بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang“. (QS. Al-Hujurat : 12).

Syaikh Abdurahman As Sa’diy Rahimahullah menyebutkan:”Allah melarang kita berburuk sangka kepada orang – orang yang beriman yang dimaksudkan adalah persangkaan yang jauh dari kebenaran dan hanya dibangun diatas prasangka“.

Kata jauhilah menunjukkan suatu keharaman jika dikerjakan, sebagian ulama kita mengatakan:”Kata اجْتَنِبُو  adalah lafadz yang sangat kuat untuk menunjukkan keharaman sesuatu bahkan lebih kuat dari kata harrama atau hurrima, sebagai contoh dalam Al-Qur’an Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِ ۗ وَأُحِلَّتْ لَكُمُ الْأَنْعَامُ إِلَّا مَا يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ ۖ فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ

Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya, maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta“. (QS. Al-Hajj : 30).

Kita ketahui bersama bahwa tidak ada dosa yang lebih besar selain dari dosa kesyirikan dan jika dikatakan اجْتَنِبُو maka jauhkan diri kita dari apa yang dilarang tersebut jangan mendekatinya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala tentang zina:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk“. (QS. Al-Isra’ : 32). Allah melarang untuk mendekati zina apalagi jika mengerjakannya.

Syaikh Abdurrahman As Sa’diy Rahimahullah menyebutkan diakhir syarah dari ayat ini beliau menyebutkan bahwasanya ini adalah bagian dari Al-Kabair (Dosa besar), diantara ciri – ciri dosa besar apabila di dalamnya terdapat hukuman didunia, disebutkan laknat bagi yang melakukannya, kemudian diancam dengan api neraka, semua ini adalah ciri-ciri kategori yang termasuk dosa besar.

Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan kita untuk menjauhi dan berhati – hati dari berprasangka buruk karena Allah mengatakan dalam ayat diatas:”Sesungguhnya sebagian dari perasangka itu adalah dosa”, dipahami dari potongan ayat ini bahwasanya ada sebagian prasangka yang lain yang dibolehkan, karena prasangka terbagi menjadi 2, ada prasangka buruk yang dibangun diatas Al-Wahm yang kata Syaikh:”Yang tidak menunjukkan hakikat sesuatu, hanya praduga”, kemudian yang kedua prasangka yang baik, hal ini dibolehkan bahkan inilah yang dituntut dari seorang muslim apalagi jika kita berteman dengan seseorang yang dikenal dengan kebaikannya dan kesholehannya dan nampak darinya sesuatu yang bisa dipercaya dari kebaikan saudara kita, maka kita diperintahkan utuk berprasangka baik dan tidak langsung mencemarkan kehormatan saudara – saudara kita, ini diantara contoh yang Allah sebutkan didalam Al-Qur’an tentang prasangka baik yang terdapat dalam surah An Nur, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

لَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَٰذَا إِفْكٌ مُبِينٌ

Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata”. (QS. An Nur : 12).

Sebab ayat ini turun berkaitan dengan salah seorang sahabat yang bernama Abu Ayyub Radhiyallahu ‘anhu ketika bersama istrinya dirumah sambil bercerita tentang peristiwa kelaurga Rasulullah bersama dengan istrinya yang dituduh melakukan perbuatan keji bersama dengan sahabat yang bernama Shofwan ibn Muattal. Abu Ayyub Radhiyallahu ‘anhu bertanya kepadanya istrinya:”Andaikan engkau berada pada posisi ‘Aisyah apakah engkau akan melakukan itu”, istrinya berkata:”Andaikan saya berada pada posisi ‘Aisyah tidak mungkin saya melakukan perbuatan itu dan andaikan pun saya berada pada posisi Shofwan tidak mungkin saya melakukan perbuatan itu”, Abu Ayyub Radhiyallahu ‘anhu berkata:”Engkau wahai istriku tidaklah lebih baik dari pada ‘Aisyah dan aku tidaklah lebih baik daripada Shofwan”, Allah kemudian menurunkan pujian untuk mereka dengan ayat tersebut karena berprasangka baik kepada saudara – saudaranya.

Kehormatan saudara kita sangat agung disisi Allah Subhanahu wata’ala, bahkan ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menunaikan ibadah haji wada bersama dengan para sahabat, beliau berkhutbah dihadapan para sahabat dan bertanya kepada mereka:”Hari apa ini.?”, sahabat mengatakan:”Allah dan Rasulnya yang lebih tahu (mereka mengira bahwasanya Nabi ingin mengubah nama hari tersebut)”, kemudian Rasulullah kembali berkata:”Bulan apa ini.?”, sahabat berkata:”Allah dan Rasulnya yang lebih tahu (mereka mengira bahwa Rasulullah ingin mengubah nama bulan tersebut”, Rasulullah berkata:”Ini adalah salah satu dari bulan haram yang sangat diagungkan oleh Allah Subhanahu wata’ala didalam Al-Qur’an”, beliau bertanya lagi:”Tempat apa ini bukankah Makkah Al Mukarramah”, mereka menjawab:”Benar Ya Rasulullah”, beliau menegaskan:”Wahai manusia! Sesungguhnya darahmu dan hartamu adalah haram (terlarang) bagimu, sampai datang masanya kamu menghadap Tuhan, dan pasti kamu menghadap Tuhan; pada waktu itu kamu dimintai pertanggung jawaban atas perbuatanmu. Saya sudah menyampaikan ini. Maka barangsiapa yang telah diserahi amanat, tunaikanlah amanat itu kepada yang berhak menerimanya”.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengharamkan darah kaum muslimin, beliau mewanti – wanti sahabat tentang pentingnya menjaga kehormatan kaum muslimin dan tidak mencemarkan kehormatan mereka, bahkan hendaknya kita menyebutkan kebaikan saudara – saudara kita dan tidak mencari kesalahan saudara – saudara kita. Dalam ayat selanjutnya Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain“.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ اْلإِيْمَانُ قَلْبَهُ، لاَ تَغْتاَبوُا الـْمُسْلِمِيْنَ، وَلاَ تَتَّبِـعُوْا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنِ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعِ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَوْرَاتِهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ

“Wahai sekalian orang yang beriman dengan lisannya dan iman itu belum masuk ke dalam hatinya(Yakni lisannya menyatakan keimanan namun iman itu belum menancap di dalam hatinya.). Janganlah kalian mengghibah kaum muslimin dan jangan mencari-cari/mengintai aurat mereka. Karena orang yang suka mencari-cari aurat kaum muslimin, Allah akan mencari-cari auratnya. Dan siapa yang dicari-cari auratnya oleh Allah, niscaya Allah akan membongkarnya di dalam rumahnya (walaupun ia tersembunyi dari manusia)”. (HR. Abu Dawud 4880 hasan shahih).
Yang dimaksud dalam ayat ini adalah kaum muslimin secara umum kita dilarang untuk menggibahi mereka apalagi yang digibahi adalah dari kalangan orang – orang yang mulia, seperti para ulama dan para penuntut ilmu, begitupula orang-orang yang dikenal mendakwahkan islam ini tentu dosanya lebih besar lagi, jika saja Allah mensifatkan didalam Al-Qur’an menggibahi dan mencari – cari kesalahan mereka seperti memakan bangkai mereka yang telah mati apalagi diperkuat dengan hadist Qudsi:

إنَّ اللهَ قال : من عادَى لي وليًّا فقد آذنتُه بالحربِ ، وما تقرَّب إليَّ عبدي بشيءٍ أحبَّ إليَّ ممَّا افترضتُ عليه ، وما يزالُ عبدي يتقرَّبُ إليَّ بالنَّوافلِ حتَّى أُحبَّه ، فإذا أحببتُه : كنتُ سمعَه الَّذي يسمَعُ به ، وبصرَه الَّذي يُبصِرُ به ، ويدَه الَّتي يبطِشُ بها ، ورِجلَه الَّتي يمشي بها ، وإن سألني لأُعطينَّه ، ولئن استعاذني لأُعيذنَّه ، وما تردَّدتُ عن شيءٍ أنا فاعلُه ترَدُّدي عن نفسِ المؤمنِ ، يكرهُ الموتَ وأنا أكرهُ مُساءتَه

Sesungguhnya Allah berfirman:“Barangsiapa yang memusuhi wali (kekasih)-Ku maka sungguh Aku telah mengumumkan peperangan kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu (amal shaleh) yang lebih Aku cintai dari pada amal-amal yang Aku wajibkan kepadanya (dalam Islam), dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amal-amal tambahan (yang dianjurkan dalam Islam) sehingga Aku-pun mencintainya. Lalu jika Aku telah mencintai seorang hamba-Ku, maka Aku akan selalu membimbingnya dalam pendengarannya, membimbingnya dalam penglihatannya, menuntunnya dalam perbuatan tangannya dan meluruskannya dalam langkah kakinya. Jika dia memohon kepada-Ku maka Aku akan penuhi permohonannya, dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku maka Aku akan berikan perlindungan kepadanya. Tidaklah Aku ragu melakukan sesuatu yang mesti aku lakukan seperti keraguan untuk (mencabut) nyawa seorang yang beriman (kepada-Ku), dia tidak menyukai kematian dan Aku tidak ingin menyakitinya”. (HR. Al-Bukhari 5/2384, no. 6137).

Ulama kita mengatakan:”Andaikan para ulama bukanlah wali – wali Allah maka Allah tidak memiliki wali”, mencela atau menggibahi para ulama termasuk dosa besar karena daging para ulama itu beracun. Oleh karenanya jangan sengaja mencari – cari aib sesama saudara kaum muslimin begitupula dari kalangan yang diberikan keutaan dan ilmu oleh Allah Subhanahu wata’ala. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ سَتَرَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ سَتَرَ اللهُ عَوْرَتَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ كَشَفَ عَوْرَةَ أَخِيهِ المُسْلِمِ كَشَفَ اللهُ عَوْرَتَهُ حَتَّى يَفْضَحَهُ بِهَا فِي بَيْتِهِ

Barang siapa menutup aib saudara Muslimnya, maka Allah pun menutup aibnya kelak di hari kiamat. Dan barang siapa membongkar aib saudara Muslimnya, maka Allah pun membongkar aibnya hingga Allah akan tunjukkan keburukan-keburukannya di rumahnya“. (HR. Ibnu Majah).

Bersambung (Tafsir Surah Al Hujurat Ayat 12 Sesi 2)

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Rabu, 2 Syaban 1439 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR