بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

بَلْ عَجِبُوا أَنْ جَاءَهُمْ مُنْذِرٌ مِنْهُمْ فَقَالَ الْكَافِرُونَ هَٰذَا شَيْءٌ عَجِيبٌ

(Mereka tidak menerimanya) bahkan mereka tercengang karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri, maka berkatalah orang-orang kafir: “Ini adalah suatu yang amat ajaib“. (QS. Qaf : 02).

Yang dimaksud mereka tercengang adalah orang – orang kafir. Orang – orang yang mendustakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka keheranan ketika datang peringatan ditengah – tengah mereka dari apa – apa yang bisa membahayakan diri mereka dan juga apa – apa yang dapat mendatangkan manfaat untuk mereka dan yang diutus itu dari kaum mereka sendiri dimana mereka bisa mengambil ilmu dan qudwah darinya.

Orang – orang kafir ketika diutus Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ditengah – tengah mereka, mereka berkata:”Mengapa ada rasul yang makan seperti kita, yang berjalan dipasar seperti kita”, mereka menginginkan Nabi seperti malaikat yang diutus ditengah – tengah mereka dan pada ujungnya jika Nabi seperti malaikat diutus, mereka mengingkari dan tidak mengikutinya, mereka berkata:”Dia adalah malaikat tidak mungkin kita mengikutinya”, dan ketika Nabi kalangan manusia yang diutus kepada mereka, mereka mencari – cari alasan bahkan mereka keheranan dengannya, mereka heran mengapa ada Rasul dari kalangan manusia yang diutus ditengah – tengah kita memberi peringatan. Padahal diutusnya seorang Rasul ditengah mereka merupakan nikmat dari Allah Subhanahu wata’ala yang semestinya mereka bergembira namun mereka kufur dengan nikmat Allah Subhanahu wata’ala, adapun orang-orang yang beriman dari kalangan para sahabat mereka berbahagia dengan kedatangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka mengikuti dan mencintainya serta mengamalkan ajarannya bahkan ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah meninggal mereka bersedih karena terputus wahyu dari langit.  Sebagaimana yang terjadi kepada salah seorang sahabiyah yang bernama Barakah Ummi Aiman yang mengasuh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau masih kecil, beliau sering mengunjungi dan menziarahinya bersama dengan sahabat Abu Bakar as Shiddiq dan Umar ibn Khattab. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah meninggal, suatu hari Abu Bakar berkata kepada Umar:”Ya Umar mari kita mengunjungi Ummu Aiman untuk mengingat memori indah dulu ketika bersama dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam”, berangkatlah keduanya dan ketika sampai dirumah Ummu Aiman keduanya mendapati beliau dalam keadaan menangis, Abu Bakar mengatakan:”Mengapa anda larut dalam kesedihan seperti ini, kita semua bersedih dengan kepergian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam”, namun Ummu Aiman berkata:”Bukan itu yang membuat saya bersedih, yang membuat saya bersedih adalah dengan kematiannya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam maka telah terputus wahyu dari langit karena tidak ada lagi wahyu yang diturunkan setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam”.

Satu – satunya mu’jizat yang dipelihara sampai hari kiamat dan inilah kelebihan dari Al-Qur’an yang tidak sama dengan mu’jizat – mu’jizat yang lain karena terhenti dengan kematian pemiliknya, adapun Al-Qur’an akan dijaga oleh Allah Subhanahu wata’ala sampai hari kiamat, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya“. (QS. Al-Hijr : 9).

Ketika mereka keheranan mereka berkata:”Ini sesuatu yang mengherankan“, kemudian keheranan mereka bertambah begitupula pengingkarannya, mereka heran dengan perkara yang diingatkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tentang hari berbangkit, mereka berkata:”Ketika kita telah menjadi tanah karena mati dan dikubur kemudian menjadi tulang belulang yang berserahkan, Ini Nabi yang baru diutus mengatakan:”Kita akan dibangkitkan kembali, ini adalah sesuatu yang mustahil yang tidak mungkin terjadi”, inilah pengingkaran mereka dan Al-Qur’an menjelaskan hal tersebut.

Salah seorang yang bernama Al Ash ibn Wail datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan membawa tulang-belulang dengan kesombongan dan kepongahannya ia melemparkan dan mencampakkan tulang itu dihadapan Nabi dan berkata:”Ya Muhammad engkau mengatakan bahwa Allah akan menghidupkan dan mengumpulkan kembali tulang-belulang ini untuk dihisab pada hari kiamat”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata:”Ini akan kembali dibangkitkan, engkau akan dihidupkan dan berdiri dihadapan Allah dan engkau akan dimasukkan ke dalam neraka”, Turunlah firman Allah Subhanahu wata’ala:

وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَنَسِيَ خَلْقَهُ ۖ قَالَ مَنْ يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنْشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ

Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?”, Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk“. (QS. Yasin : 78-79).

Manakah yang sulit menciptakan sesuatu yang dahulu sudah pernah ada atau mengadakan sesuatu yang sebelumnya belum pernah ada, tentu lebih mudah menciptakan sesuatu yang dulu sudah pernah ada. Jadi lebih mudah bagi Allah untuk menghidupkan kembali hambanya yang dahulu pernah ada. Orang – orang kafir mengingkari hal ini, makanya inilah nikmat yang Allah berikan kepada kita yaitu keimanan terhadap hari akhirat, hari berbangkit dan inipula yang senantiasa kita ingatkan terhadap diri kita agar berhati – hati karena kelak kita akan berdiri dihadapan Allah Subhanahu wata’ala dan mempertanggung jawabkan semua apa yang kita lakukan didunia. Adapun orang yang tidak beriman kepada hari akhirat mereka berbuat seenaknya dan menjadikan dunia ini sebagai tujuan utamanya atau menjadikan dunia ini sebagai surga bagi mereka sehingga mereka tidak peduli lagi mana yang halal dan yang haram. Adapun kita sebagai orang mukmin kita menganggap dunia adalah ujian, kesempatan bagi kita untuk diuji oleh Allah Subhanahu wata’ala adapun pada hari kiamat marupakan hari pembalasan.

Oleh karenanya kita mempersiapkan diri untuk menghadapi hari akhirat dan Al-Qur’an telah mengajarkan kepada kita untuk mempersiapkan diri dan mengumpulkan bekal sebelum kita kembali kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Selasa, 06 Ramadhan 1439 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR