بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Diantara salah satu ciri ayat Makkiyah yaitu surah yang diawali dengan “Ya Ayyuhannas“, adapun ayat – ayat Madaniyah di dahului dengan “Ya Ayyuhalladzina Amanu“, ayat yang kita bahas termasuk ayat Madaniyah, tetapi sebagian ulama menyebutkan ayat ini termasuk ayat Makkiyah namun yang shahih adalah ayat ini termasuk ayat Madaniyah, mengapa demikian karena ulama menyebutkan diantara perbedaan ayat Makkiyah dan ayat Madaniyah adalah ayat Madaniyah turun setelah hijrahnya  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ke Madinah walaupun ia turun bukan di kota Madinah”, dan jika kita melihat dan membaca riwayat yang menyebutkan sebab turunnya ayat ini sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu beliau berkata:”Ayat ini turut terkait dengan sahabat yang bernama Tsabit ibn Qais ibn Syammas Radhiyallahu ‘anhu, beliau adalah sahabat yang sering duduk dimajelis Rasulullah dan dekat dengan beliau disebabkan karena sesuatu yang mengganggu pada pendengarannya, agar ia lebih jelas mendengar dari apa yang disampaikan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam maka beliau senantiasa dekat dengan Rasulullah, dan sahabat ini sering mengangkat suara dimajelis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, maka turunlah firman Allah Subhanahu wata’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari“. (QS. Al-Hujurat : 2).  Setelah ayat ini turun beliau lalu tinggal dirumahnya dan tidak lagi hadir dimajelis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam karena beliau mengira ayat ini turun untuk beliau.

Suatu ketika beliau pernah terlambat menghadiri majelis Rasulullah sehingga beliau melangkahi pundak beberapa sahabat, namun ada diantara sahabat tidak mau memberi tempat untuk beliau, dan sahabat ini menyuruh ia duduk diakhir majelis dimana ia datang, akhirnya beliau tersinggung dan menyebut nama sahabat tersebut sambil menyandarkan kepada nama ibunya yang merupakan gelar buruk dan masyur dizaman jahiliyah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika mendengar hal tersebut beliau berkata:”Siapa yang berkata barusan Ibnu Fulanah,?”, ia berkata:”Saya Ya Rasulullah”, Rasulullah berkata kepadanya:”Coba engkau lihat wajah-wajah mereka, apa yang engkau lihat“, ia berkata:”Saya tidak melihat Ya Rasulullah melainkan ada yang berkulit hitam, berkulit putih dan berwarna merah”, Rasulullah berkata:”Sesungguhnya engkau diutamakan oleh Allah disisinya dengan agama dan ketakwaan”.

Riwayat yang lain menyebutkan ayat ini turun di kota Makkah pada peristiwa Fathul Makkah, ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah menaklukkan kota Makkah kemudian tiba waktu sholat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh Bilal untuk mengumandangkan azan diatas punggung Ka’bah dan bangunan Ka’bah adalah bangunan yang sangat mulia yang diagungkan oleh orang – orang arab, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika memerintahkan Bilal untuk mengumandangkan azan, salah seorang yang hadir dari kalangan Quraisy mengatakan:”Allah Subhanahu wata’ala yang mencabut nyawa bapakku sehingga ia tidak melihat hari yang seperti ini”, ia menganggap hari itu adalah hari kehinaan untuk mereka ketika ia melihat Bilal bin Rabah salah seorang mantan budak dari negeri Habasyah yang berkulit hitam naik diatas punggung Ka’bah untuk mengumandangkan azan. Salah satu dari mereka (Quraisy) yang lain berkata:”Apakah Muhammad tidak mendapatkan orang lain, selain burung gagak yang berwarna hitam ini”, maka turunlah firman Allah Subhanahu wata’ala dalam surah Al-Hujurat ayat 13.

Ayat ini menjelaskan asal penciptaan manusia sebagaimana disebutkan dalam potongan ayat:”Sesungguhnya saya menciptakan kalian dari laki – laki dan perempuan”.

Dari potongan ayat ini tentu yang kita ingat adalah penciptaan manusia dari Adam ‘Alaihissalam dan Hawa, disebut Adam karena ia diciptakan dari tanah, sebagaimana disebutkan dalam hadist:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قالَ: حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ: إنَّ أَحَدَكُم يُجْمَعُ خلقُهُ فِيْ بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ، وَأَجَلِهِ، وَعَمَلِهِ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ، فَوَاللهِ الَّذِيْ لاَ إِلَهَ غُيْرُهُ، إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا. (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ)

Dari Abu ‘Abdir-Rahman ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menuturkan kepada kami, dan beliau adalah ash-Shadiqul Mashduq (orang yang benar lagi dibenarkan perkataannya), beliau bersabda,”Sesungguhnya seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk nuthfah (bersatunya sperma dengan ovum), kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah) seperti itu pula. Kemudian menjadi mudhghah (segumpal daging) seperti itu pula. Kemudian seorang Malaikat diutus kepadanya untuk meniupkan ruh di dalamnya, dan diperintahkan untuk menulis empat hal, yaitu menuliskan rizkinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau bahagianya. Maka demi Allah yang tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Dia, sesungguhnya salah seorang dari kalian beramal dengan amalan ahli surga, sehingga jarak antara dirinya dengan surga hanya tinggal sehasta, tetapi catatan (takdir) mendahuluinya lalu ia beramal dengan amalan ahli neraka, maka dengan itu ia memasukinya. Dan sesungguhnya salah seorang dari kalian beramal dengan amalan ahli neraka, sehingga jarak antara dirinya dengan neraka hanya tinggal sehasta, tetapi catatan (takdir) mendahuluinya lalu ia beramal dengan amalan ahli surga, maka dengan itu ia memasukinya”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Allah menciptakan Adam ‘Alaihissalam dari tanah yang diambil oleh Allah dengan memerintahkan para malaikat untuk mengambil dari beberapa jenis tanah, sehingga anak cucu adam yang diciptakan dari berbagai jenis tanah yang telah dikumpulkan memiliki beberapa macam warna, ada yang berwarna putih, hitam, merah, pertengahan dari ketiga warna tersebut. Begitupula dengan tanah tersebut memiliki macam – macam karakter sehingga anak cucu Adam memiliki tabiat yang berbeda – beda, ada tanah yang keras, tanah yang tidak menumbuhkan tanaman, sehingga anak cucu adam memiliki karakter yang keras walaupun hatinya kadang lembut, adapula yang hatinya terlihat lembut akan tetapi memiliki sifat pendendam, dari sinilah asal penciptaan manusia sebagaimana yang dijelaskan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Adapun Hawa, disebut Hawa karena ia diciptakan dari sesuatu yang hidup yaitu dari tulang rusuk Adam ‘Alaihissalam. Jadi Adam diciptakan dari tanah dan Hawa diciptakan dari Adam beliau merupakan ibu bagi seluruh manusia.

Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan

Adapun manusia setelah Adam melewati proses penciptaan dari kedua orang tua, sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah Subhanahu wata’ala di dalam Al-Qur’an:

 فَلۡيَنظُرِ ٱلۡإِنسَٰنُ مِمَّ خُلِقَ ٥ خُلِقَ مِن مَّآءٖ دَافِقٖ ٦  يَخۡرُجُ مِنۢ بَيۡنِ ٱلصُّلۡبِ وَٱلتَّرَآئِبِ ٧

Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah ia diciptakan? Ia diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari antara tulang sulbi dan dada”. (QS. Ath-Thariq : 5-7).

Setelah itu Allah menjadikan penciptakan manusia didalam rahim yang kokoh sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah Subhanahu wata’ala dalam surah Al-Mukminun, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ

Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim)“. (QS. Al-Mukminun : 13).

Salah seorang ‘alim pernah ditanya oleh penguasa yang dzalim:”Apakah engkau tidak mengenal siapa saya”, ia menajwab:”Saya mengenalmu engkau diciptakan dari air yang hina dan engkau akan menjadi bangkai yang busuk”.

Allah Subhanahu wata’ala mengingatkan kita akan hal ini agar kemudian kita tidak berbangga – bangga dengan apa yang telah Allah Subhanahu wata’ala berikan kepada kita, seperti yang berkaitan dengan nasab, keturunan, harta, warna kulit dan seterusnya, karena kemuliaan seseorang disisi Allah Subhanahu wata’ala sebagaimana disebutkan dalam potongan ayat:”Sessungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian dalah orang yang paling bertakwa“, siapa yang paling tinggi ketakwaannya kepada Allah Subhanahu wata’ala maka dialah yang berhak menjadi mulia,  adapun manusia diciptakan oleh Allah Subhanahu wata’ala berbangsa – bangsa dan bersuku – suku tujuannya adalah agar manusia dapat saling mengenal antara yang satu dengan yang lain, dengan demikian seseorang akan mudah mengenal orang lain dengan suku tersebut.

Contoh ketika kita berkata”Si fulan berasal dari kabilah fulan ini atau fulanah berasal dari kabilah fulaniyah“. Jadi tujuannya bukan untuk saling berbangga antara satu dengan yang lain akan tetapi agar mereka saling mengenal dan saling kerjasama diantara mereka, sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh Abdurrahman as Sa’di Rahimahullah, beliau berkata:”Agar mereka saling mengenal antara yang satu dengan yang lain karena andaikan mereka hidup masing – masing setiap kabilah dan suku dan tidak bergaul dengan yang lain, maka tidak akan terjadi saling kenal mengenal diantara mereka dan kerjasama diantara mereka saling mewarisi diantara mereka, kemudian memberikan hak – hak kerabat diantara mereka seperti menyambung silaturrahim, saling membantu antara yang satu dengan yang lain, jika ada masalah yang menimpa seseorang maka ia ikut membantu saudaranya tersebut”. Diakhir penjelasan Syaikh Abdurrahman as Sa’di mengatakan:”Dari sinilah dampak nyata dari pentingnya untuk mengenal yang disebut dengan nasab, kita berasal dari suku mana agar kemudian kita berusaha mengenal kerabat – kerabat kita yang ada disuku tersebut, aga kita banyak melakukan silaturrahim dengan mereka”.

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Kamis, 07 Syaban 1439 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR