بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

 وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ

Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya“. (QS. Al-Hujurat: 11).

Pada ayat ini Allah Subhanahu wata’ala membedakan antara lelaki dan wanita, oleh karenanya kata – kata “Kaum” apalagi jika disebutkan berdampingan dengan An-Nisaa maksudnya adalah kaum lelaki, mengapa disebut dengan Al-Kaum karena mereka yang memikul tanggung jawab. Oleh karenanya Allah berfirman didalam Al-Qur’an:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita“. (QS. An-Nisaa’ : 34).

Dalam lanjutan ayat, Allah berfirman:

عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ

Boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik“. (QS. Al-Hujurat : 11).

Disini ada beberapa faedah yang disebutkan oleh para ulama kita tentang dilarangnya dalam agama kita yang disebut dengan ikhtilat (bercampur baur antara lelaki dan wanita) , karena terkadang pembicaraan yang diangkat adalah salah seorang yang tidak hadir sebagai objek penderita yang diceritakan keburukannya oleh sekelompok kaum . Kata لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ  menunjukkan pembicaraan dalam sebuah majelis yang terdiri dari beberapa orang, begitupula dengan majelis kaum wanita.

Tidaklah terjadi fitnah dan musibah yang besar seperti yang kita lihat dizaman sekarang ini melainkan berawal dari dilanggarnya rambu – rambu syariat yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasulnya seperti bercampur baurnya antara lelaki dan wanita.

Adapun dizaman sekarang kita bisa melihat dimana kita menjumpai banyak lelaki dan wanita berbaur dalam majelis lingkaran, berboncengan kemana – mana seakan – akan suami istri.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّوَمَعَهاَذُو مَحْرَمٍ

Janganlah seorang laki-laki itu berkhalwat (menyendiri) dengan seorang wanita kecuali ada mahram yang menyertai wanita tersebut”. (HR. Bukhari & Muslim).

Berduan lebih berbahaya yang disebut dengan khalwat, dalam hadist Dari ‘Uqbah bin ‘Amir Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ . قَالَ الْحَمْوُ الْمَوْتُ

Berhati-hatilah kalian masuk menemui wanita”. Lalu seorang laki-laki Anshar berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat Anda mengenai ipar?”, Beliau menjawab:“Hamwu (ipar) adalah maut (kebinasaan)”. (HR. Bukhari no. 5232 dan Muslim no. 2172). Dan diantara jenis ikhtilat yang juga tergolong paling berbahaya adalah Khalwat didunia maya.

Jangan memberikan peluang sedikitpun kepada syaithan untuk masuk sehingga menjerumuskan kita dalam perbuatan ikhtilat dan khalwat, terkadang berupa talbis yaitu menghiasi  keburukan dengan kebaikan. Fitnah terbesar bagi seorang lelaki setelah meninggalnya Rasulullah adalah fitnah wanita. Dari Usamah Bin Zaid, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: 

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

Aku tidak meninggalkan satu fitnah pun yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita”. (HR. Bukhari: 5096 dan  Muslim: 2740).

Syaikh Abdurrahman As Sa’diy menjelaskan:“Padahal boleh jadi pihak yang dicela itu justru lebih baik daripada pihak yang mencela. Bahkan inilah realita yang sering terjadi. Mencela hanyalah dilakukan oleh orang yang hatinya penuh dengan akhlak yang tercela dan hina serta kosong dari akhlak mulia. Oleh karena itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Cukuplah seseorang berbuat keburukan jika dia merendahkan saudaranya sesama muslim”. (HR Muslim).(Taisiir Al Kariimi Ar Rahman).

Entah keburukan yang ada pada seseorang itu berupa penampilannya, warna kulitnya, cara berjalannya, ucpannya, dll. Ulama kita mengatakan:”Yang menjadi sebab seseorang itu diejek oleh saudaranya, entah memang karena begitu ia diciptakan (ini dosanya lebih dahsyat yaitu mencela saudara kita sebagaimana begitulah penciptaannya oleh Allah Subhanahu wata’ala, misalkan warna kulitnya, cara berbicaranya, cara berjalannya atau penampilannya sebagaimana begitulah adanya ketika dilahirkan oleh ibunya”, oleh karenanya jangan kita menjadi orang yang menghina mereka dari sisi tersebut. Sebagaimana yang telah kita sebutkan dimana Rasulullah marah ketika sahabat yang lain mengejek Abdullah bin Mas’ud, karena kalau kita mengejek salah seorang dimana Allah menciptakan ia dengan begitu adanya maka yang kita hina dan ejek adalah Allah Subhanahu wata’ala pencipta langit dan bumi. Jika pada makanan saja Rasulullah melarang kita untuk mengejeknya lalu bagaimana lagi dengan manusia dimana Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata:

 مَا عَابَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا قَطُّ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah mencela makanan sama sekali“. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

كَانَ إِذَا اشْتَهَى شَيْئًا أَكَلَهُ وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ

Kalau beliau menyukainya, maka akan beliau makan. Dan jika tidak menyukainya, beliau meninggalkannya“. (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Jika kita mengejek atau mencela makanan maka secara tidak langsung kita mengejek dan mencela orang yang membuat makanan tersebut, begitu juga halnya jika kita mengejek seseorang maka secara tidak langsung kita mengejek Allah Subhanahu wata’ala yang menciptakannya.

Mengejek disebabkan karena penampilannya, cara berbicaranya, cara berjalannya, dll, atau disebabkan karena dosa yang pernah ia lakukan dan ia bertaubat darinya dan kita mengejeknya dengan dosa tersebut maka kita termasuk orang yang memikul dosa besar dari apa yang kita lakukan terhadap saudara kita dan kita tidak akan meninggal sebelum mengerjakan dosa tersebut. Makanya dalam sebuah riwayat walaupun sebagian ulama menyebutkan sanad riwayatnya lemah, Dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَعْمَلَهُ

Siapa yang menjelek-jelekkan saudaranya karena suatu dosa, maka ia tidak akan mati kecuali mengamalkan dosa tersebut”. (HR. Tirmidzi no. 2505. Syaikh Al-Albani berkata bahwa hadits ini maudhu’). Imam Ahmad menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah dosa yang telah ditaubati.

Al-Jaza min jinsil amalBalasan akan didapat sesuai dengan amal perbuatan”.

Oleh karenanya Allah Subhanahu wata’ala menceritakan salah seornag lelaki yang menasehati saudaranya yang banyak melakukan dosa dan maksiat namun ia tidak didengar nasehatnya, kemudian mengulangi nasehatnya sampai ia bosan menasehatinya, kemudian ia berkata:”Demi Allah, Allah tidak akan mengampunkan dosa – dosamu”, Allah kemudian marah dan berfirman:”Siapa gerangan yang berlaku lancang kepadaku bahwa saya tidak akan mengampuni dosa fulan, sungguh aku telah mengampunkan dosanya dan menghapuskan amalanmu”.

Tentu ada pengecualian dari para ulama, misalkan ketika seseorang itu bangga dengan dosanya apalagi ketika ia tampakkan dihadapan khalayak umum maka perbuatan semacam ini menunjukkan bahwa ia telah menjatuhkan kehormatannya sendiri, maka orang yang seperti ini tidak mengapa untuk digibahi, apalagi dengan maksud agar seseorang terhindar dari keburukannya.

Namun jika seseorang telah bertaubat kemudian dosanya diungkit – ungkit oleh orang lain dan inilah yang disebutkan dalam lanjutan ayat. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ

Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan“. (QS. Al-Hujurat : 11).

Apa maksud dari ayat ini, maksudnya adalah janganlah kalian mengejek saudara – saudara kalian, lalu mengapa Allah tidak menyebutkan orang lain akan tetapi ia kembalikan kepada diri kita, ini merupakan sebuah dalil bagaimana Allah menyatukan kita diatas ukhuwah tersebut, sebagaimana Allah berfirman didalam Al-Qur’an:

Andaikan orang –orang yang beriman dari laki – laki dan perempuan ketika sampai dusta itu kepada mereka, mereka berprasangka baik pada diri-diri mereka”, padahal yang menjadi objek pembicaraan pada waku itu adalah ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha , Shofwan ibn Muatthil dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam akan tetapi Allah mengembalikan kepada diri-diri kita karena jika kita menuduh saudara kita sama halnya kita menuduh diri kita sendiri, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا  وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ عُدْوَانًا وَظُلْمًا فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَارًا وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا

Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan barang siapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”. (QS. An Nisa’: 29-30). Janganlah membunuh diri-diri kalian, maksudnya adalah janganlah kalian membunuh antara satu dengan yang lain karena jika kalian membunuh saudara kalian sama saja membunuh diri kalian sendiri. Mengapa demikian karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ  فِيْ تَرَاحُمِهِمْ  وَتَوَادِّهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى عَضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ جَسَدِهِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

 

Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan saling berempati bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggotanya merasakan sakit, maka seluruh tubuh turut merasakannya dengan berjaga dan merasakan demam”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Bersambung (Tafsir Surah Al-Hujurat Ayat 11 Sesi 3)

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Kamis, 16 Rabiul Akhir 1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.