بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya”. (QS. Qaf : 36).

Hati yang hidup, yang cerdas, yang suci dan bersih, hati yang seperti ini segera mengambil pelajaran dan segera mengingat kepada Allah Subhanahu wata’ala, mengambil pelajaran sebagaimana contoh yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wata’ala yaitu orang – orang yang memiliki hati tapi tidak sekedar memiliki hati, namun hatinya harus hidup, bersih, adapun hati yang kotor dia tidak bisa mengambil manfaat dari tanda – tanda kebesaran yang diperlihatkan oleh Allah Subhanahu wata’ala.

Zaman ini orang – orang banyak yang sudah terbiasa dengan musibah yang terjadi sehingga dianggap sebagai hal yang biasa, olehnya musibah yang paling besar adalah ketika seseorang terbiasa dengan musibah sehingga ia tidak lagi menggambil pelajaran dan kembali kepada Allah, ketika diuji dengan musibah barulah ia merasa diuji padahal Allah Subhanahu wata’ala mengirimkan musibah itu disekelilingnya dan boleh jadi esok hari menimpa mereka. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

“Dan tidaklah kami memperlihatkan tanda – tanda  kebesaran kami kecuali untuk mempertakut – takuti mereka”, orang yang mengambil manfaat dari peristiwa yang seperti ini adalah yang menghadirkan hatinya dan menghidupkan hatinya dan kemudian selanjutnya ia mendengarkan dengan baik kemudian menyimak agar ia tidak mendengar begitu saja.

Seseorang mengambil faedah dari ayat – ayat Allah atau tanda – tanda kebesaran Allah yang diperlihatkan oleh Allah Subhanahu wata’ala dengan 3 syarat diantaranya:

  1. Hati yang hidup
  2. Menghadirkan hati, ada orang yang hatinya hidup karena ia lalai maka ia tidak mengambil faedah dan manfaat dari apa yang dia dengar, sebagai contoh orang yang hadir dimajelis ilmu menunjukkan hati mereka hidup akan tetapi ketika ia sibuk dengan hal yang lain boleh jadi ia tidak mendapatkan faedah dan manfaat dari apa yang disampaikan, oleh karenanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memberi contoh ketika seseorang mendengarkan khutbah jum’at:

    وَمَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَى

    “Dan barangsiapa yang menyentuh (memainkan) kerikil maka ia telah berbuat sia-sia”. (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu)

    Padahal mungkin hatinya hidup namun karena disibukkan dengan perkara yang lain maka ia tidak mengambil pelajaran dengan maksimal, inilah mengapa Allah Subhanahu wata’ala mengingatkan kepada kita pada saat membaca Al-Qur’an atau mendengarkan Al-Qur’an, Allah berfirman:

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat”. (QS. Al-A’raf : 204).

Ketika dalam suatu kata ada tambahan hurufnya maka hal itu menunjukkan tambahan maknanya, jadi ketika Allah mengatakan:

فَاسْتَمِعُو

“Maka dengarkanlah baik-baik”.

Tidak sekedar dikatakan fasma’u menunjukkan bahwasanya orang yang mengambil manfaat ketika Al-Qur’an dibacakan adalah orang yang mendengarnya dengan baik dan tidak hanya itu akan tetapi juga menyimak dengan baik, kadang seseorang mendengarkan bacaan Al-Qur’an namun dia sibuk dengan kegiatan – kegiatan yang lain, seperti seseorang yang mengerjakan tugasnya sambil mendengarkan murottal Al-Qur’an, atau misalkan  seorang ibu atau akhwat sementara memasak di dapur ia menyetel bacaaan Al-Qur’an dan seterusnya, tentu ia tidak maksimal dalam mengambil faedah dan manfaat dari apa yang ia dengarkan, begitu halnya ketika dimobil kemudian mendengarkan ceramah maka manfaat dan faedah yang didapatkan dari ceramah tersebut hanya sekitar 30 % saja, mengapa demikian karena konsentrasinya pecah pada hal yang lain, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

مَا جَعَلَ اللَّهُ لِرَجُلٍ مِنْ قَلْبَيْنِ فِي جَوْفِهِ

“Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya”. (QS. Al-Ahzab : 4).

Jadi yang mengambil pelajaran dari ayat – ayat Allah Subhanahu wata’ala yang memiliki hati yang ia hadirkan kemudian hatinya bersih tidak seperti dengan hati orang – orang kafir yang Allah Subhanahu wata’ala telah kunci mati, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ

“Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar)”. (QS. Al-Baqarah : 18).

Allah telah mengunci hati mereka, jadi apa yang mereka dengarkan tidak bermanfaat sedikitpun karena hatinya telah mati. Banyak manusia yang ketika dibacakan ayat – ayat Al-Qur’an kepadanya tidak berpengaruh sedikitpun dalam hatinya.

  1. Ia mendengarkan dengan seksama

Ia menghadirkan hatinya sehingga ia mengambil pelajaran diri apa yang Allah Subhanahu wata’ala perlihatkan kepadanya. Syaikh Abdurrahman As Sa’diy Rahimahullah mengatakan:”Oleh karena itu barangsiapa yang memasang pendengarannya dengan baik terhadap ayat – ayat Allah Subhanahu wata’ala dan ia mendengarnya dengan Istimaan (mendengarkan dengan berusaha mengambil faedah darinya) dan ia menghadirkan hatinya maka hal itu akan menjadi peringatan baginya, akan menjadi nasehat baginya, akan menjadi penyembuh baginya dan akan menjadi petunjuk baginya. Sebaliknya adapun orang yang berpaling dari ayat – ayat Allah yang tidak menyimak dan mendengarkan dengan baik maka tidak akan bermanfaat untuknya sedikitpun karena ia tidak menerimanya dengan baik dan ia tidak mengambil hikmah dan petunjuk bagi orang – orang yang berada dalam kondisi dan keadaannya seperti ini”.

Hati merupakan perkara yang sangat penting yang berusaha kita perhatikan dengan baik karena ia adalah merupakan sumber kebaikan diri – diri kita sebagaimana dari An Nu’man bin Basyir Radhiyallahu ‘anhuma, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)”. (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

Dinukil dari sebagian murid Syaikh bin Baz Rahimahullah diantara doa yang paling banyak beliau baca bahkan beliau pernah tawaf keliling ka’bah atau ketika wukuf di padang arafah hanya doa ini yang terus beliau baca: “Allahummaa aslih fasada Qalbi” artinya “Ya Allah Perbaikilah Hatiku yang Rusak”. Jika hati telah rusak maka tidak ada kebaikan pada anggota tubuh yang lain sebagaimana kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah:”Hati adalah raja dari seluruh anggota tubuh, jika rajanya baik maka baik pula seluruh prajuritnya dan jika rajanya buruk maka seluruh anggota dan prajuritnya juga menjadi buruk”, jaga hati kita dengan baik dan senantiasa muhasabah diri – diri kita, Allah berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”. (QS. Asy-Syams : 9-10).

Sampai Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam diantara doa yang sering beliau baca:

يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agamaMu”.

اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

(Ya Allah yang memalingkan (membolak-balikkan) hati manusia, palingkanlah hati kami di atas ketaatan kepada-Mu).

Wallahu a’lam Bish Showaab 

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.