بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari“. (QS. Al-Hujurat: 02).

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di berkata:”Pada ayat yang kedua ini adalah merupakan adab kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika seseorang berbicara dengan beliau adapun pada ayat yang pertama adalah merupakan adab kepada Allah Subhanahu wata’ala dan rasul nya”. Adab kepada Allah dan Rasulnya adalah bagaimana kita menjadikan apa yang ditetapkan oleh Allah dan Rasulnya atau menjadikan hakim diantara kita terutama dalam perkara – perkara yang menjadi perselisihan diantara kita. Tidak boleh mengedepankan pandangan atau perasaan sampai kita mendahului ketetapan Allah Subhanahu wata’ala dan Rasulullah. Diantara bentuk ketundukan kita kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam atau sebagai bentuk ittiba kita kepada beliau adalah mengikuti segala apa yang datang dari beliau.

Adab Kepada Rasululah Ketika Masih Hidup dan Ketika Telah Wafat 

Risalah datangnya dari Allah Subhanahu wata’ala dan kewajiban bagi Rasulullah untuk menyampaikan kepada ummatnya adapun kita wajib menerimanya. Ayat diatas berlaku ketika beliau masih hidup yang juga merupakan perintah kepada para sahabat dan juga setelah beliau meninggal dunia. Abu Bakar Ibnu al-‘Arabi Rahimahullah pernah menyebutkan:”Sesungguhnya kehormatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau masih hidup itu sama kehormatan beliau ketika telah meninggal dunia”, dari sini ulama kita menyebutkan tentang kewajiban seseorang beradab kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam baik ketika hidup maupun ketika meninggal.

Ketika berziarah kekubur Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kita dilarang untuk mengangkat suara disisi kuburan beliau bahkan kita dilarang untuk mengangkat suara dimasjid Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Umar Radhiyallahu anhu ketika beliau telah menjadi khalifah mendengar 2 orang lelaki yang mengangkat suaranya dimasjid Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau kemudian berkata kepada salah satu sahabat  agar mendatangkan kedua orang itu kepada Amirul Mukminin Umar ibn Khattab Radhiyallahu ‘anhu, ketika kedua orang itu diperhadapkan kepada beliau, Umar kemudian bertanya:”Kalian berdua berasal dari mana.?”, mereka menjawab:”Kami berasal dari kota thaif Ya amirul mukminin”, Umar berkata:”Andaikan kalian berdua berasal dari madinah saya akan memukul kalian”, Umar hendak menghukum keduanya disebabkan karena keduanya mengangkat suara dimasjid Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Jadi perintah ini mencakup pada saat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup dan merupakan peringatan kepada para sahabat Radhiyallahu ‘anhu dan juga kepada kita ummatnya tatkala kita berziarah ke masjid Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Berziarah ke madinah bukanlah tujuan utamanya untuk berziarah ke kubur Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam akan tetapi tujuan utama adalah berziarah  ke masjid beliau sebagaimana, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ يَبْلُغُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ مَسْجِدِي هَذَا وَمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى

Dari Abu Hurairah hingga sampai kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:”Janganlah kalian bersusah payah melakukan perjalanan jauh, kecuali ke tiga Masjid. Yaitu; Masjidku ini (Masjid Madinah), Masjidil Haram (di Makkah) dan Masjid Al Aqsha“. (HR. Muslim No.2475).

Adapun jika berada disana secara umum tidak mengapa berziarah ke kuburan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam karena Rasulullah Shalllahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kita untuk berziarah kubur secara umum sebagaimana dalam hadist beliau bersabda:

كنت نهيتكم عن زيارة القبور ألا فزوروها فإنها ترق القلب ، وتدمع العين ، وتذكر الآخرة ، ولا تقولوا هجرا

Dulu aku pernah melarang kalian untuk berziarah-kubur. Namun sekarang ketahuilah, hendaknya kalian berziarah kubur. Karena ia dapat melembutkan hati, membuat air mata berlinang, dan mengingatkan kalian akan akhirat namun jangan kalian mengatakan perkataan yang tidak layak (qaulul hujr), ketika berziarah”. (HR. Al Haakim no.1393, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jaami’, 7584)

Jadi boleh menziarahi kubur bahkan disyariatkan namun tujuannya ada  2 yaitu untuk mengingat akhirat dan untuk mendoakan penghuni kubur.

Ketika didekat kubur Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kita tidak boleh mengangkat suara, melakukan kesyrikan, berdoa kepada Rasulullah, serta meminta dan menyampaikan hajat. Kuburan Rasulullah dijaga oleh seorang penjaga yang apabila ada yang berdoa menghadap ke kubur mereka dilarang oleh para petugas. Namun sebagian kaum muslim  masih ada yang melemparkan kertas secara sembunyi – sembunyi ke kuburan Rasulullah, ada diantara mereka yang menulis dikertas minta jodoh, usahanya lancar, minta anak, dll namun hal ini dilarang oleh syariat islam karena merupakan bentuk tidak beradab kepada Nabi Shalllahu ‘alaihi wasallam setelah beliau meninggal. Oleh karenanya menziarahi kubur Rasulullah Shallalllahu ‘alaihi wasallam yang benar adalah menghadap ke kuburan Rasulullah kemudian memberi salam setelah itu perpindah sedikit dan memberi salam kepada Abu Bakar As Shiddiq dan setelah itu berpindah dan memberi salam kepada Umar bin Khattab, setelah itu berjalan. Adapun jika ia hendak berdoa maka boleh berdoa dengan menghadap ke kiblat, begitu pula melakukan hal yang sama ketika menziarahi kuburan para wali – wali Allah Subhanahu wata’ala. Jangan memahami hal ini bahwa kita tidak berikhtiram kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam akan tetapi beginilah yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. 

Banyak masalah yang dihadapi oleh para sahabat setelah Rasulullah meninggal, Fathimah setelah meninggalnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam beliau pernah mengira berhak mendapatkan warisan akan tetapi Abu Bakar tidak mengabulkan permintaan beliau namun Fathimah tidak kemudian datang kekuburan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengadukan masalahnya, begitu pula fitnah yang pernah terjadi dikalangan sahabat seperti ketika terjadi musim paceklik di zaman Umar Radhiyallahu anhu menjadi khalifah sehingga diadakan sholat istisqa (doa meminta hujan). Umar tidak lantas mengajak para sahabat untuk datang kekuburan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam meminta hujan bahkan beliau berkata dalam doanya:”Ya Rabb dahulu kami beristisqa dengan doa Nabimu, namun setelah kematian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kami beristisqa dengan paman Nabimu Al Abbas’, beliau kemudian berkata kepada Abbas :”Berdiri wahai Abbas”, beliau kemudian berdoa hingga turunlah hujan. Inilah diantara adab yang harus kita perhatikan.

Adapun bersholawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dimana pun kita berada diperintahkan untuk banyak bersholawat kepada beliau, Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَ تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قُبُورًا وَلاَ تَجْعَلُوا قَبْرِى عِيدًا وَصَلُّوا عَلَىَّ فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ تَبْلُغُنِى حَيْثُ كُنْتُمْ

Janganlah jadikan rumahmu seperti kubur, janganlah jadikan kubur sebagai ‘ied, sampaikanlah shalawat kepadaku karena shalawat kalian akan sampai padaku di mana saja kalian berada”. (HR. Abu Daud no. 2042 dan Ahmad 2: 367. Hadits ini shahih dilihat dari berbagai jalan penguat, sebagaimana komentar Syaikh ‘Abdul Qodir Al Arnauth dalam catatan kaki Kitab Tauhid, hal. 89-90).

Kita ikhtiram kepada beliau dengan tanpa berlebih – lebihan karena beliau sendiri tidak senang diperlakukan melampui batas, Rasulullah bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّيْنِ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ اَلْغُلُوُّ فِي الدِّيْنِ

Jauhkanlah diri kalian dari ghuluw (berlebih-lebihan) dalam agama, karena sesungguhnya sikap ghuluw ini telah membinasakan orang-orang sebelum kalian”. (HR. Ahmad (I/215, 347), an-Nasa-i (V/268), Ibnu Majah (no. 3029), Ibnu Khu-zaimah (no. 2867).

Janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras

Hal ini kita bisa ketahui Asbabun Nuzul turunnya ayat ini, sebagaimana kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah:“Mengetahui Asbabun Nuzul dari ayat – ayat Al-Qur’an itu semakin memberikan bantuan kepada kita untuk memahami ayat tersebut”, walaupun tidak semua ayat Al-Qur’an ada sebab Asbabun Nuzulnya, ayat – ayat yang didalam Al-Qur’an ada yang sifatnya Sababiyyah (memiliki sebab secara khusus) dan ada yang sifatnya Ibtidayyah (yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wata’ala untuk menjelaskan hukum – hukum atau menceritakan kisah dan seterusnya). Dalam Qaidah tafsir disebutkan:”Yang menjadi ibrah bagi kita adalah keumuman lafadznya dan bukan ke khususan sebabnya”, jadi walaupun ayat tertentu memiliki sebab  khusus namun pelajarannya secara umum dapat kita ambil bahkan wajib untuk kita mengambilnya.

Asbabul Nuzul Turunnya Firman Allah QS. Al Hujurat Ayat 2

Disebutkan oleh Ahli tafsir tentang sebab turunnya ayat ini bahwasanya Abu Bakar As Shiddiq dan Umar Radhiyallahu ‘anhu pernah berselisih dihadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan tanpa mereka sadari keduanya mengangkat suara dihadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, disebutkan bahwa 2 sahabat pilihan ini Abu Bakar dan Umar hampir binasa, mengapa demikian karena ketika datang ke madinah menjumpai Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, sekelompok kabilah dari Bani Tamim menemui  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan ini pula sebab penyebutan surah Al Hujurat karena Al-Aqra’ ibn Habis salah satu pemimpin dari mereka memanggil nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dibalik bilik istri-istri beliau. Keduanya berselisih dihadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam Abu Bakar As Shiddiq berkata:”Ya Rasulullah jadikan Alqaqa ibn Ma’bat sebagai pemimpin mereka“, namun Umar menyelisihi Abu Bakar As Shiddiq dengan berkata:”Bahkan Ya Rasulullah jadikan Al-Aqra’ ibn Habis sebagai pemimpin mereka”, Abu Bakar kemudian berkata kepada Umar Radhiyallahu anhu:”Engkau wahai Umar ingin selalu menyelisihiku atau apa yang engkau katakan tadi sengaja engkau ingin menyelisihiku“, Umar berkata:”Saya tidak berniat untuk menyelisihimu wahai Abu Bakar”, akhirnya suara keduanya meninggi sebagaimana manusia biasa ketika berdebat kadang suara meninggi akhirnya turunlah firman Allah Subhanahu wata’ala untuk menegur keduanya.

Keutamaan Abu

Kedua sahabat yang ditegur oleh Allah adalah sahabat yang paling mulia setelah para Nabi dan Rasul yang kata Rasulullah:”Andaikan amalan Abu Bakar diletakkan pada suatu timbangan dan timbangan seluruh ummat pada timbangan yang lain maka keimanan Abu Bakar As Shiddiq lebih berat dari timbangan mereka“, bukan dengan banyaknya puasa, sholat atau ibadah beliau walaupun beliau adalah termasuk sahabat yang sungguh – sungguh didalam beribadah namun ada yang lebih istimewa dari beliau yaitu apa yang terpatri didalam hati beliau yaitu pembenaran terhadap kerasulan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau adalah khalifah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau yang pertama kali membenarkan dakwah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau membebaskan para budak seperti Bilal ibn Rabah dan Rasulullah membaca firman Allah Subhanahu wata’ala:

وَسَيُجَنَّبُهَا الْأَتْقَى الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّىٰ وَمَا لِأَحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزَىٰ إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَىٰ

Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi“. (QS. Al-Lail : 17-20)

Ayat ini turun kepada Abu Bakar as Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu, Abu Bakar As Shiddiq yang mendampingi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam perjalanan hijrah dimana beliau mengkhawatirkan Rasulullah daripada dirinya sendiri, ketika beliau dikejar oleh orang – orang Quraisy sehingga beliau masuk ke dalam gua dengan penuh ketakutan, kegelisahan, kegalauan Abu Bakar as Shiddiq berkata:”Ya Rasulullah andaikan salah seorang diantara mereka melihat kaki kita maka mereka akan menemukan kita”, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian berkata:”Wahai Abu Bakar bagaimana pendapatkan ada diantara 2 orang dan yang ketiganya adalah Allah Subhanahu wata’ala”.

Abu Bakar as Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu disebut didalam Al-Qur’an:

إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا ۖ فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَىٰ ۗ وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita”. Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. At-Taubah: 40). Allah menurunkan ketenangan dalam hatinya dan yang dimaksud adalah Abu Bakar as Shiddiq adapun Nabi telah tenang, yakin dan tawakkal dengan pertolongan Allah Subhanahu wata’ala. Abu Bakar as Shiddiq rela mengorbankan segala sesuatunya untuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Begitupula dengan Umar Radhiyallahu anhu dimana Rasulullah pernah bersabda:”Wahai Umar tidaklah engkau melewati suatu jalan melainkan syaithan itu berjalan dijalan yang lain”, Syaithan tidak berani berjumpa dengan Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu, adapun kita justru tidur bersama dengan syaithan, makan bersama dengan syaithan.

Ada beberapa ayat didalam Al-Qur’an diturunkan disebabkan karena Umar, Umar bin Khattab faruqnya ummat sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Mas’ud:”Kami tidak terang – terangan beribadah kecuali setelah masuknya Umar ke dalam agama  islam”. Umar yang ketika para sahabat hijrah ke madinah dengan sembunyi – sembunyi karena takut dengan kejaran orang – orang quraisy, adapun Umar menghunus pedangnya dan mendatangi majelis mereka (orang Quraisy) beliau kemudian berkata:”Siapa diantara kalian yang mau istrinya menjadi janda dan anaknya menjadi yatim silahkan temui saya dibalik bukit ini”.

Bersambung (Tafsir Surah Al-Hujurat ayat 2 Sesi 2)

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Kamis, 10 Rabiul Akhir 1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR