بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

أَإِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا ۖ ذَٰلِكَ رَجْعٌ بَعِيدٌ

Apakah kami setelah mati dan setelah menjadi tanah (kami akan kembali lagi)?, itu adalah suatu pengembalian yang tidak mungkin”. (QS. Qaf : 3).

Mereka mengingkari hari berbangkit, mereka mengingkari hari akhirat, mereka berkata:”Ini adalah kehidupan kita didunia, kita hidup kemudian mati dan setelah itu tidak mungkin lagi kita akan dibangkitkan”, mereka mengkiaskan kekuatan Allah Subhanahu wata’ala yang maha kuasa dan sempurna dari semua sisi dengan kemampuan seorang hamba yang lemah yang penuh dengan kelemahan, mereka membandingkan antara orang yang jahil yang tidak memiliki pengetahuan dengan Allah Subhanahu wata’ala yang maha mengetahui, seperti yang telah kita sebutkan sebelumnya seorang yang datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan kepongahannya dan kesombongannya membawa tulang belulang lalu ia lemparkan dihadapan Rasulullah sambil berkata:”Siapa yang mampu menyatukan tulang belulang yang berserakan ini“, Allah menjawab:”Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk“. (QS. Yasin : 79). Oleh karenanya dalam hadist Qudsi Allah Subhanahu wata’ala berfirman:”Aku telah diganggu oleh anak cucu Adam”, mereka mengganguku kata Allah Subhanahu wata’ala setelah mereka mengatakan:”Allah tidak mampu menghidupkan mereka setelah Allah mematikan mereka“, padahal tidaklah sulit bagi Allah untuk mengadakan yang sebelumnya telah ada daripada mengadakan sesuatu yang belum pernah ada, semua kita belum pernah ada lalu diadakan oleh Allah Subhanahu wata’ala. Pada ayat selanjutnya Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

قَدْ عَلِمْنَا مَا تَنْقُصُ الْأَرْضُ مِنْهُمْ ۖ وَعِنْدَنَا كِتَابٌ حَفِيظٌ

Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang dihancurkan oleh bumi dari (tubuh-tubuh) mereka, dan pada sisi Kamipun ada kitab yang memelihara (mencatat)”. (QS. Qaf : 4).

Syaikh As Sa’diy Rahimahullah mengatakan:”Bahkan Allah Subhanahu wata’ala tahu tentang tubuh mereka yang ada dalam kubur – kubur mereka, hancurnya kulit – kulit mereka, daging – daging mereka, tulang belulang mereka dan rambut – rambut mereka, Allah Subhanahu wata’ala maha tahu. Allah tidak akan pernah keliru membangkitkan mereka dihari kemudian, telah ditentukan oleh Allah Subhanahu wata’ala tidak ada yang mampu menyentuhnya dan merubahnya semua yang berlangsung terhadap mereka tentang kehidupan dan dalam kematian mereka“. Ini menunjukkan kesempurnaan ilmu Allah Subhanahu wata’ala juga menunjukkan kekuasaan Allah Subhanahu wata’ala untuk menghidupkan yang telah mati, Allah Subhanahu wata’ala menunjukkan kepada kita bagaimana ia kuasa untuk menghidupkan kembali orang – orang yang telah meninggal, didalam Al-Qur’an ada banyak cara diantaranya seperti yang disebutkan dalam surah Qaf ayat 11:

رِزْقًا لِلْعِبَادِ ۖ وَأَحْيَيْنَا بِهِ بَلْدَةً مَيْتًا ۚ كَذَٰلِكَ الْخُرُوجُ

Untuk menjadi rezeki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebangkitan“. (QS. Qaf : 11).

Jika kita membaca dalam Al-Qur’an penjelasan Allah Subhanahu wata’ala tentang bagaimana Allah menghidupkan hambanya setelah ia dimatikan pada hari kemudian, Allah memberikan permisalan dengan bumi yang mati kemudian Allah menurunkan hujan dan ditumbuhkanlah bumi yang mati tersebut dari tumbuh – tumbuhan sehingga menjadi hijau yang sebelumnya berupa bumi yang tandus, kering dan gersang. Begitulah cara Allah Subhanahu wata’ala akan menghidupkan kita, didalam Al-Qur’an dijelaskan kepada kita akan kekuasaan Allah menghidupkan orang – orang yang telah mati dihari kemudian bahwa itu adalah sesuatu yang mudah bagi Allah Subhanahu wata’ala dengan mengingatkan kita tentang penciptaannya yang lain seperti penciptaan langit dan bumi. Penciptaan langit dan bumi lebih besar dibandingkan dengan penciptaan manusia, jika saja Allah Subhanahu wata’ala maha kuasa menciptakan langit dan bumi apalagi menghidupkan manusia yang kecil dan kerdil dan itu sedikitpun tidak sulit bagi Allah Subhanahu wata’ala, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَوَاتٍ طِبَاقًا مَا تَرَى فِي خَلْقِ الرَّحْمَنِ مِنْ تَفَاوُتٍ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَى مِنْ فُطُورٍ (3) ثُمَّ ارْجِعِ الْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنْقَلِبْ إِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِئًا وَهُوَ حَسِيرٌ (4) وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيرِ (5)

“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?” Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah. Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala”. (QS. Al Mulk: 3-5).

Inilah semua yang diingkari oleh orang – orang kafir sehingga mereka menjadikan dunia ini sebagai surga baginya, mereka hidup tanpa batas, mereka memuaskan hawa nafsunya sebagaimana hewan ternak makan dan minum, mereka tidak membedakan mana yang halal dan mana yang haram, mana yang baik dan mana yang buruk karena mereka tidak beriman kepada hari akhirat, mereka tidak beriman dengan hari berbangkit, mereka tidak beriman dengan hari pembalasan, adapun kita setiap sholat membaca surah Al-Fatihah Maliki yaumiddin: Artinya:”Yang menguasai hari pembalasan“, sehingga kita mempersiapkan diri kita pada hari pembalasan tersebut, hari ketika kita mempertanggung jawabkan apa yang kita lakukan didunia. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (8

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatansekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula”. (QS. Al Zalzalah: 7-8).

Allah tidak akan mendzalimi hambanya walaupun sebesar dzarrah, Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ ۖ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا

Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar“. (QS. An Nisa : 40).

Secara akal tentang hari berbangkit, Allah menciptakan kita secara berbeda-beda, ada kaya, miskin, jelek, tampan, hitam, putih dzalim dan di dzalimi hal ini terjadi didunia, oleh karenanya apakah setelah mati tidak ada apa-apa yang akan terjadi, ini tidak menunjukkan keadilan, keadilan Allah Subhanahu wata’ala adalah dengan adanya hari pembalasan, Orang yang dzalim akan dibalas sesuai dengan kedzaliman yang pernah ia lakukan, begitupula dengan orang yang terdzalimi ia akan mengambil haknya pada hari kemudian. Andaikan tidak ada yang demikian maka tidak adil hidup didunia ini dan inilah makna dan pengaruh ketika kita beriman dengan hari kemudian.

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Rabu, 07 Ramadhan 1439 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR