بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Ketika Abu Bakar As Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu dan Umar Radhiyallahu ‘anhu saling berselisih dihadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan suara yang meninggi maka turunlah firman Allah dalam Surah Al-Hujurat ayat 2:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari” (QS. Al-Hujurat: 02).

Kisah Sahabat Yang Suaranya Rendah Karena Turunnya Ayat 

Setelah ayat ini turun dimana sebelumnya suara Umar sering meninggi dalam majelis Rasulullah, suatu ketika para akhwat dan anak – anak ikut majelis Rasulullah, lalu datanglah Umar sehingga para akhwat dan anak – anak sembunyi karena takut dan segan kepada Umar karena umar adalah orang yang sangat beribawah, begitulah tabiat beliau akan tetapi setelah turun ayat ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam setiap kali berbicara dengan Umar beliau tidak mampu mendengar yang diucapkan oleh Umar sehingga Rasulullah berkata angkat sedikit suaramu saya tidak dengar. Peristiwa ini kita bisa mendapatkan beberapa faedah bahwa adab terbagi menjadi 2 ada yang sifatnya tabiat yang memang Allah berikan kepada kita sifat dan akhlak seperti itu sejak lahir hingga sekarang.

Sebagaimana Al-Ash’ath ibn Qays ketika datang bersama kaumnya ke madinah untuk berjumpa dengan Rasulullah,  ketika tiba dimadinah kaumnya tidak sabar untuk langsung menjumpai Rasulullah akhirnya kaumnya langsung menjumpai Rasulullah, adapun Al-Ash’ath ibn Qays tidak langsung menemui Nabi akan tetapi beliau turun dari kendaraannya kemudian menambat tali kendaraannya, mandi, kemas – kemas, ganti baju, bahkan beliau istrahat sejenak terlebih dahulu kemudian datang dengan pelan menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, melihat hal tersebut Rasulullah berkata kepadanya:”Wahai Ash’ath engkau memiliki 2 sifat yang sangat dicintai oleh Allah yaitu sifat lembut dan tidak tergesa – gesa”, beliau bertanya:”Apakah ini adalah sesuatu yang saya usahakan ya Rasulullah atau memang begitulah Allah menciptakan aku dengan sifat ini”, Rasulullah bersabda:”Ini telah menjadi tabiatmu“, Al-Ash’ath ibn Qays lalu berkata:”Segala puji bagi Allah Subhanahu wata’ala yang memberikan aku akhlak yang dicintai oleh Allah dan Rasulnya”, ini adalah contoh dari sifat tabiat.

Rasulullah pernah melihat ada seorang sahabat yang pernah menasehati saudaranya dengan berkata:”Jangan malu – malu“, Rasulullah menegur sahabat tersebut dengan berkata:”Biarkan dia dengan sifat malunya karena sifat malu tidak mendatangkan kecuali kebaikan”.

Dan ada yang sifatnya Muttasabah (yang diusahakan) sebagaimana dengan sifat Umar Radhiyallahu ‘anhu yang dahulu suaranya tinggi kemudian suaranya mengecil karena beliau tunduk kepada ayat – ayat Allah Subhanahu wata’ala. Bukan hanya Umar Radhiyallahu ‘anhu bahkan ketika ayat ini turun juga sahabat yang bernama Tsabit ibn Qais ibn Syammas Radhiyallahu ‘anhu beliau memiliki suara yang tinggi ketika berada dimajelis Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam ketika ayat ini turun ia menjadi demam, sakit dan menjadi sebab ia tidak ke Masjid, ia kemudian berkata:”Saya tidak akan keluar dari rumahku sampai Allah mematikan aku atau Allah dan rasulnya ridha kepadaku, karena sungguh aku termasuk penghuni neraka dan amalanku terhapuskan”, mengapa ia berkata demikian karena ia menyadari bahwa dirinyalah yang bersuara keras ketika berada di majelis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Tsabit ibn Qais ibn Syammas tinggal dirumahnya sampai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mencarinya, salah seorang sahabat berkata:”Ya Rasulullah saya akan mencari kabar tentang dia”, berangkatlah sahabat ini kerumahnya Tsabit ibn Qais ibn Syammas kemudian didapati beliau dalam keadaan menangis, kemudian sahabat yang diutus bertanya:”Mengapa engkau menangis Rasulullah mencarimu sudah beberapa hari engkau tidak ke masjid”, beliau berkata:”Sungguh telah turun ayat kepada Nabi Shallalahu ‘alaihi wasallam dan saya mengira ayat ini turun kepada saya karena saya ketika berada dimajelis Rasulullah suara saya tinggi, saya termasuk penghuni neraka amalan saya sudah terhapus”, maka kembalilah sahabat yang diutus mengabarkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Rasulullah berkata:”Sampaikan kepadanya ayat itu bukan untuk dia dan dia termasuk penghuni surga”, beliau mendapatkan kabar gembira dengan surga langsung dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu setelah perkataan Nabi tersebut beliau berkata:”Bahwasanya Tsabit berjalan didepan kita dan berada ditengah – tengah kita dan Nabi mengatakan bahwa dia adalah penghuni surga”, oleh karenanya tidak ada penghalang antara dirinya dengan surga kecuali kematian.

Dari sini kita bisa mengambil beberapa faedah diantaranya adalah Rasulullah senantiasa menjadikan masjid sebagai tempat untuk mengontrol para sahabat – sahabatnya, beliau bisa mengetahui keadaan para sahabat mana diantara sahabat yang hadir dalam majelis, mana sahabat yang tidak hadir, mengetahui sahabat yang sakit, mengetahui sahabat yang memiliki masalah, sakit, memiliki hajat, dll. Faedah yang lain disini kita mengambil pelajaran bagaimana para sahabat mereka takut kepada ayat – ayat Allah Subhanahu wata’ala, seperti Abu Bakar as Shiddiq setelah turun ayat ini beliau datang kepada Nabi Shalalllahu ‘alaihu wasallam dengan berkata:”Ya Rasulullah setelah hari ini saya tidak akan berbicara dengan anda kecuali pembicaraan seperti orang – orang yang berbisik – bisik dengan saudaranya”. Walaupun hanya sebagian sahabat yang disebut dalam pembahasan ini namun secara umum para sahabat mereka takut dengan ayat – ayat yang berupa terguran dan ancaman berbeda dengan ummat Rasulullah dizaman sekarang dimana ayat – ayat azab tidak lagi membuat kita takut dan menagis jutru kita melaluinya hanya biasa – biasa saja, ketika mendengar ayat – ayat rahmah berupa surga terkadang ummat Rasulullah zaman now justru malah berbaik sangka yang berlebihan dimana ia yakin bahya surga yang atau nikmat yang disebutkan dialah yang berhak untuk memasukinya tidak ada lagi selain dirinya, Adapun para sahabat tidak demikian ketika mendengar ayat azab mereka menangis dan berlindung dari neraka kemudian ketika ayat rahmah mereka berharap agar dimasukkan ke dalam surga sehingga berdoa agar menjadi penghuni surga.

Janganlah kalian menjaharkan suara ketika berbicara dengan Rasulullah

Tidak sama ketika kita memanggil Rasulullah dengan memanggil orang selain Rasulullah, tidak sama akhlak kita kepada teman kita dan akhlak kita kepada Rasulullah, begitupula adab kita kepada Rasulullah dan kepada orang lain.

Hal ini adalah larangan dari Allah Subhanahu wata’ala menyamakan Rasulullah dengan orang lain baik dari segi akhlak, adab, memanggil, dll. Bahkan didalam Al-Qur’an Allah Subhanahu wata’ala tidak pernah memanggil nama Rasulullah secara langsung berbeda dengan Nabi dan Rasul yang lain dimana Allah menyeru namanya secara langsung, seperti yahya, yusuf, nuh, dll. Adapun Rasulullah disebut dengan laqabnya :”Ya Ayyuhan Nabi”.

Oleh karenanya setelah ayat ini turun kata Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu:”Jangankan memanggil nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam secara langsung bahkan mereka semakin beradab dimajelisnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan mereka tidak berani bertanya langsung kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam”, olehnya Anas berkata:”Kami senang ketika ada orang arabi yang cerdas datang kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam  kemudian bertanya secara langsung kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam”, Mengapa demikian karena sahabat dilarang langsung bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dimajelisnya adapun orang arabi yang mana mereka tinggal didaerah pedalaman yang tidak mengetahui adab, ketika mereka datang ke madinah berjumpa dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mereka terkadang langsung memanggil nama Rasulullah dengan berkata:”Ya Muhammad”, dan ini menjadi penjelasan dari ulama kita mengapa dalam hadist ketika Jibril datang kepada Rasulullah Jibril mengatakan:”Ya Muhammad ajarkan aku apa itu islam”, Jibril tidak mengatakan:”Ya Rasulullah”, mengapa demikian.? agar sahabat mengira bahwasanya orang ini adalah orang arabi  yang datang dari pedalaman yang bertanya kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam, padahal dia adalah Jibril.

Pernah salah seorang arabi datang kepada Rasulullah:”Ya Muhammad sesungguhnya utusan yang engkau utus untuk berdakwah ditengah – tengah kami mengatakan bahwasanya Allah yang menciptakan langit, bumi, gunung, betulkah..? Rasulullah menjawab:”Betul”, orang ini kemudian berkata lagi:”Demi yang menciptakan langit, demi yang menciptakan bumi, demi yang menciptakan gunung benarkah Allah yang mengutusmu wahai Muhammad.?”, Rasulullah menjawab:”Benar”, kembali berkata:”Demi yang mengutus utusanmu  wahai Muhammad mengatakan kepada kami bahwasanya Allah memerintahkan kami untuk melaksanakan sholat 5 waktu betulkah.?”, Rasulullah menjawab:”Betul apa yang dikatakan itu benar ”, kemudian dia bertanya lagi :”Utusanmu wahai Muhammad, betulkah engkau mengatakan kepadanya untuk mengeluarkan zakat, berpuasa dibulan ramadhan, berhaji bagi yang mampu”, Rasulullah menjawab:”Betul, Saya tidak menambahkan lebih dari itu dan tidak menguranginya”, kemudian orang arabi ini pergi begitu saja, Rasulullah berkata:”Orang itu beruntung jika dia jujur dengan perkataannya”.

Beginilah fiqih dakwah dimana ketika ada seseorang yang baru masuk islam kita sampaikan parkara ibadah yang mudah, jangan lantas mengatakan setelah syahadat kita pergi rumah sakit untuk khitan, jika berkata demikian bisa menjadi sebab orang yang baru masuk islam lari dan meninggalkan agama islam, ajarkan kepadanya tauhid, aqidah, sholat, cara berwuduh dengan baik dan ajaran lain yang ringan – ringan.

Bersambung (Tafsir Surah Al-Hujurat ayat 2 Sesi 3)

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Jumat, 11 Rabiul Akhir 1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.