بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

هَٰذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٍ

“Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya)”. (QS. Qaf : 32).

Adapun حَفِيظٍ, Syaikh Abdurrahman as Sa’diy Rahimahullah mengatakan:“Ia senantiasa menjaga apa yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wata’ala, menjalankannya dengan penuh keikhlasan dan menyempurnakannya dengan secara sempurna”. Jadi bukan hanya sekedar menggugurkan kewajiban akan tetapi benar – benar menjaga perintah Allah Subhanahu wata’ala. حَفِيظٍ juga adalah menjaga batasan – batasan Allah Subhanahu wata’ala, menjaga dirinya agar tidak terjatuh dari hal – hal yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wata’ala bahkan pada perkara subhat sekalipun.

Al hafidz Ibnu Rajab al Hambali Rahimahullah menyebutkan dalam kitabnya jami’ al ulum wal hikam:”Sifat ketakwaan itu terus dimiliki oleh orang – orang yang bertakwa, mereka banyak meninggalkan perkara – perkara yang halal karena mereka takut jangan sampai terjatuh pada perkara yang haram”. Perkara yang jelas – jelas halal sebagaimana Abu Bakar as Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu ketika suatu hari beliau diberi makanan oleh pembantunya atau hamba sahaya yang beliau miliki, beliau makan makanan tersebut sebagaimana kebiasaan beliau setiap harinya, setelah selesai makan, pembantunya bertanya:”Apakah anda tahu darimana sumber makanan itu.?“, Abu Bakar bertanya:”Dari mana engkau dapatkan“, ia menjawab:”Saya dahulu dizaman Jahiliyah seorang dukun dan dari praktek perdukunan itu saya mengambil harta orang dan masih tersisa dan diantaranya ini yang saya gunakan untuk memberikan anda makanan”, sebagian ulama mengatakan Abu Bakar As Shiddiq sudah terlepas dari dosa, yang pertama: islam telah menghapuskan dosa – dosa beliau sebelumnya, yang kedua: beliau memakan makanan tersebut tanpa ia tahu-menahu dan Allah mengangkat dosa dari ketidaktahuan dan kejahilan. Apa yang beliau lakukan apakah seperti yang dilakukan oleh sebagian orang  zaman sekarang yang mengatakan:”Haram susah apalagi yang halam sehingga mencampur adukkan antara yang halal dengan yang haram”, dia lupa hadist Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

أَيُّمَا لَحْمٍ نَبَتَ مِنَ الْحَرَامِ فَالنَّارُ أَوْلَى لَهُ

“Daging mana saja yang tumbuh dari sesuatu (makanan) yang haram, maka neraka lebih pantas (sebagai tempat tinggal, pent) baginya”.

Anggota tubuh yang paling cepat membusuk dari anak cucu Adam ketika dikuburkan adalah perutnya, barangsiapa yang tidak mampu memasukkan kecuali yang halal dan yang baik lakukanlah.

Setelah mendengar apa yang diucapkan oleh pembantunya Abu Bakar as Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu langsung memasukkan tangannya dan memuntahkan semua apa yang beliau telah makan, sampai – sampai orang yang melihat beliau kasihan dan berkata Rahimakallah (semoga Allah merahmati anda wahai Abu Bakar, mengapa anda sampai seperti ini.?, Abu bakar berkata:”Demi Allah andaikan makanan itu tidak keluar kecuali dengan keluarnya ruh ku atau nyawaku saya tidak akan berhenti sampai semua makanan itu keluar dari perutku”. Inilah sifat dan ciri orang – orang yang bertakwa dan ternyata khudwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah mencontohkan hal tersebut, dimana beliau pernah begadang dimalam hari (tidak bisa tidur) diceritakan oleh istrinya beliau tidak bisa tidur dimalam hari, yang membuat beliau tidak bisa tidur dimalam hari yaitu ketika memakan sebuah kurma yang ada dirumah beliau dan belum bertanya sumbernya dari mana, apakah ia berupa sedekah atau hadiah, jika berupa hadiah maka halal bagi beliau namun jika sedekah maka haram bagi beliau, inilah yang membuat Rasulullah tidak bisa tidur dimalam hari.

Diantara sifat orang yang bertakwa adalah meninggalkan perkara yang halal karena takut terjatuh dalam hal yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wata’ala dan inilah yang kurang di zaman sekarang dan ini pula salah datu ciri dari hari kiamat kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ أَمِنْ حَلَالٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ

“Akan datang suatu masa pada umat manusia, mereka tidak lagi peduli dengan cara untuk mendapatkan harta, apakah melalui cara yang halal ataukah dengan cara yang haram”. (HR. Bukhari).

Oleh karenanya pantaslah pada hari kemudian beliau dimuliakan oleh Allah Subhanahu wata’ala dan didekatkan surga kepadanya kemudian dikatakan kepadanya:

هَٰذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٍ

“Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya)”. (QS. Qaf : 32). dan dipertegas pada ayat selanjutnya: (Bersambung).

Wallahu a’lam Bish Showaab 

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.