بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

هَٰذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٍ

Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya)“. (QS. Qaf : 32).

Syaikh Abdurrahman as Sa’diy Rahimahullah berkata:”Maksudnya surga dan segala sesuatu yang ada didalamnya yang di idam – idamkan oleh setiap jiwa, mata, bahagia ketika melihatnya, berlezat – lezat memandangnya yang Allah siapkan kepada orang – orang yang senangtiasa kembali kepadanya dalam setiap waktu, yang senantiasa mengingat Allah dan cinta kepadanya, meminta pertolongan darinya dan berdoa kepadanya serta takut kepadanya, yang senantiasa berharap darinya”. Jadi pada hari kiamat surga didekatkan kepada orang – orang yang bertakwa.

Walaupun ulama tafsir seperti Imam Hafidz Ibnu Katsir Rahimahullah menyebutkan penggalan yang terakhir dari ayat 31 غَيْرَ بَعِيدٍ maksudnya disini yaitu surga didekatkan kepada orang – orang yang bertakwa pada hari kiamat yang mana hari kiamat adalah sesuatu yang dekat. Qaidah:“Sesuatu yang pasti datangnya adalah dekat”.

Hari kiamat adalah sesuatu yang dekat, semua kita adalah ummat akhir zaman dan datangnya hari kiamat hanya Allah Subhanahu wata’ala yang mengetahui karena tak satupun yang diberitahu akan datangnya hari kiamat bahkan malaikatpun tidak tahu, ketika jibril bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:”Kapan datangnya hari kiamat”, Rasulullah menjawab:”Tidaklah yang ditanya lebih tahu dari yang bertanya”, maksudnya anda dan saya sama – sama tidak tahu, oleh karenanya jangan kita terlalu menta’wilkan, menafsirkan sampai kemudian mencocok – cocokkan dan hal ini telah banyak terjadi diwaktu yang lalu dimana orang – orang berusaha mencocok – cocokkan dan ternyata tidak benar, akhirnya tanda – tanda yang seperti ini menjadi permainan bagi sebagian orang yang tidak bertanggung jawab. Kita tidak mengingkari bahwasanya tanda-tandanya telah nampak ada yang jelas namun kita perlu berhati – hati agar tidak terlalu terburu – buru.

Adapun yang shahih tentang pembahasan ini adalah surga memang didekatkan kepada orang – orang yang bertakwa sebagai bentuk penghormatan kepada mereka kemudian dikatakan inilah yang dijanjikan untuk kalian bagi setiap hamba yang kembali atau ruju kepada Allah Subhanahu wata’ala dan ini bisa dipahami bahwasanya bukanlah syarat bagi orang yang bertakwa tidak pernah terjatuh dalam perbuatan dosa karena Allah Subhanahu wata’ala berfirman:”Yang senantiasa kembali kepada Allah Subhanahu wata’ala“, yang senantiasa memperbaharui janjinya dengan Allah Subhanahu wata’ala yang mana ketika ia tergelincir dan terjatuh dalam perbuatan dosa ia segera mengingat Allah Subhanahu wata’ala dan kembali kepadanya. Jadi tidak menjadi syarat bahwa orang yang bertakwa tidak pernah terjatuh dalam dosa. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ

“Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertaubat”.

Dalam ayat lain Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

سَابِقُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

“Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar”. (QS. Al-Hadid : 21).

Ciri-ciri mereka adalah orang – orang yang ketika melakukan perbuatan keji atau dzalim kepada diri mereka sendiri mereka segera ingat kepada Allah Subhanahu wata’ala, dalam ayat yang lain Allah berfriman:

إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya“. (QS. Al-A’raf : 201).

Inilah makna dari awwab yang senantiasa memperbaharui dirinya atau yang senantiasa bermuhasabah, misalkan ia tidak melakukan kemaksiatan akan tetapi dia merasa bahwasanya ia sangat kurang dalam menunaikan hak – hak Allah seperti meninggalkan amalan – amalan yang sifatnya sunnah atau terjatuh dalam perbuatan yang makruh walaupun tidak ada dosa didalamnya ia meninggalkan semua hal tersebut dan kembali kepada tuhannya serta bertaubat dari hal – hal demikian.

Sebagaimana yang dilakukan oleh salah seorang sahabat yang bermana Imran ibn Husain beliau pernah terkena penyakit, penyakitnya agak parah dan beliau alami dalam kurun waktu yang panjang yaitu sekitar 40 tahun, setiap harinya beliau dijenguk oleh malaikat dan malaikat memberi salam kepadanya, namun ketika beliau berobat dengan menggunakan Al kay (Besi panas) yang digunakan sebagai alternatif terakhir dalam pengobatan yang dihukumi sebagai pengobatan makruh akan tetapi dibolehkan dan setelah beliau menggunakan pengobatan Al Kay beliau tidak lagi di jenguk oleh malaikat hal itu disampaikan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada beliau, akhirnya beliau meninggalkan Al Kay ia bertaubat dari perbuatan tersebut sehingga malaikat kembali menjenguknya.

Jadi ia kembali kepada tuhannya sampai dalam perbuatan nafsu, amalan sholeh dan ibadah wajib. Ia senantiasa selalu muhasabah apakah sudah sesuai yang diinginkan oleh Allah Subhanahu wata’ala atau tidak. Allah Subhanahu wata’ala memuji orang – orang yang seperti ini bahkan memuji beberapa Nabinya dengan sifat awwab, sebagaimana pujian Allah Subhanahu wata’ala kepada Nabi Daud begitupula pujian Allah kepada Nabi Sulaiman. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَوَهَبْنَا لِدَاوُودَ سُلَيْمَانَ ۚ نِعْمَ الْعَبْدُ ۖ إِنَّهُ أَوَّابٌ

“Dan Kami karuniakan kepada Daud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya)”. (QS. Sad : 30).

Orang – orang yang bertakwa kepada Allah Subhanahu wata’ala yang senantiasa kembali kepada tuhannya bahkan ketika kakinya tergelincir dia tidak mudah dibuat putus asa. Syaithan akan selalu datang kepada kita terutama kepada orang – orang yang terjatuh dalam perbuatan dosa dan maksiat, terkadang syaithan datang dan berkata:”Anda ini mempermain-mainkan taubat jika kondisi anda seperti ini mending tidak usah bertaubat, tunda dulu bertaubat karena engkau mempermain – mainkan tuhanmu”.Padahal dalam hadist qudsi ketika seorang hamba melakukan perbuatan dosa kemudian bertaubat kepada Allah Subhanahu wata’ala maka dosanya diampuni, Allah berfirman:

أَذْنَبَ عَبْدٌ ذَنْبًا ، فَقَالَ: اَللَّهُمَّ اغْفِرْلِيْ ذَنْبِيْ. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَذْنَبَ عَبْدِيْ ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ . ثُمَّ عَادَ فَأَذْنَبَ ، فَقَالَ: أيْ رَبِّ اغْفِرْ لِيْ ذَنْبِيْ. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: عَبْدِيْ أَذْنَبَ ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ . ثُمَّ عَادَ فَأَذْنَبَ ، فَقَالَ: أيْ رَبِّ اغْفِرْ لِيْ ذَنْبِيْ. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَذْنَبَ عَبْدِيْ ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ ، اِعْمَلْ مَا شِئْتَ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكَ .

Seorang hamba mengerjakan dosa kemudian berkata:”Ya Allah, ampunilah aku”, Allah Azza wa Jalla berfirman:”Hamba-Ku mengerjakan dosa dan ia tahu bahwa ia mempunyai Rabb yang mengampuni dosa dan menyiksa karenanya”. Kemudian hamba tersebut berbuat dosa lagi, lalu berkata:”Wahai Rabbku, ampunilah dosaku”. Allah Azza wa Jalla berfirman:”Hamba-Ku berbuat dosa dan ia tahu bahwa ia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menyiksa karenanya”, Kemudian hamba tersebut berbuat dosa lagi, lalu berkata:”Wahai Rabbku, ampunilah dosaku.’ Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman”, Hambaku berbuat dosa dan ia tahu bahwa ia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menyiksa karenanya, berbuatlah sesuka engkau, Aku telah mengampunimu“. (HR. Al-Bukhari (no. 7507) dan Muslim (no. 2758).

Hadist ini tidak dipahami untuk bermudah – mudahan atau sengaja melakukan dosa. Ia meninggalkan dosa tersebut walaupun dikemudian hari ia kembali terjatuh dalam dosa tersebut, ia terus memperbaharui taubatnya kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Wallahu a’lam Bish Showaab 

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.