بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Setelah Allah mengingatkan kepada kita bahwasanya setiap perkataan yang terlontar dari mulut kita tercatat disisi Allah Subhanahu wata’ala, ada malaikat yang senantiasa mengawasi bahkan bisikan – bisikan dalam hati dan jiwa kita pun diketahui oleh Allah Subhanahu wata’ala dimana semuanya akan kita pertanggungjawabkan dihari kemudian, oleh karenanya seorang hamba ketika mengetahui akan hal tersebut melalui wahyu dari Allah Subhanahu wata’ala lewat Al-Qur’an yang kita baca maka akan kita tingkatkan ke waspadaan dan kehati – hatian kita serta muraqabah kepada diri – diri kita dari apa yang kita lakukan dan kerjakan, apa yang terlontar dari lisan – lisan kita, apa yang didengarkan oleh telinga kita, apa yang dilihat oleh kedua mata kita, apa yang dikerjakan oleh kedua tangan kita, kemana kedua kaki kita melangkah akan semakin kita jaga dengan baik apakah diridhoi oleh Allah Subhanahu wata’ala atau tidak, apakah mendatangkan rahmat Allah atau murka Allah, yang diucapkan dari lisan yang tidak bertulang yang diibaratkan seperti pedang yang bermata 2 bisa menjadi saksi dan penolong bagi kita ketika dimanfaatkan dalam kebaikan atau menjadi boomerang bagi kita ketika digunakan dalam mengucapkan atau mengeluarkan perkataan yang dimurkai oleh Allah Subhanahu wata’ala.

Selanjutnya Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ۖ ذَٰلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيدُ

“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya”. (QS. Qaf : 19).

Syaikh Abdurrahman As Sa’diy Rahimahullah berkata:”Telah datang kepada orang yang lalai tersebut yang mendustakan ayat – ayat Allah Subhanahu wata’ala”, ini berlaku untuk seluruh makhluk dan seluruh manusia karena setiap yang berjiwa akan merasakan kematian, semua yang ada dipermukaan bumi ini akan sirna, ini merupakan bentuk penegasan dari Allah Subhanahu wata’ala, Allah berkata kepada Nabinya:

وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ ۖ أَفَإِنْ مِتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad); maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?, Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. “. (QS. Al-Anbiya : 34-35).

Kita semua adalah anak dari orang – orang yang telah meninggal, Allah memberikan kesempatan untuk hidup didunia ini namun kehidupan didunia ini terbatas ada waktu dimana Allah akan mencabut nyawa hambanya dan akan kembali kepada Allah Subhanahu wata’ala. Salah seorang salaf sementara menikmati hidangan bersama dengan keluarganya maka datanglah seorang utusan yang mengabarkan kematian saudaranya, ia kemudian berkata:”Mari ikut makan bersama dengan kami”, menunjukkan seakan – akan ia tidak kaget dengan kematian saudaranya, beliau berkata:”Sungguh berita ini telah sampai kepadaku sebelum engkau menyampaikannya”, utusan ini keheranan karena ia tahu bahwasanya dirinyalah yang pertama diutus untuk menyampaikan berita kematian tersebut.

Semua kita tahu dizaman dahulu tidak sama dengan zaman sekarang yang mana berita cepat tersebar bahkan terkadang belum meninggal telah dikabarkan meninggal, adapun zaman dahulu seorang utusan dikirim untuk mengabarkan kematian, utusan ini bertanya:”Siapa orang itu”, beliau membaca firman Allah Subhanahu wata’ala:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati”. (QS. Al-Anbiya : 35).

Beliau berkata:”Allah yang mengabarkan itu kepadaku bahwa setiap yang bernyawa akan merasakan yang namanya kematian”, sakratul maut sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika berada diakhir kehidupan beliau, Rasulullah merasakan sakratul maut sampai dihadirkan air kepada beliau, Rasulullah memasukkan tangannya ke dalam air yang dingin tersebut dan mengusapkan diwajahnya seraya berkata:”Subhanallah sesunggunya kematian memiliki sakarat”, yang dimaksud dengan sakarat yaitu kondisi dan keadaan dimana menjadikan seseorang kehilangan akal, ia berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan atau berada dalam kondisi dimana ia tidak menyadari apa yang berada disekelilingnya, kata para ulama karena dahsyatnya sakaratul maut, adapula yang mengatakan dan ini untuk orang – orang yang beriman mereka bahagia karena tidak lama lagi ia akan berjumpa dengan tuhannya, seseorang yang merasakan sakratul maut seperti orang yang mabuk namun tidak pingsan sebagaimana kondisi ketika terjadi hari kiamat yang digambarkan oleh Allah Subhanahu wata’ala:

يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَىٰ وَمَا هُمْ بِسُكَارَىٰ وَلَٰكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ

“(Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat kerasnya”. (QS. Al-Hajj : 2).

Diantara doa yang diajarkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam agar dimudahkan menghadapi sakratul maut:

اللهم هون علينا في سكرت الموت

“Ya Allah, permudahkanlah kami menghadapi sakaratul maut”. Semoga Allah Subhanahu wata’ala memudahkan kita pada saat sakratul maut dan menutup hidup kita dengan husnul khatimah.

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Selasa, 12 Syawal 1439 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR