بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

۞ قَالَ قَرِينُهُ رَبَّنَا مَا أَطْغَيْتُهُ وَلَٰكِنْ كَانَ فِي ضَلَالٍ بَعِيدٍ

“Yang menyertai dia berkata (pula):”Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkannya tetapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh”. (QS. Qaf : 27).

Pada ayat ini qarin yang dimaksud adalah dari kalangan Syaithan atau Jin yang selalu membersamainya dan menyesatkannya, pada hari kiamat Syaithan akan berlepas diri dari orang yang pernah dia sesatkan dengan berkata:”Tugas saya telah selesai, saya telah menyesatkanmu dan silahkan engkau mengurus dirimu sendiri dan saya berlepas diri darimu”, orang-orang yang telah disesatkan oleh Syaithan menuntut pada hari kemudian dan yang paling pertama ia tuntut adalah Syaithan dengan berkata:”Ya Rabb dia yang telah menyesatkan saya”. Sebagian ulama tafsir ada yang mengatakan:”Bahwasanya dia menuntut malaikat dengan berkata:”Ya Rabb malaikat ini yang mencatat amalanku terlalu tergesa – gesa setelah saya melakukan dosa dia langsung menulisnya padahal boleh jadi saya bertaubat“, namun pendapat yang kuat sebagaimana diperkuat dalam surah Ibrahim:

وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الْأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ ۖ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلَّا أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي ۖ فَلَا    تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنْفُسَكُمْ ۖ مَا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ ۖ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِنْ قَبْلُ ۗ إِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu”. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih. (QS. Ibrahim : 22).

Allah telah memberikan janji yang haq kepada hambanya yang beriman seperti :Siapa yang melangkahkan kakinya pergi sholat sekian pahalanya, siapa yang menyambung tali silaturrahim sekian pahalanya, siapa yang mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran sekian pahalanya, siapa yang bersedekah dan menyantuni anak yatim sekian pahalanya, siapa yang membaca Al-Qur’an sekian pahalanya dan siapa yang qiyamullail sekian pahalanya, janji yang haq dari Allah Subhanahu wata’ala, adapun janji Syaithan berupa tipuan karena Syaithan banyak menipu manusia, Syaithan menjanjikan dengan mempertakut – takuti orang yang rajin berinfak dengan kemiskinan, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلا وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat buruk (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui“. (QS. Al-Baqarah: 268). Ibnu Katsiir Rahimahullah berkata tentang firman Allah Ta’ala tersebut:”Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan“, maksudnya: ia menakut-nakuti kalian dengan kefakiran supaya kalian tetap menggenggam tangan kalian, sehingga tidak menginfakkanya dalam keridhaan Allah Subhanahu wata’ala.

Inilah yang banyak dipercaya oleh manusia dibandingkan dengan janji Allah Subhanahu wata’ala yang disebutkan dalam Al-Qur’an, mereka lebih percaya kepada janji Syaithan sehingga mereka tidak memberi karena takut dengan kemiskinan dan kefakiran.

Kemudian Syaithan berkata:”Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkannya tetapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh”, Jadi Syaithan hanya menggoda manusia untuk melakukan perbuatan dosa dan maksiat tanpa paksaan, adapun pilihan untuk melakukan dosa atau tidak melakukan dosa tersebut kembali kepada orang itu sendiri sehingga Syaithan membantah bahwa bukan dia yang menyesatkannya. setelah itu Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

قَالَ لَا تَخْتَصِمُوا لَدَيَّ وَقَدْ قَدَّمْتُ إِلَيْكُمْ بِالْوَعِيدِ

“Janganlah kamu bertengkar di hadapan-Ku, padahal sesungguhnya Aku dahulu telah memberikan ancaman kepadamu”. (QS. Qaf : 28).

Ini sekaligus bantahan kepada orang – orang yang menyalahkan takdir, terkadang ketika kita mendakwahi seseorang, ia berkata:”Jangan mengurus diriku jika nanti saya mendapatkan hidayah dan takdir menjadi orang baik maka saya akan menjadi orang yang baik”, dia berhujjah dengan takdir, oleh karenanya ketika seorang pencuri dibawa kepada Umar Radhiyallahu ‘anhu kemudian dihukum dengan potong tangan, ia berkata:”Ya Amirul mukminin saya mencuri karena takdir”, Umar berkata:”Dan akupun memotong tanganmu karena takdir”, Jadi jangan berhujjah dengan takdir sebelum terjadi karena Allah telah menunjukkan jalan kepada kita.

Allah Subhanahu wata’ala tidak menghukum seorang hamba dari perbuatan yang ia tidak memiliki kuasa didalamnya seperti masuk waktu sholat kemudian ketiduran maka orang yang tidur tidak dianggap lalai karena ini luar pilihannya, adapun yang dihukum pada hari kemudian adalah perbuatan yang didalamnya ada pilihan. Jadi kita tidak boleh berhujjah dengan takdir, dengan berkata:”Jika nanti saya ditakdirkan menjadi orang sholeh maka saya akan menjadi orang sholeh”, kemudian dia tidak mencari hidayah tersebut padahal ketika ia lapar dia tidak berkata:”Jika saya ditakdirkan menjadi kenyang maka saya akan kenyang”, justru ia pergi mencari rumah makan.

Andaikan kita tidak jujur menerapkan qaidah ini maka terapkan semua dalam kehidupan kita, ketika sakit jangan berobat dan katakan:”Andaikan saya ditakdirkan sembuh dan sehat maka saya akan sehat”, olehnya harus ada usaha,

Pada hari kemudian tidak ada lagi hujjah dihadapan Allah kecuali Ahlu Fatrah, seperti orang gila, anak – anak orang kafir yang meninggal sebelum baligh, ada yang mengatakan mereka dimasukkan ke dalam neraka, ada yang mengatakan mereka langsung dimasukkan ke dalam surga, ada yang mengatakan ikut kepada orang tuanya dan seterusnya, adapun selain itu tidak ada hujjah bagi mereka dihadapan Allah Subhanahu wata’ala, sampai ketika ia menyalahkan syaithan dan syaithan pun berlepas diri darinya. Selanjutnya Allah Berfirman:

مَا يُبَدَّلُ الْقَوْلُ لَدَيَّ وَمَا أَنَا بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ

“Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku”. (QS. Qaf : 29).

Ketika mereka digiring menuju neraka jahannam, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَسِيقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَىٰ جَهَنَّمَ زُمَرًا ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَاءُوهَا فُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَتْلُونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِ رَبِّكُمْ وَيُنْذِرُونَكُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَٰذَا ۚ قَالُوا بَلَىٰ وَلَٰكِنْ حَقَّتْ كَلِمَةُ الْعَذَابِ عَلَى الْكَافِرِينَ

Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?” Mereka menjawab: “Benar (telah datang)”. Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir“. (QS. Az – Zumar : 71).

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

يَوْمَ نَقُولُ لِجَهَنَّمَ هَلِ امْتَلَأْتِ وَتَقُولُ هَلْ مِنْ مَزِيدٍ

“(Dan ingatlah akan) hari (yang pada hari itu) Kami bertanya kepada jahannam: “Apakah kamu sudah penuh?” Dia menjawab: “Masih ada tambahan?”. (QS. Qaf : 30).

Apakah engkau sudah penuh..? mengapa Allah Subhanahu wata’ala berkata kepada neraka jahannam seperti itu karena Allah telah memberi janji kepada neraka jahannam bahwasanya ia akan dipenuhi oleh manusia dan jin sehingga setiap kali neraka jahannam ditanya:”Apakah kamu sudah penuh“, neraka jahannam berkata:”Masih ada tambahan”. Semoga Allah Subhanahu wata’ala menyelamatkan kita dan merahmati kita dari neraka jahannam, diantara doa ibadurrahman:

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ ۖ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا إِنَّهَا سَاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا

Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal, Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman“. (QS. Furqan : 65-66).

Neraka jahannam disebutkan didalam Al-Qur’an ditarik oleh 70.000 malaikat dengan 70.000 rantai dan setiap rantai ditarik oleh 70.000 malaikat. Dari Ibnu Mas’ud Radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

يُؤتى بالنارِ يومَ القيامةِ لها سبعون ألفَ زمامٍ مع كلِّ زمامٍ سبعون ألفَ ملَكٍ يجرُّونَها

Neraka (Jahannam) pada hari kiamat akan didatangkan, ia memiliki 70.000 tali. Pada setiap talinya terdapat 70.000 malaikat yang menariknya”. (HR. Muslim no: 2842).

sehingga ketika neraka jahannam telah melihat orang – orang kafir dari kejauhan ia semakin berkobar tidak lagi sabar menunggu kedatangan mereka. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

إِذَا رَأَتْهُمْ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ سَمِعُوا لَهَا تَغَيُّظًا وَزَفِيرًا

Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar kegeramannya dan suara nyalanya“. (QS. Al-Furqan:12). 

Wallahu a’lam Bish Showaab 

 

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR