaimana pendapat kalian”, semuanya berkata:”Itu sudah jatuh thalaq karena bulan itu tidak ada yang menandingi keindahannya”, tetapi ada seorang ‘Alim yang duduk sambil diam, Harun ar Rasyid berkata:”Mengapa anda diam, apa pandangan anda…?”, ia berkata:”Saya berbeda dengan pandangan mereka, menurut saya tidak ada yang lebih indah dari manusia karena Allah berfirman:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. (QS. At -Tin: 04).

Akhirnya Harun ar Rasyid berkata:”Baik, pulanglah engkau silahkan kembali kepada istrimu tapi jangan lagi diulangi”, akhirnya dia kembali dan tidak jatuh thalaq, kisah ini sama di zaman Imam Malik ketika ada yang mabuk sampai dia melihat dirinya menanduk langit dengan kepalanya. Jadi apa yang banyaknya memabukkan maka sedikitnya juga haram, akhirnya dia kemudian berkata:”Istri saya jatuh thalaq kalau ada yang lebih buruk dari minuman keras“, setelah dia sadar, ia melapor kepada Imam Malik:”Apakah jatuh thalaq atau tidak“, beliau mengatakan datanglah 3 hari kemudian, karena kebiasaan beliau khatam Al-Qur’an setiap 3 kali, beliau mencari jawabannya terlebih dahulu di dalam Al-Qur’an setelah 3 hari ia mengatakan:”Istri mu tidak jatuh thalaq karena ada yang kebih buruk dari khamar yaitu pemakan riba”, Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ . فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ

Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu”. (QS. Al-Baqarah: 278-279).

Tidak ada dosa yang Allah umumkan perang kepada pelakunya ketimbang dosa memakan riba.

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Kamis, 14 Dzulhijjah 1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.