بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Peringatan dari Allah Subhanahu wata’ala kepada kita semua karena ancamannya sangat berat bagi mereka yang menukil berita – berita dusta, jika saja yang menerima berita diberi pringatan oleh Allah Subhanahu wata’ala apalagi bagi yang membawa berita dusta tersebut, Rasulullah menyebutkan dalam hadist:
Tidak akan masuk ke dalam surga orang yang membawa berita, menukil berita dari satu orang ke orang lain untuk merusak hubungan antara fulan dan allam”.

Hadits Abdullah bin ’Abbas Radhiyallahu anhuma, dia berkata:

مَرَّ النَّبِيُّ  صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَبْرَيْنِ فَقَالَ إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنْ الْبَوْلِ وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ ثُمَّ أَخَذَ جَرِيدَةً رَطْبَةً فَشَقَّهَا نِصْفَيْنِ فَغَرَزَ فِي كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةً قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ لِمَ فَعَلْتَ هَذَا قَالَ لَعَلَّهُ يُخَفِّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melewati dua kuburan, lalu Beliau bersabda: “Sesungguhnya keduanya ini disiksa, dan tidaklah keduanya disiksa dalam perkara yang berat (untuk ditinggalkan). Yang pertama, dia dahulu tidak menutupi dari buang air kecil. Adapun yang lain, dia dahulu berjalan melakukan namimah (adu domba)”. Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam mengambil sebuah pelepah kurma yang basah, lalu membaginya menjadi dua, kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menancapkan satu pelepah pada setiap kubur itu. Para sahabat bertanya:”Wahai Rasulullah, kenapa anda melakukannya”. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:”Semoga Allah meringankan siksa keduanya selama (pelepah kurma ini) belum kering”. (HR. Bukhari, no. 218; Muslim, no. 292). Mereka disiksa bukan karena perkara yang besar akan tetapi perkara yang ia anggap remeh dan sepele.

Ada sebagian orang suka menukil berita untuk mengadu domba antara yang satu dengan yang lain agar hubungan mereka menjadi rusak, dan ada seseorang yang memiliki tabiat demikian yang suka melihat sesama kaum muslimin saling bermusuhan dan berpecah dan senang melihat perkelahian antara yang satu dengan yang lain. Oleh karenanya ulama kita mengatakan salah satu diantara kefaqihan seorang da’i yaitu ketika ia senantiasa mendakwahkan kepada “Tauhidu Shufuf” karena barangsiapa yang telah memiliki sifat demikian maka ia telah mewarisi sebagian dari sifat penghuni surga.

Sebagian yang lain ada yang justru bersepakat untuk tidak bersepakat, perbuatan seperti ini dapat menimbulkan dosa ghibah dan namimah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يَا مَعْشَرَ مَنْ أَسْلَمَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يُفْضِ اْلإِيْمَانُ إِلَى قَلْبِهِ، لاَ تُؤْذُو الْمُسْلِمِيْنَ، وَلاَ تُعَيِّرُوهُمْ، وَلاَ تَتَّبِعُوْا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنْ تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيْهِ الْمُسْلِمِ تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللهُ عَوْرَتَهُ، يَفْضَحْهُ وَلَوْ فِي جَوْفِ رَحْلِهِ

Wahai sekalian orang yang mengaku berislam dengan lisannya dan iman itu belum sampai ke dalam hatinya. Janganlah kalian menyakiti kaum muslimin, janganlah menjelekkan mereka, jangan mencari-cari aurat mereka. Karena orang yang suka mencari-cari aurat saudaranya sesema muslim, Allah akan mencari-cari auratnya. Dan siapa yang dicari-cari auratnya oleh Allah, niscaya Allah akan membongkarnya walau ia berada di tengah tempat tinggalnya”. (HR. At-Tirmidzi no. 2032, dihasankan Asy-Syaikh Muqbil t dalam Ash-Shahihul Musnad Mimma Laisa fish Shahihain, hadits no. 725, 1/581)

Pada ayat berikutnya Allah Subhanahu wata’ala mengatakan:

وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ ۚ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِنَ الْأَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ

Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu “cinta” kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus”. (QS. Al-Hujurat : 7).

أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ : Mengingatkan kepada kita betapa besarnya nikmat Allah Subhanahu wata’ala yang mengutus rasul ditengah – tengah kita.

Pada suatu hari Umar bin Khattab berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali dari diriku sendiri.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun menjawab:”Tidak, demi Allah, hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.” Maka berkatalah Umar, “Demi Allah, sekarang engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri!”. (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya, lihat Fath al-Bari[XI/523] no: 6632).

Di lain kesempatan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan:”Demi Allah, salah seorang dari kalian tidak akan dianggap beriman hingga diriku lebih dia cintai dari pada orang tua, anaknya dan seluruh manusia”. (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya, lihat Fath al-Bari [I/58] no: 15, dan Muslim dalam Shahih-nya [I/67 no: 69]).

Kita mengenal hidayah karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, mengenal ibadah dan cara menyembah Allah Subhanahu wata’ala karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, menjadi sebab kita diselamatkan dari api neraka karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, kita dimasukkan ke dalam surga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh karenanya kita tidak akan menerima sedikitpun dari kalangan orang-orang yang berusaha melecehkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, bahkan jiwa dan raga kita menjadi tebusan untuk Rasulullah, darah kita menjadi murah untuk membela kehormatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, karena beliaulah yang menjadi sebab keselamatan kita di dunia dan di akhirat.

Nikmat yang lain dimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang senantiasa menyampaikan kerinduannya untuk berjumpa dengan ummatnya termasuk kita, sebagaimana disebutkan dalam hadist:

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan:“Wahai Abu Bakar, aku begitu rindu hendak bertemu dengan ikhwanku (saudara-saudaraku). Sahabat Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu berkata:“Apakah maksudmu berkata demikian, wahai Rasulullah? Bukankah kami ini saudara-saudaramu?”.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata:”Tidak, wahai Abu Bakar. Kamu semua adalah sahabat-sahabatku tetapi bukan saudara-saudaraku, Saudara-saudaraku adalah mereka yang belum pernah melihatku tetapi mereka beriman denganku dan mereka mencintai aku melebihi anak dan orang tua mereka. Mereka itu adalah saudara-saudaraku dan mereka bersama denganku. Beruntunglah mereka yang melihatku dan beriman kepadaku dan beruntung juga mereka yang beriman kepadaku sedangkan mereka tidak pernah melihatku”. (HR. Muslim).

Rasulullah rindu berjumpa dengan kita, andaikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengikuti segala apa yang kalian inginkan maka kesusuhan itu akan berbalik kepada kalian. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi waslalam mendapatkan wahyu dari Allah Subhanahu wata’ala walaupun Nabi kita mendapatkan wahyu dari Allah akan tetapi beliau paling banyak bermusyawarah kepada para sahabat, namun keputusan Rasulullah dari hasil musyawarah itulah yang terbaik karena beliau disifatkan didalam Al-Qur’an:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin“. (QS. At-Taubah : 128).

Beliau diutus oleh Allah Subhanahu wata’ala untuk mengangkat beban dari ummat – ummat sebelum kita, banyak keistimewaan yang diberikan kepada beliau dan kepada ummatnya yang tidak diberikan kepada ummat-ummat yang lain, diantara contohnya sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah:”Ghanimah dihalalkan bagiku, makanlah ghanimah dan halal untuk kalian“. Bahkan ulama kita mengurutkan mata pencarian yang paling halal pada point pertama adalah ghanimah (harta rampasan perang), adapun ummat terdahulu ketika ada ghanimah yang mereka dapatkan dari sebuah peperangan haram hukumnya mereka ambil, haram hukumnya mereka manfaatkan, mereka diperintahkan untuk mengumpulkan ghanimah yang mereka dapatkan dan setelah terkumpul maka datanglah api dari langit untuk membakar ghanimah tersebut.

Kekhususan yang lain yang diberikan kepada Rasulullah dimana ummat terdahulu jika ada najis yang terkena pada pakaian mereka maka yang harus mereka lakukan adalah memotong kain yang terkena najis sehingga pakaian mereka penuh dengan tambalan, adapun kita diberikan kemudahan oleh Allah Subhanahu wata’ala, oleh karenanya apa yang membebani ummat – ummat terdahulu diangkat dari ummat Rasulullah dan tidaklah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam diberikan 2 pilihan melainkan beliau memilih yang paling mudah untuk ummat beliau, kita baca dalam hadist beberapa lafadz yang menunjukkan kecintaan beliau kepada ummatnya:

Kami pernah menunggu kehadiran Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam untuk shalat Isya’. Pada suatu malam beliau keluar telah lewat sepertiga malam, dan berkata, ‘Andaikan tidak memberatkan umatku, niscaya aku akan shalat bersama mereka seperti waktu sekatang ini.’ Kemudian beliau memerintahkan muadzin untuk menegakkan shalat (iqamat)”. Sampai beliau di ingatkan oleh para sahabat:”Ya Rasulullah anak kecil telah tidur dan wanita juga telah tidur”. Dalam hadist lain Rasulullah bersabda:”Andaikan tidak memberatkan ummatku saya akan memerintahkan mereka bersiwak setiap waktu sholat”, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menginginkan kemudahan untuk ummatnya yang sangat beliau cintai dan semoga kita mendapatkan syafaat beliau pada hari kiamat nanti insyaAllah.

Tetapi Allah menjadikan kamu “cinta” kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus,

Salah satu tips untuk menjaga keistiqamahan sebagaimana kata para ulama kita yaitu mengingat bahwasanya: hidayah, keimanan, ibadah yang kita kerjakan, sholat yang ditunaikan, menghadiri majelis ilmu semua ini tidak lain adalah karena taufik dari Allah Subhanahu wata’ala, ini merupakan hidayah dari Allah Subhanahu wata’ala bukan karena kecerdasan kita akan tetapi pemberian dari Allah Subhanahu wata’ala.

Oleh karenanya penghuni surga ketika dimasukkan ke dalam surga mereka berkata:

 وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ ۖ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ ۖ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“…….Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami, membawa kebenaran”. Dan diserukan kepada mereka: “ltulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan“. (QS. Al-A’raf : 43).

Teruslah mengingatkan pada diri – diri kita. karena salah satu yang menjadi sebab seseorang menjadi futur sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh bin Baz Rahimahullah:”Dia tidak mensyukuri nikmat tersebut dan juga dia tidak mengembalikan keutamaan itu kepada Allah Subhanahu wata’ala”, adapun yang menjadi sebab seseorang senantiasa mendapatkan hidayah yaitu tidak pernah memandang remeh saudaranya yang lain dan mengembalikan keutamaan itu kepada Allah Subhanahu wata’ala bahkan dalam setiap sujudnya ia senantiasa membaca doa:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati, kokohkanlah hati-hati kami di atas agama-Mu”.

يا مصرف القلوب اصرف قلبنا إلى طاعتك

Wahai Dzat yang mengarah-arahkan hati, arahkanlah hatiku untuk mentaati-Mu“.

إِنَّ الْقُلُوبَ بِيَدِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يُقَلِّبُهَا

Sesungguhnya hati berada di tangan Allah ‘azza wa jalla, Allah yang membolak-balikkannya”. (HR. Ahmad 3/257. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini qowiy (kuat) sesuai syarat Muslim). Dia senantiasa merasa takut akan dirinya dengan berkata:”Ya Allah jangan engkau memberikan aku kekufuran setelah hidayah engkau berikan kepadaku”. Terkadang kemaksiatan yang kita lakukan kita menganggapnya sesuatu yang biasa – biasa saja dimata kita, seakan – akan tidak ada lagi rasa bersalah dalam hati kita, mengingkari kemaksiatan dengan hatipun begitu sulit bagi kita, padahal Rasulullah bersabda:”Jika pengingkaran sudah tidak ada dalam hati di khawatirkan tidak ada lagi keimanan dalam hatinya”.

Dahulu kita merasakan betapa lezatnya Qiyamullail, lezatnya tilawatul Qur’an namun setelah itu kita merasa gersang, banyak ibadah yang kita kerjakan dengan tidak serius  hanya untuk menggugurkan kewajiban. Kemaksiatan yang terjadi disekeliling kita menjadi sesuatu yang lumrah apalagi ketika kita pasrah dengan kondisi dan keadaan zaman, aurat terbuka dimana – mana kemudian kita tidak mengingkarinya hanya pasrah dan  berkata:”Apa boleh buat zaman telah berubah”, padahal ini adalah ujian keimanan untuk kita.

Ulama kita mengatakan:”Ketahuilah sesungguhnya ada kemungkaran jika kemungkaran terjadi dihadapan kita itu bukanlah sesuatu yang kebetulan, tetapi Allah menjadikan itu sebagai ujian bagi keimanan kita sejauh mana kita mengingkari kemungkaran tersebut“.

Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus

Ini keutamaan dari Allah Subhanahu wata’ala dan juga nikmat dari Allah Subhanahu wata’ala. Allah Subhanahu wata’ala maha mengetahui dan maha bijaksana

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang“. (QS. Al-Maidah : 3).

Semoga Allah Subhanahu wata’ala memelihara kita dalam keistiqamahan dan menjaga keistiqamahan itu sampai kita berjumpa dengan Allah dan Allah ridho kepada kita.

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Sabtu, 21 Rajab 1439 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR