بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Sesungguhnya Orang Yang Paling Mulia Diantara Kamu Disisi Allah Ialah Orang Yang Paling Takwa Diantara Kamu. (QS. Al-Hujurat : 13).

Ayat ini dijadikan dalil oleh sebagian ulama dalam masalah pernikahan yang dikenal dengan sekufu, ada yang mempersyaratkan Al Kufu yaitu selevel antara calon mempelai laki- laki dan calon perempuan. Ada sebagian orang tua ketika hendak menikahkan  putrinya ia tidak mau jika bukan dari kabilahnya, dia menolak kabilah yang lain dengan alasan karena tidak sekufu dengan kabilahnya. Walaupun jika kita melihat ayat ini jelas Allah Subahnahu wata’ala mengatakan:”Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu“, Rasulullah mempraktekkan ayat ini dalam masalah pernikahan, beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam menikahkan Zaid Ibn Haritsah, Zaid Ibn Haritsah adalah anak angkat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dahulu beliau bernama Zaid ibn Muhammad namun nama beliau kembali diubah menjadi Zaid ibn Haritsah setelah turun firman Allah Subhanahu wata’ala:

ادْعُوهُمْ لِآَبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ فَإِنْ لَمْ تَعْلَمُوا آَبَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak (kandung) mereka; itulah yang lebih adil di sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu Dan tidak ada dosa bagimu terhadap apa yang kamu salah padanya, tetapi (yang ada dosanya adalah) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Al-Ahzaab : 5).

Oleh karenanya boleh mengangkat anak dalam islam akan tetapi harus tetap disandarkan kepada bapaknya, Zaid ibn Haritsah adalah maula dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Rasulullah menikahkan Zaid ibn Haritsah dengan keluarga beliau yang masih sepupu dengannya yang bernama Zainab bintu Jahz Radhiyallahu ‘anha, ketika membaca sirah atau sejarah Zaid ibn Haritsah pada akhirnya ia menceraikan istrinya dan dinikahi oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, pernikahan Rasulullah dengan Zainab bintu Jahz  merupakan hikmah yang diinginkan oleh Allah Subhanahu wata’ala, diantara hikmahnya adalah untuk membantah dan membatalkan kebiasaan orang – orang arab jahiliyah yang tidak mau menikahi mantan istri dari anak angkatnya. Setelah Zaid ibn Haritsah menceraikan istrinya Allah kemudian langsung menikahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan ini merupakan keutamaan tersendiri bagi Zainab bintu Jahz sehingga beliau berbangga kepada istri – istri Rasulullah yang lain dengan berkata:”Kalian dinikahkan oleh wali – wali kalian adapun saya langsung dinikahkan oleh Allah Subhanahu wata’ala”, Bukti bahwa Zainab dinikahkan langsung oleh Allah dengan Rasulullah disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wata’ala:

وَإِذْ تَقُولُ لِلَّذِي أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِ وَأَنعَمْتَ عَلَيْهِ أَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَاتَّقِ اللهَ وَتُخْفِي فِي نَفْسِكَ مَااللهُ مُبْدِيهِ وَتَخْشَى النَّاسَ وَاللهُ أَحَقُّ أَن تَخْشَاهُ فَلَمَّا قَضَى زَيْدٌ مِّنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لاَيَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ أَدْعِيَآئِهِمْ إِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا وَكَانَ أَمْرُ اللهِ مَفْعُولاً

“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: ‘Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah,” sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya (menceraikannya). Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi”. (QS. Al-Ahzab : 37).

Rasulullah tidak melihat dari mana Zaid ibn Haritsah berasal bahkan Zaid ibn Haritsah selama beliau hidup sempat menikahi 9 Niswah 5 diantaranya dari Asraf (orang – orang yang berasal dari suku yang terpandang), diantaranya adalah Ummu Kulsum ibn Uthbah ibn Mu’it beliau adalah wanita yang pertama hijrah ke kota Madinah setelah perjanjian Hudaibiyah dan dinikahi oleh Zaid ibn Haritsah Radhiyallahu ‘anhu, anak beliau juga demikian yang bernama Zaid Al hib ibn hib, Zaid ibn Haritsah digelari dengan Al Hib (kekasih Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam).

Bilal bin Rabah dinikahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan wanita yang mulia dari suku yang mulia, dari sinilah ulama kita menyebutkan bahwa masalah Al-Kafaah dalam pernikahan yang paling utama adalah agama dan akhlaknya, hal ini ditegaskan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:

إذا جاءكم من ترضون دينه وخلقه فزوجوه إلا تفعلوه تكن فتنة في الأرض وفساد كبير

“Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar”. (HR. Tirmidzi. Al Albani berkata dalam Adh Dho’ifah bahwa hadits ini hasan lighoirihi).

Suatu ketika sahabat yang bernama Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu berselisih faham dengan Bilal bin Rabah dan beliau memanggilnya dengan panggilan yang buruk dengan menyandarkan kepada ibunya, Bilal kemudian marah dan tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Abu Dzar beliau lalu datang dan mengadu kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, Nabi kemudian marah dan memanggil beliau dengan berkata:”Engkau adalah seorang lelaki yang masih memiliki sifat jahiliyah”, jadi didalam islam yang menjadi standar kemuliaan seorang hamba adalah yang paling bertakwa disisi Allah Subhanahu wata’ala.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – قَالَ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَىُّ النَّاسِ أَكْرَمُ قَالَ « أَكْرَمُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاهُمْ » . قَالُوا لَيْسَ عَنْ هَذَا نَسْأَلُكَ . قَالَ « فَأَكْرَمُ النَّاسِ يُوسُفُ نَبِىُّ اللَّهِ ابْنُ نَبِىِّ اللَّهِ ابْنِ نَبِىِّ اللَّهِ ابْنِ خَلِيلِ اللَّهِ » . قَالُوا لَيْسَ عَنْ هَذَا نَسْأَلُكَ . قَالَ « فَعَنْ مَعَادِنِ الْعَرَبِ تَسْأَلُونِى » . قَالُوا نَعَمْ . قَالَ « فَخِيَارُكُمْ فِى الْجَاهِلِيَّةِ خِيَارُكُمْ فِى الإِسْلاَمِ إِذَا فَقِهُوا »

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya:”Siapakah orang yang paling mulia?”, “Yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara mereka”, jawab Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang tersebut berkata:”Bukan itu yang kami tanyakan”. “Manusia yang paling mulia adalah Yusuf, nabi Allah, anak dari Nabi Allah, anak dari nabi Allah, anak dari kekasih-Nya”, jawab beliau. Orang tersebut berkata lagi:”Bukan itu yang kami tanyakan”. “Apa dari keturunan Arab?”, tanya beliau. Mereka menjawab:“Iya betul”. Beliau bersabada:“Yang terbaik di antara kalian di masa jahiliyah adalah yang terbaik dalam Islam jika dia itu fakih (paham agama)”. (HR. Bukhari no. 4689).

Semua kita mengenal Abu Lahab beliau adalah paman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam namun namamnya diabadikan didalam Al-Qur’an dengan laknat dan azab yang pedih, Suatu ketika Abu Lahab pernah menunjuk Rasulullah sambil berkata:”Hanya untuk mendengar ocehanmu ini wahai Muhammad engkau mengumpulkan kami.?”, Allah kemudian menjawab celaan Abu Lahab dengan menurunkan firmannya:

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ (1) مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ (2) سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ (3) وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ (4) فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ (5)

Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.  Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut”. (QS. Al Lahab : 1-5).

Abu Lahab adalah orang yang mulia diantara kaumnya namun kita senantiasa melaknatnya dengan membaca surah Al Lahab sampai pada hari kiamat menunjukkan tempat beliau adalah neraka. Oleh karenanya membangga-banggakan diri dengan nasab, rupa, harta adalah merupakan perkara jahiliyah.

Dalam haji wada sebagaimana yang diceritakan oleh Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah dihadapan para sahabat, setelah memuji Allah Subhanahu wata’ala beliau mengatakan:”Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala telah membatalkan dan melenyapkan diantara kalian berbangga – bangga yang merupakan kebiasaan orang – orang jahiliyah”, kemudian beliau menyebutkan:”Sesungguhnya manusia itu hanya 2 orang“, golongan yang pertama: seorang lelaki yang baik, bertakwa kepada Allah, mulia disisi Allah Subhanahu wata’ala”, siapapun dia dan dari manapun asalnya, apapun suku dan bangsanya maka berlaku hadist Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَلَا إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ أَلَا لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ وَلَا لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ وَلَا لِأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ وَلَا أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلَّا بِالتَّقْوَى

Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Tuhan kalian adalah satu dan bapak kalian juga satu (yaitu Adam). Ketahuilah, tidak ada kemuliaan orang Arab atas orang Ajam (non-Arab) dan tidak pula orang Ajam atas orang Arab. Begitu pula orang berkulit merah (tidaklah lebih mulia) atas yang berkulit hitam dan tidak pula yang berkulit hitam atas orang yang berkulit merah, kecuali dengan takwa“. (HR. Ahmad dan al-Bazzar).

Rasulullah bersabda:”Semua kalian berasal dari Adam dan adam berasal dari tanah”. Adapun golongan yang kedua Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata:”Seorang yang fajir, seorang yang celaka dan terhina disisi Allah Subhanahu wata’ala”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Ada seorang lelaki pada hari kiamat dia datang kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan tubuh yang besar kemudian dengan segala apa yang ia miliki namun ia tidak memiliki nilai dan timbangan disisi Allah subhanahu wata’ala walaupun seperti timbangan sehelai sayap nyamuk atau lalat“. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membaca firman Allah Subhanahu wata’ala dalam haji wada Surah Al-Hujurat ayat 13, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal“. (QS. Al-Hujurat : 13).

Beliau mempertegas dengan hadist:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ ».

Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa dan harta kalian. Namun yang Allah lihat adalah hati dan amalan kalian”. (HR. Muslim no. 2564).

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun“. (QS. Al-Mulk : 02).

Bersambung : (Tafsir Surah Al hujurat Ayat 13 Sesi 3)

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Jum’at, 08 Syaban 1439 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.