بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Senjata yang paling utama yang harus dimiliki oleh seorang dai adalah harus dekat dengan Allah Subhanahu wata’ala karena amanah dan tugas menjadi seorang dai sangat berat, ketika Allah hendak menurunkan wahyu kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, Allah menyuruh Nabi untuk banyak melakukan Qiyamullail, mengapa demikian karena Allah berfirman:

إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا

“Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan (wahyu) yang berat”. (QS. Al-Muzzammil : 5).

Jadi Allah Subhanahu wata’ala berkata:”bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya), Tasbih artinya At Tanzih artinya mensucikan Allah dari segala bentuk aib, diakhir surah Az-Zumar Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ

“(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya”. (QS. Al-Mukmin : 7).

Malaikat- malaikat yang memikul arsy dan malaikat yang ada disekeliling arsy mereka senantiasa bertasbih kepada Allah agar kemudian tidak ada yang memahami bahwasanya Allah butuh kepada mereka, jangan sampai ada yang memahami mereka memikul arsy Allah berarti Allah butuh kepada mereka, tidak demikian oleh karenanya Allah berfirman:”Mereka mensucikan tuhan mereka”, jadi pemikul arsy tahu bahwasanya Allah tidak butuh kepadanya sehingga mereka bertasbih dan makna dari At Tasbih adalah At Tanzih (mensucikan Allah dari segala bentuk aib) sebagaimana ketika seseorang  membutuhkan bantuan kepada orang lain maka itu merupakan aib baginya.

Makna At Tasbih yang lain adalah As Sholah dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bertasbih diatas kendaraannya, ketika Rasulullah melakukan perjalanan maka beliau melakukan qiyam (sholat) diatas kendaraannya, inilah yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bertasbih sebelum matahari terbit dan sebelum matahari terbenam.

Sholat yang awalnya diwajibkan sebelum peristiwa Isra dan Mi’raj adalah sholat subuh dan sholat ashar kemudian sholat qiyam yang wajib untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan kepada ummatnya selama setahun kemudian dihapuskan setelah peristiwa Isra dan Mi’raj sehingga menjadi 5 kali sehari semalam yang diwajibkan kepada kaum muslimin, tetapi secara khusus kedua sholat ini yaitu sholat subuh dan sholat ashar memiliki keutamaan dibandingkan dengan sholat-sholat yang lain, olehnya dalam hadist Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ لاَ تَضَامُّوْنَ فِي رُؤْيَتِهِ، فَإِنِ اْستَطَعْتُمْ أَنْ لاَ تُغْلَبُوْا عَلَى صَلاَةٍ قَبْلَ طُلُوْعِ الشَّمْسِ وَصَلاَةٍ قَبْلَ غُرُوْبِهَا فَافْعَلُوْا

Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini (dalam permulaan hadits, diceritakan; waktu itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sedang melihat bulan yang tengah purnama). Kalian tidak berdesak-desakan ketika melihatNya (ada yang membaca la tudhamuna tanpa tasydid dan di dhammah ta’nya, artinya: kalian tidak akan ditimpa kesulitan dalam melihatNya). Oleh karena itu, jika kalian mampu, untuk tidak mengabaikan shalat sebelum terbit matahari (Subuh) dan shalat sebelum terbenam matahari (Ashar), maka kerjakanlah“. (HR. Shahih Bukhari, Fathul Bari, XIII/419, hadits no. 7434, dan Muslim Syarah Nawawi).

Maksudnya dalam hadist diatas adalah sholat ashar dan sholat subuh 2 waktu yang kata Rasulullah malaikat yang berjaga diwaktu siang dan malaikat yang berjaga diwaktu malam mereka bergantian pada 2 waktu sholat  tersebut, Allah berfirman:

أَقِمِ الصَّلاَةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُوداً

“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) Shubuh. Sesungguhnya shalat Shubuh tu disaksikan (oleh malaikat)”. (QS. Al-Isra’: 78).

قُرْآنَ الْفَجْرِ

Yang dimaksudkan adalah sholat subuh karena kebiasaan Nabi dan para imam ulama setelah sholat subuh membaca bacaan yang panjang sehingga seakan – akan membaca Al-Qur’an sehingga disebut:

إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُوداً

Disaksikan oleh malaikat Malaikat Allah Subhanahu wata’ala.

 وَقَبْلَ الْغُرُوبِ وَمِنَ اللَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَأَدْبَارَ السُّجُودِ

Sebagian ulama juga membawa ayat ini tentang diperintahkannya kita menjaga dengan baik yang disebut dengan Askaru shobah Wal Masa sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Qayyim Rahimahullah:“Yaitu dzikir pagi dan dzikir petang yang dibaca setelah sholat ashar dan dibaca setelah sholat subuh dan ini diantara amalan yang hendaknya kita jaga dengan baik karena ini benteng bagi seorang muslim dan sumber kekuatan baginya”, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah setiap harinya beliau duduk berdzikir sampai terbit matahari dan ketika beliau ditanya perihal tersebut beliau berkata:”Ini adalah makanan ku atau sarapanku, jika saya tidak melakukan ini maka kekuatanku menjadi lemah”, jadi dzikir adalah merupakan kekuatan, olehnya Allah Subhanahu wata’ala menyuruh Nabinya untuk banyak berdzikir kepada Allah Subhanahu wata’ala.

 وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ وَمِنَ اللَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَأَدْبَارَ السُّجُودِ

 “Bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya), Dan bertasbihlah kamu kepada-Nya di malam hari dan setiap selesai sembahyang”.

Sebagian ulama ada yang mengatakan:”Yang disebutkan dari ayat ini adalah seluruh waktu sholat masuk didalamnya sholat dhuhur dan sholat ashar dan dimalam hari masuk didalamnya sholat magrib dan isya”, orang yang menjaga sholatnya maka Allah akan menjadi penolong baginya.

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ {45} الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلاَقُوا رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Rabb-nya, dan bahwa mereka akan kembali kepadaNya”. (QS. Al-Baqarah : 45-46).

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan dalam hadist:”Allah menjadikan qurrotul-‘ain (penyejuk/penghibur hati) bagiku pada (waktu aku melaksanakan) sholat”.

Dalam riwayat yang lain:
“Wahai Bilal, senangkanlah (hati) kami dengan (melaksanakan) sholat”. Sholat merupakan penghubung seorang hamba dengan rabbnya.

Bertasbih setelah selesai melaksanakan sholat sebagaimana dalam sebuah riwayat ketika sebagian sahabat – sahabat  Nabi yang fuqara datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengadukan kondisi dan keadaan mereka, mereka tidak menuntut kenaikan upah, para sahabat ini tidak datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk unjuk rasa karena merasakan ketimpangan hidup akan tetapi mereka datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam karena mereka iri kepada orang kaya karena dikalahkan dalam berlomba mendapatkan pahala dan amalan – amalan sholeh, mereka berkata:”Ya Rasulullah orang – orang kaya itu telah memborong pahala, mereka sholat kami juga sholat, mereka puasa kami juga bisa puasa, mereka bisa bersedekah sedangkan kami tidak, mereka bisa membebaskan budak sedangkan kami tidak bisa membebaskan budak ”.

Mereka meminta kepada Nabi untuk diajarkan sebuah amalan yang bisa menyamai orang – orang kaya dari kalangan para sahabat, Rasulullah kemudian mengajarkan kepada mereka:”Kalian bertasbih, bertahmid dan bertakbir 33 kali setelah selesai melaksanakan sholat amalan ini tidak ada yang mampu menyamai kalian kecuali orang yang melakukan amalan seperti yang kalian lakukan”, maka pulanglah mereka dalam keadaan bergembira  mengamalkan hal tersebut dan orang – orang kaya ketika melihat apa yang mereka amalkan setelah selesai sholat, akhirnya mereka cari tahu dari apa yang mereka kerjakan, maka diketahuilah rahasia tersebut akhirnya sahabat yang kaya juga ikut mengamalkan dzikir tersebut, orang – orang miskin ini kembali datang kepada Rasulullah dan berkata:”Orang – orang kaya tahu mereka juga ikut mengamalkannya, berikan kepada kami amalan yang lain”, Rasulullah berkata:”Ini adalah keutamaan yang Allah Subhanahu wata’ala berikan kepada sebagian hambanya”.

Sebagian ulama mengatakan: وَأَدْبَارَ السُّجُودِ adalah sholat nafilah atau sholat rawatib yang mengiringi sholat wajib, memperhatikan amalan yang wajib adalah merupakan bukti kecintaan kepada Allah, dalam hadist qudsi Allah berfirman:

عَنْ أَبِـيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللّـهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : «إِنَّ اللهَ تَعَالَـى قَالَ : مَنْ عَادَى لِـيْ وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْـحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَـيَّ مِمَّـا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَـيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِيْ يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِيْ يَبْطِشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِيْ يَمْشِيْ بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِيْ لَأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِـيْ لَأُعِيْذَنَّهُ».

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman:”Barangsiapa memusuhi wali-Ku, sungguh Aku mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal-hal yang Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, Aku pasti memberinya. Dan jika ia meminta perlindungan kepadaku, Aku pasti melindunginya”. (QS. Bukhari, no. 6502).

Olehnya jangan meremehkan amalan – amalan sunnah nawafil seperti sholat yang mengiringi sholat – sholat 5 waktu yang kata Rasulullah siapa yang menjaganya dengan baik 10 rakaat atau 12 rakaat dibangunkan untuknya rumah didalam surga, amalan – amalan sunnah adalah menjadi pelengkap amalan wajib kita yang kurang pada hari kiamat, dan yang dihisab dan diperhitungkan pada hari kemudian adalah hanya amalan wajib, jika amalan wajibnya baik maka ia berhak dimasukkan ke dalam surga, jika terdapat kekurangan Allah berkata kepada malaikat:”Lihatlah wahai para malaikatku apakah ia memiliki amalan yang sunnah”, jadi amalan sunnah menjadi pelengkap amalan wajib.

Fungsi yang lain sholat nafilah adalah sebagai bentuk muqaddimah atau pemanasan sebelum mengerjakan sholat wajib agar kemudian segala urusan dunia kita lupakan sehingga kita mudah khusyu ketika mengerjakan sholat wajib.

Wallahu a’lam Bish Showaab 

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR