بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Pernah suatu ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berselisih dengan istrinya tercinta ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, pelajaran bagi para pemuda terutama yang hendak menikah bahwa tidak semua dalam kehidupan rumah tangga itu penuh dengan bunga – bunga, terkadang terjadi perselisihan diantara suami istri, sebagaimana Rasulullah berselisih dengan ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, Rasulullah menawarkan kepada ‘Aisyah agar ada hakim diantara mereka, Rasulullah menawarkan Abu Bakar as Shiddiq yang juga ayah ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, dipanggillah Abu Bakar as Shiddiq, ketika Abu Bakar datang kerumah Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam dan ‘Aisyah sedang dalam keadaan marah, Rasulullah berkata:”Saya tahu wahai ‘Aisyah kapan engkau ridha kepadaku dan kapan engaku marah kepadaku”, ‘Aisyah berkata:”Bagaimana engkau tahu Ya Rasulullah”, Rasulullah berkata:”Jika engkau berkata demi tuhannya Muhammad maka engkau sedang cinta kepadaku, namun jika engkau mengatakan demi tuhannya Nabi Ibrahim maka engkau sedang marah kepadaku”, ‘Aisyah berkata:”Demi Allah Ya Rasulullah saya tidak membenci kecuali nama anda saja adapun anda tetap saya cintai”, Rasulullah berkata kepada ‘Aisyah:”Ya ‘Aisyah apakah saya yang duluan berbicara atau engkau menyampaikan masalah ini”, ‘Aisyah berkata:”Silahkan sampaikan tetapi jangan mengatakan kecuali kebenaran”,

Abu Bakar As shiddiq Radhiyallahu ‘anhu marah mendengar putrinya berkata demikian beliau khawatir jangan sampai Rasulullah menceraikan ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ketika ia melihat bapaknya dalam keadaan murka justru ‘Aisyah berlindung dibalik punggung Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, ia kemudian lupa dengan masalah yang terjadi antara dirinya dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, beginilah cara Rasulullah menyelesaikan masalah.

Ketika ‘Aisyah berlindung di balik punggung Rasulullah maka kembalilah Abu Bakar as Shiddiq dalam keadaan galau adapun ‘Aisyah dan Rasulullah telah berdamai bahkan Rasulullah memanggil Anas bin Malik dan menyuruhnya untuk membeli makanan, berangkatlah Anas bin Malik beli makanan untuk dihidangkan kepada Rasulullah dan istrinya ‘Aisyah, ditengah jalan beliau berjumpa dengan Abu Bakar as Shiddiq, Abu Bakar berkata:”Hendak kemana engkau wahai Anas bin Malik”, beliau menjawab:”Saya diperintah oleh Rasulullah membeli makanan untuk beliau makan bersama dengan istrinya”, Abu Bakar berkata:”Akhirnya mereka telah berdamai”, setelah Anas bin Malik kembali dari membeli makanan, beliau di dibuntuti oleh Abu Bakar as Shiddiq, Abu Bakar mendapati Rasulullah dan Aisyah sementara makan, Abu Bakar as Shiddiq berkata:”Jika kalian saling bertikai kalian memanggilku namun jika telah berdamai dan makan bersama kalian melupakanku”, akhirnya Rasulullah berkata:”Mari ikutlah makan bersama dengan kami”, ini salah satu akhlak yang mulia yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Wanita memiliki sifat kurang akal dan agamanya, Abu Sahrah salah seorang ulama dari mesir datang ke sudan kemudian ceramah di jami’ah kurtoum beliau membahas hadist yang mengatakan:”Wanita itu kurang akal dan agama”, ada salah seorang wanita yang memiliki gelar yang tinggi lalu berkata:”Saya tidak setuju dengan hadist ini ya Syaikh”, Syaikh berkata:”Kenapa”, wanita ini berkata:”Banyak wanita sekarang sudah menjadi doctor, professor dan menjadi penemu yang melebihi lelaki”, Syaikh berkata:”Apa yang engkau katakan itu benar, karena hadist ini untuk ‘Aisyah, Khadijah, Fatimah dan untuk shobiyah yang lain, adapun kamu dan orang – orang yang sepertimu tidak ada akal dan agamanya buktinya engkau menolak hadist Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam”.

Diantara cara yang lain bagaimana Rasulullah menyelesaikan masalah adalah pernah salah seorang wanita datang kepada Rasulullah mengadukan suaminya, Rasulullah mengatakan:”Suamimu yang di matanya ada warna putih’, akhirnya ia lupa dengan masalahnya dan kembali ke rumahnya, ia kemudian mendatangi suaminya dan melihat matanya, suaminya mengatakan:”Apa yang engkau lakukan”, ia berkata:”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan dimatamu ada warna putih”, jadi wanita ini mengira ada cacat dimata suaminya, suaminya kemudian mengatakan:”Bukankah setiap mata itu ada warna putinya”. Inilah contoh bagaimana Rasulullah dalam menyelesaikan masalah diantara mereka, terkadang masalah terselesaikan dengan sendirinya tanpa diberikan porsi yang berlebih, bahkan terkadang selesai dengan di diamkan. Oleh karenanya diantara adab yang baik adalah At Tagabi. Lakukan qaidah ini dalam pergaulan kita dan dalam pertemanan kita, jangan menjadi orang yang pendendam, misalkan ada masalah dirumah dengan istri, dipagi hari ribut kemudian ia pergi ke kantor oleh karenanya ketika kembali dari kantor anggap tidak ada yang terjadi, jika terjadi perselisihan hendaknya salah satu diantara yang berselisih memberi salam sebagaimana disebutkan dalam hadist:

الْمَاشِيَانِ إِذَا اجْتَمَعَا فَأَيُّهُمَا بَدَأَ بِالسَّلاَمِ فَهُوَ أَفْضَلُ

Dua orang yang berjalan, jika keduanya bertemu, maka yang lebih dulu memulai mengucapkan salam itulah yang lebih utama”. (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Adabul Mufrod dan Al Baihaqi dalam Sunannya. Syaikh Al Albani dalam Shohih Adabil Mufrod mengatakan bahwa hadits ini shohih).

Ucapan salam kepada saudara kita dapat mencairkan masalah antara ikhwah yang satu dengan ikhwah yang lain, boleh jadi selama 3 hari kita tidak saling menegur sapa namun ketika berjumpa dengannya kita memulai mengucapkan salam sehingga keakraban kembali terjalin.  Oleh karena itu keadilan sangat dibutuhkan ketika terjadi pertikaian diantara sesama kaum muslimin.

Andaikan keadilan dialam islam diketahui oleh orang –orang yang memusuhi islam maka mereka tidak akan mengatakan perkataan yang buruk kepada kaum muslimin. Ketika Umar menjadikan Amr ibn Ash menjadi gubernur di kota Mesir bersama anaknya yang bernama Muhammad, dalam perjalanan kendaraan beliau didahului oleh seorang yang beragama nasrani dari Qibti ia kemudian mengangkat cambuknya dan memukulnya sambil berkata:”Engkau mendahului saya sedangkan aku adalah seorang gubernur“, orang nasrani ini tersinggung dan tidak menerima apa yang dilakukan oleh Amr ibn Ash kepadanya, akhrinya ia datang kepada Umar untuk mengadukan Amr ibn Ash Radhiyallahu ‘anhu, Umar kemudian memanggil Amr ibn Ash dan anaknya yang bernama Muhammad dan memarahinya dengan berkata:”Kapan kalian menjadikan manusia sebagai budak sedangkan mereka dilahirkan oleh ibu – ibu mereka dalam keadaan merdeka”,

Kisah yang lain yang terjadi antara seorang yahudi dan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, orang yahudi mengambil baju besi Ali bin Abi Thalib, akhirnya Ali bin Abi Thalib melaporkan orang yahudi ini kepada hakim yang bernama Syuraih, masuklah Ali Radhiyallahu ‘anhu dalam persidangan dan berkata:”Ini adalah baju milik ku, saya tidak pernah menjualnya dan saya tidak pernah menghadiahkannya dan hilang dalam peperangan dan saya mendapati baju besi saya ini tergantung dirumah orang yahudi ini”, orang yahudi ini berkata:”Tidak, ini adalah baju perang saya”, Syuraih bertanya kepada Ali:”Apakah engkau memiliki saksi dan bukti wahai Ali”, beliau berkata:”Saya tidak memiliki bukti, (dalam riwayat yang lain):”Saya memiliki anak dan istri”, akan tetapi Syuraih tidak menerima saksi dan bukti tersebut, akhirnya Syuraih menetapkan orang yang yahudi menang dalam pengadilan walaupun Syuraih tahu bahwa Ali tidak mungkin berdusta.

Inilah keadilan islam, beliau menetapkan baju besi itu untuk yahudi dan Ali menerima keputusan Syuraih, keluarlah Ali bin Abu thalib dari pengadilan tidak lama kemudian orang yahudi ini menemui Ali dan berkata:”Baju besi itu adalah milikmu wahai Ali”, melihat keadilan islam akhirnya orang yahudi ini masuk islam dan mengucapkan kalimat syahadat dihadapan Ali bin Abi Thalib. Karena beliau telah masuk islam Ali menghadiahkan baju besinya kepada orang yahudi tersebut.

Sesungguhnya orang – orang yang beriman itu bersaudara  

Orang – orang yang beriman itu bersaudara yang dipersaudarakan oleh aqidah dan agama yang mulia ini, ssungguhnya agama yang mulia ini telah mempersaudarakan antara Bilal bin Rabah dan Shuhaib ar Rumi dengan Salman Al Farisi dan Abu Dzar al Ghifari padahal diantara mereka tidak ada ikatan nasab, mereka dari bangsa yang berbeda – beda, beginilah islam menyatukan semuanya, adapun yang membedakan kita disisi Allah Subhanahu wata’ala adalah ketakwaan, sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wata’ala: 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS. Al Hujurat : 13).

Umat muslim diikat oleh ukhuwah dan aqidah bukan hanya aqidah yang menyatukan antara muslim yang satu dengan muslim yang lain bahkan antara penduduk bumi dan penduduk langit, sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala di dalam Al-Qur’an, makhluk – makhluk Allah yang mulia senantiasa mendoakan orang yang beriman:

الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِرَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدْتَهُمْ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آَبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ وَقِهِمُ السَّيِّئَاتِ وَمَنْ تَقِ السَّيِّئَاتِ يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحِمْتَهُ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

(Malaikat-malaikat) yang memikul Arasy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala. Ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Sesungguhnya orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu, maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar”. (QS. Ghafir : 7-9).

Bahkan aqidah menyatukan manusia dengan makhluk – makhluk Allah yang lain, ketika Allah menenggelamkan Fir’aun bersama dengan bala tentaranya Allah mengatakan:

فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ وَمَا كَانُوا مُنْظَرِينَ

Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka dan merekapun tidak diberi tangguh“. (QS. Ad-Dhukan : 29).

Dari sini ulama kita membuat kesimpulan bahwasanya jika yang meninggal adalah orang – orang yang beriman maka kematiannya ditangisi oleh langit dan bumi, bumi akan kehilangan tempat yang ia pijak yang selama ini ia sholat diatasnya yang kelak bersaksi dihari kemudian, langit kehilangan dengan kematiannya yang setiap saat diangkat kepadanya amalan – amalan yang baik dan perkataan yang baik ini adalah aqidah, adapun persaudaraan karena nasab dan kerabat, Allah Subhanahu wata’ala menegaskan didalam Al-Qur’an bahwasanya dihari kemudian nanti seorang ayah dan anaknya juga suami dan istrinya didunia ini yang sangat ia cintai, seorangayah keluar sebelum subuh dan pulang dilarut malam banting tulang mencari nafkah untuk anak dan istrinya bahkan mereka mati demi membela anak dan keluarganya, dihari kiamat nanti Allah mengatakan:

“Pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dan dari ibu dan bapaknya, dan dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya”. (QS. Abasa : 34-37).

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa“. (QS. Az-Zukhruf : 67).

Adapun orang yang beriman dan bertakwa dan diikat dengan aqidah ukhuwah islamiyah persaudaraan mereka kekal didunia dan diakhirat kelak karena Allah Subhanahu wata’ala memberikan pengecualian yaitu orang – orang yang bertakwa. Oleh karenanya jaga ukhuwah dan persaudaraan kita diatas aqidah dan islam karena Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat”. (QS. Al-Hujurat : 10). 

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Kamis, 26 Rajab 1439 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR