بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu“. (QS. Al -Hujurat : 6).

Allah memerintahkan kepada kita untuk bertabayyun:”jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita”, yang dimaksud dengan Al-Fisqu adalah Al Khuruju (keluar), ulama kita mengatakan:”Keimanan itu merupakan penghalang yang jika seseorang keluar dari ketaatan maka ia akan pecah dan keluarlah keimanan itu darinya”. Secara umum kefasikan adalah ketika seseorang keluar dari ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika Allah menyebut tentang kefasikan maka yang dimaksudkan adalah kekufuran, jadi ada kefasikan yang dimaksudkan adalah kekufuran (seseorang keluar dari agamanya), sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wata’ala:

 إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“…….Maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik“. (QS. At-Taubah : 67). Fasik dalam ayat ini yang dimaksud adalah keluar dari agamanya (Kekufuran).

Dalam ayat yang lain Allah Subhanahu wata’ala berfirman tentang Iblis:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ ۗ أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ ۚ بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلًا

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim“. (QS. Al-Kahfi : 50).

Al-Fisqu juga bisa diartikan keluar dari ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala namun tidak sampai pada derajat kekufuran sebagaimana dalam ayat:

 وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ

Menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan”. (QS. Al Hujurat : 7).

Kekufuran merupakan tingkatan dosa yang paling tinggi disisi Allah Subhanahu wata’ala dan dibawah kekufuran adalah kefasikan yang merupakan dosa – dosa besar akan tetapi tidak sampai mengeluarkan seseorang dari agama yang mulia ini. Aqidah Ahlusunnah wal Jama’ah bahwasanya pelaku dosa besar tidak kafir jika apa yang dia lakukan tidak sampai pada derajat kekufuran dan dihari kemudian kondisi dan keadaanya berada dalam kehendak Allah Subhanahu wata’ala. Jika Allah berkehendak dengan keluasan rahmatnya maka diampunkan dosa – dosanya dan jika Allah menginginkan dia dihukum sesuai dengan kadar dosanya maka ia dimasukkan ke dalam neraka kemudian diangkat dan dimasukkan ke dalam surga selama masih ada iman atau ketauhidan di dalam hatinya, disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wata’ala:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya”. (QS. An Nisa’: 48). Jadi orang yang mengerjakan dosa yang tidak sampai pada kekufuran maka ia masih berpeluang untuk diampuni dosanya oleh Allah Subhanahu wata’ala.

Al –Fisqu adalah keluar dari ketaatan baik ia sampai pada derajat kekufuran atau tidak sampai pada derajat kekufuran, sebagaimana disebutkan dalam hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:

سِبَابُ اَلْمُسْلِمِ فُسُوْقٌ، وَقِتَالُهُ كُفْرٌ.” مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Mencela seorang muslim adalah kefasikan, dan membunuhnya adalah kekufuran”. (HR. Muslim).

Begitu dalam ayat yang lain, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ ۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal”. (QS. Al-Baqarah : 197). Ayat diatas juga menjelaskan kefasikan adalah kekufuran.

Kefasikan adalah sesuatu yang buruk dan dibenci oleh Allah Subhanahu wata’ala baik ketika seseorang terjatuh dalam kekufuran atau kurang dari itu dan Allah Subhanahu wata’ala mengingatkan kita dalam ayatnya:

إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ

Jika datang kepadamu orang fasik”. Fasik yang dimaksud adalah fasik akbar atau fasik kecil, oleh karena itu jika datang sebuah berita kepada kita maka Allah memerintahkan kepada kita untuk mengecek kebenaran berita tersebut, disini ada pelajaran yang bisa kita ambil, jika yang datang kepada kita pembawa berita dari orang yang fasik kemudian dilihat dan diketahui orangnya maka berlaku firman Allah yang memerintahkan kita untuk bertabayyun dan tasabbut, maka lebih wajib tabayyun jika berita yang datang kepada kita dari sumber yang tidak jelas atau hoaks di zaman sekarang. Terkadang ada diantara kita yang mendapatkan kiriman yang beredar dimedsos yang mengatakan:”Sebarkan ini, jangan abaikan, jika tidak disebar akan terjadi seperti ini, jika anda sebar akan terjadi begini dan yang semisalnya”, inilah berita yang tidak diketahui sumbernya dari mana. Fitnah yang terjadi di zaman sekarang dari pada di zaman dahulu lebih dahsyat pengaruhnya, di zaman sekarang kita banyak mendapatkan berita – berita yang tidak jelas bahkan berita yang menjadikan kita dengan orang lain saling bermusuhan dan berperang dan juga berita yang bisa memisahkan antara seorang suami dengan istrinya.

Kejadian nyata tentang berita hoaks, ada salah seorang yang mencandai ikhwah yang lain dengan mengirim sms yang kemudian dibaca oleh istrinya:”Akhi bagaimana rencana antum dulu yang hendak menikahi fulanah, jadi atau tidak”, ini adalah bercanda yang berlebihan, olehnya Allah Subhanahu wata’ala menyuruh kita untuk tabayyun apalagi jika berita yang sampai kepada kita dari orang yang kita kenal bahwasanya dia bukan orang yang baik. Kadang kita mengenal seseorang dengan kedustaannya dan adapula yang kita kenal dengan kejujurannya serta ada yang pertengahan yaitu orang fasik, dalam kondisi seperti ini kita tidak diperintah untuk langsung menerima jika berita yang datang itu dari orang yang jujur begitupula langsung menolak jika berita yang datang dari seorang pendusta apalagi jika berita itu datang dari orang yang fasik, akan tetapi kita tabayyun terlebih dahulu untuk mengecek dari mana sumber berita tersebut apakah benar berita tersebut. Sebagian orang jika berita datang kepadanya dia berkata:”Siapa yang berkata seperti ini”, kemudian di jawab:”Fulan”, lantas ia berkata:”Oh, jangan ragu dia adalah orang yang balik”,  sebaliknya datang berita yang lain, ia kemudian berkata:”Jika orang ini berkata maka jangan terima karena dia adalah pendusta”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى الْبِرّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الْجَنَّةِ. وَلَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيقًا

“Hendaklah kalian jujur. Karena kejujuran akan mengantarkan kepada kebajikan. Dan kebajikan akan mengantarkan menuju Surga. Tidaklah seseorang senantiasa jujur dan berusaha kuat untuk jujur kecuali akan ditulis di sisi Allâh sebagai orang yang shiddiiq”. (HR. Al-Bukhâri no.6094 dan Muslim no.2607). Dalam hadist yang lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِيْ إِلَى الْفُجُوْرِ وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِيْ إِلَى النَّارِ وَلَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا

“Sesungguhnya dusta itu akan menyeret kepada al-fujur. Dan sesungguhnya tindak kejahatan itu akan menyeret menuju Neraka. Dan tidaklah seseorang itu sering berdusta dan sengaja untuk berdusta hingga akan ditulis di sisi Allah sebagai pendusta”. (HR. Al-Bukhari no.6094 dan Muslim no.2607).

Jika disebut nama Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu maka kita akan mengingat ia sebagai orang yang baik dan jujur dan ketika disebut nama Musailamah maka kita akan mengenal dia sebagai orang pendusta.

Perbedaan antara At Tasabbut dan At Tabayyun

Apa perbedaan antara At Tasabbut dan At Tabayyun, ulama kita mengatakan:”At Tasabbut yaitu yakin dengan berita yang disampaikan, adapun At Tabayyun adalah berusaha untuk mengetahui hakekat. Di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau i’tikaf di masjid beliau dijenguk oleh istrinya yang bernama Shofiyyah, Nabi hendak mengantarnya ke rumah, ditengah kegelapan malam beliau berjalan dengan shofiyyah, beliau berjumpa dengan 2 orang sahabat dari kalangan kaum anshar, ketika keduanya dilihat oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mereka kemudian berjalan terburu – buru, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengejar keduanya pelan – pelan, keduanya lalu berhenti, Rasulullah berkata:”Ini adalah Shofiyyah, ketahuilah dia istriku”, mereka berkata:”Bagaimana mungkin kami tidak percaya dengan anda Ya Rasulullah”, Nabi berkata:”Sesungguhnya syaithan itu berjalan dalam tubuh anak cucu adam pada peredaran darah mereka”. Ulama kita mengatakan:”Andaikan mereka meragukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam maka mereka kufur kepada Allah Subhanahu wata’ala”, oleh karenanya bentuk kasih sayang Rasulullah kepada keduanya adalah dengan mengejarnya dan menjelaskan bahwasanya dia adalah Shofiyyah istri beliau. Makna yang bisa kita ambil dari kisah diatas bahwasanya At Tasabbut = Jelas Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berjalan dengan seorang wanita, adapun tabayyun yaitu wanita yang bersama dengan Rasulullah adalah Shofiyyah istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Bersambung (Tafsir Surah Al-Hujurat Ayat 6 Sesi 2)

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Rabu, 18 Rajab 1439 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR