بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Ciri orang yang bertakwa ditafsirkan dalam firman Allah surah Ali ‘Imran ayat 134:

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (QS. Ali ‘Imran : 134).

Dalam kondisi lapang kita mudah memberi namun ada sebagian orang ketika dalam keadaan lapang dia sangat kikir.

Saya pernah mendapatkan orang yang seperti ini dan dia telah meninggal, semoga dia diberikan tempat terbaik disisi Allah, saya membawa proposal pembangunan masjid kepadanya namun dia berkata:”Saya tidak pernah menyumbang yang seperti ini”, semoga Allah merahmatinya, jadi ada orang yang seperti ini tabiatnya. (Kisah Ustadz Harman Tajang), oleh karenanya Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan kita didalam Al-Qur’an untuk menjadi orang yang bertakwa dan untuk mendapatkan ampunan serta dimasukkan ke dalam surga dengan rajin berinfaq, rajin memberi, rajin bersedekah yang disertai dengan keikhlasan bukan untuk mendapatkan pujian, bukan untuk dikenal sebagai orang yang dermawan atau dikenal sebagai orang yang sosial akan tetapi karena Allah.

Setiap hari jum’at pada rakaat yang kedua imam membaca ayat:

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih”. (QS. Al-Insan :09).

Dia tidak menginginkan darinya balasan bahkan sampai ucapan terima kasih dan tidak pula meminta, biasa kita mendengar ada orang yang berkata:”Air susu dibalas dengan air tuba, saya dulu yang memberikan makanan dan pakaian kepadanya dan andaikan saya tidak memberinya maka dia dahulu telanjang, sekarang biar ucapan terima kasih tidak ada“, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَمَنْ أَتَى إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَعْلَمُوا أَنْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ

“Dan barangsiapa yang berbuat baik kepada kalian maka balaslah (kebaikannya) dengan kebaikan yang setimpal dan jika kalian tidak mendapat sesuatu untuk membalasnya kebaikannya maka berdo’alah untuknya sampai kalian merasa telah membalas kebaikannya”. (HR. Ahmad).

Para As Salaf As Sholeh Rahimahumullah lebih mengutamakan sedekah sembunyi – sembunyi dari pada sedekah terang – terangan walaupun kedua – duanya boleh, bahkan sedekah  terang – terangan jika dilihat maslahatnya lebih besar maka dalam kondisi tertentu lebih afdhal.

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَعَلَانِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (QS. Al-Baqarah: 274).

Tetapi untuk menjaga keikhlasan lebih afdhal sedekah sembunyi – sembunyi. “Saya beberapa hari yang lalu ditelpon sama mama saya dibulukumba dia berkata:”Kamu dimana nak”, saya berkata:”Lagi rapat mama tunggu sebentar”, mama saya berkata:”Tunggu sebentar ada pertanyaanku..!, dari kemarin waktu pulang dari kajang (rumah kosong) di pagar ada 3 pisang digantung dengan 4 mangga macan dan tidak ada yang mau makan”, saya berkata:”Sedekah sembunyi – sembunyi itu mama, sedekah rahasia”, mama saya berkata:”Jadi bagaimana tidak ada yang makan dan kakakmu juga tidak mau”, akhirnya saya berkata:”Makan saja atau goreng dan jika datang yang punya gantikan“.

Faedah: Jika ada barang temuan dan isinya adalah makanan yang mudah cepat rusak atau basi maka pastikan terlebih dahulu tidak ada racunnya atau aman ketika dikonsumsi maka silahkan dimakan tetapi dengan syarat jika datang pemiliknya maka bersiap untuk menggantinya atau meminta kehalalan darinya, para ulama mengatakan orang yang memiliki barang hilang dan tidak merasa kehilangan, misalnya dijalan kita menemukan uang 500 perak uang tersebut bisa dimanfaatkan atau dimasukkan ke dalam kotak masjid dan sedekahkan atas namanya, kecuali jika barang tersebut sangat berharga, misalnya emas atau handphone maka barang tersebut di umumkan dan disimpan selama satu tahun tetapi jangan diumumkan ciri – cirinya, sampaikan bahwasanya ada barang ditemukan ditempat ini siapa yang merasa kehilangan datangi ini, jika dia datang tanya apa ciri-cirinya misalnya kita Tanya:”Apa barang anda yang hilang”, ia menjawab:”Handphone”. Kemudian kita bertanya lagi:”Warna apa”, dst

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara :

[1] Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu,

[2] Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu,

[3] Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu,

[4] Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu,

[5] Hidupmu sebelum datang kematianmu”. (HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya, dikatakan oleh Adz Dzahabiy dalam At Talkhish berdasarkan syarat Bukhari-Muslim. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shogir).

Diantaranya adalah Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, jika ada yang bisa diberikan segera berikan karena akan datang suatu masa dimana nikmat itu akan dicabut oleh Allah Subhanahu wata’ala, banyak pejabat nanti ketika pensiun baru banyak kebaikan yang ia mau kerjakan padahal ketika dia masih kerja dulu dia mampu melakukan banyak hal akan tetapi ia tidak melakukan apa-apa, ini penyesalan yang terlambat, jadi potensi yang kita miliki sekarang manfaatkan sebelum dicabut oleh Allah Subhanahu wata’ala.

Jika ingin hidup berberkah, usaha dirahmati oleh Allah, penghasilan diberkahi oleh Allah, keluarga diberkahi oleh Allah maka jadikan program setiap hari berinfaq dan bersedekah, jika tidak ada hari tanpa olahraga maka kita harus punya program tidak ada hari tanpa berinfaq berapapun baik sembunyi – sembunyi dan itu yang lebih baik, misalnya semua orang sudah tidur maka kita keluar cari orang miskin di jalan kemudian berikan, boleh jadi menjadi sebab sumber keberkahan. Ini qaidah yang sering saya pinjam dari salah seorang azatidzah, beliau berkata:”Jika ingin dibuat kaget oleh Allah, sekali – kali bikinlah kaget hamba – hamba Allah maka Allah akan membuat anda kaget“, misalnya ketika keluar dari lahan parkir yang biasanya kita berikan 2000 sekali – sekali ketika tanggal baru berikan 50.000 atau bahkan lebih dari itu boleh jadi ketika diberikan sedekah yang banyak dia mendoakan kita dengan banyak kebaikan.

Wallahu a’lam Bish Showaab 


Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Selasa, 17 Sya’ban 1440 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.